VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
Part 01. ReSa (Renggo Sara)


__ADS_3

"Lucunya..." Sara menaruh baby Al di pangkuannya, mencubit gemas pipi gembul balita yang beberapa hari yang lalu genap berusia satu tahun.


"Mam-ma... mamm-ma." celoteh Al dengan suara bayinya.


Sara tertawa melihat cara bicara dan ekspresi baby Al. "Oh iya, sayang. Tante punya sesuatu untuk Al."


Sara merogoh ke dalam tasnya, mengambil sesuatu dari dalam. "Tralala....ini untuk kamu, pangeran kecil yang tampan."


Sara memberikan sebuah robot mainan berukuran kecil pada baby Al. Lalu mencium kembali kedua pipi gembul.


Dengan menunjukkan ekspresi senang, baby Al mengambilnya. Baby Al menatap Sara. Seolah dirinya yang masih bayi ingin mengatakan terimakasih pada Sara.


"Sama-sama." kekeh Sara, mencium pipi gembul baby Al berulang kali dengan gemas. Membuat baby Al kembali tertawa karena rasa geli.


Tanpa Sara tahu, Nyonya Binta melihat interaksi dirinya dengan sang cucu dari balik kaca. Senyum tipis tampak di wajah Nyonya Binta.


Nyonya Binta tahu, jika Al juga merasa nyaman berdekatan dengan Sara. Terlihat sang cucu yang selalu tertawa lepas, apapun yang dilakukan Sara padanya.


Baby Al bukanlah bayi yang mudah akrab dengan orang asing. Dia sangat pemilih, hanya akan mau di ajak oleh orang terdekat.


Namun tidak dengan Sara, tanpa Sara melakukan pendekatanpun, baby Al langsung lengket sejak pertama bertemu.


"Maaf, apa Al menyusahkan kamu?" Renggo yang baru saja dari belakang, langsung duduk di samping Sara.


Mencium pipi sang putra. "Astaga..." Renggo menggeleng, saat tangan baby Al seperti sedang mengusap pipinya yang baru saja di cium olehnya.


Sara pun ikut tertawa akan tingkah lucu baby Al. "Sepertinya dia hanya mau di cium oleh perempuan cantik saja." kelakar Renggo, mencubit pipi putranya.


Renggo, Sara, dan baby Al. Ketiganya bercanda dengan tawa selalu mewarnai setiap obrolan mereka karena lucunya baby Al. Tampak mereka bertiga seperti keluarga utuh yang sedang merasakan kebahagiaan.


Perasaan Nyonya Binta menghangat melihatnya. Tanpa beliau sadari, sebenarnya inilah yang dia inginkan. Melihat sang putra memiliki pendamping.


Seorang perempuan yang bisa menjadi istri sekaligus ibu untuk Renggo dan baby Al.


Bukannya Nyonya Binta tidak ingin merawat atau membesarkan baby Al. Namun, dia paham. Jika Renggo dan baby Al butuh figur perempuan selain dirinya.


Istri dan ibu. Dan Nyonya Binta melihat jika Sara datang di saat yang tepat. Nyonya Binta juga bisa merasakan, jika Sara benar-benar tulus menyayangi cucunya.


Namun, hanya satu kendala, kenapa sampai detik ini. Baik Tuan Smith maupun Nyonya Binta tidak bisa merestui hubungan mereka.


Nyonya Binta segera berjalan meninggalkan tempatnya, sebelum keberadaannya disadari oleh Renggo ataupun Sara.


Padahal, sedari tadi, Renggo sudah tahu. Jika sang mama berdiri memantau mereka dari tempat lain. "Ada apa?" tanya Sara, melihat Renggo sedang tersenyum. Namun Renggo melihat ke arah lain.


"Tidak ada." Renggo mengelus lembut rambut Sara.


Renggo melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu mengambil Al, dari pangkuan Sara.


"Aku akan mengantar kamu. Tunggu sebentar." Renggo berjalan ke belakang dengan menggendong baby Al.


"Tunggu." pinta Sara, membuat kaki Renggo tertahan untuk melangkah. Cup,,,, Sara mencium lembut pipi baby Al. "Sudah." Sara mengelus pelan pipi baby Al.


"Oke." sahut Renggo. Dan Sara tahu kemana tujuan Renggo. Yakni memberikan baby Al pada pengasuhnya. "Ayo." ajak Renggo setelah kembali dari belakang.


Renggo mengulurkan tangannya dengan senyum, dengan senang, Sara membalas ukuran tangan Renggo. Menyelipkan jari-jari kecilnya di sela jari-jari Renggo.


"Kemana?" tanya Renggo, saat keduanya tengah berada di dalam mobil.


"Studio. Aku ada pemotretan sampai nanti siang." jelas Sara.


Renggo mengangguk, melajukan mobilnya ke tempat yang ingin dituju Renggo. "Sar,, bagaimana jawaban kamu. Apa kamu sudah memutuskan?"


Beberapa hari yang lalu, Renggo mempertanyakan kesiapan Sara untuk dia nikahi. Namun Renggo, menginginkan Sara untuk tidak lagi bekerja sebagai artis.


Renggo ingin Sara menjadi istri sepenuhnya, untuk dirinya dan juga anak-anaknya. Sama seperti sang mama dan juga Nara. Sebagai ibu rumah tangga. Bukan wanita karir.


Selain itu, ini adalah syarat mutlak dari Tuan Smith dan Nyonya Binta. Jika Renggo dan Sara memang ingin menikah. Sara harus rela melepaskan keartisannya.


Sara terdiam. Dirinya juga belum mempunyai jawaban atas permintaan Renggo beberapa hari yang lalu.


Diamnya Sara, membuat Renggo bisa menebak, jika perempuan di sampingnya masih bimbang. Dan entah, Sara bimbang karena apa. Renggo juga tidak mengerti dan menebak.

__ADS_1


Bimbang Renggo ajak menikah. Atau bimbang kerena harus meninggalkan panggung yang telah membesarkan namanya.


"Apa ini syarat dari kedua orang tua kamu?" tanya Sara membuka mulutnya.


"Ya. Maaf, jika kedua orang tuaku terkesan egois." cicit Renggo.


Sampai pada tempat yang dituju, baik Renggo maupun Sara sama-sama diam. Tidak ada percakapan lagi di antara mereka.


"Pukul berapa kamu selesai. Biar aku jemput." tawar Renggo, saat Sara melepas sabuk pengaman di tubuhnya.


"Tidak perlu, setelah ini aku akan berkumpul dengan teman-teman. Bolehkan?" jelas Sara, sambil meminta izin.


Cup... "Jangan pulang larut malam." Renggo mengecup singkat kening Sara. Dan Sara hanya mengangguk kecil.


Selepas mengantar Sara, Renggo kembali ke perusahaan. Tapi pikirannya tidak bisa konsentrasi. Alhasil, sore hari dia memutuskan pergi ke rumah Viki alih-alih pulang.


Malam semakin larut, dan Renggo masih betah berada di kediaman sang adik tiri. Nara.


"Kenapa kamu belum pulang juga!?" kesal Viki, dirinya merasa terganggu dengan kedatangan Renggo sejak sore tadi.


Dan hingga saat ini, Renggo masih betah duduk di kursi. Seperti enggan untuk berdiri. "Bantulah aku." rengek Renggo.


"Kau ini." sungut Viki.


Sedari tadi, Renggo meminta bantuan pada Nara dan Viki. Hanya satu, yakni membuat sang mama dan papa mau menerima Sara sebagai calon istrinya. Tanpa syarat.


"Kak, bukankah Nara pernah bilang. Kuncinya ada pada kak Sara. Nara yakin, mama akan menerima kak Sara, jika kak Sara berhenti menjadi artis." jelas Nara dengan jujur.


"Ckk,, kelihatannya Sara sedikit berat meninggalkan profesinya." decak Renggo.


Pernah Renggo meminta Sara untuk berhenti, namun Sara mengatakan jika dirinya masih terikat kontrak dengan perusahaan Viki.


Dan jika Sara memutuskan kontraknya sepihak, itu artinya Sara harus membayar pinalti yang jumlahnya tidak sedikit.


Dan Renggo, dirinya bersedia membayarkan. Namun Sara menolak. Dia tidak ingin keluarga Renggo memandang buruk padanya.


"Mungkin mama dan papa terkesan egois. Tapi Nara bisa mengerti kenapa mereka melakukan hal tersebut." jelas Nara.


"Bukankah kamu dan Viki sama seperti Sara. Kalian juga selalu tersorot kamera." ucap Renggo.


Meski Viki bukan artis, namun kehidupannya tak jauh dari kamera wartawan. Karena apa, karena memang Viki adalah salah satu pebisnis muda yang sukses di bidangnya.


"Aku sudah tahu dari awal. Dan aku siap." tegas Nara, membuat Viki mengulum senyum.


"Jika susah ya sudah, tinggalkan saja. Cari perempuan lain." celetuk Viki, dan mendapat hadiah tepukan keras di pahanya dari sang istri.


"Sayang, tidurlah. Ini sudah waktunya kamu tidur. Pasti tengah malam kamu bangun lagi kan. Mumpung baby boy juga masih tidur." perintah Viki, diangguki oleh Nara.


Sebab, Nara akan selalu bangun tengah malam. Saat bayinya menangis. Dan Nara akan begadang menjaga sang putra, pastinya ditemani oleh Viki dengan mata setengah terpejam.


"Kak, Nara ke dalam dulu." pamit Nara pada Renggo.


"Renggo. Jika kamu yakin Sara perempuan yang tepat, kamu harus perjuangkan dia. Tapi ingat, kamu harus bisa mengambil sikap." jelas Viki.


Renggo mengangguk. "Itu yang sedang aku pikirkan."


"Berbicaralah dengan Sara dari hati ke hati." tutur Viki, meninggalkan Renggo sendiri.


Renggo melotot tidak percaya. "Heey,,, gue masih di sini. Gue tamu." seru Renggo.


Sayangnya, Viki malah melambaikan tangan tanpa membalikkan badan, dan melanjutkan langkah kakinya. "Ipar sableng." dengus Renggo.


Mau tak mau, Renggo meninggalkan rumah Nara dan Viki dengan perasaan kesal.


Di tempat lain, seorang perempuan dan lelaki terlibat adu mulut di sebuah gang kecil. "Lepas...!" seru Giska, saat tangannya dicekal kuat oleh lelaki tersebut.


"Katakan, dimana anakku?!" tanyanya dengan mata menyalang.


"Anak. Perempuan mana yang mau ditanami benih lelaki sepertimu. Cuiiihh..." ludah Giska ke samping pria itu.


"Aaa...!!!" teriaknya, setelah Giska mengangkat lututnya dan tepat mengenai ***********.

__ADS_1


Hal itu tak di sia-siakan oleh Giska, dia segera berlari kabur dari lelaki yang pernah tidur dengannya, meski hanya satu malam. Dan sialnya, perbuatan mereka membuahkan hasil.


"Sial, kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Giska dalam hati.


Giska menggigit ujung-ujung jarinya dengan cemas. "Aku harus pergi dari negara ini. Aku tidak boleh bertemu lagi dengannya." gumam Giska, segera menjalankan mobilnya.


Giska masih ingat dengan jelas, dimana dirinya bersama kelompok sosialitanya pergi ke laur negeri. Dan seperti malam-malam sebelumnya. Mereka mabuk. Dan menghabiskan malam dengan kacau.


Entah bagaimana kejadiannya, Giska terbangun dengan keadaan tubuh telanjang. Di sebuah kamar hotel. Dengan lelaki asing yang tidur di sampingnya, dengan keadaan yang sama dengannya. Telanjang.


Sialnya, lelaki tersebut tampak tampan. Dan cukup familiar, sebab lelaki tersebut adalah seorang artis terkenal. Dan Giska tahu itu.


Tidak ingin sampai lelaki bangun dan masih mendapati dirinya, Giska segera mengambil dan memakai pakaian yang tercecer di lantai. Dan pergi meninggalkan kamar hotel.


"Aku sudah bertindak sejauh ini, dan berhasil menyingkirkan anak itu. Mana mungkin aku kembali dan mengatakan yang sebenarnya pada Renggo. Nyawaku bisa melayang." kesal Giska, memukul kuat stir mobil.


Ya, Giska lebih memilih meninggalkan kedua orang tuanya yang kini sedang menjalani hidup sederhana di sebuah desa terpencil. Jauh dari keramaian. Membuka usaha kecil-kecilan, dan hidup dengan tenang.


Giska, tentu saja tidak bisa mengikuti kemauan mereka. Giska meminta uang dengan jumlah yang banyak, hasil dari sang papa menjual perusahaan-perusahaan miliknya.


Giska meninggalkan mereka dan kembali hidup bebas, sesuai apa yang dia kehendaki. Giska tersenyum smirk. "Apa kabar dia?" tanya Giska pada dirinya sendiri.


Terlintas sekelebat bayangan Renggo dalam benaknya. Entah apa yang saat ini ada di pikiran liciknya.


Di sebuah apartemen, seorang perempuan cantik terganggu tidurnya, lantaran suara ponsel yang tidak mau berhenti.


Sara, mau tak mau membuka kedua matanya. "Ckk,,, untuk apa dia telepon sepagi ini." gumam Sara kesal, melihat jam menunjukkan pukul empat pagi waktu setempat.


"Halo,,, ini masih terlalu pagi untuk bangun, Tuan." kesal Sara pada seseorang di seberang telepon.


"Oke, tapi di sini masih waktunya berburu makan malam." kekeh Erlangga, tahu jika Sara kesal dengan dirinya.


Erlangga saat ini memang sedang berada di luar negeri. Dirinya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan perusahan Viki.


Berbeda dengan Sara, yang memperpanjang kontraknya. Dan Erlangga tahu pasti alasan Sara melakukannya. Tak lain karena ingin berada di dekat Renggo.


"Halo,, Sara,, kamu masih di sana?" tanya Erlangga, sebab dirinya tak mendengarkan suara cacian dari sahabatnya tersebut.


"Hemm..." Sara hanya menjawab dengan mata terpejam.


"Aku menemukannya Sara, aku menemukan perempuan yang saat itu tidur denganku." jelas Erlangga dengan antusias.


"Tapi sialnya, dia berhasil lari. Sial,,, apa aku harus mengikuti saranmu. Menyuruh seseorang mencari tahu tentang dia." oleh Erlangga di seberang telepon.


"Dan aku yakin, dia mengandung anakku. Aku yakin." entah Erlangga memperoleh keyakinan dari mana. Jika perempuan yang dia tidak sengaja tiduri hanya sekali hamil anaknya.


"Halo,,, Sara...!!" teriak Erlangga, merasa jika dirinya berbicara sendiri. Dan tebakannya benar, meski dia berteriak, Sara bahkan tidak mengeluarkan suaranya.


"Ckk,,, dasar." dengan perasaan kesal, Erlangga mematikan ponselnya sepihak.


Seperti pagi biasanya, kediaman Tuan Smith selalu ramai dengan celotehan baby Al, yang saat ini sudah mulai berjalan. "Sayangnya papa..." panggil Renggo, menggendong baby Al, dan menghujaminya dengan ciuman.


Renggo memberikan baby Al pada pengasuhnya, dan dia segera bergabung dengan kedua orang tuanya untuk sarapan. "Dari mana kamu semalam?" tanya Tuan Smith menginterupsi.


Renggo mengambil makanan dan menaruhnya di piring miliknya. "Rumah Viki."


Tuan Smith dan Nyonya Binta menatapnya tidak percaya. "Telepon saja mereka, dan tanyakan kalau tidak percaya." ucap Renggo merasa kedua orang tuanya tidak percaya.


"Jangan mengulangi hal yang sama untuk kedua kalinya." ucap Nyonya Binta mengingatkan.


Sebab, dulu Renggo sering bermalam dengan Giska. Dan beginilah hasilnya.


"Tapi, jika mama dan papa tetap tidak merestui, sepertinya Renggo akan kembali mengulanginya lagi." jelas Renggo tanpa beban.


Takkk.... Tuan Smith meletakkan sendoknya dengan kasar. Membuat suara nyaring yang berasal dari peraduan sendok dan piring.


Nyonya Binta dan Renggo dibuat tertegun oleh tindakan Tuan Smith. Sebab, ini pertama kalinya beliau melakukan hal seperti itu di ruang makan.


"Syarat dari papa tetap sama. Jika kamu berani melanggarnya, papa tidak akan segan-segan mencabut hak waris kamu." ancam Tuan Smith, berdiri meninggalkan ruang makan.


Nyonya Binta mendengus sebal menatap ke arah sang putra. "Terserah, jika kamu berpikiran kita orang tua yang egois. Tapi kami melakukan untuk kebaikan kalian." papar Nyonya Binta, segera menyusul sang suami.

__ADS_1


__ADS_2