VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 78


__ADS_3

Prangg..... prangg.....


Terdengar suara benda jatuh dan pecah. Pastinya dilakukan dengan sengaja, oleh seorang perempuan yang marah dan kesal. Membabi buta, menghancurkan semua barang di dalam kamarnya.


"Ada berapa banyak nyawa Hendra....!!" pekiknya dengan mata memerah karena marah.


Jika sebelumnya, orang suruhannya yang di bayar dengan sangat mahal. Tidak mampu membuat Tuan Hendra tewas.


Dan sekarang, dirinya baru saja mendapat kabar jika dokter yang di bayarnya gagal melakukan tugasnya. Dan sekarang dia sedang berada di tangan Viki.


Nafasnya tersengal-sengal meluapkan amarah. "Jika aku tidak bisa melenyapkan Hendra, maka aku akan merubah target selanjutnya. Rahma." ucapnya dengan mata penuh dengan sorot kebencian.


"Aku ingin kamu merasakan. Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu sayang." desisnya dengan nada penuh dendam, menyimpan amarah yang besar.


"Aaaaa....!!!" teriaknya, menjambak rambutnya sendiri. Dendam di hatinya sudah membuatnya menjadi perempuan berhati iblis.


Dia mencoba mengatur nafas, mengumpulkan kembali kewarasannya. "Aku harus segera menyingkirkan semua bukti. Jangan sampai Viki mencium keberadaanku. Ini bukan saatnya. Aku masih belum menginginkannya." ucapnya.


Segera dia menghubungi seseorang. "Lenyapkan seluruh keluarganya. Sekarang. Jangan sampai anak buah Viki menemukan jejak. Apapun itu. Lakukan dengan cepat dan rapi." perintahnya pada seseorang di ujung ponselnya.


Senyum iblis terpatri di bibirnya yang seksi. "Jangan salahkan aku, jika seluruh keluargamu tidak pernah melihat matahari lagi setelah ini. Semua itu karena kebodohanmu. Dokter tolol." cibirnya dengan mata memicing sebelah.


Kejam dan biadab. Itulah gambaran nyata dari sosok perempuan tersebut. Bahkan dia menyuruh anak buahnya untuk membunuh seluruh anggota keluarga dokter yang gagal dia suruh untuk menghabisi Tuan Hendra.


"Aku akan berhenti sementara waktu." gumamnya. Terlebih lelaki yang selama ini menjadi sandarannya sedang tidak berada di tempat.


"Kapan kamu kembali." gumamnya. "Aku merindukanmu" imbuhnya tersenyum licik.


"Merindukan kekuasaanmu. Untuk aku pergunakan melenyapkan nyawa orang." sungutnya. Benar-benar iblis betina.


Rey segera menemui Viki di rumah sakit. Ada hal besar yang tidak bisa dia katakan lewat ponsel. "Kita bicara di luar." ucap Viki, meninggalkan ruangan sang papa.


Viki mendekat ke arah Nara. "Aku keluar dulu. Titip mama." tampak Nyonya Rahma sedang tertidur dengan posisi duduk di dekat ranjang Tuan Hendra.


"Kalian jaga. Jangan sampai ada yang masuk ke dalam." perintah Viki pada bawahannya yang berjaga di depan.

__ADS_1


"Tuan, keluarga dokter tersebut tidak ada yang selamat." ucap Rey.


Viki menatap ke arah Rey, meminta sebuah penjelasan. "Kami datang ke sana. Dan....." Rey menceritakan semua yang mereka lihat di belakang rumah sang dokter.


Seorang perempuan tengah hamil besar beserta dua gadis perempuan tergeletak di pekarangan belakang rumah sang dokter. Ketiganya bersimbah darah, dan sudah tidak bernyawa.


"Ternyata dia benar-benar iblis." desis Viki. Dirinya benar-benar tidak mengira, jika musuhnya kali ini memiliki kekejaman yang tidak terduga.


Viki mengambil sesuatu dari dalam saku kemejanya. "Selidiki perempuan ini." Viki menyerahkan foto seorang perempuan pada Rey.


"Baik." Rey menatap sekilas foto tersebut, memasukkannya ke dalam saku celananya.


"Apa ada yang lain?" tanya Viki.


"Mengenai bros itu. Dia sudah menemukan siapa yang memesan benda tersebut." ucap Rey.


"Kirimkan hasilnya ke email ku."pinta Viki.


"Baik. Tuan, besok ada pertemuan penting dengan klien. Apakah anda akan menghadirinya?" tanya Rey hati-hati.


Segera Rey meninggalkan rumah sakit. Melakukan perintah atasannya. Untuk menyediakan alat medis lengkap di kediaman Tuan Hendra.


Viki merasa jika di rumah sakit ini, masih ada seseorang yang memantau keluarganya. "Dia benar-benar berbahaya. Gue yakin, dia tidak bergerak sendiri. Ada seseorang yang berkuasa di belakangnya." gumam Viki, seolah bisa menebak siapa dalang di balik kecelakaan yang menimpa sang papa.


Karena jujur, Viki tidak bisa mengendus di mana keberadaannya sekarang. Seseorang yang Viki curigai. "Aku harus tetap berusaha. Di manapun kamu bersembunyi, pasti aku akan menemukanmu." desis Viki mengeratkan telapak tangannya.


"Abang yakin?" tanya Nara pelan, setelah Viki masuk ke dalam ruang rawat Tuan Hendra.


"Iya." jawab Viki singkat. Setelah Viki menjelaskan pada Nara, jika akan memindahkan perawatan sang papa di rumah saja.


Dan ternyata Viki sudah menghubungi Andrew. Dan Andrew juga menyetujuinya. Dia akan tetap bertanggung jawab atas kesehatan Tuan Hendra kedepannya.


"Apa tidak berbahaya?" tanya Nara, memeluk Viki dari samping.


"Tidak." jawab Viki, menepuk pelan pundak Nara.

__ADS_1


"Karena kalian bertiga yang akan dalam bahaya, jika kalian tetap berada di sini." ucap Viki dalam hati.


"Bagaimana dengan keadaan Hana. Apa dia sudah sadar?" tanya Viki dalam hati. Ingin Viki menjenguk Hana, tapi dirinya juga tidak tenang meninggalkan sang papa di rumah sakit hanya bersama mama dan Nara.


Begitupun dengan Denis. Dirinya merasa jika masih ada orang yang mengincar nyawa Hana. Alhasil, mereka saling bertukar kabar lewat ponsel.


"Semua sudah selesai Tuan." ucap Rey, segera Nara melepaskan pelukannya. Merasa riskan saat Rey masuk ke dalam. Apalagi Rey masuk tanpa mengetuk pintu.


"Andrew akan ke sini sebentar lagi." Viki berdiri dari duduknya. Dengan pelan, dia membangunkan sang mama.


Setelah Nyonya Rahma mengumpulkan nyawa sepenuhnya, Viki menceritakan keinginannya. "Kenapa?" tanya Nyonya Rahma terlihat khawatir. Beliau merasa ada yang di rahasiakan dari dirinya.


Viki menggenggam erat telapak tangan sang mama sambil berjongkok di depannya. Sebab, Nyonya Rahma sedang dalam posisi duduk di kursi.


"Viki akan lebih tenang, jika kalian berada di rumah. Mama tidak perlu berpikir macam-macam." ucap Viki menenangkan sang mama. Karena Viki juga tidak mungkin menceritakan semuanya yang terjadi pada Nyonya Rahma.


"Tante." Nara memegang kedua pundak Nyonya Rahma dari belakang. "Bukannya lebih bagus, kita bisa lebih leluasa jika merawat om di rumah. Apalagi di rumah ada suara Bima dan Rini. Siapa tahu, suara cempreng keduanya bisa membuat om segera membuka kedua matanya." ucap Nara, membujuk Nyonya Rahma dan tersenyum.


"Baiklah, mama nurut saja. Terserah kamu." pasrah sang mama yang juga terlihat lelah. Bukan hanya lelah menunggu sang suami.


Tapi juga lelah dengan keadaan ini. Apalagi ada seseorang yang berniat menghabisi nyawa sang suami. Membuat Nyonya Rahma menjadi syok.


"Tuan, Nyonya Ane tadi menghubungi saya. Beliau berpesan, agar Tuan menghubunginya jika membutuhkan bantuan darinya." jelas Rey.


"Iya." jawab Viki singkat.


"Apakah di rumah sudah di persiapkan ruangan untuk papa?" tanya Viki.


"Sudah Tuan. Pembantu di rumah sudah menyiapkannya. Dokter Andrew juga sudah berada di sana untuk menyiapkan semua alat medis." jelas Rey.


Di rumah sakit, di bantu ahli medis lainnya. Mereka membawa Tuan Hendra untuk pulang ke rumah. "Bang, kenapa Nara harus berpakaian seperti ini?" tanya Nara penasaran.


Karena Viki menyuruh Nara memakai jaket yang kebesaran di badannya. Dan juga rambut yang semuanya di masukkan ke dalam topi. Tak lupa Nara juga di suruh memakai kacamata dan masker untuk menutupi wajahnya.


"Sudah diam saja. Berjalan dengan baik dan benar." ujar Viki tanpa menoleh ke arah Nara, dan terus berjalan.

__ADS_1


Di arah lain, ada seorang lelaki yang melaporkan apa yang di lihatnya pada atasannya. "Nyonya, Tuan Hendra di bawa pergi dari rumah sakit." lapornya melalui ponsel.


__ADS_2