
"Maaf, kakak nggak bisa antar kalian pulang. Kakak sudah ada janji sama suami kakak." ucap Ella pada Nara.
"Iya kak. Nggak apa-apa."
"Kak...!!" seru Nara saat Ella memberinya uang. Dan Nara dapat memastikan uang tersebut berjumlah banyak.
"Sudah terima saja. Ella nggak akan miskin ngasih uang elo segitu. Dia lebih kaya dari gue." celetuk Viki.
"Lebih kaya dari Abang?" tanya Nara memastikan.
"Nggak usah kamu dengerin. Yang kaya suami kakak." timpal Ella.
"Kalian hati-hati ya. Kakak pamit dulu." ucap Ella.
"Elo nggak pamit sama gue." celetuk Viki.
"Nggak penting." seru Ella meninggalkan apartemen Viki. Nara tersenyum melihat keakraban Viki dan Ella.
"Bang, kak Ella cantik ya. Tinggi. Baik." puji Nara.
"Dia model." ucap Viki singkat.
"Pantas. Cantik." ujar Nara.
"Nara kira Kak Ella kekasih Abang." ucap Nara mengeluarkan perkataan yang selama ini tersimpan di otaknya.
Viki tidak menanggapi perkataan Nara, dirinya bergegas masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.
"Sebentar lagi apartemen akan sepi kembali." gumam Viki dengan tangan sibuk memakai kaos.
"Kalian sudah bersiap?" tanya Viki melihat Nara beserta adiknya di depan televisi.
"Sudah Bang." ucap Nara.
"Nara hanya membawa sedikit mainan Rini dan Bima. Rumah kami sempit." jelas Nara saat Viki melihat ke arah tas yang hendak di bawa oleh Nara.
"Ayok." Viki mengambil Bima dan menggendong anak berusia dua tahun tersebut. Dengan tangan sebelahnya membawa tas yang berisi barang mereka.
"Biar Nara saja Bang." ucap Nara, melihat Viki menggendong sambil membawa barang.
"Jangan cerewet." bentak Viki. Rini hampir tertawa mendengar perkataan Viki pada sang kakak. Tapi segera Rini membungkam mulutnya sendiri. Takut di marahi oleh Nara.
__ADS_1
Nara hanya melotot sambil tersenyum menyadari Rini tertawa karena dirinya di bentak Viki.
Viki berjalan di depan. Dengan Nara dan Rini mengekor di belakangnya. Entah kenapa, hati Nara menghangat melihat Viki menggendong Bima.
"Setelah ini, apa kita akan bertemu lagi Bang." batin Nara berharap.
Sungguh, hati Nara sudah terpaut pada tubuh tinggi dan tegap di depannya. Tapi Nara tidak menyadari hal tersebut.
Viki berada di balik kemudi. Dengan Rini duduk di samping Viki. Sementara Nara dan Bima duduk di kursi belakang.
"Bang Viki. Kapan-kapan Rini bolehkan datang ke rumah Abang?" tanya Rini.
"Boleh." jawab Viki dengan tangan kiri mengacak pelan rambut Rini.
Viki menghentikan mobilnya tepat di depan gang menuju rumah Nara. Karena mobil tersebut tidak bisa masuk, lantaran gangnya sangat sempit.
"Abang nggak usah ikut ya." ucap Nara.
"Antarnya sampai sini saja." imbuh Nara.
Viki mendengus sebal. "Oke. Hati-hati." ucap Viki menuruti keinginan Nara.
Viki memandang tubuh kecil Nara yang tengah menggendong Bima dengan tangan menenteng tas di tangannya. Dengan Rini yang juga menenteng tas berjalan di depan Nara.
Viki masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya tak tentu arah.
"Nara." seru bu Anis begitu melihat Nara beserta kedua adiknya.
"Bu." ucap Nara
"Bawa masuk dulu." ucap Bu Anis melihat Bima terlelap dalam gendongan Nara. Keempatnya masuk ke dalam rumah Nara.
"Kemana kalian pergi selama ini?" tanya Bu Anis dengan wajah penasaran bercampur khawatir.
"Nara tinggal di rumah seseorang yang menolong kami Bu. Beliau tidak mengizinkan kami pergi sebelum Bima sembuh." ucap Nara sedikit berbohong.
"Syukurlah. Ibu lega. Yang terpenting kalian baik-baik saja." ucap Bu Anis tersenyum.
Sebenarnya Bu Anis sempat berdebat dengan suaminya siang tadi. Gombloh, suami bu Anis bermaksud menyewakan rumah yang di tinggali oleh Nara dan kedua adiknya. Lantaran beberapa hari mereka tidak terlihat.
Tapi Bu Anis tidak setuju. Dengan alasan Nara sudah membayar untuk dua bulan ke depan. Alhasil, Bu Anis mendapatkan pukulan di tubuhnya.
__ADS_1
Bu Anis meminta waktu hingga malam. Jika hingga malam hari Nara dan kedua adiknya belum kembali, Bu Anis tidak keberatan jika rumah mereka di sewakan pada orang lain.
Betapa senangnya hati bu Anis, melihat ketiga anak tersebut kembali saat matahari mulai tenggelam.
"Ada apa bu?" tanya Nara merasa ada sesuatu yang janggal dengan pandangan bu Anis pada dirinya.
"Tidak. Ibu hanya kangen dengan Bima. Kamu kan tahu, anak seusia Bima itu ngangen-ngangenin." ucap Bu Anis beralasan.
"Ya sudah, kalian istirahat. Ibu pulang dulu." pamit bu Anis.
Nara menutup pintu, tak lupa menguncinya dari dalam. Sementara Rini tampak sibuk mengeluarkan mainan setelah bu Anis pergi dari rumah mereka. Nara tersenyum melihat Rini.
"Rini, ingat ya pesan kakak." ucap Nara mengingatkan Rini. Jika dirinya tidak boleh memberitahu siapapun jika mereka tinggal di apartemen Viki.
Bukan mengajarkan kebohongan pada Rini, hanya saja Nara takut akan pandangan orang. Apalagi Nara adalah seorang perempuan yang sudah beranjak dewasa. Dan Viki, lelaki dewasa.
Nara tidak ingin menggiring opini banyak orang. Jika Nara dan kedua adiknya tinggal di apartemen Viki. Nara takut mereka akan membicarakan hal yang tidak baik, padahal Nara tidak melakukan hal tersebut.
"Kak, sekarang Rini nggak bisa lihat televisi lagi dong." oceh Rini.
Karena biasanya, jam segini dirinya sedang berada di depan televisi saat berada di apartemen Viki. Menonton acara kartun kesukaannya.
"Sayang. Jika kita punya televisi, nanti akan bertambah biaya sewanya. Dan juga, kakak belum punya uang untuk membeli televisi." ucap Nara dengan lembut, memberi pengertian pada sang adik.
"Oooo,,, begitu ya kak." ucapnya tanpa memandang ke arah Nara. Karena tangannya sibuk merapikan mainan yang di belikan oleh Viki.
"Besok kakak akan bekerja kembali. Kamu jaga Bima ya." ucap Nara.
"Iya kak." ucap Rini.
Hari semakin larut. Rini sidah membaringkan badannya di samping Bima. "Kalau di rumah Bang Viki, selimutnya tebal." gumam Rini menaikkan selimut sampai lehernya.
Nara hanya tersenyum mendengar perkataan Rini. Tatapan mata Nara seakan menerawang jauh. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Sesekali Nara bernafas panjang. Seperti ada sesuatu yang hilang dari sisinya. Dan dia tidak tahu apa itu.
Viki menatap tajam ke arah jalan. "Giska. Sedang apa dia di sini." batin Viki melihat Giska berdiri di pinggir jalan.
Kakinya menendang-nendang ke arah ban mobil. Viki melajukan mobilnya dengan pelan. Menajamkan penglihatannya. Ternyata ban mobil milik Giska kempes.
"Di tolong apa tidak ya." gumam Viki.
__ADS_1
Sebenarnya Viki merasa kasihan. Tapi di sisi lain, Viki juga merasa enggan menolong Giska.