VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 38


__ADS_3

Saat ingin menjawab pertanyaan dari Rey, ponsel Viki berdering. "Baik Tuan." ucap Rey, saat tangan Viki mengisyaratkan untuk dirinya meninggalkan ruangannya.


"Bagaimana?" tanya Viki, setelah menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya.


………………


"Kirimkan ke ponsel saya." pinta Viki.


"Akan saya transfer uangnya sekarang juga." ucap Viki.


Viki segera mematikan sambungan telepon dengan seseorang yang dibayarnya untuk mencari tahu pemilik nomor yang sudah dua kali mengirim pesan, terkesan seperti ancaman.


"Dia." kening Viki mengernyit. Melihat biodata yang dikirimkan oleh orang suruhannya.


"Kenapa?" tanya Viki pada dirinya sendiri. Karena Viki sangat mengenal siapa orang tersebut.


Dan selama ini, mereka tidak pernah ada masalah. Lantas kenapa dia mengirimkan pesan, yang terkesan seperti sebuah ancaman pada Viki.


"Apa dia hanya bercanda." batin Viki. Dirinya masih tidak percaya jika dialah yang mengirim pesan pada ponsel milik Viki.


"Aku tidak boleh gegabah." Viki memanggil Rey menggunakan interphone yang terletak di atas meja kerjanya.


"Iya Tuan." Rey sedikit membungkukkan badan, saat dirinya sudah berhadapan dengan atasannya tersebut.


"Cari tahu semuanya tentang dia." Viki mengirimkan biodata tentang seseorang ke dalam ponsel Rey. Dirinya tidak ingin bertindak terlalu dini, sebelum benar-benar menyelidiki lebih lanjut.


Segera Rey mengambil ponselnya. Pandangan mata Rey langsung menatap layar ponsel miliknya. "Baik Tuan." ucap Rey.


"Bagaimana? Apa kamu sudah memberitahu para investor, jika saya ingin bertemu dengan mereka. Segera." tanya Viki.


"Sudah Tuan, satu jam lagi pertemuan akan dilakukan." ujar Rey, bergerak dengan cepat.


Karena Rey sangat tahu, jika Viki pasti akan menanyakannya. Dan tebakannya ternyata benar. Oleh karena itu Rey segera menjalankan tugas saat Viki sudah membuka mulutnya.


"Kirimkan lewat email. Tulisan-tulisan yang akan membuat mereka tertekan, sebelum bertemu denganku. Anggap saja sebagai syok terapi." perintah Viki dengan raut wajah datar.


"Baik. Tuan." ucap Rey.


"Dan untuk perusahaan yang sempat membatalkan kerjasama. Kirimkan surat peringatan. Katakan juga, jika mereka tetap membatalkan, kita akan tuntut mereka." imbuh Viki.

__ADS_1


"Dan untuk Tuan Marko. Suruh anak buahmu untuk memantau saja. Kita akan lihat. Apa yang akan dilakukannya kembali."


"Baik Tuan. Emm,,, maaf Tuan. Saya ingin menanyakan sesuatu." ujar Rey dengan hati-hati.


"Kenapa kita tidak membalas perbuatan Tuan Marko." saran Rey.


"Maaf Tuan." ucap Rey, saat Viki menatap tajam ke arahnya.


"Lakukan saja apa yang aku katakan. Aku tahu, apa yang harus aku lakukan." ucap Viki.


"Baik." segera Rey mengundurkan diri dan meninggalkan ruang kerja Viki. Sebelum Viki menegurnya kembali.


Sekitar satu jam, Viki bertemu dengan para investor untuk perusahaannya.


"Bagaimana?" tanya Viki tenang. Duduk di kursi single dengan senyum sinis. Menatap satu persatu semua orang yang berada di dalam ruangan.


"Kamu tidak bisa melakukan semua ini!" bentak salah satu investor.


"Kenapa?" tanya Viki tetap dengan tenang.


"Saya mengumpulkan kalian di sini, bukan untuk meminta pendapat."


"Pilihan kalian hanya dua. Pertama, tetap menjadi investor dari perusahaanku. Dan nama baik kalian tetap aman. Atau pilihan kedua, menarik semua investasi kalian."


"Dan saya rasa kalian bukan orang bodoh. Seharusnya kalian tahu, jika kalian menarik kembali investasi kalian. Apa yang akan saya lakukan."


"Boommm,,,, semua yang sudah kalian rintis dari awal. Akan hilang dan lenyap." ucap Viki tersenyum remeh.


Yapss. Viki menyuruh Rey untuk menyelidik setiap investor yang menarik investasi dari perusahaan secara pribadi.


Menjadikan masalah pribadi sebagai senjata Viki. Karena para investor perusahaan milik Viki, kebanyakan adalah mereka yang sangat menjaga nama baik.


Viki berdiri dari duduknya. "Waktu berpikir kalian." Viki melihat ke arah pergelangan tangannya. Dimana ada sebuah jam tangan melingkar di sana.


"Sepuluh menit." imbuh Viki, sontak semua mata menatap tajam ke arah Viki. Ray hanya tersenyum melihat permainan dari atasannya tersebut.


Tampak mereka yang berada dalam ruangan ingin sekali mengumpat dengan kata-kata kasar pada Viki. Tapi mereka tidak seberani itu.


Bahkan jika bisa, pasti mereka ingin sekali menghancurkan wajah tampan milik Viki. Yang sekarang tersenyum tanpa beban.

__ADS_1


"Ckk,, Saya rasa, uang yang kalian terima dari Tuan Marko sebanding dengan nama baik kalian yang akan hancur di mata publik." ucap Vano.


Mereka terkejut, ternyata Viki mengetahui jika mereka menarik investasi dari perusahaan Viki lantaran karena campur tangan Tuan Marko.


"Dan sepertinya, kalian yang ingin menjabat sebagai pegawai pemerintah. Yang akan mengabdikan diri untuk masyarakat, bisa menggunakan uang dua milyar lebih tersebut untuk memuluskan jalan kalian. Untuk duduk di salah satu kursi dewan." cicit Viki, mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.


"Pasti rakyat akan sangat mendukung kalian. Jika mereka tahu dari mana kalian mendapatkan uang." sindir Viki.


Semua orang di ruangan hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja. Menahan emosi mereka yang sudah di ubun-ubun. Melawan Viki. Bukan pilihan yang baik untuk mereka.


"Sepertinya saya terlalu banyak berkata." Viki kembali duduk di kursi.


"Sepuluh menit lebih. Ckk,,, saya terlalu bersemangat." imbuh Viki melihat kembali pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Rey." Viki menggerakkan tangannya. Mengisyaratkan sesuatu pada Rey, sang asisten. Dengan segera Rey memberikan selembar kertas pada setiap investor.


"Apa maksud semua ini?!" tanya salah satu investor dengan nada membentak tidak terima.


"Astaga, kalian semua lulusan universitas ternama. Bukan lagi anak paud atau SD. Kenapa harus bertanya." ejek Viki.


"Pilihan kalian hanya dua. Tanda tangani. Atau sobek kertas yang sedang kalian pegang." ucap Viki.


Pilihan. Sebenarnya Viki tidak pernah memberikan pilihan pada mereka. Karen pada akhirnya, mereka pasti akan menandatangani lembar kertas yang di berikan oleh Rey.


"Lima menit saya berikan untuk kalian menandatangani kertas di depan kalian." ucap Viki dengan tenang.


Viki tersenyum samar. Melihat semua orang di ruangan membubuhkan tanda tangan pada kertas yang di berikan oleh Rey.


Meski Viki sadar, jika mereka semua pasti membubuhkan tanda tangan karena terpaksa.


"Soal Tuan Marko. Saya rasa kalian bisa mengatasinya sendiri." ucap Viki dengan enteng.


Segera Rey mengambil kembali kertas yang sudah di berikan tanda tangan oleh para investor. "Ini hanya peringatan kecil, untuk kalian." ucap Viki berdiri dari duduknya.


"Aku bisa membuat kalian merasakan sesuatu yang bahkan tidak pernah terbesit di benak kalian.Jika kalian membuatku merasa tidak senang." ancam Viki.


"Satu lagi. Kalian mendapat titipan salam dari Tuan Haris dan juga Tuan Danto." ucap Viki.


Seketika, tubuh semua orang di dalam ruangan membeku, mendengar Viki menyebut dua nama pebisnis handal dan juga sukses.

__ADS_1


__ADS_2