
"Benar-benar!!" geram Vanesa, berdiri di depan jendela. Menatap ke arah depan jendelanya dengan rasa kesal bercampur takut. Di mana penjagaan di gerbang depan memang sangat ketat.
Juga demikian dengan semua akses keluar masuk lainnya. Mereka bahkan tidak mengizinkan seekor semutpun untuk masuk dan keluar mansion sesuka hati mereka.
"Bagaimana aku bisa keluar dari dalam sini. Ckk,,, Viki pasti sudah tahu jika aku berada di sini. Tidak mungkin, dia akan diam saja. Saat mengetahui aku berada di sini." Vanesa merasa cemas dengan keselamatannya.
Penjagaan memang ketat. Tapi Vanesa sangat tahu siapa Viki. Terlebih dirinya sudah mencelakai Tuan Hendra. "Tidak mungkin dia membiarkanku di sini." Vanesa semakin ketakutan.
"Aaaa...!!!" teriak Vanesa, menjambak sendiri rambut panjangnya. Melampiaskan rasa kesalnya. "Di saat aku membutuhkannya. Dia malah hilang bagai di telan bumi. Benar-benar bedebah. Sialan. Brengsek." umpatnya.
Lelaki yang selama ini menjadi tempat berlindung Vanesa seakan hilang tak tahu entah ke mana. "Aku harus bagaimana?" Vanesa benar-benar merasa stres.
Padahal, jika Vanesa tetap berada di dalam maupun di luar mansion mewah tersebut. Dia akan tetap aman. Sebab, bukan dirinyalah yang menjadi target utama seorang Viki.
Melainkan seseorang yang berada di belakangnya. Yang bahkan, Vanesa pun tidak mengetahui dan menyadarinya. Jika dirinyalah selama ini yang di jadikan sebuah pion.
Dan sudah dapat di pastikan, Vanesa akan di singkirkan jika sudah tidak berguna. Maka dari itu, sama seperti musuhnya. Viki juga akan menggunakan Vanesa untuk mengungkap siapa pemain yang sesungguhnya.
Dan bawahan Viki mulai beraksi. Seperti yang di perintahkan oleh Viki. Dia akan membuat Vanesa pergi meninggalkan mansion mewah tersebut.
Seakan-akan Vanesa berhasil kabur sendiri. Tetapi dia juga yang akan memberitahu penjaga di mansion mengenai hilangnya Vanesa. Sehingga Vanesa akan kembali ke dalam mansion.
Dan pasti bawahannya yang di percaya untuk menjaga Vanesa akan memberi kabar pada bosnya tersebut.
Dan inilah saatnya untuk mengetahui siapa sebenarnya dalang di balik semuanya. Memberi sedikit jalan pada Vanesa, hingga dia sadar jika dirinya hanya di jadikan pion.
Viki juga mengetahui bagaimana cerdik dan liciknya Vanesa. Dan Viki akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Semoga, semua rencana Viki berjalan sesuai apa yang di harapkannya.
Berbeda dengan Vanesa yang tampak ketakutan dengan pikirannya jika Viki akan mendatanginya. Viki malah sedang makan dengan santai di sebuah restoran bersama dengan Rey.
Melancarkan rencananya untuk bertemu dnegan Nyonya Vanya. Ibu tiri dari Melva sekaligus ibu kandung Nara. Tapi pertemuan tersebut terkesan tidak di sengaja.
__ADS_1
"Kamu yakin, mereka akan makan di sini?" tanya Viki dengan tangan sibuk memainkan ponselnya, tanpa melihat ke arah Rey.
"Iya Tuan." jawab Rey pasti. Baru beberapa detik Viki bertanya pada Rey, terlihat dua perempuan berbeda umur masuk ke dalam restoran dengan gayanya yang anggun dan berkelas.
Siapa lagi, jika bukan Nyonya Vanya dan Melva. Tanpa melihat, Viki dapat menebak siapa yang sedang di tatap oleh Rey. "Mereka datang." ucap Rey lirih.
"Rey." ucap Melva dalam hati, saat melihat Rey. Karena memang, posisi duduk Viki berada di depan Rey. Membelakangi Melva. Sehingga Melva tidak melihat wajah Viki.
"Rey ada di sini. Berarti dia Viki." ucap Melva, menebak sosok yang duduk di depan Rey.
"Sayang, ayo." tegur Nyonya Vanya, menyadari putrinya menghentikan langkah kakinya.
"Ma, itu Viki." ucap Melva tanpa menatap ke arah sang mama.
Nyonya Vanya mengikuti ke mana arah pandangan sang putri. "Ayo, kita ke sana ma." ajak Melva.
Tanpa menunggu jawaban dari sang mama, Melva memegang lengan Nyonya Vanya dan membawa sang mama menghampiri Viki.
"Viki." sapa Melva, yang sudah berdiri di dekat meja Viki.
"Oh iya, kenalkan. Dia mama aku. Ma, dia Viki." ucap Melva dengan senyum di bibir.
"Viki." ujar Viki memperkenalkan diri sembari berjabat tangan dengan Nyonya Vanya.
Viki mempersilahkan Melva dan Nyonya Vanya untuk duduk bersama mereka. Dengan senang hati, Melva duduk di sebelah Viki.
"Tuan, lebih baik saya kembali ke perusahaan terlebih dahulu. Ada pekerjaan penting yang belum saya selesaikan." pamit Rey.
Sengaja berkata seperti itu di hadapan Melva. Berharap Melva merasa Viki memilih tinggal di restoran karena dirinya.
Viki hanya mengangguk pelan mendengar perkataan dari Rey. "Kamu juga akan ikut bersama asisten kamu?" tanya Melva.
__ADS_1
"Tidak. Saya akan di sini sebentar." jelas Viki tersenyum simpul. Hati Melva langsung berbunga mendengar perkataan dari Viki, terlebih senyum yang Viki tunjukkan.
"Masuk." ucap Rey dalam hati. "Jika begitu, saya permisi dulu. Mari semuanya." pamit Rey.
Ketiganya berbincang ringan sembari memakan hidangan yang mereka pesan sebelumnya. "Aku dulu pernah bertemu dengan mama kamu. Beliau bersama anak kecil. Mereka sedang berbelanja keperluan sekolah." jelas Melva.
Viki tersenyum, sembari melirik ke arah Nyonya Vanya. "Sepertinya Tuhan memberi jalan untuk mulut ini mulai berbicara." ucap Viki dalam hati tersenyum senang.
"Ya, dia anak yang kurang beruntung." ujar Viki.
"Maksud kamu?" tanya Melva.
"Dia seorang anak kecil. Yang saya temukan di gang kumuh. Di sekitaran jalan, dimana biasanya para pemulung berkumpul. Juga para pengemis dan pengamen jalanan. Jika tidak salah, di sana juga terdapat sebuah tempat,, ya,, tempat semacam itulah." jelas Viki.
Melva hanya manggut-manggut mendengar perkataan Viki. Nyonya Vanya langsung menatap ke arah Viki. "Apa kamu tidak takut?" tanya Melva.
Viki tahu kemana arah pertanyaan Melva. "Apa yang harus saya takutkan. Seorang anak kecil, berusia sepuluh tahun. Cantik dan baik. Apa mungkin dia akan melakukan hal yang dapat menyakiti keluargaku?" jelas Viki.
"Apalagi, dia berkata jika di buang oleh orang tuanya. K. Dia membawa sebuah benda, dengan huruf K." imbuh Viki melirik ke arah Nyonya Vanya.
Bukan. Viki bukan menyebutkan ciri-ciri Rini. Melainkan Nara. Dan Viki sudah mengetahui semuanya.
Segera Nyonya Vanya mengambil air minumnya. Menghabiskan segelas jus hingga tandas. "Mama. Mama kenapa?" tanya Melva kebingungan.
Apalagi wajah sang mama terlihat pucat, dengan keringat sebesar biji jagung mulai keluar dari dahinya.
"Ma..." panggil Melva, dengan raut wajah khawatir.
"Emm,, mama.. Mama tidak enak badan. Bisa kita pulang sekarang?" ajak Nyonya Vanya.
"Baiklah." ucap Melva, kasihan dan cemas melihat keadaan sang mama.
__ADS_1
Melva segera pamit pada Viki. Tepat di depan pintu keluar, Nyonya Vanya kembali menoleh ke tempat Viki berada.
Degg,,,, Viki menatap tajam ke arah Nyonya Vanya. Dengan tersenyum sinis seraya mengangkat segelas jus kosong yang sudah Nyonya Vanya habiskan.