VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 142


__ADS_3

"Tenang saja sayang, papa akan membalas mereka." geram Tuan Diego, menatap nanar sang putri yang tergeletak tak berdaya dengan kedua mata terpejam di atas ranjang pasien, dengan banyak selang di menempel di anggota tubuhnya.


"Pa, jangan gegabah. Viki bukan orang yang bisa kita lawan dengan mudah." rayu Nyonya Vanya.


"Kita tunggu dulu, supaya Melva bangun dari tidurnya. Kita tunggu, Melva sadar pa." imbuh Nyonya Vanya membujuk sang suami.


Bukan tanpa alasan Nyonya Vanya mengatakan hal tersebut. Tak lain dan tak bukan karena rasa khawatir bercampur rasa takut.


Mustahil, jika Viki tidak membongkar semua rahasianya yang selama ini dia pikir, telah dia simpan rapat-rapat tanpa diketahui sang suami.


Tuan Diego memandang tajam ke arah sang istri. "Aawww... pa, sakit." ringis Nyonya Vanya, saat tangan Tuan Diego mencengkeram erat pundaknya.


"Kamu tahu apa tentang perasaanku. Melva, anak kandungku. Darah dagingku. Paham!!" bentak Tuan Diego, melepaskan cengkeraman tangannya dan sedikit memberi dorongan pada tubuh Nyonya Vanya.


"Pa, apa maksud papa. Meski aku bukan ibu kandungnya, selama ini akulah yang selalu berada di sampingnya. Aku juga menyayangi Melva seperti putriku sendiri." kilah Nyonya Vanya membela diri.


"Cih,,, jangan kamu pikir aku tidak tahu Vanya!!" hardik Tuan Diego, memandang sang istri penuh amarah.


Deg,,,, "Tatapan mata itu." ucap Nyonya Vanya dalam hati, membuat Nyonya Vanya melangkah mundur.


"Ya, aku sudah tahu. Aku tahu semuanya. Nara. Kamu pikir, kamu bisa menyembunyikannya dariku. Tidak akan. Nara, dia putri kandungmu bukan?" tanya Tuan Diego, lebih tepatnya bukan pertanyaan, melainkan penekanan.


"Pa,,," ucap Nyonya Vanya ingin membela diri, namun Tuan Diego memotong perkataannya.


"Kamu berniat melindungi putrimu. Lebih baik kamu diam dan menurut padaku. Jika tidak, aku tak segan-segan membuangmu bagai sampah di jalanan. Ingat itu" ancam Tuan Diego.


Salah paham. Tuan Diego mengira sang istri menghalangi langkahnya untuk menghancurkan Viki lantaran Nara adalah putri kandungnya.


Padahal, Nyonya Vanya sama sekali tidak berpikir seperti itu. Bahkan, dia sanggup kehilangan Nara. Asal tidak kehilangan harta dan hidup menderita.


"Lebih baik aku menurut saja. Dari pada papa tahu alasanku yang sebenarnya." ucap Nyonya Vanya dalam hati.

__ADS_1


"Baik. Mama minta maaf. Mama akan melakukan apapun. Apapun yang papa inginkan. Asal jangan menjauhkan mama dari Melva." ucap Nyonya Vanya, mulai bersandiwara. Seolah dirinya memang begitu menyayangi Melva.


"Aku pegang kata-katamu. Tapi, jika sampai aku mengetahui kamu berkhianat, aku tidak segan-segan membuat hidupmu menderita. Paham." jelas Tuan Diego.


Di kediaman Tuan Hendra, Nara sedang berbincang dengan Nyonya Rahma, dan juga Tuan Hendra.


"Sebaiknya kamu jangan keluar rumah terlebih dahulu. Terlebih saat seperti ini." jelas Tuan Hendra.


"Iya pa, Nara mengerti." sahut Nara.


"Mama juga. Biarkan Viki menyelesaikan masalah ini dulu. Papa hanya khawatir pada keselamatan kalian. Bisa saja Diego menargetkan kalian." ujar Tuan Hendra.


"Iya pa, mama juga khawatir. Apalagi mama tahu sedikit bagaimana sifat Tuan Diego. Dia lelaki yang ambisius dan kejam." ungkap Nyonya Rahma.


Nara hanya diam. Lantaran dia sama sekali belum pernah bertemu dengan sosok Tuan Diego. Namun Nara yakin, jika apa yang dikatakan sang mama bukan tanpa alasan.


"Apa Viki sudah pulang?" tanya Tuan Hendra.


Tuan Hendra mengangguk pelan. "Semoga Viki dapat menyelesaikan semuanya dengan baik." ucap Tuan Hendra dalam hati.


Tampak jelas di raut wajah Tuan Hendra, jika beliau sedang khawatir. Namun beliau tetap berusaha tenang. Beliau yakin, jika Viki dapat menyelesaikan semuanya dengan baik.


"Maaf, papa tidak bisa membantu." ucap Tuan Hendra dalam hati. Lantaran memang beliau hanya aparat pemerintah biasa. Beliau tidak punya kekuasaan besar untuk membantu sang putra.


Di ruangannya, Viki sedang mendapat laporan dari Rey. Jika ternyata Melva bukanlah anak kandung dari istri pertama Tuan Diego.


"Tunggu, jika Melva bukan anak kandung Diego dengan istri pertamanya. Lalu siapa ibu kandung dari Melva?" tanya Viki, memandang ke arah Rey dengan penasaran.


"Ini Tuan." Rey menyerahkan sebuah kertas pada Viki. Dimana di lembar kertas tersebut bertuliskan mengenai kelahiran anak pertama Tuan Diego dengan istri pertamanya yang bernama Ernanda adalah seorang bayi berjenis kelamin lelaki.


"Laki-laki. Kamu sudah tahu, keberadaannya?" tanya Viki.

__ADS_1


"Bayi tersebut meninggal setelah beberapa hari dilahirkan." jelas Rey.


"Lalu Melva? Siapa ibu kandungnya?" cecar Viki.


"Seorang perempuan yang bekerja di club malam. Namun sayangnya, perempuan tersebut meninggal dalam kecelakaan." papar Rey.


"Tunggu. Kecelakaan. Apa jangan-jangan." tebak Viki. Jika sebenarnya yang meninggal adalah ibu kandung Melva.


Namun dengan otak liciknya, Diego memanipulasi semuanya. Sehingga semua orang tahu, jika istri pertama dari Diego, Ernanda yang telah meninggal.


"Benar Tuan. Padahal Nyonya Ernanda sudah berbesar hati mau menerima putri Tuan Diego dengan perempuan lainnya." jelas Rey.


Viki menggeleng tidak percaya. "Benar-benar iblis." ucap Viki.


"Tentang suap itu. Kamu sudah mendapatkan petunjuknya?" tanya Viki.


"Sudah Tuan. Tinggal menunggu waktu, untuk mengeluarkannya." ucap Rey yakin.


"Bagus. Kumpulkan semua bukti apapun itu, yang bisa membuat Diego jatuh." perintah Viki.


"Baik Tuan. Maaf, bagaimana dengan Nyonya Ernanda?" tanya Rey. Sebab setelah membawanya ke tempat yang di tunjukkan oleh Viki, Rey tidak mengetahui perkembangan Nyonya Ernanda.


"Sedikit kemajuan. Tapi aku yakin, jika beliau akan berguna untuk menjatuhkan Diego." Viki tersenyum miring.


Tak selang beberapa lama, Viki ponsel Viki berdering. "Ada apa?" tanya Viki dengan seseorang yang menelpon dirinya.


"Baik. Aku akan segera ke sana." ucap Viki, mematikan sambungan teleponnya.


"Kita ke tempat Nyonya Ernanda di rawat." ajak Viki pada Rey.


Rey tersenyum. Dia dapat memastikan, jika kabar baik berpihak pada mereka. "Diego, tunggulah detik-detik kehancuranmu." ucap Rey dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2