
"Kenapa kamu tidak menikah saja denganku?" tanya Renggo pada Giska.
Renggo memainkan rambut indah milik Giska. Setelah keduanya berolah raga di atas ranjang. "Apapun akan kamu miliki. Dan semua keinginanmu akan terpenuhi. Bagaimana?" tawar Renggo untuk kesekian kalinya.
Saat ini, yang diinginkan Renggo adalah stempel hak kepemilikan Giska ada padanya. Entah bagaimana caranya. Terlebih Nyonya Gina sudah memberikan restu.
Tentang rasa cinta. Renggo berharap setelah menjadi pasangan suami istri, dirinya bisa menumbuhkan rasa cinta di hati Giska untuknya.
Kedua mata Giska menata ke atas. Di mana hanya ada langit-langit kamar. "Jangan banyak bicara. Aku hanya membutuhkan uangmu. Tidak lebih." ucap Giska datar.
Dari ucapannya, Giska seolah menegaskan jika dirinya sama sekali tidak menginginkan untuk menjalin hubungan lebih dengan Renggo.
Padahal, dari segi kekayaan. Renggo jauh lebih kaya dari pada Viki. Karena dia mengelola dan meneruskan kekayaan dari keluarga. Dimana kekayaan yang Renggo kelola sekarang adalah warisan dari sang kakek untuknya.
Dari segi ketampanan. Renggo juga tak kalah tampan dari Viki. Dia dan Viki sama-sama memiliki karisma yang sulit di tolak oleh kaum hawa.
Tapi entah mengapa, Giska bahkan tidak memiliki sedikit rasa suka padanya.
Renggo terkekeh. Meski ada sedikit rasa kecewa di hatinya, namun dirinya terap tersenyum. Tidak akan dia biarkan Giska melihat sisi lemahnya.
"Jangan lupa. Setelah ini, kita akan makan siang bersama keluargaku. Kamu hanya tinggal duduk manis dan makan." Renggo mencium lembut kening Giska.
"Akan aku perlakukan kamu dengan selembut dan sebaik mungkin. Mungkin, dengan cara seperti ini bisa menyadarkan kamu. Jika hanya aku lelaki yang mencintaimu dengan tulus." ucap Renggo dalam hati.
"Jangan lupa uangnya." ucap Giska datar. "Pasti sayang, tenang saja." bisik Renggo.
Giska menolah ke samping. Membuang muka dari Renggo. Dirinya sekarang benar-benar sudah seperti ****** pribadi seorang Renggo. Menggelikan dan menjijikkan.
Semalam Giska tidak pulang. Saat semalam, berhubungan intim dengan Renggo. Giska selalu menoleh ke arah ponselnya.
Ada rasa kesal bercampur rasa yang tak bisa dia jabarkan dalam hati. Tatkala ponselnya sama sekali tidak berbunyi. Bahkan sampai pagi, Giska segera melihat ponselnya. Tapi hasilnya nihil.
Karena biasanya, jika dirinya lewat jam dua belas malam belum pulang. Sang mama dan papa selalu menteror dengan menelpon atau mengiriminya pesan tertulis.
Dan sekarang. Bahkan mereka seakan tidak lagi memperdulikan Giska. Ada perasaan sakit di hati. Tapi Giska sendiri tidak tahu kenapa dan karena apa.
Semalam Renggo sudah memberitahu kepada Nyonya Gina, jika Giska menginap di rumahnya. Supaya calon mertuanya tidak lagi khawatir terhadap anak perempuan mereka.
Tapi pastinya Renggo tidak memberitahu Giska jika dirinya sudah mengabarkan keadaannya pada Nyonya Gina. Apalagi Giska sampai detik ini belum mengetahui jika Renggo dan sang mama saling kenal.
Bahkan keduanya selalu berhubungan intens. Pastinya untuk membahas tentang Giska. Tidak lebih.
__ADS_1
"Hey, kenapa?" tanya Renggo, saat merasakan tubuh Giska bergetar. Menandakan pemilik tubuh sedang menangis.
Giska segera memiringkan badan. Menyembunyikan wajahnya yang sudah basah karena air mata di dada Renggo. Tangan Renggo menepuk pelan bahu Giska.
Membiarkan Giska meluapkan segala perasaan di dalam hatinya. Meski Renggo sendiri tidak tahu kenapa Giska tiba-tiba menangis.
Tapi sebisa mungkin Renggo hanya ingin membuatnya nyaman dengan kehadirannya di sisi Giska.
Merasa tangis Giska mulai reda, Renggo meregangkan tubuhnya dengan tubuh Giska. "Sebaiknya kamu segera mandi. Dan bersiaplah. Setelah itu kita sarapan bersama." Renggo kembali memeluk erat tubuh Giska dan mencium pucuk kepalanya.
Di rumah sakit tempat Tuan Hendra di rawat.
Nara menatap dengan tajam ke arah Nara. "Nona, tolong. Jangan persulit kami. Biarkan kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Nyonya Rahma." ucap sang dokter, menatap Nara dan Nyonya Rahma bergantian.
"Maaf. Sebaiknya kalian menghentikan sementara apa yang sudah kalian lakukan." ucap bawahan Viki.
"Kalau begitu, biarkan kami keluar dari ruangan ini." pinta seorang dokter yang di curigai oleh Nara.
"Benar. Pekerjaan kami masih banyak." timpal dokter yang lain.
"Jangan harap bisa melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan ini. Sebelum Tuan Viki datang." tegasnya dengan sorot mata tajam.
Nara menatap tajam ke arah sang dokter yang dia curigai. "Kenapa, takut. Seharusnya, jika anda tidak melakukan apa-apa. Anda tidak perlu merasa takut." gertak Nara.
Mana berani mereka melakukannya. Terlebih dengan kuasa yang di miliki oleh putra Tuan Hendra. Dan juga orang yang berada di sekitar Viki.
"Tunggu hingga putraku datang." ucap Nyonya Rahma, dengan tenang. Beliau lebih mempercayai apa yang di ucapkan oleh calon menantunya.
Terlebih jika apa yang dikatakan Nara benar, sementara dirinya melepaskan orang yang berniat jahat pada sang suami yang tengah berbaring tidak berdaya.
Pasti penyesalan di hati Nyonya Rahma teramat besar. Dan tidak mungkin, tidak meninggalkan rasa sedih luar biasa. Karena tidak menjaga sang suami dengan baik.
Nara tersenyum, dengan pandangan mata tak lepas dari orang yang di curigainya. Sang dokter yang di tatap Nara tampak sedikit gugup. Tapi sebisa mungkin di berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
Pintu di buka dari luar. Membuat semua menoleh ke arah pintu. Seorang lelaki muda sepantaran Viki masuk ke dalam. Dengan memakai baju kebesaran dan kebanggaannya berwarna putih.
Semua dokter beserta ahli medis lainnya menatap tidak percaya, siapa yang baru saja membuka pintu. Karena setahu mereka, dia sedang berada di luar negeri.
Dr. Andrew. Sahabat Viki datang ke ruangan di mana Tuan Hendra di rawat. Dia adalah dokter muda yang sangat di segani karena kinerjanya yang hebat.
Terlebih dia adalah anak dari pemilik rumah sakit tersebut. "Dokter." sapa Nara, mendekat dan bersalaman dengan Andrew.
__ADS_1
Nara dan Andrew sudah pernah bertemu saat Nara dan kedua adiknya pertama kali tinggal di apartemen Viki. Dan saat itu, Bima sedang sakit. Dokter Andrew lah yang menjadi dokter yang menyembuhkan Bima.
"Tante, dia dokter Andrew. Sahabat abang." ucap Nara memperkenalkan Andrew pada Nyonya Rahma.
Andrew dan Nyonya Rahma saling berjabat tangan. "Maaf, saya tidak mengetahui jika putra saya mempunyai sahabat yang hebat seperti anda." ucap Nyonya Rahma.
"Tidak masalah Nyonya." sahut Andrew tersenyum ramah.
"Dokter Andrew." sapa dokter lain yang berada di dalam ruangan Tuan Hendra.
"Tidak baik, jika ada banyak orang di sekitar Tuan Hendra." imbuhnya.
"Dan lebih tidak baik, jika membiarkan seorang pengkhianat dan pembunuh keluar dari ruangan ini." ucap Dokter Andrew dengan tatapan mengintimidasi.
"Saya di sini, sebagai wakil dari Tuan Viki." lanjut Andrew menjeda perkataannya.
"Sekaligus anak dari pemilik rumah sakit. Pasti kalian sudah mengerti apa maksud perkataan saya. Jadi, tolong kerja samanya." imbuh Andrew.
Mau tidak mau, mereka hanya bisa diam dan pasrah. Apalagi mereka yakin jika mereka tidak berbuat mengenai apa yang dituduhkan oleh Nara.
"Tapi kami minta keadilan." ucap seorang dokter dengan tegas, menatap ke arah Nara.
Nara tersenyum, dan membuka mulutnya. Seolah tahu apa yang akan di inginkan olehnya. "Saya akan menyerahkan diri ke kantor polisi, dengan pidana memfitnah dan penyebaran nama baik." tegas Nara.
"Tapi ingat. Jika apa yang saya katakan terbukti. Maka kalian akan terima sanksinya." kekeh Nara tanpa rasa takut.
Andrew melihat pancaran di mata Nara, jika gadis di depannya tidak berbohong sama sekali. "Geledah semua." perintah Andrew pada bawahan Viki.
"Baik." segera bawahan Viki melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter Andrew. Semuanya hanya diam dan pasrah. Apalagi yang mereka hadapi adalah dokter muda berbakat, sekaligus putra dari pemilik rumah sakit.
Sebelumnya, Viki mendapat telepon dari bawahannya yang berada di rumah sakit. Menceritakan apa yang di katakan oleh Nara pada Viki.
Tanpa membuang waktu, Viki dan Rey bergegas ke rumah sakit. Tapi Viki sadar jika akan membutuhkan waktu untuk sampai di sana. Terlebih saat ini jalanan juga sedikit padat akan kendaraan.
Viki memutuskan menghubungi Andrew. Sahabat sekaligus anak dari pemilik rumah sakit. Menceritakan semua pada Andre.
Beruntung, Andrew baru saja menapakkan kaki di rumah sakit. Karena dirinya beberapa bulan terakhir berada di luar negeri.
Mau tidak mau, Andrew langsung bergegas ke ruangannya. Memakai jas kebanggaannya, dan meluncur ke ruang di mana Tuan Hendra di rawat.
Dirinya tidak ingin sampai kehilangan seorang dokter yang dikatakan oleh Viki. Yang artinya, ada dokter berhati busuk di rumah sakit milik papanya.
__ADS_1
Dan Andrew tidak akan membiarkan dia tetap bekerja di rumah sakit ini. Menurutnya, dokter seperti itu tidak layak bekerja sebagai seorang dokter.