
"Siapkan kontrak kerjasama kita dengan perusahaan Tuan Haris." pinta Viki.
"Baik Tuan." ucap Rey dengan semangat.
Sebelumnya, Rey pernah memberi saran pada Viki. Jika sebaiknya mereka bekerjasama dengan perusahaan besar. Untuk memperkuat perusahaan Viki.
Karena perusahaan tersebut masih terbilang baru. Rey menyarankan Viki bekerjasama dengan perusahaan Tuan Haris atau Tuan Danto. Apalagi Viki kenal dekat dengan mereka.
Syukur lebih baik, jika bekerjasama dengan perusahaan Vano. Karena semua orang tahu siapa lelaki yang bernama Vano Reyandli.
Alih-alih menerima saran sang asisten. Viki malah sama sekali tidak ingin bekerjasama dengan mereka. Viki merasa harus berusaha sendiri. Dan tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain.
Tapi sekarang Viki harus melakukan hal yang pernah di sarankan sang asisten. Bekerjasama dengan perusahaan besar.
Semua karena Tuan Morgan. Demi menyenangkan sang putri, dia bahkan rela melakukan hal keji seperti ini. Membuat perusahan Viki mangalami kebangkrutan secara perlahan.
Seperti yang di katakan, Viki mampir dahulu ke rumah Tuan Haris sepulang dari perusahaan.
"Ada apa?" tanya Tuan Haris setelah Viki berada di depannya.
"Minum dulu. Kusut banget itu muka." ejek Nyonya Ane, istri Tuan Haris.
"Perusahaan Viki sedang kesulitan." ucap Viki lirih.
Tuan Haris memandang sang istri. "Sebaiknya kita berbicara di ruang kerja om." ajak Tuan Haris.
"Sudah sana ikut." ucap Nyonya Ane tersenyum.
Karena Nyonya Ane sangat paham, apa yang akan dibicarakan keduanya pasti akan sangat rahasia. Bukannya mereka tidak percaya dengan pekerja di rumahnya.
Tapi, tembok pun bisa mendengar. Tuan Haris dan sang istri hanya berjaga-jaga. Untuk meminimalisir hal yang tidak diinginkan.
"Minuman kalian tertinggal." ucap Nyonya Ane masuk ke dalam ruang kerja sang suami. Dan segera keluar. Tidak ingin mengganggu percakapan keduanya.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Tuan Haris. Karena setahu beliau perusahaan Viki terbilang stabil dan juga mempunyai grafik yang bagus, meski perusahaan baru.
Dan hari ini, Tuan Haris tidka menerima informasi apapun dari asistennya. Yang berarti perusahaan Viki masih dalam keadaan stabil.
"Investor besar semua menarik investasi mereka. Beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Viki, kemungkinan besar juga akan memutuskan kerja sama kita."
Tuan Haris masih terdiam, mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut Viki.
Viki tidak membicarakan semua ini pada papanya. Karena beliau hanya pengusaha mebel, yang menjabat sebagai aparat perintah.
__ADS_1
Dan perusahaan Tuan Hendra, papa Viki tidak ada secuil dari perusahaan seorang Marko. Dan yang lebih penting buat Viki, jangan sampai Tuan Marko menyentuh keluarganya.
"Semua karena Tuan Marko." ucap Viki dengan nada lirih tapi terdengar nada kesal daei ucapannya.
"Marko." kata Tuan Haris, mengulang perkataan Viki.
"Putri dari Tuan Marko menyukai Viki, om." tukas Viki. Sementara Tuan Haris tersenyum samar. Beliau tahu kemana arah jalan cerita Viki akan diteruskan.
"Setahu om, putri Marko juga cantik." goda Tuan Haris. Karena beliau pernah bertemu dengan Giska di beberapa kesempatan.
"Kenapa kamu tidak mencobanya." ucap Tuan Haris semakin menggoda Viki.
"Perasaan tidak bisa dipaksakan om." kilah Viki mencari alasan.
"Benarkah." cibir Tuan Haris. Padahal Tuan Haris juga tahu apa yang terjadi pada Viki. Tanpa ada yang memberitahu beliau.
Tapi beliau tidak mau ikut campur terlalu jauh pada kehidupan pribadi sahabat putrinya tersebut. Meski sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Ayolah om, jangan membahas masalah itu." kilah Viki.
Sejujurnya Viki tidak suka membahas masalah cinta. Apalagi perempuan, karena hal itu sangat menyakitkan bagi Viki. Dia akan teringat jika dirinya sosok lelaki yang hidup dalam ketidak normalan.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Tuan Haris.
Viki langsung menyerahkan sebuah map kepada Tuan Haris. "Bagiamana om?" tanya Viki saat Tuan Haris membaca berkas tersebut.
Tuan Haris meletakkan kembali berkas kerjasama yang Viki siapkan. "Kamu harus tahu sesuatu." ucap Tuan Haris, menyeruput kopi dalam cangkirnya dan meletakkannya kembali.
Menghela nafas sebelum mengatakan sesuatu kembali. "Jika kamu ingin menjadi seorang pebisnis. Kamu harus bisa menempatkan diri. Ada saatnya kita berhati lembut. Ada saatnya kita berhati kejam." ucap Tuan Haris.
"Sebenarnya, Viki ingin menuntut mereka yang telah menarik investasi dari perusahaan. Dan juga mereka yang akan mengakhiri kerjasama dengan perusahaan Viki." ucap Viki.
Tuan Haris dapat melihat dari ekspresi wajah Viki. Jika Viki tidak tega melakukannya. "Kenapa tidak kamu lakukan?" tanya Tuan Haris, meskipun beliau tahu jawaban dari Viki.
Viki hanya diam dan menatap ke arah Tuan Haris. "Mereka yang sudah menggigit kamu terlebih dahulu. Apa akan kamu biarkan lepas begitu saja?" tanya Tuan Haris.
"Kamu tahu, kenapa Vano bisa menjadi sesukses sekarang. Bahkan sekarang seorang pelaku bisnis saja, apabila mendengar namanya akan menunduk?"
"Karena dia tidak pernah menerima kekalahan. Apalagi jika lawan kita melakukan tindakan curang. Jangan pernah melepaskannya."
"Perusahaan kamu sudah berjalan sejauh ini." ujar Tuan Haris.
Karena beliau tahu jika Viki merintis usahanya sendiri mulai dari nol. Bahkan sekarang Viki sudah mempunyai perusahan di luar negeri. Tanpa bantuan dari siapapun.
__ADS_1
Dan selama ini, Viki menjalankan perusahaannya dengan jujur. Itulah yang membuat banyak pengusaha ingin bekerjasama dengan perusahaan miliknya.
"Jika kamu dulu membangun usaha dengan cara lurus dan baik. Karena tidak ada batu sandungan seperti sekarang."
"Tapi lihatlah, jika kamu terus mempertahankan sikapmu. Tamatlah perusahaanmu. Kamu akan mengorbankan banyak karyawan. Dan hanya ada satu jalan untuk menyelamatkannya."
"Menjadi budak dari putri Marko." tegas Tuan Haris.
Bukannya Tuan Haris tidak ingin membantu Viki. Tapi Tuan Haris menginginkan supaya Viki menjadi lebih kuat. Apalagi jika berhadapan dengan orang seperti Marko.
"Bagaimana? Kamu akan menuntut mereka? Atau mau bekerjasama dengan perusahaanku. Dan membiarkan mereka lolos dengan mudah." ujar Tuan Haris, memberi pilihan.
"Terimakasih om." ucap Viki tersenyum.
Viki mengambil kembali berkas yang berisikan permintaan kerja sama dengan perusahaan Tuan Haris.
Srekkkk,,,,, Viki merobek kertas tersebut. Membuat Tuan Haris tersenyum. "Jangan mempermalukan dirimu." ucap Tuan Haris.
"Kapanpun kamu meminta bantuan. Pasti akan aku bantu. Tapi kamu harus mengingat. Jangan pernah melepaskan binatang yang sudah menggigit kamu." Tuan Haris menepuk pelan pundak Viki.
"Apa ini om?" tanya Viki, saat Tuan Haris menyerahkan kertas kecil berisi daftar nama dan juga nomor telepon.
Viki memang sudah terbiasa dengan pistol dan adu kekuatan. Tapi dirinya tidak terjun sepenuhnya kedunia bawah tanah seperti Ella. Sahabatnya.
"Mereka orang bawah tanah yang bisa kamu andalkan. Kamu juga bisa memakai bawahan saya untuk kedepannya." ucap Tuan Haris.
"Untuk ini, terimakasih. Pasti akan sangat membantu. Tapi untuk anak buah om. Saya tidak bisa." tolak Viki.
"Jangan menolak. Bukankah kamu juga dalam tahap membuat organisasi." ucap Tuan Haris. Seolah dirinya mengetahui, jika Viki juga sudah mengumpulkan beberapa orang untuk bekerja di bawah tangannya.
Meskipun Viki masih dalam tahap pemula. "Om tahu?" tanya Viki sedikit kikuk.
"Kamu pikir Om sudah tua. Tidak tahu apa-apa!!!" seru Tuan Haris. Membuat Viki tertawa.
"Anggota Viki masih dibawah lima puluh orang om." jelas Viki terus terang.
"Lindungi kelompokmu mulai sekarang. Jangan sampai ada pihak luar yang tahu." ucap Tuan Haris.
"Sudah Viki lakukan Om."
"Bagus."
Setelah mendapat ceramah panjang lebar dari Tuan Haris, Viki kembali ke rumah.
__ADS_1
"Apa harus mulai sekarang." batin Viki. Hati Viki masih lembut. Dirinya masih menyimpan rasa tidak tega pada musuhnya. Itulah yang membaut Viki menjadi lemah.
"Sebaiknya gue istirahat saja." gumam Viki membuka pintu rumahnya. Berjalan masuk ke dalam. Hingga langkah Viki terhenti, melihat seseorang di depannya.