VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 104


__ADS_3

"Sebentar, ada yang ingin abang bicarakan dengan kamu." pinta Viki, saat Nara hendak meninggalkan kamar Viki.


"Duduk dulu." Viki menepuk kursi di sebelahnya. Nara kembali mendaratkan pantatnya di kursi empuk tersebut.


"Apa?" tanya Nara.


Viki menghela nafas. Viki merasa, dirinya harus memberitahu pada Nara. Tentang kedua orang tua kandung Nara. Lebih tepatnya kehidupan mereka saat ini.


Bukan berniat untuk membuka kembali rasa sakit hati yang sempat Nara rasakan. Tapi lebih kepada kata waspada. Sebab, semuanya pasti sudah berubah. Seiring berjalannya waktu.


Viki sendiri juga tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi, seandainya Nara bertemu dengan keduanya.


Viki berharap hal baik. Namun, tidak semua yang di inginkan olehnya berjalan sesuai keinginannya. Apalagi Viki melihat bagaimana ekspresi Nyonya Vanya saat dirinya sedikit membicarakan masa lalunya.


"Abang ingin kamu mengetahui tentang mereka." pinta Viki.


Nara berdiri dari duduknya. Berniat meninggalkan kamar Viki. 'Mereka'. Satu kata yang mewakili siapa yang akan Viki bicarakan.


"Nara." panggil Viki, membuat langkah kaki Nara berhenti. "Nara ingin membantu yang lainnya bang" ucap Nara beralasan, jika dirinya hendak membantu Mbok Nah dan yang lainnya.


"Duduk." pinta Viki dengan nada pelan.


"Nara sibuk bang." kilah Nara, tetap kekeh menolak.


"Kinara. Abang bilang duduk." ucap Viki meninggikan nada suaranya. "Ini bukan permintaan. Tapi perintah." tegas Viki, memandang tajam ke arah Nara.


"Bang..." Nara memasang wajah sendu. Ini pertama kalinya Viki berkata padanya dengan nada tinggi. Dengan mata seperti sebilah pisau tajam memandang ke arah Nara.


"Jangan uji kesabaran ku, Nara." geram Viki.


Dengan perasaan takut, Nara kemabli duduk di depan Viki. Dengan kepala Nara menunduk ke bawah. "Angkat wajahmu. Abang sedang mengajak kamu berbicara." tegur Viki.


Perlahan Nara mengangkat kepalanya. "Tatap lawan bicaramu. Jangan membuang muka. Abang tidak suka." tegas Viki.


"Maaf." cicit Nara.


"Mendekatlah." Viki menurunkan nada suaranya. Dengan perlahan, Nara menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Viki.


Viki lantas memegang telapak tangan Nara. "Kamu harus mengetahuinya sayang. Harus. Dan wajib." Viki membelai wajah sendu Nara.

__ADS_1


Viki menghela nafas. "Maaf, jika abang berbicara kasar. Atau kamu, abang berpikir menggertak kamu. Tapi abang melakukannya demi kebaikan kamu." jelas Viki.


Viki sudah berniat akan menunjukkan Nara pada publik sebagai calon istrinya. Dan hal tersebut pasti akan memancing reaksi dari banyak orang. Terlebih keluarga Tuan Smith dan Nyonya Vanya.


Dan Viki, akan mengenalkan orang-orang tersebut pada Nara. Bertujuan, Nara tidak akan terkejut saat bertemu dengan mereka.


"Maaf, Nara terlalu berpikir dangkal dan kekanak-kanakan. Maaf." cicit Nara.


Viki tersenyum. "Tidak masalah. Kamu harus ingat. Semua yang abang dan mama, juga yang papa akan lakukan ke depannya. Adalah demi kamu. Demi kebaikan kamu. Paham." tegas Viki.


Nara segera mengangguk dan tersenyum. "Paham." kata Nara.


Viki dapat pahami, jika perempuan maupun lelaki yang masih seusia dengan Nara. Kebanyakan mereka masih berpikir, bahkan bertindak sesuai keinginan tanpa memikirkan sesuatu hal terlebih dahulu.


Maka dari itu. Tuan Hendra sudah mengingatkan sejak awal. Jika memang Viki serius menjalin hubungan dengan Nara, maka Viki harus menerima konsekuensi tersebut.


Viki berdiri dari tempat duduknya. Membuka laci, dan mengambil sesuatu dari dalam. Lalu kemudian duduk kembali di samping Nara.


Viki memberikan sebuah foto keluarga pada Nara. "Keluarga papa kamu." ucap Viki, namun Nara yang sudah memegang foto tersebut tampak memasang wajah kesal sembari menatap Viki.


Viki hanya tersenyum. Seolah mengerti kenapa calon istrinya memasang wajah tersebut. "Keluarga Tuan Smith." Viki mengulang lagi kalimatnya.


"Nyonya Binta dan putranya. Renggo." jelas Viki. Nara hanya terdiam dan memandang foto tersebut tanpa ekspresi.


"Dan ini yang terpenting, yang harus kamu ketahui." imbuh Viki, seketika Nara memandang wajah Viki.


"Renggo adalah lelaki yang sangat mencintai Giska." Terkejut. Tentu saja Nara terkejut dengan penuturan Viki.


Viki menyodorkan kembali selembar foto pada Nara. "Nyonya Vanya, bersama suaminya. Tuan Diego." ucap Viki.


Belum selesai Viki menyebutkan anggota keluarga Nyonya Vanya. Nara bersuara terlebih dahulu. "Melva. Jangan bilang dia." tebak Nara, melihat foto Melva di antara Nyonya Vanya dan Tuan Diego.


"Seperti pemikiran kamu. Melva, anak tiri Nyonya Vanya." ucap Viki.


Nara terdiam sesaat, entah apa yang dia pikirkan. "Sudah?" tanya Nara memastikan.


"Hemm,,," Viki memeluk tubuh Nara dari samping. "Jika ada yang ingin kamu tanyakan. Tanyakan saja." cicit Viki.


"Jangan hanya di pendam." celetuk Viki, menciumi rambut Nara. "Harum." gumam Viki.

__ADS_1


"Abang."


"Hm..." Viki masih mengendus harum rambut Nara sambil memejamkan kedua matanya.


"Kenapa abang mendekati Melva. Apa karena...." ucap Nara menggantung.


"Iya, benar. Melva,,, emmm cantik dan seksi. Beuhh,,,, besar...." ucap Viki menggoda Nara.


"Awww,,,,," seru Viki, saat tangan Nara mencubit paha Viki.


"Apanya yang besar. Hah...!!" Nara langsung berdiri dengan berkacak pinggang, serta kedua mata melotot sempurna.


"Nggak takut apa, itu bola mata keluar loh...." goda Viki, sambil mengelus pahanya yang lumayan sakit karena cubitan dari tangan kecil milik Nara.


"Abang...!! Punya Nara juga besar." teriak Nara, dengan membusungkan dada, tangannya memegang bajunya. Supaya terlihat dadanya dengan jelas.


Viki mengangkat kedua tangannya ke udara. Seolah sedang mengukur besar kecilnya kedua gunung kembar milik Nara. "Lumayan." ucap Viki dengan bibir mencebik.


"Lumayan. Abang...." geram Nara.


Srettt,,,, Viki melotot tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Nara. "Bagaimana?" tanya Nara dengan senyum menantang.


Viki masih terdiam. Terlebih kedua tangannya berada tepat di kedua gunung kembar milik Nara. "Nara...!!" geram Viki tertahan. Sedikit menggerakkan tangan. Seperti meremasnya.


"Ahhh..." desah Nara, spontan langsung mundur. Terlihat raut wajah Nara yang nampak tidak percaya bercampur perasaan yang tidak menentu.


"Apa yang aku lakukan." gumam Nara. Seolah menyesal, telah memegang tangan Viki dan menempelkannya pada dadanya.


Segera Nara keluar dari kamar Viki. Melihat ekspresi Viki seperti menahan sesuatu.


Blam.... Nara menutup pintu kamar Viki dengan keras. Lalu menyenderkan badannya di daun pintu.


"Nara...!!!!" teriak Viki dari dalam.


"Aaa....!!" seru Viki frustasi, segera Viki masuk ke dalam kamar mandi. Untuk menidurkan sesuatu yang sudah di bangunkan oleh Nara.


Meski Viki tahu, jika Nara tidak bermaksud melakukannya. "Anak itu, benar-benar berbahaya." Viki melepas seluruh pakaian yang menempel pada badannya. Mengguyurnya di bawah shower, menggunakan air dingin.


Sementara di luar, Nara memandang ke arah dadanya. "Padahal abang dulu pernah melakukannya." ingat Nara, karena memang dulu Viki pernah meremas benda yang menempel pada tubuh Nara tersebut.

__ADS_1


"Tapi kenapa rasanya aneh ya. Masih sama seperti dulu." gumam Nara. Entahlah, apa maksud dari perkataan Nara.


Nara tiba-tiba tersenyum lalu menggelengkan kepala. Pasti saat ini Nara memikirkan hal yang mesum. Astaga Nara.


__ADS_2