
"Apa ini Renggo?" tanya sang papa, saat Renggo menyerahkan selembar kertas pada dirinya.
Renggo hanya diam, dan mendaratkan pantatnya di kursi sebelah mamanya. "Ada apa pa?" tanya Nyonya Binta, melihat ekspresi aneh di wajah sang suami.
"Apa maksudnya, Renggo?!" tanya Tuan Smith dengan nada meninggi.
Nyonya Binta mengelus lengan sang suami. "Pa, tenang. Kita sedang berada di tempat umum." Nyonya Binta mengingatkan pada sang suami. Jika mereka sedang berada di rumah sakit.
Renggo dan kedua orang tuanya berada di luar ruang rawat Giska. Sementara Giska bersama bayinya dan kedua orang tuanya di dalam.
Tuan Smith menatap tajam ke arah Renggo, memberikan selembar kertas pada sang istri, tanpa memandang pada Nyonya Binta.
Nyonya Binta mengambilnya dan membacanya. "Ini." kedua mata Nyonya Binta membelalak tak percaya.
Nyonya Binta membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. "Renggo, jangan main-main." ucap Nyonya Binta lirih, merasa syok.
Baru saja mereka merasa bahagia, mendapatkan seorang cucu laki-laki yang tampan. Namun, sebuah kertas mampu membuat perasaan mereka hancur dalam sekejap.
Meski Nyonya Binta dan Tuan Smith tidak menyukai Giska, namun mereka sama sekali tidak menampik keberadaan bayi di dalam kandungan Giska. Mereka tetap menyayangi dan menerima kehadiran bayi kecil mungil tersebut.
Nyonya Binta duduk dengan lemas. "Sejak kapan kamu tahu?" tanya Nyonya Binta lirih.
Nyonya Binta memegang lengan Tuan Smith, dirinya tidak ingin sang suami tersulut emosi lebih dulu, sebelum mendengar penjelasan dari Renggo.
"Beberapa bulan yang lalu. Saat kita sudah menikah."
"Dari mana kamu mengetahuinya?"
"Viki."
Tuan Smith dan Nyonya Binta langsung menatap ke arah Renggo. "Dia juga tidak sengaja mengetahuinya. Saat itu, Giska ingin mencelakai Nara." jelas Renggo.
Nyonya Binta melepaskan cekalannya di tangan sang suami. Kepalanya berdenyut pusing dengan semua berita yang mengejutkan tersebut.
"Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?"
"Kita sudah sepakat akan bercerai."
Tuan Smith menundukkan kepala. "Apa Giska sudah mengakui tentang bayi tersebut?"
Renggo terkekeh pelan. "Dia bahkan mengatakan tidak ingin merawatnya."
Nyonya Binta menggeleng pelan. "Astaga..." geram Nyonya Binta. "Kenapa ada perempuan berhati iblis. Binatang saja tahu, bagaimana cara menjaga anaknya. Dia yang mengandung dan melahirkan. Apa sedikit saja tidak punya rasa welas asih." herannya.
"Renggo bingung pa, ma. Jika Renggo dan Giska bercerai, bagaimana dengan nasib bayi mungil itu?"
Nyonya Binta menghela nafas. Benar, mereka orang dewasa tidak boleh egois. Apalagi bayi tersebut tidak tahu menahu apapun. "Dan jika kalian bercerai, Giska akan menjadi duri dalam pernikahan Nara dan Viki." gumam Nyonya Binta.
"Apa Renggo urungkan saja niat Renggo."
Dia teringat akan keberadaan Sara. "Tidak. Aku tidak boleh mengecewakan Sara." ucapnya dalam hati. Apalagi Renggo sudah berjanji akan kembali padanya, begitu permasalahan selesai.
"Jangan." sahut Nyonya Binta segera. "Dia perempuan yang tidak punya hati. Mama tidak mau, mempunyai menantu seperti dia." ucapnya dari dalam hati.
"Lalu, bagaimana dengan Nara." ucap Renggo.
Tuan Smith merasa terharu, Renggo begitu sayang pada adik tirinya. Hingga dia memikirkan rumah tangga Nara dan Viki.
Nyonya Binta menyeringai. "Kamu pikir, Giska bisa mengusik mereka. Kamu lupa, atau pikun. Siapa Viki." Nyonya Binta teringat bagaimana Viki memperlakukan Giska saat dirumahnya.
"Iya Renggo, benar kata mama kamu. Bercerailah dengan Giska." saran Tuan Smith.
"Jika Nara sampai tahu kamu mengorbankan kebahagiaanmu demi mereka. Nara malah akan semakin kecewa. Dan membuat dia merasa bersalah." lanjut Tuan Smith.
"Dan Viki, pasti dia akan menertawakanmu." ujar Nyonya Binta tersenyum.
Sebagai orang tua, tentu saja mereka ingin yang terbaik untuk putranya. Apalagi selama beberapa bulan menjadi menantu mereka, Giska sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan menjadi sosok lebih baik.
"Untuk bayinya,,,,," ucap Nyonya Binta menggantung.
"Biar Renggo yang merawatnya ma, tidak apa. Renggo akan carikan perawat." ujar Renggo.
"Dan semoga, Sara mau menerima kehadirannya." batin Renggo.
__ADS_1
Tuan Smith dan Nyonya Binta terdiam. "Kasihan sekali bayi mungil itu." batin Nyonya Binta.
"Baiklah, bila itu keputusanmu. Jika kamu memang ingin merawat bayi itu, jangan memberitahu fan membuka pada siapapun tentang identitasnya." saran Tuan Smith.
Beliau teringat kisah Nara. Putri kandungnya sendiri. Yang kehadirannya sama sekali tidak diharapkan oleh keluarga mantan istrinya.
Dan juga dirinya juga merasa ikut andil dalam penderitaan sang putri selama bertahun-tahun lamanya.
Tuan Smith tentunya tidak ingin hal itu terulang lagi. Meski pada bayi yang kenyataannya bukan cucu kandungnya. Beliau masih memiliki hati.
Apalagi, hartanya tidak akan habis hanya dengan menganggap bayi tersebut sebagai cucunya. "Bagaimana ma?" Tuan Smith meminta persetujuan sang istri.
"Mama setuju. Kita tidak boleh mengorbankan bayi yang sama sekali tidak bersalah hanya karena kesalahan orang dewasa."
Renggo mengangguk. "Tapi Viki sudah tahu pa, dan Nara.... pasti dia juga akan tahu."
"Ckkk,,,, kalau mereka tidak apa-apa." decak Tuan Smith, heran dengan jalan pikiran sang putra. Tentu saja Viki tahu, sebab semuanya berawal dari Viki.
"Sara juga sudah tahu." tapi sayangnya, Renggo hanya bisa mengatakannya dalam hati. Bisa jadi rame, jika Renggo mengatakannya saat ini.
Tanpa mereka tahu, di balik pintu Nyonya Gina mendengar semua percakapan mereka. Air mata menetes di pipi perempuan berhati lembut itu.
Menangis dalam diam.
"Giska, kamu begitu bodoh. Mereka sangat baik dan penyayang. Kenapa kamu tidak membuka hatimu. Lihat dan rasakan. Kamu dikeliling orang-orang yang berhati emas." gumam Nyonya Gina.
Sang putri terlalu terobsesi dengan sosok Viki. Mungkin karena selama ini, Giska sama sekali belum pernah ditolak oleh lelaki.
Dia selalu mendapatkan lelaki sesuai keinginannya. Sedangkan Viki, dia berbeda. Tentu saja, Viki tidak akan pernah melirik Giska.
Nyonya Gina meringis, memegang dadanya yang terasa nyeri sampai ulu hati. "Kelihatannya, membiarkan cucuku hidup dan tumbuh bersama mereka adalah hal yang tepat dan benar." ucapnya tersenyum kesakitan.
Meski dirinya tahu, jika dalam darah sang cucu sama sekali tidak mengalir darah keluarga Renggo. Namun Nyonya Gina percaya, mereka akan merawat dan memberikan kasih sayang yang tulus pada cucunya.
Pilihan yang tepat. Ketimbang dia ada di tangan Giska. "Aku tidak akan bisa meninggalkan dunia dengan tenang, jika Giska yang merawatnya." gumamnya menahan rasa sakit yang teramat.
Nyonya Gina menyenderkan badannya ke tembok, mengambil sebuah botol kecil dari dalam tas. Dan mengambil isinya. Sebutir pil kecil, dia keluarkan dari dalam botol.
Beliau langsung menelan pil tersebut. "Jika aku tidak diberi umur panjang, setidaknya cucuku di tangan orang yang tepat. Jika dia bersama Giska. Tidak boleh." Nyonya Gina menggeleng.
"Giska..!!" geram sang papa merasa putrinya benar-benar sudah keluar jalur.
"Pa...."
"Besan..."
Renggo, Nyonya Gina, dan Tuan Smith bersamaan memanggil Tuan Marko. "Tenang pa." ujar Nyonya Gina.
Tuan Marko menahan amarahnya. Malu dan kecewa. Tentu saja, beliau malu pada besannya. Dan kecewa akan kelakuan Giska yang tidak berubah.
Nyonya Binta menatap Giska dengan sengit. "Kasihan sekali kamu nak, lahir dari perempuan iblis seperti dia." ucapnya dalam hati.
"Maaf semua, ada yang ingin Renggo katakan." Semuanya lantas terdiam. Mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh Renggo.
Meski Tuan Smith dan Nyonya Binta sudah bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh sang putra. "Saya dan Giska, kami berdua sepakat untuk berpisah. Setelah Giska melahirkan."
"Tidak. Saya tidak setuju." tolak Tuan Marko dengan tegas.
Tuan Marko merasa jika Giska akan berubah jika bersama dengan Renggo. Dia percaya, jika Renggo bisa merubahnya menjadi perempuan gang lebih baik.
"Pa,, biarkan. Biarkan mereka memutuskannya. Renggo dan Giska, jika mereka bersama. Mereka malah akan saling menyakiti." papar Nyonya Gina.
"Tapi ma..." Tuan Marko memandang ke arah box bayi.
"Papa jangan khawatir. Saya akan merawatnya dengan baik." ujar Renggo, menyakinkan sang mertua.
Tuan Marko merasa janggal dengan perkataan Renggo. "Tunggu. Kamu yang merawatnya. Dia masih bayi. Dia memerlukan ibunya untuk memberi ASI. Dia masih sangat membutuhkan Giska." jelas Tuan Marko.
Memang seperti itulah pikiran orang waras. Jika bayi baru lahir, maka sang ibulah yang akan merawatnya dengan kasih sayang.
Tuan Smith dan Nyonya Binta hanya diam, berperan sebagai pendengar yang setiap. Mereka percaya, jika Renggo bisa menyelesaikan semuanya.
Renggo melirik ke arah Giska, yang hanya diam, tampak acuh. "Soal itu, kami juga sudah sepakat. Jika saya yang akan merawatnya. Begitu dia lahir." tutur Renggo.
__ADS_1
Tuan Marko langsung menatap tajam sang putri yang masih terbaring di ranjang pasien. "Ada yang ingin kamu sampaikan?" suara bariton Tuan Marko menggelegar di ruangan.
Nyonya Binta memegang lengan Tuan Smith dengan erat. Beliau tahu, bagaimana perasaan Tuan Marko dan Nyonya Gina.
Terlebih, Nyonya Binta melihat ekspresi kesedihan yang mendalam pada besannya tersebut.
Giska menghela nafas panjang. "Bukankah Renggo sudah mengatakannya. Lagian Renggo juga nggak keberatan." ucap Giska acuh.
Semua orang menggeleng tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Giska. Sementara Renggo, dia tersenyum samar. Sudah menduga, bagaimana gilanya Giska.
"****... bagaimana gue dulu bisa suka sama perempuan kayak dia. Fix,,, gue pasti di pelet." ucapnya dalam hati.
"Dia masih bayi..!!" bentak Tuan Marko menunjuk ke arah box, dengan mata memandang Giska.
"Pa, jangan kolot. Ada susu formula. Lagian Giska nggak mau menyusui dia. Giska pengen langsung lagi."
Nyonya Binta melongo tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Pa, keputusan Renggo sudah benar. Menceraikan manusia setengah iblis ini." bisiknya pada sang suami.
"Husstt..." tegur Tuan Smith menepuk pelan lengan sang istri.
Nyonya Gina mengedipkan kelopak matanya berkali-kali. Dia tidak ingin air matanya jatuh ke pipi. Dan Tuan Marko, dia langsung berkacak pinggang.
Dan.... "Pa... Jangan."
Tangan Tuan Marko melayang di udara, hendak menampar Giska. Beruntung Renggo dengan sigap memegang tangan Tuan Marko.
"Pa,,, dia putri papa." ingat Renggo.
Tubuh Tuan Marko luruh ke lantai "Astaga...." Tuan Marko meraup kasar wajahnya. "Apa salahku, kenapa Kau hukum aku seperti ini Tuhan." lirih Tuan Marko.
"Maaf, maafkan saya. Saya gagal mendidik anak saya." Tuan Marko masih duduk di atas lantai, dnegan menggunakan lututnya sebagai penopang tubuh.
Nyonya Gina hanya membungkam mulutnya dan menangis. Memandang ke arah Giska dengan perasaan kecewa.
Renggo membantu sang mertua untuk berdiri kembali. "Bangun pa."
"Tuan Marko, jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada anak kita. Mungkin ini semua adalah takdir hidup yang harus kita jalani." papar Tuan Smith dengan bijak.
"Takdir hidup, memiliki anak seperti iblis. Secepatnya, Renggo harus menceraikannya." ucap Nyonya Binta dalam hati, memandang jijik pada Giska.
Giska memutar bola matanya jengah. "Ckk,,, papa apa-apaan sih. Pake drama segala. Memalukan." gumamnya.
"Kelak, izinkan kami menemuinya?" pinta Nyonya Gina, dengan wajah pucat.
Nyonya Binta mendekat dan merangkul ke pundak Nyonya Gina. "Dia cucu jeng juga. Cucu kita. Kita akan bersama-sama merawatnya." ucap Nyonya Binta tersenyum tulus.
Nyonya Gina memeluk Nyonya Binta dengan erat. Tak mampu lagi bersikap kuat, padahal hatinya sedang hancur.
Hancur karena kelakuan sang putri yang sedari kecil dia sangat sayangi. "Maafkan kami,,, " ucapnya dalam tangis.
"Renggo, apa kamu sudah menyiapkan nama?" tanya Tuan Smith, berjalan ke arah box bayi. Memandang bayi kecil mungil dan tampan yang tertidur pulas.
Dia sama sekali tidak terusik, bahkan bangun dan menangis. Seolah tidak peduli dengan suara berisik di sekitarnya.
Renggo tersenyum. "ALDRICH SARRE AFRIZAL"
"Nama yang bagus." ucap Nyonya Gina.
Tiba-tiba Nyonya Binta tertawa dengan memandang layar ponselnya. "Ada apa ma?" tanya Tuan Smith heran.
"Putri kita. Katanya dia akan menyusul, jika kita tidak segera pulang membawa bayinya." kekeh Nyonya Binta melihat pesan tertulis dari Nara.
Tuan Smith ikut tertawa. "Pasti sekarang adik kamu sedang di rumah kita."
"Kenapa pa?" tanya Renggo.
"Dia bilang ingin mendekor satu kamar bayi. Aduh,,, mama nggak habis pikir sama Nara. Padahal bayinya mau mama ajak tidur bareng mama, masa disiapin kamar." ujar Nyonya Binta terkekeh.
"Pasti Nara nanti ngadu sama Viki." lanjut Nyonya Binta terkekeh.
Hati Giska kembali memanas, mendengar nama Nara. "Putri anda memang berhati malaikat." ucap Nyonya Gina.
"Iya, asal jangan malaikat maut jeng." canda Nyonya Binta, mampu merubah suasana menjadi sedikit hangat.
__ADS_1
Sesuai rencana Renggo, dia segera mengatakan pada pengacaranya untuk memasukkan berkas perceraian ke pengadilan.
Tak lupa, dia juga meminta untuk membuatkan akta kelahiran atas putra kecilnya.