
"Sepertinya Bang Viki sedang tertekan. Mungkin Bang Viki mempunyai masalah yang besar. Makanya dia butuh Nara, untuk teman bicara." batin Nara, menyimpulkan sendiri.
Beberapa menit mereka berada di dalam kamar Viki. Tapi hanya keheningan yang terjadi. Baik Viki maupun Nara sama sekali tidak membuka mulut.
Viki tidak segera mengatakan tujuannya membawa Nara ke dalam kamarnya. Dan Nara, juga tidak bertanya pada Viki. Tentang bantuan apa yang diperlukan Viki darinya.
"Khemm. Nara, aku ingin menceritakan sesuatu." ucap Viki membuka mulutnya, tanpa melihat ke arah Nara.
"Apa bang?" tanya Nara.
"Abang mempunyai teman. Dia punya kelainan. Dia,,, dia menyukai sesama jenis." ujar Viki. Terpaksa Viki berbohong pada Nara.
Sungguh, Viki belum bisa percaya pada Nara. Sebelum Viki mendengar semua yang akan Nara katakan padanya setelah ini.
Viki bercerita seolah-olah temannya yang mengidap penyakit tersebut. Dan Viki juga ingin mendengarkan, bagiamana jawaban atau respon dari Nara.
Dari situlah, Viki akan melihat. Dan barulah Viki akan memutuskan. Menceritakan permasalahannya pada Nara dan meminta bantuan pada Nara, atau tidak.
Nara tidak terkejut sama sekali dengan perkataan Viki. Nara yang notabennya bekerja sebagai pemulung, dan tinggal di tempat padat penduduk, sudah sangat paham tentang semua itu.
Bahkan, Nara pernah beberapa kali melihat pasangan sejenis yang saling bermesraan dan mencurahkan kasih sayang satu sama lain. Padahal di tempat terbuka, tapi saat sepi.
"Abang pasti berpikir, kenapa Nara tidak terkejut?" tebak Nara, melihat Viki langsung menoleh dan memandang dirinya.
"Bang, meski Nara tidak pernah bersekolah. Tapi Nara mengerti arti pembicaraan abang. Lalu temannya abang bagaimana?" tanya Nara.
"Dia kepengen sembuh. Bisa normal seperti yang lain. Kamu tahukan, di negara kita ini. Hal seperti itu masih sangat tabu. Bahkan sebagian orang mengutuknya." ucap Viki.
"Syukurlah kalau dia berkeinginan untuk sembuh." ucap Nara lega.
"Semua orang tidak mau terlahir seperti itu. Pasti semuanya kepengen normal. Bisa menjalani kehidupan dengan baik. Tanpa di pandang jijik atau remeh oleh orang lain." ucap Nara dengan bijak.
Viki terdiam, dan memandang ke arah Nara. Dia tidak mengira dan menyangka. Gadis kecil ini ternyata punya pemikiran yang bijak.
"Lalu, masalahnya apa bang. Kan bagus, jika dia mau berubah." ucap Nara.
"Masalahnya, dia kesulitan mencari perempuan untuk membantunya. Karena selama ini, tidak ada orang lain yang tahu tentang apa yang di deritanya. Kecuali kedua sahabatnya." jelas Viki.
"Termasuk kedua orang tuanya?" tanya Nara memastikan.
Viki mengangguk. "Termasuk kedua orang tuanya." ucap Viki.
"Jika ingin sembuh, dia membutuhkan perempuan. Dan yang dia takutkan, apakah perempuan tersebut mau membantunya. Setelah mendengarkan semuanya. Atau dia, malah akan menyebarkan penyakitnya. Pada semua orang. Dan malah menjauhinya. Dan membuat semua orang mencibirnya, serta mengkuncilkannya." jelas Viki, tampak raut sedih.
"Benar juga. Pasti dia akan mencari perempuan yang bisa di percaya. Dan pastinya tidak ember." cicit Nara.
"Ember?" tanya Viki mengerutkan dahinya, karena bingung.
"He,,,he,,, Ember. Maksud Nara, mulutnya tidak lemes, bang." jelas Nara sambil terkikik.
Nara tersenyum. "Bang, Nara ngantuk." keluh Nara sambil menguap.
"Ya sudah, kamu kembali ke kamar. Maaf, mengganggu." ucap Viki.
"Mungkin lain kali, gue ngomong langsung sama Nara." ucap Viki dalam hati.
"Tapi abang jangan keluar rumah. Sudah malam." larang Nara pada Viki.
Viki mengacak pelan rambut indah Nara. "Iya. Sana, cepat pergi, katanya ngantuk." timpal Viki.
Segera Nara keluar meninggalkan kamar Viki. Dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. Nara meneguk segelas air putih yang memang sudah dia siapkan di dalam kamar.
"Bang Viki." gumam Nara, membaringkan badannya. Tapi kedua matanya masih terbuka, menatap ke langit-langit kamar.
Nara kembali mengingat setiap cerita Viki. Dan beberapa kejadian yang dialaminya saat bersama Viki.
Sewaktu mereka tinggal bersama di apartemen, Viki terlihat santai dan juga cuek pada Nara. Padahal Nara juga sudah bukan anak kecil lagi. Dan Viki juga pernah bilang jika tidak tertarik padanya, saat Viki dan dirinya sedang berada di situasi awkwkkk.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu, saat Nara membangunkan Viki. Nara tidak sengaja terjatuh dan menimpa tubuh Viki. Dan Viki berkata dengan santai, tanpa beban jika tidak akan ada efek pada tubuhnya.
"Hanya dua sahabatnya. Kak Denis dan kak Ella." gumam Nara. Meskipun Nara sama sekali belum pernah bertemu dengan Denis, tapi para pekerja di rumah sudah beberapa kali menceritakan ketiganya.
"Orang tuanya tidak tahu." imbuh Nara pelan. "Makanya tante ngotot mencarikan jodoh buat bang Viki. Dan bang Viki, mentah-mentah menolaknya." cicit Nara.
Mbok Nah pernah bercerita pada Nara. Jika Nyonya Rahma sering membawa perempuan cantik ke rumah. Mengenalkannya pada Viki. Dan berniat menjodohkannya dengan Viki. Namun Viki selalu menolak. Dengan berbagai alasan.
Hingga Viki memutuskan untuk pergi dan menetap beberapa tahun di luar negeri. Hanya untuk menghindari niat jodoh-jodohan dari sang mama.
Dan Mbok Nah juga pernah bilang pada Nara, jika hanya Ella sahabat perempuan Viki yang Mbok Nah tahu. Tidak ada yang lain.
"Jika itu benar bang Viki. Apa yang harus Nara lakukan?" tanya Nara pada dirinya sendiri.
"Apalagi bang Viki berkeinginan sembuh." imbuh Nara.
"Bang Viki, membutuhkan seorang perempuan. Yang bisa membantunya keluar dari masalah dan juga dapat di percaya. Jangan sampai perempuan tersebut malah akan membongkar semuanya." batin Nara, merasa cemas.
Bukan hanya mencemaskan Viki. Namun kedua orang tua Viki. Pasti keduanya akan syok dan terpukul jika sampai mendengar berita tersebut.
Apalagi papanya Viki, Tuan Hendra adalah publik figur. Beliau salah satu pemimpin daerah. Pasti ke depannya akan sangat sulit, jika sampai semua orang tahu yang sebenarnya.
"Bang Viki harus sembuh." gumam Nara, memejamkan matanya. Mencoba untuk tidur. Namun, pikirannya tidak sejalan dengan kedua matanya yang sudah tertutup.
Nara kembali membuka matanya. "Bagaimana jika sampai om dan tante tahu. Pasti mereka akan kecewa." ucap Nara.
"Bagaimana jika sampai bang Viki salah memilih perempuan." imbuh Nara. Merasa cemas dan khawatir.
Tanpa berkata dan berpikir, Nara kembali keluar dari kamar. Dan berjalan menuju ke kamar Viki. Nara memejamkan matanya di depan pintu kamar Viki.
"Aku akan dan harus membantu bang Viki. Apalagi, bang Viki sekeluarga sudah baik pada Nara. Dan juga kedua adik Nara. Jangan sampai tante dan om tahu. Jangan sampai bang Viki salah mencari perempuan." batin Nara.
"Tapi,,,, itu artinya." imbuh Nara dalam hati. "Nara, menolong orang tidak memerlukan kata tapi." Nara menggeleng dengan kencang.
Dengan tekad, Nara masuk ke dalam kamar Viki. Seketika Viki yang sedang berganti pakaian menoleh ke arah pintu. "Nara." gumam Viki.
"Ada apa?" tanya Viki. "Katanya tadi ngantuk." imbuh Viki.
"Itu,, Abang,, Nara,, emmm." Nara menunduk. Memilin pakaiannya bagian bawah.
Nara memejamkan mata. "Nara mau bantu bang Viki." ucap Nara dengan tegas.
Deg,,,,, "Nara." seketika badan Viki membeku, dengan jantung berdetak kencang.
"Ka-kam-kamu,, apa maksud kamu?" tanya Viki, mencoba mengelak.
Nara membuka matanya, menatap ke arah Viki. Tapi segera Viki membuang muka. "Bang. Nara tahu. Yang abang ceritakan bukan teman abangkan. Tapi itu masalah tentang abang sendiri." jelas Nara menyimpulkan.
"Kamu jangan asal menyimpulkan." seru Viki. Antara marah, takut, dan juga terkejut, serta takut. Bagaimana gadis polos seperti Nara bisa menyimpulkan sesuatu dengan tepat. Dia terlalu pintar untuk bocah yang tidak pernah sekolah.
"Ada apa bang?" tanya Nara, merasa takut. Saat Viki menatapnya dengan tajam.
"Kamu terlalu pintar." ucap Viki tersenyum. Hati Nara yang sedang ketakutan, seketika menjadi hangat melihat senyum dari Viki.
"Bang, apa yang bisa Nara bantu?" tanya Nara dengan serius.
Viki duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Dan Nara, mengikuti Viki, duduk di sampingnya. "Kenapa bang?" tanya Nara.
"Semua tidak sesederhana yang kamu pikirkan." ucap Viki, menatap teduh ke arah Nara.
"Bang, Nara bukan anak kecil lagi. Meski Nara belum pernah dekat dengan seorang lelaki sama sekali, tapi Nara tahu kemana tujuan pembicaraan kita nanti." jelas Viki.
"Kamu...." ucap Viki terhenti, memandang ke arah Nara dengan tatapan rumit.
"Nara ikhlas membantu abang. Selama ini, abang dan kedua orang tua abang sudah baik sama Nara. Nara bukan seseorang yang tidak tahu balas budi." cicit Nara.
"Lagi pula, gue nggak ngapa-ngapain Nara. Cuma cium saja. Nara nggak bakal kehilangan apapun." ucap Viki dalam hati.
__ADS_1
"Kamu serius?" tanya Viki, memastikan.
"Serius abang." jawab Nara dengan mantab.
"Tolong, rahasiakan semua ini dari siapapun. Termasuk mama dan papa." perintah Viki.
"Pasti. Nara juga sayang sama mereka. Apa mungkin, Nara tega membuat beliau berdua menangis." ucap Nara.
"Makanya, abang harus sembuh. Jangan sampai membuat om dan tante sedih." imbuh Nara.
"Iya. Abang juga pengen sembuh." Viki tersenyum manis ke arah Nara.
"Lalu, apa yang Nara bisa bantu?" tanya Nara kemudian.
"Sebenarnya, semua ide ini. Ella yang mengatakan pada abang." jelas Viki.
"Kak Ella?" tanya Nara memastikan, dan Viki mengangguk. Menjawab pertanyaan dari Nara.
"Katakan bang. Jangan ragu. Nara akan bantu." ucap Nara.
Viki membuang wajah. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Pertama, kita harus berciuman. Aisshh,,," Viki membelai dagunya sendiri, untuk menetralkan degup jantungnya.
"Ayo kita lakukan. Nara siap." ucap Nara tanpa merasa ragu. Bahkan ada senyum manis di bibir Nara.
Viki kembali memandang ke arah Nara. "Bukan ciuman yang seperti itu. Tapi begini." ucap Viki, bingung menjelaskan pada Nara.
"Nara tahu bang. Bibir sama bibirkan."
"Kok kamu tahu?"
"Nara sudah biasa lihat yang seperi itu. Dulukan Nara mulung, jadi Nara sampai mana-mana. Pas di beberapa tempat, Nara melihat hal seperti itu." kelas Nara dengan berkata jujur.
Nara dan Viki saling menatap dan duduk berhadapan. "Nanti kamu yang lakuin. Abang nggak bisa. Emmm,,, abang akan memejamkan mata." jelas Viki, tapi tidak mendetail.
Eitttt,,, deh. Viki dan Nara. Mereka seperti sedang bermain. Tampak lucu dan menggemaskan.
"Iya. Sekarang abang tutup mata." pinta Nara.
Segera Viki menutup mata. Dan Nara, menghela nafas dalam-dalam. Membuang rasa gugup di hatinya.
"Ayo Nara, kamu pasti bisa. Cuma mencium bibir doang mah,,, kecil." batin Nara menyemangati dirinya sendiri.
Cupp... Dengan singkat Nara mencium bibir Viki. "Su-sudah bang. Bagaimana?" tanya Nara dengan gugup dan kedua pipi bersemu merah.
"Sudah?" tanya Viki, dan dengan cepat Nara mengangguk.
"Kok nggak berasa ya." ucap Viki jujur.
Seketika Nara melongo dan tak percaya. "Masa sih bang. Nara tadi sudah mencium abang lo." ucap Nara dengan yakin.
Viki memegang bibirnya. "Hanya ada kayak benda kenyal yang menempel sebentar" ucap Viki, masih memegang bibirnya.
"Ya itu dia." ucap Nara membenarkan.
"Tapi sumpah. Nggak kerasa apa-apa. Nggak ngerasa kalau di cium." jelas Viki kekeh.
"Emang abang pernah ciuman sebelumnya?" tanya Nara.
"Nggak pernah sih." jawab Viki jujur. "Tapi abang pernah lihat di video." imbuh Viki.
"Coba Nara lihat." pinta Nara penasaran. Karena setahu Nara, berciuman hanya sekedar menempelkan bibir. Tidak lebih.
Sedangkan, Viki tahu. Tapi dia sedikit malu dan enggan untuk menjabarkannya. Lebih baik mengajak Nara melihat ke video saja.
Viki membuka aplikasi berwarna merah. Mencari adegan ciuman. Menontonnya berdua bersama Nara.
Tampak wajah keduanya tegang dengan nafas memburu. Tapi tetap, tatapan mereka masih berfokus pada video di ponsel Viki.
__ADS_1
Terasa sudah selesai dan Nara mengerti. Viki segera mematikan video tersebut. Keduanya tampak masih canggung. Hanya diam dengan pikiran masing-masing.