
Ketenangan tidur Sara terusik saat mendengar suara berisik dari luar. Membuat kedua matanya yang masih terpejam terpaksa harus terbuka.
Sara meninggalkan ranjang empuknya. Meregangkan otot-otot di badannya. Menatap dinding di sampingnya.
"Astaga, sudah satu jam lebih aku istirahat siang. Ckk,,, dasar kebo." decak Sara mengumpat dirinya sendiri.
Sara berjalan ke arah pintu kaca yang terhubung dengan balkon kamarnya, sembari menggelung asal rambut panjang hitam legamnya.
Melihat dari atas apa yang terjadi. "Dia." Mata Sara memandang cukup lama ke arah seorang perempuan yang membuat keributan di rumah Tuan Smith.
"Giska. Untuk apa dia ke sini." gumam Sara.
Meski Sara belum bertemu Giska sama sekali, namun dirinya sudah tahu bagaimana wajah dari mantan istri Renggo tersebut.
Tentunya dia memperoleh semua informasi tersebut dari ponsel pintarnya. "Al..."
Sara segera melangkahkan kakinya dengan cepat. Tak peduli dengan penampilannya yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
Di bawah, Sara langsung bertemu dengan beberapa pembantu yang menampilkan wajah tegang.
Bagaimana mereka tidak cemas. Giska datang di saat satupun pemilik rumah tidak ada di tempat. "Di mana baby Al?!"
Sara bertanya dengan nada khawatir. "Tuan kecil berada di dalam kamar Nona. Dia bersama dengan pengasuhnya."
"Katakan padanya untuk tidak membawa baby Al keluar dari kamar." perintah Sara.
"Baik." segera dia berlari ke arah kamar baby Al, menyampaikan apa yang diperintahkan Sara.
"Nona, di depan ada.." pembantu lain melaporkan pada Sara.
Sara segera mengangguk sebelum dia menyelesaikan perkataannya. "Saya sudah tahu."
Dan Giska, sedang berdebat dengan keamanan yang menjaga rumah Tuan Smith. Mereka tidak ada yang berani bertindak kasar kepada Giska.
Teringat jika perempuan di depan mereka adalah mantan istri dari Tuan muda mereka. Sekaligus ibu dari baby Al.
Sebelumnya mereka juga tidak menerima perintah dari majikan mereka terkait kedatangan Giska. Entah dari Renggo maupun Tuan Smith, jika Giska datang ke sini.
Yang bisa mereka lakukan adalah menghalangi sebisa mereka, jangan sampai Giska masuk ke dalam. Mereka cukup tahu bagaimana tempramen mantan istri dari Renggo ini.
"Nona..." panggil pembantu, menahan Sara yang hendak melangkahkan kakinya keluar rumah.
Mereka cukup khawatir Sara akan berhadapan dengan Giska. Ketakutan mereka hanyalah Sara akan terluka, mengingat bagaimana perangai dari Giska yang sangat bar-bar dan tidak tahu aturan.
Sara bersikap tenang. "Saya akan menyelesaikannya. Jangan sampai dia masuk ke rumah. Apalagi bertemu baby Al."
"Satu lagi, kalian tidak perlu menghubungi Renggo. Dan memberitahukannya. Saya yang akan menyelesaikannya."
Sara teringat jika hari ini jadwal kegiatan Renggo cukup padat. Sara tidak ingin, hanya karena kedatangan seorang perempuan membuat kegiatan Renggo menjadi berantakan.
Pasti Renggo akan segera pulang, jika mengetahui Giska berani menyatroni kediamannya. Renggo pernah bercerita pada Sara, jika Giska sempat mendatangi perusahaannya.
Membuat keributan di sana. "Tapi Nona." sang pembantu ragu, saat Sara mengatakan untuk tidak memberitahu Renggo.
"Percaya sama saya. Lagian di rumah banyak orang. Masa kita kalah dengan satu perempuan."
Sara tersenyum. "Baik Nona. Kami selalu ada di belakang Nona." ucapnya.
Sara yakin, kedatangan Giska kali ini untuk bertemu dengan baby Al. Dan Sara bisa menebak apa alsan dibalik keinginan Giska tersebut.
Setelah selama ini dirinya dama sekali tidak peduli dengan bayi tersebut. Dan sekarang datang. "Pasti dia ingin menggunakan baby Al untuk kembali masuk ke keluarga ini. Tentu saja, tidak akan saya biarkan dia mengambil kursi saya." seringai licik muncul dari bibir Sara.
Sara membuka pintu. Terlihat petugas keamanan sedang berada di depan badan Giska. Beradu debat dengan Giska.
Dengan tangan mereka berada di belakang tubuh. Sepertinya mereka takut jika sampai emosi mereka terpancing dan melukai Giska.
"Berhenti...!!" teriak Sara, berdiri di teras rumah dengan santai dan tenang.
Beberapa pembantu melihat dari balik jendela. Ada rasa khawatir menyergap mereka. "Biarkan dia." perintah Sara pada petugas keamanan di rumah Tuan Smith.
Petugas keamanan menyingkir dengan ragu. Tapi mereka tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Sara. Mengingat siapa Sara di rumah ini.
Giska menipiskan bibirnya. Merapikan dressnya yang masih rapi menempel di badannya. Dengan langkah anggun dan percaya diri, dia melangkahkan kaki mendekat ke arah Sara.
Langkah Giska berhenti tepat di depan Sara. Sekitar tiga langkah di depan Giska. Dia memandang Sara dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Dasar tidak punya etika dan sopan." ucap Sara dalam hati. Mengetahui jika Giska sedang menilai penampilannya.
Dan menilai penampilan orang memang tidak perlu kita lakukan. Sebab terlihat sangat tidak etis.
Giska tersenyum sinis. "Minggir, saya ingin masuk." ucapnya dengan angkuh.
__ADS_1
Sara tersenyum miring. Berdiri sambil bersedekap dada. "Masuk. Kamu pikir rumah ini tidak berpenghuni."
Sara mulai menunjukkan taring dan cakarnya di depan Giska. Hanya dia sekarang yang berada di rumah.
Terlebih dia bisa menebak apa tujuan Giska mendatangi kediaman Tuan Smith, setelah lama tidak pernah menginjakkan kakinya di sini lagi.
Memang ada para pembantu, namun Sara yakin. Mereka cukup tahu diri untuk tidak membuat keputusan. Tanpa perintah dari pemilik rumah.
Giska menatap tajam ke arah Sara. "Kamu belum tahu siapa saya?" tanyanya dengan nada bangga.
"Maaf, saya tidak pernah berkenalan dengan orang yang menurut saya tidak penting." sahut Sara tenang
Meski petugas keamanan membiarkan Giska mendekati Sara, namun mereka tetap berada di sekitar Sara dan Giska.
Mereka tidak mau mengambil resiko dan mendapat teguran dari majikan mereka. Jika sampai Sara terluka karena Giska.
Giska menatap lamat-lamat ke arah Sara. Dia cukup familiar dengan wajah dari Sara. "Tunggu dulu. Kamu,,,,," Giska sedang mengingat wajah seseorang di dalam benaknya.
Giska menatap Sara dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana atris terkenal bisa berada di rumah mantan suaminya. "Sara Widia." ucap Sara lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Sara.
"Untuk apa kamu di sini?" tanya Giska heran.
"Lihat, saya termasuk orang penting. Buktinya anda saja mengenal saya." Sara berbicara dengan nada sombong.
Petugas keamanan tersenyum mendengar perkataan Sara. Mereka yakin, jika Sara bukan perempuan yang akan mudah ditindas.
"Jangan banyak bicara. Jawab saja pertanyaan saya!" gertak Giska, tidak senang dengan apa yang di katakan oleh Sara.
Sara tahu, Giska mencurigai dirinya. Dengan mudah Sara dapat menebak dari ekspresi wajah Giska. "Kenapa mesti bertanya Nona. Apa anda berpikir saya bekerja sebagai pembantu di rumah besar ini."
Sara terkekeh pelan. "Atau anda berpikir saya adalah istri kedua Tuan Smith."
Giska menatap kesal bercampur penasaran pada Sara. "Kenapa gue harus peduli dengan dia. Tujuan gue mengambil anak gue. Bukan berdebat hal yang tidak penting." ucap Giska dalam hati.
Giska sengaja datang saat ini ke rumah Tuan Smith. Sebelum ke sini, dirinya telah menyelidiki kondisi dari rumah Tuan Smith.
Renggo bekerja. Dan mantan mertuanya tidak berada di tempat. Giska tahu, jika Tuan Smith dan Nyonya Binta tidak berada di rumah selama tiga hari.
Giska mendapat informasi jika mereka berada di luar negeri. Tanpa tahu alasan mereka pergi ke luar negeri. Giska hanya menebak jika Tuan Smith sedang ada pekerjaan di sana. Dan Nyonya Binta mendampingin beliau.
"Baiklah, saya tidak peduli dengan keberadaan anda Nona Sara. Saya ingin masuk. Dan bertemu dengan putra saya. So, minggir. Jangan menghalangi jalan saya."
"Tapi maaf Nona Giska. Anda tidak lagi diterima di rumah ini. Kapanpun itu. So, lebih baik anda meninggalkan rumah ini dengan dagu terangkat, jika tidak ingin diusir paksa." tekan Sara, mengancam Giska.
"Kenapa? Karena memang itu tugas saya."
"Saya Giska, mama dari baby Al. Dan saya ingin bertemu dengan putra saya. Kamu..." Giska menunjuk ke arah wajah Sara.
"Tidak punya hak untuk melarang saya." bentak Giska tidak terima dengan perlakuan Sara pada dirinya.
Sudah cukup pihak keamanan saja yang menghalangi jalannya. Giska tidak ingin terlalu lama berada di rumah ini. Apalagi jika Renggo tahu. Semua rencananya akan berantakan.
Tanpa Giska sadar, rencananya sudah berantakan sejak dirinya menginginkan ingin mengambil baby Al dari rumah ini.
"Saya." Sara menunjuk ke arah wajahnya sendiri. "Siapa bilang saya tidak punya hak. Saya lebih berhak dari pada anda. Meskipun and adalah perempuan yang melahirkan baby Al."
Kata mama kandung terlalu berharga di sematkan pada Giska. Mengingat bagaimana Giska dengan mudah membiarkan baby Al. Dan tidak mau mengurusnya.
Sekarang Sara tahu dan paham. Kenapa kedua orang tua Renggo tidak menginginkan keluarga mereka terlalu tersorot kamera.
Terlebih baby Al yang masih bayi. Mereka tidak ingin banyak yang tahu bagaimana wajah baby Al. Termasuk Giska sekalipun.
Sara yakin, jika sampai detik ini Giska juga belum mengetahui wajah baby Al. Betapa menggemaskan pipi gembulnya, dan lucunya tingkah balita berusia satu tahun tersebut.
"Perkenalkan. Saya. Sara Widia. Istri dari Renggo. Mama tiri baby Al."
Sara dengan yakin memperkenalkan dirinya. Meski ada kebohongan dalam perkataannya. Mengaku sebagai istri Renggo.
Kenyataannya dirinya baru berstatus sebagai calon Nyonya Renggo. Tapi tidak masalah berbohong pada perempuan tidak tahu malu di depannya ini.
Sara sadar, dirinya tidak bisa bersembunyi terus di dalam cangkang. Dia harus menunjukkan siapa dirinya di hadapan banyak orang saat sudah menyandang gelar Nyonya Renggo.
Itung-itung belajar mukai sekarang.
Wajah Giska terlihat pias. Namun sejurus kemudian dia tertawa lepas. Sara bahkan menatap aneh ke arah Giska.
"Kamu, menikah dengan Renggo. Sejak kapan. Mengkhayal kamu terlalu tinggi hey sang artis." ejek Giska.
"Memang kami belum mempublish hubungan kita. Dan kami sengaja. Aku yang meminta. Sekarang kamu pikir, dengan penampilan saya yang seperti ini, terbesit apa di benak kamu." tekan Sara.
"Kamu adalah mantan istri Renggo. Saya rasa kamu cukup paham dengan sifat kedua orang tua Renggo. Papa Smith, dan mama Binta."
__ADS_1
Giska terdiam. Memang benar, mana mungkin keduanya mengizinkan ada orang lain tinggal di rumah mereka.
Giska menangkap penampilan Sara. Tampak jelas jika Sara baru saja bangun dari tidurnya. Giska tersenyum miring melihat penampilan Sara.
"Beruntung gue tadi nggak sempat merapikan penampilan gue." Sara bersyukur dengan penampilannya sekarang.
"Dan saya tidak peduli. Minggir. Saya ingin bertemu dengan putra saya." sengit Giska.
Sara memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Jangan menguji kesabaran saya, Nona Giska." geram Sara.
"Cihh,,, hanya mama tiri. Apa bagusnya. Saya yakin, baby Al akan tetap memilih saya." yakin Giska.
"Bagaimana baby Al akan memilih anda. Dari dulu yang dia kenal hanya mama Sara. Bukan mama Giska." ledek Sara.
"Kamu...." geram Giska. "Jangan percaya diri. Pasti Renggo sebentar lagi akan menceraikan kamu. Renggo sangat mencintai saya. Apapun yang saya inginkan, pasti akan dia turuti." pongah Giska.
"Asal kamu tahu Nona Sara. Kami sudah menghabiskan banyak malam bersama. Bertukar saliva dan bertukar keringat. Dan Renggo, selalu memuji kemampuan saya di atas ranjang." pamer Giska.
Menjijikkan. Sara menatap Giska dengan menjijikkan. Sara mengendalikan emosinya. Dia teringat akan cerita Nara tentang bagaimana gilanya Giska.
Sara tahu bagaimana hubungan yang terjalin antara Renggo dan Giska waktu dulu. Renggo sudah menceritakan semuanya. Tanpa menutupi apapun darinya.
Bagaimana Renggo dibutakan oleh kata cinta pada perempuan gila bernama Giska. Bagaimana Renggo menerima dengan ikhlas di mana Giska mencarinya hanya di saat dia membutuhkan Renggo.
Bagaimana Renggo percaya jika kesabaran cintanya akan membuahkan hasil. Nyatanya semua hanya angan-angan semu.
Renggo tertampar dengan kenyataan. Bahwa selamanya, dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Giska.
Saat mengetahui ternyata dengan mudah Giska bermain dengan banyak lelaki, bukan hanya menginginkan Viki.
Rasa cintanya yang begitu besar, membuat Renggo bodoh. Tanpa mau menyelidiki bagiamana sebenarnya Giska.
Yang Renggo tahu jika Giska hanya sering menghambur-hamburkan uang dan suka berpesta.
Tanpa dia berpikir, jika Giska juga sering berganti lelaki tanpa sepengetahuan siapapun. Bermain rapi.
Renggo seakan sadar sepenuhnya saat mengetahui jika darahnya sama sekali tidak mengalir di dalam tubuh baby Al.
Dunia serasa berbalik. Tapi Renggo seorang lelaki. Dan dia tidak ingin dunia menertawakannya. Menyimpan rapat semua perasaan sakitnya seorang diri.
Hingga dirinya bertemu dengan Sara. Menjadikan Sara sebagai satu-satunya tempat dirinya berkeluh kesah dan mengungkapkan semua perasaannya.
"Dan asal anda tahu, Nona Giska. Sekarang perempuan yang seranjang bersama Renggo ada di hadapan anda. Dan hanya saya, saat ini perempuan yang bisa melihat bagaimana sempurnanya tubuh Renggo."
Sara merasa geli sendiri saat mengetakan hal tersebut. Bagaimana tidak. Tubuh Sara bahkan belum pernah di jamah oleh lelaki manapun. Termasuk Renggo.
Giska mencoba untuk tetap mempengaruhi pikiran Sara. Berharap Sara terpengaruh, menjadikan pertengkaran antara Sara dan Renggo.
"Saya yakin, Renggo hanya menjadikan anda mainannya saja. Mengisi waktu luang, saat saya tidak ada di sampingnya." Giska berbicara dengan percaya diri.
"Anda tahu sebabnya. Kalian sudah menikah. Tapi Renggo bahkan tidak memperkenalkan anda kepada dunia luar. Anda tidak terlalu bodoh bukan?!" cibir Giska.
"Bagaimana mau memperkenalkan ke dunia. Gue saja masih perawan. Kita belum menikah bego." umpat Sara dalam hati.
"Kamu terlalu banyak menyita waktu berharga saya. Padahal ini waktu saya bersantai dengan pelayanan penuh dari salon yang sudah saya undang."
Giska mengeratkan telapak tangannya. Merasa kehidupan Sara seperti seorang ratu. Dan seharusnya dia yang berada di tempat itu.
"Bawa dia pergi dari sini. Jika tidka bisa dengan cara halus, paksa dia." perintah Sara pada petugas keamanan.
"Baik Nona." ucap mereka serempak.
"Heyy,,, apa yang kalian lakukan. Lepas..!!!"
Giska diseret paksa, tubuhnya baru dilepaskan setelah Giska berada di luar gerbang yang menjulang tinggi dan kokoh.
"Sara,,, perempuan hina. Lihat saja, saya akan kembali. Mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya..!!" teriak Giska dari luar pagar.
"Dia tadi ke sini naik apa ya." gumam Sara, malah fokus pada kendaraan yang Giska pakai. Sebab Sara tidak melihat ada mobil di luar pagar.
Tanpa Sara dan Giska tahu, seseorang melihat semuanya dari seberang jalan. Erlangga berada di dalam mobil.
Sebenarnya Erlangga ingin menemui Sara. Tapi niatnya terhenti saat melihat Giska dan Sara berdebat di depan rumah.
Erlangga tidak bisa mendengar perdebatan mereka. Dirinya yakin, jika Giska memaksa masuk ke dalam rumah. Dan Sara menghalanginya.
Di tepi jalan, Giska mengumpat. Mengeluarkan segala kalimat yang tidak pantas di dengan oleh telinga.
Erlangga masih terdiam di dalam mobil. Mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Giska. Sebab Giska berada di belakang mobilnya.
"Sara, lihat saja. Gue akan datang. Dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik gue. Dan baby Al adalah jalannya. Gue nggak mau hidup miskin. Nggak."
__ADS_1
Erlangga tersenyum, mendengar kalimat yang Giska ucapkan.