VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 177


__ADS_3

Bibir Nara tersenyum lebar, saat dirinya dan Viki berada di dalam mobil. Meninggalkan tempat yang semalam mereka tempati. Hutan.


Nara menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Viki. "Suamiku, sekarang kita mau kemana?"


"Ke tempat yang disediakan mama Binta sama papa Smith." jelas Viki.


"Apakah tempatnya bagus?" tanya Nara antusias.


Viki mengangguk. "Tidak lebih bagus dari tempat kita tadi." jawab Viki acuh


Nara mencebik. "Aku yakin, jika mama Binta pasti memilihkan tempat yang bagus untuk bulan madu kita." harap Nara dalam hati dengan yakin.


Viki tersenyum damar melihat ekspresi sang istri kecilnya. Satu jam lamanya Nara dan Viki menaiki burung besi di udara. Dan dilanjutkan dengan mobil sekitar empat puluh lima menit.


Kali ini, tidak ada kegiatan panas di dalam pesawat. Viki tahu, jika sang istri masih lelah karena baru saja melayaninya saat di sungai.


Viki tersenyum, membayangkan kegiatan panas mereka yang baru saja mereka lakukan di alam terbuka. "Suamiku kenapa, senyum-senyum sendiri?" heran Nara, menatap Viki aneh.


Bibir Viki mendekat ke telinga Nara. "Ternyata melakukan itu di alam terbuka sangat enak ya." jelas Viki absurd.


"Tidak jauh-jauh dari hal mesum." gumam Nara memutar kedua matanya malas. Menarik dirinya dari tubuh sang suami. Duduk sendiri dengan tegak.


"Tapi kamu juga menikmatinya." celetuk Viki dengan nada keras.


Nara langsung membungkam mulut Viki dengan telapak tangannya. Kedua mata Nara melotot sempurna.


Bagaimana bisa dengan santai, Viki dapat mengatakan hal tersebut. Apalagi mereka tidak hanya berdua di dalam mobil.


"Di depan ada sopir sayang,,,,!!" geram Nara tertahan.


Viki menyingkirkan telapak tangan Nara di depan mulutnya, dan menciumnya lembut. "Tahu, apa masalahnya." cuek Viki.


Nara melirik ke depan. Siapa tahu sang sopir melihat mereka dari kaca spion yang tergantung di depannya. "Malu."


Viki lebih memilih diam, dari pada menimpali perkataan Nara. Hingga tanpa sadar, mobil yang mereka naiki telah sampai tujuan.


Viki membuka pintu mobil. "Ayo, turun." ajak Viki.


Nara masih berada di dalam mobil. Dengan mata berkedip tak percaya. "Tuhan. Ini tempat apa?"


Sebuah bangunan seperti kastil mewah tampak di depan mobil. Di sekeliling kastil tersebut ada pantai dan juga banyak bebatuan yang menjulang tinggi seperti diukir oleh tangan.


"Sepi sekali." gumam Nara.


Tak ada satu orangpun di sini. Hanya mereka. Nara dan Viki. Nara menelan ludah dengan sulit.


"Sama saja seperti di hutan." gumam Nara.


Nara mengira jika dirinya akan di bawa ke sebuah tempat indah yang ramai pengunjung. Dimana ada banyak penjual makanan berjejer di pinggir jalan.


Sehingga Nara bisa merasakan makanan luar negeri yang dia lihat di layar televisi. Melihat indahnya negara lain.


"Ini sama saja, keluar dari toilet, masuk ke area kuburan." omel Nara sendiri.


Viki membuka pintu mobil di samping Nara. "Sayang,,, ayo turun." pinta Viki, melihat sang istri malah terpaku di tempat.


Nara keluar dari mobil. "Kita hanya berdua?" tanya Nara memastikan.


"Tidak." Nara tersenyum lega mendengar perkataan Viki.


"Di dalam ada beberapa pelayan. Yang memang dipersiapkan khusus untuk melayani kita, selama berada di sini." senyum Nara langsung menghilang, terbawa hembusan angin di sekitarnya.


Viki menggandeng tangan Nara, mengajaknya masuk ke dalam. "Apa mama Binta yang menyediakan semua ini?"


Viki mengangguk. Dan membuka pintu utama rumah tersebut. Tampak beberapa perempuan dan juga lelaki berbaris dengan rapi dengan menggunakan seragam.


"Wowww..." Nara melihat takjub, sebab dia mengira hal semacam ini hanya ada di film yang dia tonton di televisi.


"Selamat datang Tuan, Nyonya."


Nara semakin takjub, manakala mereka semua menggunakan bahasa di negaranya. Memang, Nyonya Binta mengambil mereka semua dari negaranya.


Dengan bayaran fantastis, mereka direkrut beberapa hari untuk melayani pasangan pengantin baru tersebut.

__ADS_1


Viki hanya mengangguk pelan. Terlihat angkuh dan sombong. Kembali dalam sikapnya yang tak bisa tersentuh. "Terimakasih." sahut Nara ramah.


Seorang lelaki berumur berdiri di depan Viki dnegan menundukkan kepalanya. "Saya adalah kepala pelayan di sini Tuan. Anda dan Nyonya bisa mengatakan sesuatu, apapun itu pada saya."


"Memang itu tugasmu." ucap Viki dingin. Nara hanya bisa menelan ludah, melihat betapa angkuhnya sang suami di depan orang.


"Mari saya tunjukkan kamar anda." segera dia berjalan di depan Viki dan Nara untuk menuju kamar utama.


"Jangan menggangu kami, tanpa aku panggil." perintah Viki setelah sampai di depan pintu yang sangat besar.


"Terimakasih" ucap Nara.


"Sama-sama Nyonya."


Semua pekerja sudah mendapat pengarahan dari Nyonya Binta. Bukan itu saja, Nyonya Binta juga menjelaskan bagaimana sifat Viki dan Nara.


Sangat berbanding terbalik. Dan kini mereka bisa melihatnya sendiri. Namun mereka tahu siapa Viki. Jadi, mereka tidak terlalu terkejut dengan sikap angkuh dan dinginnya.


Nara menuju ke jendela. Melihat keluar lewat jendela. Kedua ujung sudut bibir Nara terangkat sempurna. "Indah." gumamnya.


Nara melihat pantai dengan pasir berwarna putih, dengan air biru yang menyejukkan mata. "Kamu suka, sayang."


Viki memeluk tubuh sang istri dari belakang. Menaruh kepalanya di pundak Nara. "Kenapa hanya kita suamiku?"


"Memang kenapa? Bukankah lebih baik?"


Nara menginginkan suasana yang ramai. Sementara Viki, dia menginginkan sebaliknya. Keseharian Viki yang sangat sibuk, dengan masalah pekerjaan di perusahaan.


Membuat Viki menginginkan suasana yang tenang dan sepi.


Viki membalikkan badan Nara, menatapnya dengan intens. Sebenarnya, Viki sudah merasakan jika sang istri tidak merasa nyaman sejak mereka di pucuk gunung.


Oleh sebab itu, rencana Viki turun gunung berubah. Awalnya, Viki ingin turun sore hari. Namun, karena insting Viki merasa jika sang istri merasa kurang nyaman, Viki turun setelah mereka sarapan.


Viki ingin dalam bulan madu pertamanya, Nara merasa nyaman dan bahagia. "Katakan, ada apa sayang?" Viki mengelus lembut rambut Nara.


Nara tersenyum, lalu menggeleng. "Jangan di pendam dalam hati. Kamu pikir suamimu ini bisa membaca pikiran kamu." Viki menggesekkan hidungnya ke hidung Nara.


Nara menatap Viki dengan ragu. Nara ingin berkata jujur. Tapi dia juga merasa tidak enak. Nara takut jika dia dinilai tidak bisa menghargai pemberian orang lain. Apalagi pasti Nyonya Binta dan Tuan Smith sudah mempersiapkan semuanya.


"Kami akan terus diam." tegur Viki.


Nara menunduk. "Sebenarnya, Nara tidak suka tempat yang sepi. Nara ingin pergi ke tempat yang ramai." tutur Nara pelan.


Nara mendongak, menatap wajah Viki. "Tapi Nara takut, jika Nara menolak. Papa dan mama akan kecewa." lanjut Nara.


"Memang kami mau ke mana?" tanya Viki mengelus lembut pipi istri kecilnya.


Nara menggeleng. "Tempat wisata yang ramai. Di sisi jalan, banyak penjual makanan. Lalu ada pertunjukkan yang Nara bisa lihat." jelas Nara.


"Baiklah, suamimu akan mengajakmu ke tempat tersebut. Bagaimana?"


"Tapi..."


"Tapi, kita akan berada di sini sampai besok. Lalu kita pergi ke tempat mana daja yang kamu suka. Dengan begitu, mama sama papa tidak akan merasa kecewa."


Nara mengangguk antusias. "Sebentar." Viki menelpon seseorang, dan dalam hitungan detik, ada seseorang yang membawa sebuah laptop.


Viki mengajak Nara duduk di kursi. "Nara bisa duduk sendiri." cicit Nara. Sebab Viki meletakkan Nara di atas pahanya.


"Begini saja." kekeh Viki tetap ingin memangku Nara.


"Sulitkan." tegur Nara, saat Viki hendak menyalakan laptop.


"Siapa bilang." elak Viki.


Viki menggerakkan jarinya di atas keyboard. "Sekarang kamu pilih, tempat mana yang kamu ingin kunjungi."


"Semudah itu?" tanya Nara tidak percaya.


Viki mencium gemas pipi Nara. "Iya, untuk kamu, istri kecilku. Apapun akan suamimu ini lakukan."


Viki tersenyum senang. Dapat mengabulkan keinginan sang istri. Namun Viki berharap, Nara tidak memilih tempat yang begitu sesak dengan pengunjung.

__ADS_1


Membayangkan saja, kepala Viki sudah pusing. Dan seperti berputar-putar.


Kini, Nara tengah sibuk mencari tempat yang dia inginkan. Dan akan mereka datangi besok. Dan Viki hanya diam. Membiarkan sang istri mencarinya sendiri.


Kebahagiaan Nara adalah tujuan utama Viki.


Berbeda dengan apa yang terjadi dengan Giska. Setiap hari dia hanya uring-uringan tidak jelas. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh para pelayan semuanya tidak ada yang benar.


Mengamuk dan mengamuk. "Sial....!!! Kalau perut gue nggak sebesar ini. Pasti sekarang gue lagi have fun di club bersama teman-teman." umpatnya, menyalahkan janin yang berada di dalam perutnya.


Pintu kamar Giska terbuka dari luar. Giska memandang angkuh pada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


"Apa anda tidak punya sopan santun?" hardik Giska.


Renggo tidak masuk ke dalam kamar Giska. Hanya berdiri di ambang pintu. "Kapan anak itu akan lahir?"


Giska mengerutkan dahinya. Tidak biasanya Renggo bertanya seperti itu. Dan ini pertama kalinya Renggo bicara pada Giska setelah berbulan-bulan.


Giska berdiri. Memamerkan perutnya yang besar. "Kenapa? Ingin minta jatah?" ejek Giska, mengira jika Renggo menginginkan tubuhnya.


Giska berjalan mendekati Renggo, mengalungkan tangannya di leher Renggo. "Tapi maaf Tuan, saya tidak bernafsu dengan anda." ucap Giska dengan percaya diri.


"Aaaw...!!" seru Giska, saat Renggo mencekal pergelangan tangannya, mengalihkan tangannya yang melingkar di leher Renggo.


Renggo menatap dingin ke arah Giska. "Kita akan bercerai, begitu dia lahir."


Giska mundur beberapa langkah. Menatap Renggo dengan lamat-lamat. Lalu menggeleng dan tersenyum. "Benarkan? Berita yang sangat menggembirakan." ucap Giska tertawa.


Giska merentangkan tangannya. "Akhirnya, aku akan bebas. Terimakasih Renggo." Giska memandang Renggo dengan senyum sempurna di bibirnya.


"Tenang saja, begitu anak ini lahir. Kita akan segera bercerai. Dan untuk masalah hak asuh, aku sama sekali tidak keberatan. Jika kamu yang akan merawatnya."


Renggo tersenyum miris dan menggeleng tidak percaya. Sedikitpun, Giska tidak mempunyai naluri seorang ibu.


Tanpa berkata apapun lagi, Renggo meninggalkan kamar Giska tanpa menutup pintu.


Sepeninggal Renggo, Giska bersenandung. Ras kesalnya sedari kemarin. Kini hilang tak tersisa. Kata cerai dari Renggo, seperti sebuah obat yang mujarab.


"Sayang, cepat dong kamu keluar. Biar mama bisa bebas." ucap Giska seperti orang tidak waras.


"Bebas mendekati lelaki yang aku sukai. Viki, sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku. Giska." Giska tertawa bebas dan lepas.


Pelayan yang berada di luar kamar Giska, menatap jijik pada Giska. "Ibu macam apa dia. Tapi syukurlah, Tuan muda Renggo mau menceraikannya. Semoga setelah ini, Tuan muda Renggo mendapatkan perempuan seperti Nyonya Binta. Baik dan penyayang."


"Dan Tuan muda Viki. Mimpi kamu lampir. Kamu pikir lelaki istimewa seperti dia mau dengan perempuan murah seperti kamu. Dasar otak udang."


Sebelumnya, Renggo memang bermaksud tidak akan menceraikan Giska. Karena memikirkan pernikahan Nara dan Viki.


Tapi, perkataan Sara, membuat Renggo sadar. Jika Giska tidak akan bisa menyentuh Viki. "Kamu mau melindungi pernikahan Tuan Viki. Sementara kamu sendiri tahu jika anak di dalam kandungan istrimu bukan darah dagingmu dari Tuan Viki."


"Kamu lupa, siapa Tuan Viki. Lagi pula, coba kamu pikir. Jika memang dia menginginkan Giska, kenapa tidak dari dulu dia bersama Giska. Sebelum kamu dan Giska menikah. Bukankah kamu bilang jika Giska mengejar-ngejar dia."


"Dengan mudah, Tuan Viki bisa melakukan apapun. Bahkan melenyapkan seseorang tanpa meninggalkan jejak. Apa orang seperti itu masih membutuhkan perlindungan."


"Kita tahu, bagaimana besarnya rasa cinta yang dimiliki Tuan Viki pada istrinya. Apa kamu sanksi atas itu. Saya yakin, Tuan Viki tidak akan membiarkan siapapun membuat sang istri menangis sedih."


Dan bukan hanya itu yang membuat Renggo mengubah keputusannya, untuk akhirnya mau melepaskan Giska.


Karena Renggo tahu, jika Sara ternyata memiliki perasaan yang sama padanya. Perasaan saling sayang dan cinta.


"Jika kamu berjanji mau bersama denganku. Aku akan bercerai dengan Giska." ujar Renggo, menatap Sara penuh cinta.


"Lakukan dulu. Ubah statusmu. Jangan muncul di sekitarku. Jika statusmu masih suami perempuan lain. Renggo, seharusnya kamu mengerti. Aku publik figur. Salah jalan sedikit saja, nama baikku akan terseret. Juga kedua orang tua kita."


"Kamu berjanji, akan menungguku. Dan selama itu, jangan pernah membiarkan seorang lelaki mendekati kamu."


"Jika sampai aku melihat kamu dekat dengan lelaki, saat itu juga aku akan menyeretmu. Tidak peduli apa kata orang "


Sara mengangguk. "Tapi ingat, pengecualian untuk Erlangga. Dia temanku. Aku tidak mungkin menjauhinya." jelas Sara.


"Baiklah. Tapi jaga batasan. Jangan membaut aku cemburu." Renggo setuju.


Renggo dan Sara setuju, untuk mereka tidak akan bertemu sebelum perceraian Renggo dan Giska terjadi.

__ADS_1


__ADS_2