VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 57


__ADS_3

Hingga makan malam tiba, dan semua sudah berkumpul di meja makan, Viki juga belum menunjukkan kedatangannya. "Kenapa Nara?" tanya Nyonya Rahma, karena terlihat raut khawatir di wajah Nara.


Dan sepertinya Tuan Hendra dapat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh gadis muda tersebut. "Mungkin Viki masih ada pekerjaan. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Tuan Hendra.


Nyonya Rahma tersenyum melihat Nara. "Tante juga kepengennya kamu yang menjadi menantu tante. Tapi tante nggak mau memaksakan kehendak. Kamu masih terlalu kecil sayang." ucap Nyonya Rahma dalam hati. Mengingat usia dari Nara.


"Selesaikan makananmu." perintah Tuan Hendra.


"Iya Om. Baik." balas Nara dengan tersenyum lembut. Kembali fokus pada makanan yang masih banyak di atas piringnya.


Meskipun begitu, Nara tetap tidak bisa tenang. Bahkan, makan pun dia tidak lahap dan menikmati makanannya seperti biasanya. "Kenapa bang Viki belum pulang." gumam Nara.


Hingga makan malam usai, Viki juga belum datang. "Mama sudah menghubungi Viki?" tanya Tuan Hendra pada sang istri.


"Sudah, tapi tidak di angkat." jelas Nyonya Rahma.


Saat ini, mereka tengah berada di depan televisi. "Apa mungkin bang Viki marah dengan Nara?" tanya Nara merasa tidak enak hati.


"Mungkin Viki ada di apartemen. Sudahlah, tidak perlu kalian pikirkan." jelas Tuan Hendra.


Nyonya Rahma mengangguk setuju. "Marah sama kamu. Memang Nara punya kesalahan sama Bang Viki, tidakkan?" tanya Nyonya Rahma.


Nara menggeleng pelan mendengar perkataan dari Nyonya Rahma. "Bukan marah tante. Lebih tepatnya kecewa." cicit Nara. Ada perasan sedih, di kedua matanya.


"Kecewa. Tidak ada satupun sikap atau perilaku kamu yang membuat Viki kecewa. Sudah, benar kata om. Tidak perlu dipikirkan." ucap Nyonya Rahma.


Karena memang biasanya Vika akan tidur di apartemen. Jika tidak pulang ke rumah. "Benar kata Om, memang biasanya Viki akan tidur di apartemen. Jika pekerjaannya banyak. Atau pulang larut malam." ujar Nyonya Rahma, mencoba membuat Nara tenang.


Karena letak apartemen Viki lebih dekat dengan perusahaan dari pada rumah kediaman Tuan Hendra.


Tuan Hendra mencoba mengalihkan perhatian semuanya. Karena Rini, juga mulai menyimak obrolan mereka. Beliau tidak ingin, jika anak seusia Rini menyimak obrolan tentang orang dewasa.


"Rini, bagaimana sekolah kamu?" tanya Tuan Hendra.


Rini tersenyum, mengalihkan pandangannya dari layar televisi pada Tuan Hendra. "Baik om, Rini suka." ucap Rini terlihat senang.


"Hari ini, Rini sudah mempunyai banyak teman." cicit Rini, mulai bercerita apa saja yang di alaminya di sekolah saat pertama masuk.


Rini dengan wajah berbinar menceritakan semuanya. Nampaknya Rini termasuk anak yang gampang beradaptasi dengan lingkungan.


Terlihat dia sudah mengenal beberapa nama temannya dalam satu kelas. "Kekhawatiranku tidak terjadi. Syukurlah." ucap Tuan Hendra dalam hati.


Jujur saja, Tuan Hendra sedikit cemas dengan Rini. Mengingat dirinya selama ini tidak pernah bermain dan bergaul dengan anak sepantaran dirinya.


Sebab, keseharian Rini yang selalu monoton. Yakni mengasuh Bima, karena ditinggal oleh sang kakak bekerja mencari uang.


Dan Tuan Hendra tidak menyalahkan Nara. Kerena memang keadaan mereka dahulu seperti itu. Apalagi Nara, diusianya yang masih muda. Bisa memberikan makanan dan tempat tinggal untuk kedua adiknya.


Nyonya Rahma juga terlihat menikmati semua cerita Rini. "Tapi ada PR nggak, nanti Rini lupa nggak ngerjain?" tanya Nyonya Rahma, mengingatkan.


Rini mengangkat kedua jempol tangannya ke atas. "Beres tante. Sepulang sekolah tadi, Rini langsung mengerjakannya. Sekalian, menemani Bima tidur." jelas Rini.


"Pintar." Nyonya Rahma mengusap pelan kepala Rini.


Dan Nara, meskipun dia juga ikut menyimak. Bahkan tersenyum mendengar cerita Rini. Tapi semua itu tak dapat mengalihkan pikirannya pada sosok Viki.


"Ayo, sudah malam. Sebaiknya segera tidur. Besok harus bangun pagi." ajak Nara pada Rini, sementara Bima sudah terlelap di atas karpet depan televisi.


Karena memang besok, Rini harus kembali masuk le sekolah. "Biar om yang menggendong Bima." Tuan Hendra beranjak dari duduknya, dan segera memindahkan tubuh Bima ke dalam kamar.


"Terimakasih om." ucap Nara.


"Tidak perlu, Bima juga seperti anak om sendiri." sahut Tuan Hendra.


Nara merasa senang. Meskipun setiap hari, dirinya dan juga kedua adiknya selalu mendapatkan perhatian dari semua orang di rumah ini.


Disini, Nara seperti mendapatkan keluarganya kembali. "Tante, Nara ke dalam dulu." pamit Nara.

__ADS_1


"Iya." ucap Nyonya Rahma. "Tidur yang nyenyak." imbuh Nyonya Rahma.


Di depan kamar, Nara berpapasan dengan Tuan Hendra. "Nara, sebaiknya kamu pikirkan semuanya dengan matang-matang. Apa yang Viki ungkapkan tadi pagi. Bukan Om tidak menyetujui. Usia kamu masih terlalu muda untuk berumah tangga." jelas Tuan Hendra.


"Baik Om." ujar Nara, masuk ke dalam kamar.


"Apa mama perlu menelpon Viki, supaya dia pulang?" tanya Nyonya Rahma, saat sang suami sudah mendaratkan pantatnya kembali di kursi sebelahnya.


Karena sebenarnya, keduanya ingin berbicara dengan sang putra mengenai kelanjutan hubungan Nara dan juga Viki.


"Tidak perlu, biarkan mereka saling berpikir dengan serius. Biarkan mereka untuk tidak bertemu dulu." ujar Tuan Hendra.


Tuan Hendra sebenarnya sedikit takut dan khawatir. Jika Viki menikah dengan Nara. Bukan karena latar belakang Nara dan juga pendidikan Nara.


Melainkan usia Nara yang belum genap tujuh belas tahun. Perempuan dalam usia tersebut masih berpikir dangkal mengenai kata cinta.


Apalagi yang Tuan Hendra tahu, jika Nara belum pernah dekat seorang lelaki, selain Viki. Tuan Hendra hanya takut, rasa cinta yang Nara rasakan pada Viki hanyalah rasa cinta sesaat. Dan orang sekarang bilang, cinta monyet.


"Pa, bagaimana jika mereka berdua kekeh tetap mau menikah?" tanya Nyonya Rahma.


Tuan Hendra menghembuskan nafas berat. "Jika memang begitu, mau bagaimana lagi. Dari pada mereka berbuat zina." tukas Tuan Hendra.


"Tapi, kita juga harus memastikannya terlebih dahulu. Kita harus bertanya pada Nara. Tentang kesiapannya. Karena dengan Nara setuju menikah dengan Viki, berarti Nara juga sudah rela melepas kebebasannya selama ini." jelas Tuan Hendra.


Tanpa mereka sadari, Nara mendengarkan semua perkataan uang keluar dari bibir keduanya. "Nara ikhlas om, tante." ucap Nara dalam hati dan tersenyum.


Tangan kanan Nara memegang segelas air putih. "Nara sangat mencintai bang Viki. Bukan hanya karena semata-mata Nara ingin membantu bang Viki sembuh. Melainkan lebih dari itu." ucap Nara dalam hati.


Nara segera beranjak dari tempatnya berdiri. Dan kembali ke kamarnya, dimana dirinya tidur bersama Rini dan Bima.


Viki menggeliat, meregangkan kedua tangannya. "Jam berapa sekarang." gumam Viki dengan kedua mata masih terpejam.


Tangan Viki meraba meja di dekat ranjangnya. Mengambil ponsel miliknya. Melihat sekarang pukul berapa. "Gila, ternyata sudah malam." ujarnya, sebab waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Viki bangun dari tidurnya. Segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan badannya. "Ckk,, lapar lagi." keluhnya saat keluar dari kamar mandi.


Selesai. Segera Viki menghabiskan semangkuk mie instan yang sudah di masaknya.


"Tadi lapar. Sekarang sudah kenyang." Viki mendaratkan pantatnya di kursi empuk dan lebar.


"Nggak punya teman. Gabut juga." keluh Viki, mulai merasa bosan.


Padahal sebelum bertemu dengan Nara dan kedua adiknya, Viki juga sendirian. Tapi kenapa baru sekarang dirinya mengeluh.


Terbiasa. Mungkin itulah yang sekarang dirasakan Viki. Dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran Nara dan kedua adiknya.


Yang beberapa minggu terakhir selalu membuat Viki tidak pernah merasakan kesepian. Kehadiran mereka seperti oase dalam gurun.


Dengan segera Viki mengambil kunci mobil, dan meninggalkan apartemen. Entah kemana sekarang dirinya ingin berada.


"Gue kayak orang stres. Melajukan mobil, nggak tahu tempat tujuannya." gumam Viki mendengus sebal.


Pulang. Viki masih enggan untuk bertemu mereka yang sekarang berada di rumah kedua orang tuanya.


Viki menghentikan mobilnya di depan club malam. "Serius, gue mau ke sini." ucap Viki masih di dalam mobil pada dirinya sendiri."


Viki melihat ke arah spion mobil. "Ckk,, ini semua gara-gara mereka." ucap Viki sambil berdecak


Karena memang biasanya, Viki akan selalu ke sini. Sekedar melepas penat setelah seharian berkutat dengan pekerjaan kantor yang membuat kepalanya meledak.


Tapi, setelah di rumah ada Nara dan kedua adiknya. Viki bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di sini.


"Boss, Tuan Viki berada di club malam." lapor seorang lelaki yang sedari tadi membuntuti kemanapun Viki pergi.


"Baik." ucapnya, memastikan bosnya sudah mematikan panggilan teleponnya. Dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.


Viki keluar dari dalam mobil. "Ternyata dia masih mengikuti gue." gumam Viki tersenyum jahil. "Keputusanku datang ke tempat ini ternyata tidak salah." imbuh Viki.

__ADS_1


Dan,,, ternyata Viki sadar. Jika begitu keluar dari area parkiran apartemen, dirinya sudah di buntuti oleh sebuah mobil.


Tapi Viki membiarkannya. "Setidaknya mereka hanya akan melihat sesuatu, yang memang aku ingin perlihatkan." ucap Viki dalam hati, sengaja membiarkan mereka membuntuti ke manapun dirinya pergi.


Viki penasaran, siapa yang menyuruhnya untuk mengikuti dirinya. "Siapapun yang menyuruh kalian, setidaknya kalian bisa memberitahu kemana aku pergi." ujar Viki, melangkahkan kakinya ke dalam club malam.


"Heloooo.... lihat,,, siapa yang datang!!!" teriak salah satu teman Viki, karena memang di tempat seperti ini mereka harus berbicara dengan nada tinggi atau berteriak.


Jika tidak, jangan harap suara kalian akan terdengar. Sebab, musik yang di putar sangat memekakkan gendang telinga.


"Widihhh... sumpah. Sudah lama elo nggak ke sini. Ada angin apa nih." celetuk yang lain.


Viki duduk dengan santai di antara temannya. Tanpa mempedulikan ocehan mereka. Padangan mata Viki melihat seorang perempuan yang sedang duduk di depan bertender dengan pakaian seksinya.


Tatapan mata Viki seakan ingin memangsa perempuan tersebut, jika orang lain yang melihatnya. Tapi sebenarnya tidak. "Kenapa tidak di coba. Hanya mengetes, tidak lebih." ucap Viki dalam hati.


"Sekalian, siapa tahu gue bisa mengetahui. Siapa yang menyuruh mereka." ucap Viki dalam hati. Karena dia masih melihat orang yang mengikutinya.


Temannya melihat Viki menatap ke arah seorang perempuan. "Kelihatannya ada yang sudah tidak tahan melajang selama berabad-abad." celetuknya, memergoki mata Viki menatap ke arah seorang perempuan seksi.


"Elo,,, sini." seru teman Viki, memanggil seorang pelayan.


Dia memberikan segelas minuman pada pelayan tersebut. "Berikan ini pada perempuan berbaju biru. Bilang dari Tuan Viki. Viki Radika Mahendra." jelasnya, tak lupa dia memberikan tips pada pelayan tersebut.


"Jangan gila lo..." bisik temannya yang lain pada dia yang memberikan segelas air win pada pelayan.


Karena selama ini, mereka tahu jika Viki tidak pernah bermain perempuan. Mereka berpikir Viki mempunyai perempuan tersendiri untuk memuaskannya di atas ranjang.


Terlihat Viki juga tidak seperti sebelum-sebelumnya. "Sudahlah, santai saja." ucapnya, melihat ke arah Viki.


Berhasil. Perempuan tersebut nampak berjalan menghampiri kursi mereka. "Terimakasih. Tuan Viki." ucapnya, mulai mencari tempat duduk di samping Viki.


Dengan senang hati, teman-teman Viki memberikan tempat tersebut. "Wwoooowww." seru mereka.


Baru kali ini Viki tidak mengusir seorang perempuan yang berada di dekatnya. Bukankah sebuah pemandangan yang amazing di mata mereka.


Perempuan tersebut duduk di samping Viki, dan meneguk minuman berwarna merah tersebut. "Terimakasih." ucapnya, meletakkan gelas kosong di atas meja.


Viki hanya tersenyum. Ekor matanya menangkap orang yang mengikutinya mengeluarkan ponsel. "Awas saja, jika hasil fotonya tidak bagus." gumam Viki.


Tapi pastinya todak terdengar oleh yang lain. Karena suara musik yang sangat bising. Dengan pelan, perempuan tersebut menaruh dagunya di pundak Viki. "Kamu wangi." ucapnya.


"Mulai." ucap Viki dalam hati.


Tujuan lain Viki adalah mengetes dirinya. Karena saat bersama Nara, Viki begitu bergairah. Bahkan rasa bibir Nara seperti permen. Manis.


Viki meraih wajah perempuan tersebut. Dan mencium bibirnya. Tapi ekor matanya masih menatap ke arah orang yang mengikutinya.


Viki melepas ciumannya. Dan meludah di atas asbak. Segera dia mengambil tisu, dan mengelap bibirnya. "Minggir." ucap Viki dingin, menatap ke arah perempuan.


Viki memastikan jika orang tersebut sudah meninggalkan club. "Bibirmu tidak semanis bibirnya." ejek Viki.


Perempuan tersebut masih berada di dekat Viki, memandang Viki dengan tatapan mengiba. "Jangan uji kesabaranku. Enyahlah!!" hardik Viki.


Dengan segera sang perempuan berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.


Semua teman Viki saling pandang. "Gue pikir elo tertarik sama dia." celetuknya.


"Terlalu biasa. Rasanya hambar." ucap Viki acuh, padahal Viki membandingkan dengan bibir milik Nara.


"Gue pikir ada sesuatu yang mengejutkan malam ini. Ternyata sama saja." ujarnya, mengira Viki akan membawa perempuan tersebut berakhir di atas ranjang.


"Kasihan pusaka gue. Jika harus masuk ke dalam sembarangan lubang." ucap Viki, meneguk segelas kecil win di depannya.


"Karena hanya Nara, tempatnya pulang." imbuh Viki dalam hati.


Viki meninggalkan club tersebut. Dan kembali ke apartemen. Malam ini, dia akan tertidur dengan nyenyak. Membayangkan wajah Nara, masuk dalam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2