VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
Part 02. ReSa


__ADS_3

"Tuan, di luar ada Nona Sara, beliau ingin bertemu." lapor sang sekertaris pada Renggo.


Renggo mengangguk. "Aku tidak ingin ada yang mengganggu kami." perintah Renggo.


"Baik Tuan." ucap sang sekertaris.


Dan segera mempersilahkan Sara untuk masuk. "Terimakasih." ucap Sara dengan ramah.


Begitu Sara masuk ke dalam ruangannya, Renggo melepas kacamata baca yang bertengger di pangkal hidung. Meletakkannya di atas meja. "Kenapa tidak langsung masuk?"


Renggo berdiri, mengikuti Sara duduk di kursi. "Lepas, ini di kantor." Sara berusaha melepaskan pelukan Renggo di tubuhnya.


Renggo tersenyum samar. "Memang, kalau sedang tidak di kantor, boleh melakukan lebih." ledek Renggo.


"Aaaww...." ringis Renggo, saat Sara mendaratkan cubitan di lengan kekar sang pengusaha. "Sakit." rengek Renggo.


"Malu sama badan." ejek Sara mencibir.


Renggo mencium punggung telapak tangan Sara. "Ada apa? Hemmmm..." tangannya dengan nada lembut.


"Bisa tidak, kita bicara biasa saja." pinta Sara.


Sebab, Sara merasa risih. Renggo menatapnya dengan intens. Membuat jantung Sara berpacu lebih cepat. "Ini sudah biasa sayang. Mau yang luar biasa."


Renggo mengerlingkan sebelah matanya dengan nakal. Kedua pipi Sara bersemu, hanya mendengar kata sayang dari Renggo. "Mau minum apa?"


Sara menggeleng. "Aku baru saja minum, kebanyakan minum, perutku sakit." keluh Sara.


"Baiklah, ada apa sayangku datang ke sini. Kangen." goda Renggo.


Sara cemberut. "Ckk,,, bukan."


Renggo meraup gemas bibir Sara. "Gemes banget tahu nggak. Lantas." cicit Renggo.


"Apa sih..." Sara mengusap bibirnya dengan senyum samar.


Sara menatap Renggo penuh cinta. "Apa?" tanya Renggo. Cup,,, mengecup singkat bibir Sara.


Sara memukul dada Renggo pelan. "Ckk,,, tukang nyosor."


"Tapi sukakan?" goda Renggo.


Renggo membelai lembut rambut Sara. "Katakan, ada apa?"


Sara membuang muka. Renggo tahu, ada rasa enggan dari sang kekasih untuk berbicara. "Apa perlu, kita keluar makan siang lebih dulu." ajak Renggo.


Sara menggeleng. "Nanti saja makannya. Ini juga belum waktunya makan siang. Nggak enak dilihat karyawan kamu. Masa bos memberi contoh tidak baik pada bawahannya." timpal Sara.


"Baiklah. Terserah tuan ratu." Renggo menyisihkan anak rambut yang berada di wajah Sara.


Sebab, jam memang belum menunjukkan waktu makan siang. "Apa aku menganggu?" tanya Sara, padahal semestinya pertanyaan tersebut terlontar sedari tadi.


Renggo menggeleng. "Sesibuk apapun aku, pekerjaan nomor dua. Kamu yang nomor satu." ucapnya terlihat mesra.


"Gombal."


"Tapi sukakan?" Renggo mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.


"Udah ah, nggak jadi ngomong serius loh nanti." ujar Sara kesal, tapi suka.


"Kenapa mama dan papa kamu membuat syarat seperti itu?" tanya Sara mulai serius.


"Bukankah pekerjaanku juga bukan pekerjaan hina." lanjut Sara.


Renggo memegang kedua pundak Sara. Membawanya untuk saling berhadapan dengannya. "Jangan pernah berpikir seperti itu. Kedua orang tuaku tidak pernah memandang rendah pekerjaan orang. Apapun itu. Hanya saja, mereka tidak ingin kehidupan pribadi mereka tersorot kamera." jelas Renggo.


"Semestinya kamu tahu, bagaimana kehidupan publik figur. Sebab kamu tumbuh di lingkungan tersebut." lanjut Renggo.


Sara mengangguk. "Apalagi, kamu tahu tentang Al. Siapa sebenarnya dia. Dan ketakutan terbesar kedua orang tuaku adalah Giska."


Renggo terdiam sesaat. Memandang lurus ke depan. Di mana hanya ada tembok dan pintu untuk keluar masuk ruangan.


"Memang benar, Al bukanlah cucu mereka. Tapi secara emosional, mereka sudah menyayanginya sejak dalam kandungan. Bahkan, saat aku mengatakan kebenarannya, mereka tetap bersedia menerima bayi tersebut."

__ADS_1


Sara mengelus bahu dan lengan Renggo. "Kamu belum kenal siapa Giska. Dia perempuan yang dangat licik. Yang di cemaskan papa dan mama, jika suatu saat Giska mengatakan kebenarannya. Pasti semua berita akan menyebar dengan cepat. Seperti api yang tersiram bensin."


Sara bisa menebak bagaimana sifat dari Giska. Untuk merawat putra kandungnya sendiri saja dia tidak mau. Perempuan macam apa itu.


"Kedua orang tua ku hanya ingin melindungi bayi yang lahir tanpa dosa. Itulah kenapa mereka meminta kamu berhenti di dunai artis."


"Tapi, bukankah akan tetap sama saja. Publik akan tahu apa yang terjadi, jika Giska berkata dengan jujur." sahut Sara. Mengingat Renggo dan juga Tuan Smith adalah pengusaha yang sukses dibidangnya.


"Kita hanya mempersempit ruang gerak. Jika hanya dari bibir ke bibir, besar kemungkinan akan lenyap terbawa angin."


"Namun, jika media sudah menyebar. Tanpa aku beritahu, kamu pasti sudah bisa menebak. Apalagi jejak rekam digital, tidak mungkin hilang begitu saja."


Renggo memandang ke arah Sara. "Aku bukan lelaki hebat seperti Viki. Yang dengan mudah melenyapkan semua berita di media." jujur Renggo.


Karena memang benar, Renggo benar-benar menjadi pengusaha murni. Dirinya tidak seperti Viki, yang terlibat dengan dunia bawah tanah.


Sara tersenyum simpul. "Aku malah takut, jika kamu seperti Tuan Viki. Kehidupannya sedikit mengerikan." papar Sara.


"Panggil nama saja. Dia suami adikku." Renggo mencubit gemas hidung Sara.


"Meski mengerikan, dia dapat membuat semuanya seimbang. Apalagi, dia punya dua teman yang hebat." Sara mengangguk.


Renggo menghela nafas. "Sebenarnya, aku bisa saja meminta tolong padanya. Tapi,,,," Renggo tersenyum, menggantung kalimatnya.


Sara meletakkan jarinya di bibir Renggo. "Hussttt.. Kita akan lewati bersama." papar Sara.


Sara tahu, jika Renggo meminta bantuan. Pasti Viki akan membantu. Namun Sara tahu, ada rasa tidak enak di hati Renggo. Jika selalu meminta bantuan pada adik iparnya tersebut.


Renggo memicingkan sebelah matanya. "Maksud kamu?" tanya Renggo berusaha menebak.


Sara tersenyum dan mengangguk. "Sungguh. Kamu mau menerima syarat dari mama dan papa." heboh Renggo.


Sara kembali mengangguk, membenarkan apa yang ada di dalam pikiran Renggo. "Terimakasih." Renggo memeluk erat tubuh Sara.


Tangan Sara membalas pelukan Renggo. "Tenang saja, aku akan membayar denda dari pengunduran diri kamu. Berapapun itu." ucap Renggo.


Sara melepas pelukan Renggo. "Kenapa?" tanya Renggo, saat melihat Sara menggeleng.


Sebelum mendatangi Renggo, Sara berbicara dengan Viki. Menanyakan jumlah denda yang akan dia terima, jika memutuskan kontrak kerja secara sepihak.


Sara mencari Viki ke perusahaan. Namun sang empunya ternyata belum datang. Padahal waktu jam kerja sudah sejak tadi di mulai.


Dan Sara tidak heran. Sebab Viki adalah pemiliknya. Terserah dia, kapan akan datang. Bahkan dirinya tidak datangpun, tidak akan ada yang berani memarahinya.


Apalagi Sara tahu, jika Viki dan Nara baru saja memiliki bayi. Bahkan mereka memutuskan untuk tidak menyewa jasa baby sister. Yang artinya Viki juga akan membantu sang istri merawat bayi mereka.


Alhasil, dari pada Sara menunggu kedatangan Viki di perusahaan yang tidak pasti kapan datangnya, lebih baik Sara menemuinya di rumahnya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Viki, menatap tajam ke arah Sara.


"Sayang, jangan seperti itu." tegur Nara, merasa jika sang suami sedikit keterlaluan.


Nara merasa tidak enak dengan calon kakak iparnya. "Maaf ya kak." cicit Nara.


Sara hanya tersenyum dan mengangguk. Bagi Sara, dirinya tidak masalah Viki memperlakukannya dengan dingin. Sebab, memang seperti itulah sifat dari Viki. Dan Sara tidak terkejut.


"Beruntung, Renggo tidak mempunyai sifat seperti dia." ucap Sara dalam hati, merasa bersyukur.


"Maaf, mengganggu waktu kalian." Sara mulai membuka mulutnya.


Sara menatap Nara dan Viki bergantian. "Saya datang, ingin berbicara mengenai kontrak kerja saya."


Viki menatap Sara dengan intens. Tanpa senyum. Dengan ekspresi datar. Sara mencoba mengatur deru jantungnya, supaya tidak grogi.


Sara memejamkan matanya sebentar. "Jika saya ingin menghentikan kerja sama dengan perusahaan anda secara sepihak. Berapa denda yang akan saya terima?" tanya Sara langsung ke tujuannya mendatangi rumah Viki.


Sara tidak berani memandang Viki, namun dirinya menunduk. Memandang ujung sepatunya.


"Kak Sara, kakak serius?" tanya Nara, membuat Sara kembali menaikkan pandangannya.


Sara mengangguk perlahan. Dan tersenyum kaku. "Tahu begini, gue tadi ajak Renggo." sesal Sara dalam hati.


Sara, seorang artis yang terkenal dengan kepandaiannya aktingpun, akan menciut nyalinya dihadapkan dengan sosok Viki.

__ADS_1


Nara menepuk pelan pahan sang suami dengan ekspresi kesal. Sebab, Viki terlihat angkuh di depan Sara. Yang notabennya Sara akan menjadi kakak ipar mereka.


"Kak, kenapa kak Sara akhirnya memutuskan untuk menerima syarat dari mama dan papa?" rasa penasaran Nara muncul.


Sara tersenyum. Melihat wajah teduh Nara, membuat perasaan Sara kembali tenang. "Aku yakin, mereka punya alasan. Mengapa memberikan syarat tersebut." tukas Sara.


"Kakak tenang saja, kak Renggo lelaki yang bertanggung jawab. Tidak mungkin membiarkan istri dan anaknya kelaparan." kekeh Nara, mencairkan suasana.


"Kak, kakak yakin. Dengan keputusan kakak. Pikirkan dengan baik-baik. Nara tidak ingin, setelah ini ada kata menyesal yang keluar dari mulut kakak." saran Nara.


"Bukannya Nara tidak senang dengan keputusan yang kak Sara ambil. Hanya saja, Nara tidak ingin kak Renggo mengalami kegagalan berumah tangga untuk yang kedua kalinya. Jika itu terjadi, pasti mama dan papa juga akan merasa sedih." papar Nara.


Sara tersenyum hangat. Di usia yang masih belasan tahun, Nara bisa menjadi perempuan yang hebat. Dengan tutur bahasa yang bijak. Dan lagi, dia juga sudah siap dengan status barunya. Yakni seorang ibu.


Sara mengangguk yakin. "Sejak dulu, almarhum kedua orang tuaku selalu mengajari tanggung jawab, atas apa yang kita lakukan dan kita inginkan. Dan aku sangat yakin dengan keputusan ini." tegas Sara.


Nara langsung meringsek maju dan memeluk Sara. "Terimakasih kak." ucap Nara.


"Kayak teletubis saja. Pelukan." celetuk Viki. Namun baik Nara maupun Sara hanya acuh.


Keduanya kemudian melepaskan pelukan mereka. "Bagaimana Tuan, berapa denda yang harus saya bayar?" tanya Sara.


"Jangan panggil Tuan. Sebentar lagi, kak Sara dan suami Nara akan menjadi ipar. Panggil nama saja." pinta Nara berharap.


Sara tersenyum canggung. Sebenarnya Sara juga tidak keberatan memanggil Viki dengan sebutan nama saja. Tapi melihat ekspresi wajah Viki yang datar dan dingin, membuat lidah Sara seakan kelu.


"Mungkin tidak sekarang. Saya belum terbiasa." tolak Sara dengan sopan.


"Baiklah. Terserah kakak. Dan untuk denda pemutusan kontrak secara sepihak, kak Sara tidak perlu membayarnya." papar Nara, memutuskannya sendiri.


Kedua mata Sara membulat tak percaya. Sementara Viki hanya menghela nafas kasar. "Suamiku, istrimu ini yakin. Papa baby boy tidak akan bangkrut hanya karena kak Sara tidak membayar dendanya. Iyakan." Nara berucap dengan manja.


Nara menatap sang suami dengan pandangan mata seperti seekor kucing yang merajuk minta makanan pada majikannya. Lucu dan menggemaskan. Pasti semua orang akan tergugah hatinya, saat melihatnya.


Viki mengangguk kecil. "Terimakasih... Suamiku yang terbaik." Nara memeluk erat tubuh Viki dan mencium pipi sang suami.


Viki tersenyum samar. Sebenarnya, Viki juga tidak akan meminta Sara ataupun Renggo untuk membayar uang denda tersebut.


Namun dirinya yang memliki ego tinggi, tentu saja bingung dsn gengsi untuk mengatakan hal tersebut. Beruntung, Viki mempunyai istri yang pengertian.


Flashback off


Renggo tertawa mendengar cerita dari calon istrinya tersebut. "Tapi aku merasa tidak enak dengan Tuan Viki." cicit Sara.


Renggo mengelus rambut panjang yang indah milik Sara. "Biarkan saja. Benar kata Nara. Viki tidak akan rugi, hanya karena hal tersebut."


"Benar juga." kekeh Sara.


Renggo menatap lamat-lamat calon istrinya tersebut. Segera Renggo menangkup kedua pipi Sara saat Sara ingin memalingkan wajahnya ke arah lain.


Membawa Sara untuk saling menatap dengan dirinya. "Aku sangat mencintai kamu." gumam Renggo, terdengar jelas di indera pendengaran milik Sara.


Renggo menempelkan dahinya dengan dahi milik Sara. Membuat Sara memejamkan mata, rasanya sungguh menenangkan. Saat hembusan nafas Renggo mengenai wajahnya.


Cup... Renggo mencium pelan dan singkat bibir merah karena lipstik milik sang artis. Sara membuka kedua matanya, mengulum sendiri bibirnya.


Keduanya saling berpandangan dengan penuh hasrat dan cinta. Cup,,,, lagi, Renggo mendaratkan ciuman singkat di bibir Sara.


Kedua pipi putih bersih Sara berubah warna. Cup,,,, kecupan yang intens dari Renggo, berubah menjadi *******-******* kecil yang memabukkan.


Tapi baik Renggo ataupun Sara masih melakukan dalam batas wajar. Meski Sara anak yatim piatu sejak dirinya berusia belasan tahun.


Tak lantas menjadikan Sara hilang pegangan. Dirinya selalu mengingat perkataan kedua almarhum orang tuanya. Untuk selalu menjaga kehormatannya. Sebab, itu adalah hal terpenting yang dimiliki seorang perempuan.


Dan Renggo, tentu saja dirinya tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Kini, Renggo benar-benar mencintai Sara. Dan berjanji akan menjaganya. Bukan merusaknya.


Di bandara, seorang perempuan berpakaian ketat. Dengan menggunakan kacamata dan masker, menyeret koper kecil di tangannya.


Dia melangkah dengan pasti. Tidak ada keraguan di setiap langkahnya. Saat dirinya memutuskan untuk kembali ke negara ini. "Aku datang." ucap Giska, melepas kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.


Giska merasa jika kedatangannya kali ini, tidak akan membuatnya celaka. Asal dirinya tidak mengusik keluarga Viki dan Nara.


"Apa kabar putraku. Pasti sekarang sudah bisa berjalan." ucap Giska, duduk di dalam taxi yang akan membawanya ke apartemen yang baru dia beli beberapa hari yang lalu lewat agen penyalur.

__ADS_1


__ADS_2