
"Jadi benar, jika Giska hamil?" tanya Nara, masih tidak percaya. Padahal tadi pagi, saat terjadi keributan, Nara juga mencari tahu.
Dan Nara di beritahu oleh Mbak Siti. Tentang apa yang terjadi pada Giska. Namun Nara lebih memilih untuk tidak ikut campur atau terlalu kepo.
Menurutnya, dengan Giska menjadi jauh dari Viki, sudah menjadi kabar baik di telinganya. Nara tidak mau ambil pusing dengan masalah yang sedang menimpa Giska.
"Ya, mungkin mereka akan menikah sebelum kita." jawab Viki dengan enteng.
Nara terdiam sesaat, memikirkan hal lain. Seandainya rencana jahat yang Giska jalankan tadi malam berjalan.
Pasti Viki akan menikahi Giska. Sementara Giska sedang mengandung benih dari lelaki lain. "Ternyata perempuan seperti Giska sangat berbahaya. Aku sekarang harus lebih berhati-hati. Masih ada Melva." ucap Nara dalam hati.
"Ada apa?" tanya Viki, lantaran Nara malah diam memandang ke depan. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Emmm,,,, tidak. Bang, maaf ya bang, gara-gara Nara, pernikahan kita jadi ribet." ujar Nara merasa bersalah.
"Tidak masalah. Bukan abang yang melakukannya. Abang tinggal suruh orangkan?" Viki mengerlingkan sebelah matanya dengan genit ke arah Nara.
Viki hanya tidak ingin jika Nara merasa menjadi beban untuk dirinya. Padahal Viki melakukannya karena dia benar-benar mencintai Nara.
"Setelah semua dokumen tentang kamu selesai, kita akan segera menikah." ucap Viki.
KTP Nara masih dalam tahap pembuatan. Sementara untuk syarat lain seperti akta kelahiran, Viki juga masih menyuruh Rey untuk mengurusnya.
"Bang, bagaimana jika mereka membuat sulit pernikahan kita?" tanya Nara khawatir.
Belum sempat Viki menjawab pertanyaan Nara, ponselnya berbunyi terlebih dahulu.
"Ada apa Rey?" tanya Viki, setelah menggeser gambar berwarna hijau di layar ponselnya.
Viki segera mematikan panggilan teleponnya dengan Rey. "Bang, ada apa?" tanya Nara, sebab Viki melajukan mobilnya semakin kencang.
"Papa Giska membuat ulah. Abang belum bisa mengantar kamu pulang. Kamu ikut Abang ke kantor saja." ucap Viki dengan mata fokus ke depan.
Nara mengangguk cepat. Kedua tangannya berpegangan pada kursi. Takut. Pastinya. Karena Viki melajukan mobilnya seperti seorang pembalap.
Sampai di perusahaan, Viki memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Memiliki masalah, tak lantas membuat Viki melupakan keberadaan Nara.
__ADS_1
Sementara Nara, tanpa menunggu pintu mobil di buka dari luar, dia segera keluar dari dalam. Nara, bukan sosok gadis manja. Atau gadis yang tidak tahu keadaan.
"Abang duluan saja, Narakan sudah tahu ruangan abang." ucap Nara, saat Viki mendekat ke tempatnya.
"Sudah sana, Nara tidak apa-apa." ucap Nara, saat Viki malah terdiam dan tidak segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang rapat.
"Antarkan kekasih saya." perintah Viki pada pihak pihak keamanan.
"Baik Tuan."
Viki mencium singkat kening Nara. Membuat beberapa karyawan yang lewat di sekitar mereka melongo tak percaya.
Atasan mereka yang anti dan sangat menjaga jarak dengan perempuan, kini memamerkan kemesraan di depan mereka.
"Hati-hati. Tunggu abang di sana. Jangan kemana-mana." ucap Viki dengan lembut, kembali mengecup kening Nara dan meninggalkan Nara.
"Mari Nona..." ajak pak satpam.
"Nara. Panggil saya Nara pak." ucap Nara menyebutkan namanya dengan sopan.
Nara di antar oak satpam hingga depan ruang Viki. "Makasih pak." ucap Nara lalu masuk ke dalam ruangan Viki.
"Pak,,,!" panggil resepsionis pada pak satpam, setelah beliau terlihat berjalan keluar dari dalam lift.
"Ada apa mbak?" tanya pak satpam.
"Dia siapanya Pak Bos?" tanya sang resepsionis kepo.
"Kenapa mesti tanya. Seharusnya mbak lebih tahu dari pada saya." jawab pak satpam, lalu meninggalkan depan resepsionis.
"Yeee,,,, si bapak." jengkel sang resepsionis.
Di ruang rapat Viki dan beberapa direksi penting duduk di kursi masing-masing. "Diego. Berani sekali sekali dia mengusik ketenanganku." geram Viki.
"Amankan berkas-berkas penting yang kalian pegang. Juga anak buah kalian. Jika sampai ada yang ketahuan berkhianat. Kalian akan tahu akibatnya." ancam Viki.
"Baik Tuan." ucap mereka serempak, meninggalkan ruang pertemuan.
__ADS_1
"Rey, apa yang kamu temukan?" tanya Viki, setelah dia hanya berdua dengan Rey di dalam ruang tersebut.
Rey menyodorkan beberapa lembar kertas pada Viki. "Ini Tuan." ucap Rey.
Viki tersenyum smirk. "Ternyata dia kaya dengan cara seperti ini. Sungguh parasit." ucap Viki.
Karena ternyata kekayaan Tuan Diego berasal dari kekayaan milik istri pertamanya dan juga milik Nyonya Vanya, yang saat ini berstatus sebagai istri kedua. Yang dia nikahi setelah dia mengatakan jika istri pertamanya telah meninggal.
"Jadi dia masih hidup." Viki membaca sebuah kertas di tangannya. Yang di mana jika istri pertama Tuan Diego masih hidup. Dan saat ini sedang berada di Rumah sakit jiwa.
"Membuat seolah istri pertamanya meninggal. Lalu menikah dengan Nyonya Vanya. Aisshhh,,,, lelaki benalu." cibir Viki.
"Ada lagi?" tanya Viki, seolah dia kurang puas dengan laporan yang di bawa oleh Rey.
"Maaf Tuan, saya belum berhasil menemukan apapun terkait di rawatnya istri pertama Tuan Diego di rumah sakit jiwa." jelas Rey dengan menunduk.
Viki menatap kembali kertas di tangannya. Dimana tertera nama rumah sakit jiwa yang saat ini menampung istri pertama dari Tuan Diego.
Tiba-tiba Viki tersenyum miring. Mengeluarkan ponselnya. Lalu menghubungi seseorang. "Sebentar lagi orang ku akan bermain ke tempatmu." ucap Viki, lalu memutuskan panggilan teleponnya.
"Pergilah ke alamat ini." Viki menuliskan sebuah alamat di selembar kertas. Dan memberikannya pada Rey.
"Aku ingin kamu mendapatkan apa yang aku inginkan, hari ini juga." perintah Viki.
Rey mengambil kertas kecil tersebut. "Baik Tuan." segera Rey meninggalkan perusahaan dan melakukan perintah Viki.
Viki membuka laptop, jari jemarinya berselancar di atas keyboard dengan lincah. Mencari kehidupan masa lalu Tuan Diego dari dunia maya.
Sebenarnya Viki bisa mengacaukan perusahan Tuan Diego lewat dunia maya. Sebab, Viki memang mahir dalam masalah meretas.
Namun, Viki menganggap jika hal tersebut kurang menantang. Lebih baik mengulutinya dari luar secara langsung. Dan memukul balik lawan secara telak. Itulah yang ingin Viki lakukan.
"Kecelakaan lalu meninggal. Drama sinetron." ucap Viki. Di mana, di layar laptop tertera perihal kecelakaan tunggal yang di alami istri pertama Tuan Diego. Dan beliau dinyatakan meninggal.
"Kelihatannya, Diego juga mempergunakan Vanya seperti istri sebelumnya. Pandai sekali. Dan Melva, sudah dapat di tebak. Pasti pikirannya sudah di racuni oleh Diego sedari kecil." ujar Viki.
"Jika kamu masih bermain dengan kasar, aku akan memberi kelembutan. Hingga akan meresap ke seluruh tubuhmu, karena permainanku, akan sangat lembut. Tuan Diego." ucap Viki tersenyum menakutkan.
__ADS_1