VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 99


__ADS_3

Benar dan sesuai perkiraan Viki. Vanesa menargetkan Melva sebagai seseorang yang dia incar selanjutnya.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Tuan?" tanya Rey pada atasannya.


Viki tersenyum miring. Mengangkat salah satu ujung bibirnya ke atas. Senyum yang akan membuat siapa saja bergidik ngeri saat melihatnya. Termasuk Rey sang asisten.


"Dia sudah bersembunyi dengan sangat lama dan rapat." Viki menyatukan kedua telapak tangannya, dengan siku yang menjadi tumpuannya, di taruh di atas meja.


"Tempatkan beberapa bawahanmu di sekitar Melva. Buat Melva dan juga Vanesa tahu, jika aku yang menyuruhnya." ucap Viki tersenyum smirk.


Rey menelan ludahnya dengan pelan dan sulit. Dari tatapan dan ekspresi yang di tunjukkan Viki, Rey bisa menebak jika sang atasan mempunyai sebuah rencana.


"Saat ini, aku sedang tidak ingin berurusan dengannya. Salah satu cara hanya membuat Vanesa keluar dari mansion mewah miliknya. Dengan begitu, aku akan dengan mudah menangkap perempuan sihir itu." gumam Viki, tapi masih terdengar jelas di telinga Rey.


Rey yakin, Viki saat ini sudah menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dan untuk menghadapinya, pasti Viki akan meraih kemenangan yang mutlak.


Tapi untuk saat ini, Viki lebih memilih untuk tidak menyenggolnya. Bukan karena dia takut. Namun saat ini, ada urusan yang lebih penting.


Apalagi jika bukan keinginan Viki untuk menikahi Nara. Menurutnya, ketimbang membuat masalah dengan orang yang tidak penting. Lebih baik Viki menghindarinya.


"Apa kamu sudah memasukkan seseorang ke mansion mewah itu?" tanya Viki.


"Semua berjalan sesuai keinginan anda, Tuan." ucap Rey.


"Aku harap dia tahu, apa yang harus dia lakukan." lanjut Viki.


"Tenang saja Tuan. Dia dapat di andalkan." jelas Rey. Jika saat ini sudah ada anak buah Viki yang menyusup ke tempat di mana Vanesa tinggal.


"Jika Vanesa tidak juga keluar dari sana. Kamu tahukan, apa yang harus dia lakukan?" tanya Viki memastikan.


"Iya Tuan, saya sudah memberitahu dia sebelumnya." jawab Rey.


"Jangan sampai ada keributan. Kita harus bermain serapi mungkin. Saatnya kita menggunakan otak dan trik." seringai Viki.


"Pasti." ucap Rey. "Semoga dia tidak mengacau rencana Tuan Viki." ucap Rey dalam hati. Berharap anak buahnya menjalankan semua sesuai keinginan Viki.

__ADS_1


"Ingin sekali aku membawa Nara keluar rumah. Memberitahu pada semuanya, jika seorang Viki mempunyai gadis imut dan cantik." celetuk Viki tiba-tiba.


"Mulai bucin deh." ucap Rey dalam hati. Tapi Rey merasa senang, saat melihat Viki juga senang.


"Ambil alih semua pekerjaanku." perintah Viki dengan tiba-tiba, berjalan keluar meninggalkan ruangannya.


"Tu-Tuan...!!" panggil Rey sedikit berteriak. Namun Viki terus melanjutkan langkah kakinya dengan senyum di bibir, seolah indera pendengarannya tidak mendengar jika Rey memanggil dirinya.


"Astaga. Sabar Rey." Rey mengelus dadanya sendiri. "Ckk...." decak Rey, karena setelah mengenal rasanya jatuh cinta dengan Nara, Viki menjadi seenaknya meninggalkan pekerjaannya.


Dan dapat di pastikan, Rey yang menyelesaikan semuanya. Secara baik dan tepat. Sesuai keinginan Viki. "Untung saja, gue di bayar mahal." ucap Rey, teringat bulan lalu dirinya mendapat bonus besar, hingga jumlah gajinya mencapai tiga kali lipat gaji sebulan.


"Sebaiknya aku segera bersiap." ucap Rey dengan wajah lesu. Karena setelah ini, dia harus bertemu dengan perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Viki.


Dengan senyum, Viki mengendarai mobil. "Nara,,, aku datang." gumamnya sembari menyetir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Siapa kalian?!" bentak Melva, saat mobilnya di hadang empat orang memakai topeng sebagai penutup wajah.


Seperti perintah Rey, mereka membiarkan keduanya pergi. Tapi sebelumnya mereka menyebut nama Viki, sesuai apa yang di inginkan oleh atasan mereka.


"Terimakasih." ucap Melva. Rasa takutnya seketika menghilang, saat mendengar mereka menyebut nama Viki. "Apa benar, Viki yang menyuruh kalian?" tanya Melva dengan senyum di bibirnya.


"Benar Nona. Kami di perintahkan Tuan Viki untuk menjaga dan selalu mengawasi Nona." ucapnya.


Di dalam mobil, bibir Melva tersenyum sempurna. "Ternyata Viki sangat perhatian. Sampai segitunya dia menjaga aku." ucap Melva dengan kedua mata berbinar bahagia.


Melva seperti melayang di udara. "Viki, dia benar-benar menyukai Melva." ucap Melva tersenyum senang.


"Melva. Tidak ada lelaki yang tidak bisa dia dapatkan." puji Melva pada dirinya sendiri.


Sementara di tempat lain, Vanesa memasang ekspresi datar mendengar laporan akan kegagalan bawahannya menculik atau membawa Melva ke hadapannya.


Padahal ingin sekali Vanesa mendengar secara langsung semuanya dari bibir Melva. "Keluar." Vanesa mengibaskan telapak tangannya, mengusir bawahannya untuk meninggalkannya sendiri.

__ADS_1


Vanesa masih tidak percaya, jika Viki benar-benar mempunyai hubungan dengan Melva. Sungguh, semuanya di luar dugaannya. "Apa yang terjadi, seandainya aku menyebar foto Viki dan Jo yang terlihat mesra." ucap Vanesa penuh pertimbangan.


"Tunggu. Kenapa Viki seperti sengaja memperlihatkan jika dirinya sangat menjaga Melva. Tidak. Bukan, ini bukan seperti Viki." lanjut Vanesa, menyadari sesuatu.


"Aaaaaa,,,, sial." Vanesa segera berlari keluar kamar dan mencari bawahannya. Sepertinya Vanesa menyadari sesuatu.


"Dimana orang yang kamu suruh menculik Melva?!" tanyanya dengan nada membentak.


"Mereka sudah keluar dari mansion Nyonya." ucapnya.


Tubuh Vanesa terhuyung ke belakang. "Tidak." Vanesa merasa akan terjadi sesuatu pada dirinya.


Segera Vanesa kembali ke kamar. Mengambil benda yang di anggapnya berharga. Dan kembali menurini anak tangga. "Tunggu Nyonya, anda mau ke mana?" tanyanya, melihat Vanesa bergegas keluar dari mansion, dengan tas berada di tangannya.


"Aku tidak ingin mati sia-sia." ucap Vanesa.


Bawahan tersebut memandang Vanesa dengan tatapan rumit. "Lepas!!" hardiknya, saat ada tangan yang menarik lengannya.


"Maaf, Tuan menyuruh kami untuk tetap memastikan anda tetap berada di mansion. Silahkan kembali Nyonya." ucapnya, sementara yang lainnya menutup pintu mansion.


"Siapa kamu. Berani sekali menyentuh, bahkan memerintah saya." Vanesa menunjuk tepat di wajahnya.


Plakk.... Dengan penuh emosi, Vanesa menamparnya. Tapi dia hanya mengeratkan rahangnya. Menahan emosinya.


Dia sadar betul, siapa wanita di depannya. Dia adalah perempuan milik atasan mereka. Melukainya sama saja menyerahkan nyawa. "Bawa Nyonya kembali ke kamar." perintahnya pada pelayan di rumah.


"Tidak perlu!!" bentak Vanesa, berjalan dengan kesal kembali ke lantai atas. Masuk ke dalam kamarnya.


"Anda akan selalu aman, jika tetap berada di dalam mansion Nyonya." ucapnya dengan nara rendah.


"Sok tahu. Siapa bilang, jika aku akan aman jika tetap di sini!! Kami tahu, mansion ini akan menjadi kuburanku!!" teriak Vanesa.


Vanesa menghentakkan kakinya, berjalan penuh emosi menaiki anak tangga untuk kembali ke dalam kamarnya. Lebih tepatnya ke dalam penjara emasnya.


Sepasang mata tersenyum samar melihat bagaimana sikap yang di tunjukkan oleh Vanesa. "Saatnya melaporkan pada Tuan. Ini saatnya." ucapnya dalam hati. Bersikap senatural mungkin.

__ADS_1


Dirinya tidak ingin musuh mengetahuinya. Karena jika musuh mengetahuinya, sama saja menyerahkan nyawanya. Dan artinya dia gagal melaksanakan tugas.


__ADS_2