
"Maaf Tuan, Nyonya. Jika kami boleh bertanya, ada keperluan apa anda berdua datang ke rumah kami?" tanya Tuan Hendra.
Meski keadaannya mulai membaik, namun Tuan Hendra belum kembali bekerja. Tapi beliau menyuruh asistennya untuk mengirimkan semua pekerjaannya yang sempat terbengkalai ke rumahnya.
"Maaf, jika kedatangan kami menggangu waktu istirahat Tuan Hendra dan juga Nyonya Rahma. Tapi, kami datang ke sini untuk meminta pertolongan anda." ucap Tuan Smith dengan sopan.
"Pertolongan kami?" Tuan Hendra dan sang istri saling pandang.
"Silahkan di minum." ucap Nyonya Rahma, saat Mbok Nah menurunkan air minum di atas meja.
"Terimakasih Mbok." ucap Nyonya Rahma, mbok Nah hanya tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala.
Nyonya Binta tersenyum samar melihat sikap dari Nyonya Rahma pada sang pembantu.
Tuan Smith dan Nyonya Binta menyeruput minuman di cangkir tersebut, dan menaruhnya kembali ke atas meja. "Ini mengenai Kayla." ucap Tuan Smith.
Kayla. Nama itu bahkan tidak pernah di dengar oleh Tuan Hendra dan Nyonya Rahma. Membuat sepasang suami istri tersebut saling pandang karena rasa bingung.
"Kami meminta tolong. Pertemukan kami dengan Kayla." mohon Nyonya Binta.
"Kayla." ucap Nyonya Rahma, lebih ke nada bertanya.
"Iya, Kayla. Putri saya." ucap Tuan Smith.
"Tunggu. Sepertinya anda berdua salah. Kami sama sekali tidak mengenal siapa itu Kayla." jelas Tuan Hendra.
Tuan Smith dan sang istri saling pandang. Keduanya melihat, jika Tuan Hendra dan Nyonya Rahma sedari tadi memasang ekspresi bingung. Semenjak merela menyebut nama Kayla.
"Kalian tidak mengenal Kayla?" tanya Nyonya Binta memastikan. Tuan Hendra dan Nyonya Rahma mengangguk bersama.
"Pa..." panggil Nyonya Binta pada sang suami.
"Tapi putra kalian mengenalnya." ujar Tuan Smith.
"Viki?" ucap Tuan Hendra memastikan.
"Benar. Bahkan Viki berniat akan menikahi Kayla." papar Tuan Smith.
"Menikahi Kayla." Tuan Hendra dan sang istri tertawa pelan. Membuat sepasang suami istri yang berada di dekatnya merasa heran.
__ADS_1
"Memang benar, jika putra kami akan menikah. Tapi tidak dengan perempuan bernama Kayla." tutur Tuan Hendra.
"Maaf Tuan, Nyonya. Mungkin kalian salah. Bisa saja, bukan Viki putra kami yang melamar putri anda." ucap Nyonya Rahma.
Keempat orang dewasa tersebut seakan tidak menemukan jalan keluar dari percakapan mereka. Hingga terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka.
"Nara. Sudah pulang?" tanya Nyonya Rahma, melihat calon menantunya menenteng kantong kresek di kedua tangannya.
Nara belum melihat kedatangan Tuan Smith beserta sang istri. Karena keduanya duduk membelakangi Nara.
"Mbak Mira mana?" tanya Nyonya Rahma.
"Masih di belakang. Mengambil belanjaan di bagasi mobil." jawab Nara.
Deggg,,,,, "Apa mungkin, diaaa...." ucap Tuan Smith dalam hati. Meski belum membalikkan badan untuk melihat wajah Nara.
Nara mendekat ke arah mereka. Bersamaan dengan Tuan Smith yang berdiri dan membalikkan badan.
Degggg.... kedua jantung bapak dan anak tersebut berdetak kencang. Langkah Nara terhenti. Dengan pandangan mata saling beradu.
"Kayla." ucap Tuan Smith lirih, memandang nanar sang putri.
Tuan Hendra dan Nyonya Rahma juga sedikit terkejut, saat Tuan Smith memanggil Nara dengan sebutan Kayla.
Segera Nyonya Binta mengikuti sang suami, menoleh ke belakang. "Jadi, dia yang bernama Kayla. Cantik." ucap Nyonya Binta dalam hati.
Nara memutuskan pandangan matanya dengan Tuan Smith. "Nara ke belakang dulu, tante. Mau menaruh belanjaan." ucap Nara tersenyum.
"Iya." Nyonya Rahma tersenyum di sertai anggukan kecil.
"Tunggu,, Kayla. Kay, Kay..." panggil Tuan Smith. Namun Nara sama sekali tidak mengindahkan panggilan dari beliau.
"Pa." Nyonya Binta mengelus pundak sang suami, dan membawanya duduk kembali.
"Jadi, maksud kalian itu Nara?" tanya Nyonya Rahma dengan tatapan menyelidik.
"Iya. Dia putri saya, Kayla." ucap Tuan Smith lirih. Dengan pandangan sendu.
Tuan Hendra melirik pada sang istri. Beliau segera membuka mulutnya, sebelum emosi Nyonya Rahma meluap.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan mencoba berbicara dengan Nara. Tapi maaf sebelumnya, kami tidak bisa memberikan kepastian apapun. Karena semua keputusan ada di tangan Nara." ucap Tuan Hendra dengan bijak.
Tampak raut wajah Nyonya Rahma sudah tidak enak di pandang. "Sebaiknya Tuan dan Nyonya pulang terlebih dahulu. Untuk selanjutnya, kita akan bertukar pesan." saran Tuan Hendra.
"Terimakasih Tuan. Sebenarnya, saya hanya ingin berbicara dengan putri saya. Tidak lebih." ucap Tuan Smith.
Tuan Smith dan Nyonya Binta meninggalkan kediaman Tuan Hendra dengan sedih. Namun mereka merasa sedikit lega, di karenakan ada sedikit harapan.
Saat Tuan Hendra mengatakan akan mencoba membantu mereka berbicara dengan Nara. Meskipun semua keputusan akan di kembalikan pada Nara.
"Papa,,, kenapa papa malah bersikap seperti itu." kesal Nyonya Rahma.
"Seperti itu bagaimana?" tanya Tuan Hendra sok polos, padahal beliau sangat tahu apa yang di maksud oleh sang istri.
"Kenapa papa malah baik pada mereka!" ucap Nyonya Rahma menaikkan intonasi suaranya.
Kedua orang tua Viki sudah mengetahui bagaimana kehidupan Nara sebelum dia dan kedua adiknya tinggal di rumah ini.
Membuat seisi rumah kagum dan semakin sayang terhadap Nara beserta kedua adiknya. Terlebih Nara, meskipun keduanya bukan adik kandung. Namun dia sangat menyayanginya.
"Ma, dengarkan papa." pinta Tuan Hendra. Sementara Nyonya Rahma masih membuang muka dengan bibir cemberut.
"Ma. Lihat papa." pinta Tuan Hendra dengan lembut. Memang, menghadapai makhluk Tuhan yang berjenis kelamin perempuan harus menggunakan kesabaran ekstra. Jika tidak, pertengkaranlah yang akan terjadi.
Dengan gerak lambat dan masih cemberut, Nyonya Rahma memandang ke arah sang suami. "Papa tahu, mama marah dan kesal terhadap mereka. Apa mama lupa. Mereka tamu kita. Datang meminta tolong. Dan cara merekapun baik-baik." jelas Tuan Hendra.
"Eeemm,,, jadi nanti jika ada tamu datang lagi. Meminta papa menikahi dia dengan cara baik-baik. Papa mau membantunya." sengit Nyonya Rahma.
"Astaga." Tuan Hendra menggeleng sembari tersenyum samar.
"Bukan begitu juga ma. Kita akan membantu, siapapun itu. Asal masih dalam batas normal. Dan bantu dalam hal kebaikan." lanjut Tuan Hendra.
"Kebaikan. Menikahkan juga kebaikan." seru Nyonya Rahma masih dalam emosi.
Tuan Hendra hanya tersenyum samar. "Sedang membicarakan Nara, kenapa malah ke pernikahan." ucap Tuan Hendra tersenyum jahil.
"Ya, kalau papa sih lihat-lihat dulu. Jika perempuannya masih muda, cantik, dan bahenol. Siapa yang menolak." ucap Tuan Hendra menggoda sang istri yang sedang emosi.
Segera Tuan Hendra pergi meninggalkan sang istri yang masih mencerna perkataannya. "Menikah. Papaaa....!! Awas saja kalau berani menikah lagi. Habis burung papa." teriak Nyonya Rahma menggema. Tanpa mempedulikan penghuni rumah lainnya.
__ADS_1
"Pokoknya, sampai kapanpun. Saya tidak akan membiarkan mereka mengambil Nara. Tidak akan. Enak saja. Dulu di sia-siakan. Sekarang mau di ambil. Memang Nara barang." geram Nyonya Rahma.
Nara yang sedari tadi berdiri di pojokan, merasa senang. Melihat bagaimana Tuan Hendra tidak mengambil keputusan sendiri. Melihat Nyonya Rahma yang sangat menyayanginya.