
Selesai membeli obat untuk Bima, Viki mampir ke restoran terdekat. Membeli makanan. Tak lupa Viki mampir ke supermarket. Karena Viki juga teringat jika tidak ada apa-apa di apartemen.
"Selesai." Viki menenteng barang belanjaannya, memasukkannya ke dalam kursi belakang mobil.
Dalam perjalanan pulang, entah kenapa Viki teringat penampilan mereka. "Sepertinya mereka juga membutuhkan pakaian." gumam Viki.
Entah mengapa Viki merasa kasihan melihat keadaan mereka. Segera Viki melajukan mobilnya menuju toko pakaian. Membelikan ketiganya pakaian. Meski Viki membelinya secara asal. Karena sejujurnya Viki sendiri tidak tahu pasti ukuran baju mereka.
Ceklekk.... Terdengar suara pintu terbuka. Viki menaruh terlebih dahulu makanannya di ruang makan. Beserta barang belanjaannya dari supermarket. Setelahnya melangkahkan kaki ke dalam kamar.
Mata Viki melihat pemandangan yang mencubit hatinya. Nara dan seorang anak perempuan tertidur di lantai.
Dengan posisi Nara bersandar di samping ranjang yang digunakan balita itu untuk tidur. Dan Rini tidur dengan memakai paha Nara sebagai bantal.
Viki duduk jongkok. Membangunkan Nara dan adiknya. "Bang.." ucap Nara saat Viki menggoyang pelan tubuhnya dengan memegang pundak miliknya.
"Ajak adikmu makan terlebih dulu. Bangunkan dia." pinta Viki.
Nara mengangguk dan menuruti perkataan Viki. "Sayang, bangun. Adik kakak, bangun." dengan lembut Nara mengelus pelan pipi Rini.
Membuat Rini membuka matanya perlahan. Merasakan ada sesuatu yang bergerak di pipinya. "Kakakk..." ucapnya dengan suara serak.
"Kita makan dulu. Ayuk sayang." ajak Nara dengan senyum.
Viki hanya diam melihat interaksi keduanya. Selama ini dirinya hanya hidup sendiri. Tepatnya, dia adalah anak tunggal. Tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mempunyai saudara.
Nara dan Rini berdiri di depan Viki. "Bang kenalkan dia Rini. Adik Nara. Dan yang di sana Bima. Dia juga adik Nara." sebut Nara, memperkenalkan adiknya pada Viki.
Viki hanya diam. "Kalian ganti pakaian dulu. Setelah itu temui aku di meja makan." Viki menyerahkan beberapa paper bag pada Nara.
Dengan hati-hati dan sedikit takut, Nara mengambil paper bag yang di berikan oleh Viki. "Maaf, pakaian kami kotor." ucap Nara lirih.
Dirinya mengira jika Viki jijik pada mereka. Lantaran keadaan mereka. "Baju kalian basah. Aku hanya tidak ingin kalian mengikuti Bima di sana." ucap Viki datar.
Nara langsung melihat ke badannya sendiri. Memang benar, bajunya terlihat basah karena keringat. Begitu juga dengan Rini.
__ADS_1
"Maaf." ucap Nara kembali. Karena dirinya sudah berburuk sangka pada Viki. Padahal Viki sudah menolong dirinya dan juga adiknya.
Segera Viki melangkahkan kaki keluar kamar. Menyiapkan makanan di meja makan. Dan Nara, dirinya membantu Rini mengganti pakaian. Begitu juga dengan dirinya.
"Banyak sekali." gumam Nara melihat Viki membelikan beberapa pakaian untuk mereka. Wajah Nara bersemu merah saat menemukan pakaian dalam di antara pakaian yang di belikan Viki untuk mereka.
Nara tersenyum melihat pakaian yang melekat di tubuhnya dan juga Rini. Pakaian tersebut tampak kebesaran di badan keduanya.
"Kak..." Rini merentangkan tangannya dan tersenyum. Segera Nara membungkam mulut Rini. Takut jika Rini sampai tertawa. Lantaran Rini sudah seperti orang-orangan sawah.
"Nggak apa-apa sayang. Abang Viki kan nggak tahu ukuran baju kita. Nanti Rini jangan lupa mengucapkan terimakasih pada Bang Viki." tutur Nara di sahut anggukan dari Rini.
"Ayo." Nara menoleh ke arah Bima yang masih tertidur lelap, sebelum meninggalkan Bima sendirian di dalam kamar. Sebenarnya Nara merasa sungkan melihat Bima tidur di dalam kamar Viki, di atas ranjang empuk milik sang empunya.
"Maaf, membuat abang menunggu." ucap Nara yang datang ke ruang makan dengan menggandeng tangan Rini.
Viki menyemburkan air minum yang masih di dalam mulutnya keluar. Saat matanya melihat Nara dan Rini memakai pakaian yang dia belikan.
"Gue nggak tahu ukuran baju kalian." ucap Viki menahan tawa melihat baju tersebut kebesaran di badan keduanya. Menyebalkan bukan.
"Tidak apa-apa Bang Viki. Rini suka. Terimakasih." ucap Rini polos dengan senyum di bibirnya.
"Kak,, enak ya." celetuk Rini. Nara memandang ke arah Viki. Ada perasaan tidak enak di hati Nara. Biar bagaimanapun, mereka adalah orang asing.
Tapi nampak Viki tidak menghiraukan perkataan Rini. Viki dengan tenang menikmati makanan yang ada di atas piringnya.
"Sayang, makan pelan-pelan ya." ucap Nara dengan lembut. Memberi pengertian pada Rini.
Rini melirik ke arah Viki, kemudian memandang kembali pada kakaknya dan mengangguk pelan.
"Setelah ini, saya akan mengantar kalian pulang." ucap Viki mengambil tisu dan mengelap mulutnya.
"Pasti orang tua kalian akan khawatir." imbuh Viki.
"Kami tidak punya orang tua bang. Bapak sama ibu sudah tidak ada." celetuk Rini, menghentikan gerakan Viki yang ingin berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Pandangan Viki beralih pada Nara dan Rini secara bergantian. "Kehidupan macam apa yang kalian lalui." batin Viki, mengingat jika masih ada seorang anak lagi di dalam kamarnya.
"Malam ini saya akan pulang. Kalian bisa tidur di sini malam ini." ucap Viki.
"Tapi bang, kami tidak mau merepotkan abang." ucap Nara.
"Bima masih sakit." ujar Viki. Nara hanya diam.
"Bang..." panggil Nara saat Viki sudah berjalan meninggalkan ruang makan.
"Ada apa?" tanya Viki.
"Apa tidak ada kamar lain?" tanya Nara hati-hati. Viki menyatukan alisnya mendengar pertanyaan Nara.
"Kamar pembantu, misalnya." imbuh Nara segera.
Viki menyadari jika ada rasa tidak nyaman yang di rasakan Nara. Viki menarik nafas panjang. Viki kembali melangkahkan kakinya ke belakang. Dengan Nara mengekor di belakangnya.
Viki menghentikan langkahnya tepat di samping Rini. "Makan yang banyak, biar cepat besar." Viki mengacak kasar rambut Rini.
Hufttt,,, Nara bernafas lega. Awalnya Nara takut saat Viki menghentikan langkahnya dan memandang Rini yang masih lahap makan.
"Kalian bisa tidur di sini. Di dalam almari itu ada seprei dan sarung bantal, juga selimut. Kalian bisa menggunakannya.
"Jika kasur ini kurang besar, kamu bisa ambil kasur di sana." tunjuk Viki pada ruangan di sebelah pojok apartemen.
"Terimakasih." ucap Nara tulus.
"Kunci pintunya dari dalam. Besok pagi saya akan ke sini lagi." ucap Viki.
Sepeninggal Viki, Nara segera mengunci pintu dari dalam. Sebenarnya Viki merasa sedikit takut untuk tinggal dan tidur di apartemen Viki.
Nara lebih nyaman tinggal di rumah sempit yang dia sewa dari pada tinggal di apartemen mewah milik Viki. Nara membiarkan semua lampu di apartemen Viki tetap menyala.
Nara membiarkan Rini menikmati makanan di atas piringnya. Sementara dirinya segera membersihkan kamar yang akan mereka tempati malam ini.
__ADS_1
"Selesai." ucap Nara melihat tempat tidur mereka.
Nara akan menaruh Bima di atas. Sementara dirinya dan Rini akan tidur di bawah. Menggunakan kasur yang baru saja dia ambil dari tempat yang di tunjukkan oleh Viki.