
Seperti hari-hari sebelumnya, Nara kini belajar dengan Alif sebagai gurunya. Tapi hari ini mereka belajar setelah jam makan siang.
Di karenakan Alif mempunyai jadwal yang cukup padat pagi tadi. Menyebabkan pembelajaran untuk Nara di lakukan siang hari sekitar pukul dua siang.
"Kenapa jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alif di sela-sela mengajar Nara.
Beberapa kali, setiap hendak masuk ke dalam rumah Tuan Hendra, bawahan Viki yang berada di depan memeriksa semua apa yang di bawa oleh Alif. Termasuk apa yang tertempel di badan Alif.
Baru kemudian Alif di perbolehkan masuk jika sudah melewati tahap tersebut dan di nyatakan tidak membahayakan penghuni rumah.
Keamanan yang di perketat. Alif bukannya tidak dapat menebak apa yang terjadi. Hanya saja dia merasa penasaran. Karena belum tentu tebakan atau apa yang ada di benaknya sesuai dengan apa yang terjadi.
Nara menghentikan tangannya yang sedang bergerak. Menoleh ke samping, memandang ke arah Alif. "Memang ada apa?" tanya Nara dengan wajah polosnya.
"Tentang semua ini. Keamanan yang di perketat." jelas Alif menatap intens ke arah Nara.
Nara mengangkat kedua bahunya. Melanjutkan tugas yang di sedang kerjakan. "Pasti kamu tahu?" tanya Alif belum juga menyerah.
"Ckk,,," decak Nara. "Huhhh..." Nara menghembuskan nafas bosan dengan wajah kesal.
"Apa yang ingin anda tahu? Memang kenapa jika keamanan di perketat. Bukankah malah lebih baik. Di mana salahnya. Yang terpenting mereka sama sekali tidak mengganggu atau membuat rugi anda." rentet Nara berkata dengan nada tidak suka.
"Maaf, saya butuh konsentrasi untuk mengerjakan tugas yang anda berikan." lanjut Nara, menggerakkan kembali jari jemarinya untuk menulis.
Bermaksud menyindir Alif, jika pertanyaan yang tidak penting dari mulutnya mengganggu proses belajar Nara. Dan perkataan Nara memang ampuh. Alif tak lagi bertanya pada Nara.
Membuat Nara dengan mudahnya menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Alif.
Selesai. Jam pelajaran selesai. Alif masih mencegah Nara untuk beranjak dari duduknya. "Tunggu. Ada yang ingin aku sampaikan." ungkap Alif.
Nara hanya diam dan memandang ke arah sang guru muda tersebut. "Soal putra dari Tuan Hendra. Viki Radika Mahendra. Benarkan?" tanya Alif.
"Iya. Ada apa?" tanya Nara balik dengan malas. Karena pasti Alif akan menanyakan ranah pribadi Nara. Dan gadis cantik ini sangat tidak menyukainya.
"Apa benar yang pernah kamu ucapkan dulu. Jika kalian akan menikah?" tanya Alif semakin menjurus.
__ADS_1
Nara dapat menebak apa yanga akan di katakan Alif. Karena sebelumnya, Alif juga pernah menanyakan hal tersebut. "Itu urusan pribadi." jawab Nara dengan tatapan tidak suka.
"Nara." Alif mencoba mengambil telapak tangan milik Nara, namun segera Nara menepisnya. Membuat Alif hanya bisa menerima perlakuan dari Nara.
"Dia sekarang sedang dekat dengan Melva. Artis cantik yang sedang naik daun." jelas Alif. Mencoba mempengaruhi Nara. Tapi sayangnya tidak akan pernah berhasil.
Nara bukan gadis bodoh. Tentu dirinya tahu, kemana arah pembicaraan Alif. "Lalu?" tanya Nara dengan singkat.
"Apa maksud kamu bertanya seperti itu. Bukankah itu artinya Viki hanya mempermainkan kamu. Nara." Alif menatap Nara dengan tatapan penuh belas kasih.
Tanpa mereka tahu, Viki sedang berdiri di balik tembok. Menyandarkan badannya dengan menyilangkan kaki dan bersedekap dada.
Mencuri dengar semua pembicaraan antara murid dan guru tersebut. Sampai detik ini, Viki cukup puas dengan balasan atas perkataan yang di berikan Nara pada Alif.
Tapi Viki masih ingin mendengar apa yang akan di katakan oleh guru tersebut. "Ternyata dia masih sangat muda. Untung saja Nara tidak tergoda. Lihat saja, jika sampai Nara tergoda. Aku pastikan, tidak ada hari esok untuk dirimu." ancam Viki dalam hati.
"Lagi pula, masih tampan dan kaya gue." Viki memuji diri sendiri dalam hati. Kenapa tidak ada yang memberitahu dirinya, jika guru yang setiap hari mengajari Nara adalah lelaki muda. Meski jika dilihat dari tampangnya. Masih terlihat unggul Viki dari segi apapun.
"Ya,,, lantas kenapa? Apa hubungannya dengan anda?" tanya Nara mulai jengah, karena Alif terlihat ingin sekali mencampuri urusan pribadinya.
"Iya, pasti mereka memaksa kamu. Viki. Atau, kamu merasa berhutang budi. Karena mereka sudah menerima kamu dan kedua adik kamu untuk tinggal di sini. Karena mereka sudah memberikan pendidikan untuk kamu dan adik kamu. Dan juga semua fasilitas ini." jelas Alif berspekulasi sendiri.
"Apapun itu Nara. Aku bisa membawa kalian pergi dari rumah ini. Kamu dan kedua adik kamu bisa hidup bebas tanpa tekanan. Aku akan membantu kamu." ucap Alif dengan sungguh-sungguh.
"Astaga." geram Nara menahan rasa kesalnya. "Membantu apa. Aku lihat kamu tidak lebih baik dari Abang Viki." sindir Nara.
Bukannya merasa tersindir, Alif malah semakin menjadi-jadi. "Kita bisa membuka dan menceritakan semuanya pada media, jika mereka masih tidak mau melepaskan kamu. Kamu tahukan, siapa Tuan Hendra. Pasti karirnya akan hancur. Dan juga putranya Viki. Mereka tidak punya pilihan lain, selain mengikuti keinginan kamu. Kamu percaya sama saya." ujar Alif menyakinkan Nara.
"Oke... Stopp!!" seru Nara dengan nada jengkel. "Pertama." Nara mengangkat tangannya ke atas, mengacungkan telunjuknya ke arah Alif. Membentuk angka satu. "Kita tidak sedekat itu bapak guru. Saya adalah murid anda. Jadi tolong, jangan pernah memakai kata aku dan kamu." tegas Nara, menegaskan posisi keduanya.
"Dan, apapun yang terjadi dalam kehidupan saya. Maupun kedua adik saya. Sama sekali tidak ada hubungannya dan tidak ada urusannya dengan anda." lanjut Nara dengan menggebu-gebu.
"Dan yang terakhir." Nara berdiri dari duduknya. Memandang bagai belati tajam pada Alif. "Mulai besok Anda tidak perlu lagi datang ke tempat ini." ucap Nara dengan sungguh-sungguh.
Viki tersenyum mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut sang kekasih. "Ini baru namanya calon istriku." puji Viki dalam hati.
__ADS_1
"Mak-mak-maksud kamu apa Nara?" tanya Alif, mengikuti Nara berdiri. Memandang Nara dengan ekspresi bingung.
"Anda adalah seorang guru. Apa perlu penjelasan yang tidak berguna dari murid anda." tegas Nara mulai hilang kesabarannya, menghadapi Alif yang menurut Nara semakin menyebalkan.
Seorang laki-laki muncul, dan mengeluarkan suaranya. Membuat Nara dan Alif melihat ke tempatnya. "Maksudnya, kamu di pecat." ucap Viki tenang.
"Abang " Nara tersenyum senang, dan berjalan cepat ke arah sang kekasih. "Kok tumben sudah pulang." Nara memeluk tubuh Viki, dengan kepala mendongak memandang wajah tampan sang pujaan hati.
"Kangen kamu." Viki mengerlingkan sebelah matanya dengan genit. Membuat Nara tersipu dan segera menenggelamkan wajahnya ke dada bidang milik Viki.
"Mampus." ucap Mbak Siti, yang ternyata sedari tadi juga mencuri dengar serta mengintip Alif dengan Nara. "Akhirnya di pecat juga kan." imbuhnya tersenyum senang di atas penderitaan seorang Alif. "Rasain." lanjutnya lagi sebelum pergi dari tempatnya bersembunyi.
"Tunggu!!" seru Alif. "Di pecat?" ucapnya dengan nada seperti bertanya.
Nara melepaskan pelukannya di tubuh Viki. Tapi tetap memegang lengan kekar sang kekasih. "Iya. Dan terimakasih sudah menjadi guru untuk kekasih saya selam ini." Viki mencium pucuk kepala Nara.
"Oh iya, tenang saja. Anda akan mendapatkan pesangon yang pantas." lanjut Viki.
"Kenapa?" tanya Alif dengan terburu-buru.
"Karena sepertinya, Nara tidak menyukai kamu." jawab Viki santai.
"Mbak Siti...!!" panggil Viki dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
Segera Mbak Siti menghampiri majikannya tersebut. "Lakukan apa yang seharusnya di lakukan." perintah Viki menatap tajam ke arah Alif.
"Siap Den." dengan semangat, Mbak Siti mengangkat telapak tangannya. Seperti memberi hormat pada komandan.
Segera Mbak Siti membawa Alif keluar dari rumah. Tak lupa, Mbak Siti juga mengatakan pada bawahan Viki di depan, apa yang seharusnya dia katakan.
"Jangan biarkan dia masuk lagi ke dalam. Mulai detik ini, dia bukan lagi guru pengajar untuk Nona Nara." jelas Mbak Siti.
Memang, jika di hadapan orang banyak. Pembantu di rumah Tuan Hendra memanggil Nara dengan panggilan Nona.
Namun, jika hanya berdua dengan Nara. Mereka memanggil Nara tanpa menggunakan kata lain. Seperti yang di inginkan oleh Nara sendiri.
__ADS_1
"Satu parasit sudah di bereskan." gumam Mbak Siti tersenyum sinis menatap kepergian Alif.