VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 179


__ADS_3

Bulan madu Nara dan Viki yang sebenarnya belum selesai, kini telah berakhir lebih awal. Keduanya saat ini dalam perjalanan menuju negara mereka.


Mereka berangkat tidak membawa banyak barang. Hanya barang-barang penting yang diletakkan dalam tas kecil. Dan juga pakaian yang telah lebih dulu dikirim oleh Viki.


"Beruntung sudah beli oleh-oleh untuk yang di rumah." gumam Nara.


Saat pulang, jangan ditanya. Nara dan Viki membawa banyak barang, sebagai oleh-oleh orang rumah. Bahkan, para pembantu di rumah Nyonya Rahma pun juga dihitung.


Termasuk pembantu baru dirumahnya. Tak hanya itu, Nara juga menghubungi Nyonya Binta. Menanyakan jumlah pembantu di sana , dan membelikan mereka oleh-oleh.


Saat berbelanja, Viki hanya mengekor di belakang Nara. Persisi seperti seorang bodyguard. Sementara sang istri, sibuk mencari barang-barang yang diinginkannya.


Ingin mengeluh, tapi Viki tak tega. Dalam hati, Viki mengatakan tidak akan pernah lagi ikut berbelanja dengan sang istri.


Lebih baik olah raga berat, atau bekerja mengeluarkan keringat. Dari pada menemani perempuan berbelanja.


Mungkin itulah perkataan para lelaki yang sudah pernah menemani para perempuan berbelanja. Mengintai tempat belanja tanpa rasa lelah. Seolah mereka mempunyai kekuatan ekstra saat berbelanja.


"Suamiku. Nanti, jika kita kembali jalan-jalan, kita ajak Rini dan Bima ya." pinta Nara.


Viki hanya mengangguk, dengan pandangan fokus ke layar laptop. Sejak kemarin, entah Nara merasa jika Viki selalu mengabaikannya.


Viki lebih fokus pada laptop miliknya. Sebagai seorang istri, Nara tidak boleh egois. Mungkin karena memang setelah ditinggal lebih dari beberapa hari, pekerjaan Viki di kantor menumpuk.


Namun, bukankah ada Rey.


Nara sebenarnya ingin bertanya sejak kemarin. Hanya saja, dia takut Viki akan marah. "Sayang, apa ada masalah di kantor?"


Nara bertanya dengan hati-hati. Meski dia tidak mengetahui masalah pekerjaan, setidaknya Nara tidak akan salah paham. Saat sang suami bersikap acuh padanya.


Viki mengangguk. "Ada yang menyabotase keamanan perusahaan. Itulah alasan kenapa kita pulang lebih awal." jelas Viki, karena Viki hanya mengajak Nara pulang, tanpa memberitahu alasannya.


"Dan Rey sedang mempertahankan semuanya, agar mereka tidak terlalu masuk ke jaringan dalam." wajah Viki terlihat tegang.


"Ternyata sangat serius." gumam Nara, merasa cemas akan perusahaan milik sang suami.


"Semoga, semuanya dapat selesai dengan cepat." harap Nara.


"Semoga." sahut Viki.


"Sayang, aku harus bertemu dengan Ella. Kamu pulang ke rumah sendiri, tidak apa-apa kan? Atau, kamu bisa pergi ke rumah mama Binta, atau mama Rahma. Nanti pulangnya aku jemput." tanya Viki.


Hati Nara tersentuh, namun juga merasa sedikit bersalah. Saat menghadapi masalah besar, sang suami masih begitu perhatian padanya. Padahal, sebelumnya, Nara sempat ingin marah saat kemarin Viki acuh terhadapnya.


Oleh sebab itu, Nara juga harus bersikap sebagai layaknya seorang istri yang peka dan juga pengertian terhadap sang suami, dalam kondisi apapun. "Ternyata komunikasi itu sangat penting." batin Nara dalam hati.


"Tidak istirahat dulu?" Nara khawatir. Pasalnya, keduanya baru saja melakukan perjalanan panjang. Pasti Viki juga merasa capek.


Nara tidak ingin jika sang suami sampai jatuh sakit, karena kelelahan. "Setelah semua selesai." jawab Viki jujur.


Mana mungkin Viki bisa beristirahat dengan tenang. Memejamkan kedua matanya. Dan bersantai di rumah. Saat perusahaannya sedang bermasalah.


Bukan hanya soal perusahaan, melainkan karena memang tanggung jawab Viki sebagai pemilik perusahaan. Sekaligus pemimpin perusahaan..

__ADS_1


Jika sampai perusahaan tumbang atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, itu artinya akan banyak orang yang akan terkena imbasnya. Sebab, di sana banyak pegawai yang menggantungkan hidup mereka beserta keluarga, pada penghasilan mereka dari bekerja di perusahaan Viki.


"Tidak perlu, Nara akan pulang. Menunggu abang pulang ke rumah. Bukankah kita sudah punya rumah." tutur Nara bijak.


Jika Nara memutuskan pulang ke rumah orang tua mereka, Nara malah akan semakin membuat Viki susah dan bertambah lelah.


Sudah capek mengurusi masalah di kantor, pulangnya masih menjemput Nara. Bukankah itu artinya Nara malah akan menambah beban sang suami.


"Kita akan berpisah di persimpangan jalan. Kamu pulang, aku langsung ke rumah Ella." jelas Viki, memasukkan laptopnya ke dalam tas.


"Apa kak Ella sudah tahu?" Nara takut, jika kedatangan sang suami ke rumah sahabatnya akan sia-sia. Jika sampai pemilik rumah tidak berada di tempat.


Viki mengangguk. "Apa kamu ikut aku saja. Lagi pula di sana ramai. Ada anak Ella yang lucu. Kamu pasti suka?" tawar Viki.


"Nggak, Nara kepengen istirahat. Capek." tolak Nara tersenyum hangat.


Jika ke rumah Ella, Nara sungkan untuk sekedar beristirahat. Meskipun sebenarnya tidak apa-apa. Tapi Nara meras tidak enak hati.


Apalagi Nara memang merasa badannya remuk. Kedua matanya juga sepat. Dan ingin segera dipejamkan.


"Baiklah."


"Sayang, kamu naik apa?"


"Itu, sudah ada yang menjemput." Viki memandang ke depan, ada sebuah mobil berwarna hitam mengkilat di pinggir jalan dengan dua lelaki di samping mobil.


Cup. Nara mencium singkat pipi sang suami. "Hati-hati. Selalu beri kabar. Ada seorang istri yang menunggu kepulangan kamu di rumah."


Kedua bola mata Nara berkaca-kaca. "Maaf, jadi pulang lebih cepat dari jadwal." sesal Viki.


Viki mencubit hemas hidung kecil dan mancung milik sang istri. "Jangan menggodaku. Waktunya tidak tepat." kesal Viki, membuat Nara terkekeh pelan.


Sampai di rumah, Nara benar-benar tertidur. Bahkan, dia belum membersihkan badannya. Dengan beberapa koper dan jiga tas besar masih tergeletak di dalam kamar.


Nara berpesan, jika semua itu adalah miliknya. Dan tidak boleh disentuh.


Ponsel Nara yang terus berbunyi nyaring, tak lantas membuat kedua mata Nara terbuka, ataupun mengusiknya dalam tidur.


Pintu kamar Nara diketuk berulang kali dari luar. Tetap Nara tidak bangun. "Semoga Nyonya tidak marah." ucap pembantu, memutuskan untuk membuka pintu kamar Nara.


Sang pembantu juga merasa khawatir. Takut jika terjadi sesuatu terhadap majikan barunya tersebut.


Dengan perlahan, pintu di dorong ke dalam. Sang pembantu bernafas lega. "Syukurlah, Nyonya baik?baik saja. Sepertinya Nyonya kecil sangat capek." gumamnya.


Dia mendekat ke ranjang Nara, menutupi tubuh sang majikan dengan selimut. Bahkan, Nara yang biasanya akan terganggu saat ada gerakan kecil, kali ini Nara benar-benar tertidur nyenyak.


Selesai memastikan baik-baik saja, sang pembantu keluar dari kamar Nara. Menghubungi beberapa orang yang tadi mencari sang nyonya. Siapa lagi jika bukan Viki, Nyonya Rahma, dan Nyonya Binta.


"Baik Tuan." ucap sang pembantu, mendapat perintah dari Viki. Untuk membangunkan Nara jika sudah sore.


Selesai menghubungi nomor rumah, Viki bernafas lega. Dan bisa fokus menyelesaikan permasalahan di perusahaan.


"Bagaimana?" tanya Ella, menggendong putri kecilnya. Sebab, sedari tadi sang putri sedikit rewel.

__ADS_1


"Dia tidur." jawab Viki, yang di sahut kekehan dari Ella.


"Padahal dia sendiri yang meminta untuk dihubungi. Dasar." Viki menggeleng dan tersenyum akan tingkah sang istri.


"Elo harus banyak bersabar. Dia masih berumur tujuh belas tahun. Biasanya, gadis sepantaran Nara akan memilih bebas dulu. Menikmati masa remajanya, dari pada menikah. Elo masih ingatkan, umur segitu kita lagi ngapain?"


Viki dan Ella tertawa pelan, teringat umur tujuh belas adalah dimana mereka nakal-nakalnya, dan juga bandel.


"Jadi, jangan sampai dia berpikir, jika keputusannya untuk menikah diusia belia adalah suatu kesalahan." Ella mencoba untuk menasehati Viki.


"Ya, gue ngerti."


Viki di bantu oleh Ella yang sembari menggendong putrinya, berhadapan dengan laptop. Jari mereka dengan lincah bergerak pada keyboard masing-masing.


"Sorry, gue nyusahin elo."


"Oke. Ini sangat menyenangkan buat gue. Elo tahu sendirikan, sejak Vano kembali. Gue diperlakukan seperti ratu. Dan sekarang, gue seratus persen jadi seorang ibu." Ella melihat sang putri yang sudah terlelap dalam gendongannya.


"Bahkan, semua pekerjaan gue diambil alih Vano. Memegang pistol saja gue nggak boleh. Tapi ya,,, gue mencoba menikmatinya. Biar tidak stres."


"Anak elo cantik." puji Viki.


"Benihnya oke, penampungnya juga oke. Gimana hasilnya nggak oke." sombong Ella, dibalas decakan kesal oleh Viki.


"Dapat....!!!!" seru Viki, setelah berkutat dengan laptop hampir saru jam, bersama Ella.


"Hussssttt..." Ella melotot ke arah Viki, sambil menggoyangkan badannya.


Putri Ella terusik dengan suara dari Viki. "Sorry, gue lupa." Viki cengengesan minta maaf, lupa jika ada balita tengah tertidur lelap di sampingnya.


"Cepetan elo lacak keberadaannya. Sepertinya dia ada di negara ini." pinta Ella menenangkan kembali sang anak agar tertidur lagi.


Tidak membuang-buang waktu, Viki melakukan apa yang sahabatnya katakan. "Sial, ternyata dia ada di kota ini." kesal Viki merasa dipermainkan oleh tikus kecil.


"Gue nggak akan pernah melepaskan dia. Karena dia, bulan madu gue berantakan." kesal Viki.


Ella melihat ke layar laptop milik Viki. "Ada anak buah gue yang tinggal di sekitar sana." Ella mengambil ponsel. Memerintahkan pada anak buahnya sesuatu, dan pastinya mengenai seseorang yang membuat Viki kesal.


Viki memasukkan laptopnya ke dalam tas. "Thank's." Viki menepuk pundak Ella, dan segera melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.


"Jika elo kesulitan, elo boleh ke sini kapan saja." ujar Ella.


Di kantor, Rey dan beberapa karyawan lain bernafas lega. "Tuan memang hebat."


"Jika tidak hebat, mana mungkin dia bisa seperti sekarang. Membesarkan perusahaan tanpa warisan." timpal yang lain.


Ponsel Rey berdering. Segera Rey mengangkatnya, sebab Viki yang menelpon dirinya. "Baik Tuan."


"Kalian bekerja kembali. Tuan membutuhkan saya." Rey segera pergi ke alamat yang disebutkan oleh Viki.


"Gue harus belajar mengenai komputer." ujar Rey bertekad.


Dirinya tidak ingin malu untuk kedua kalinya. Hanya karena masalah ini, Rey harus memanggil Viki untuk pulang. Mengganggu acara bulan madu sang atasan.

__ADS_1


Padahal, dalam hitungan jam. Viki dan Ella dapat menghentikan pergerakan mereka. Bahkan mendapatkan alamat mereka.


__ADS_2