
"Pa,,,, mama mau cerita." ucap sang mama dengan antusias melihat suaminya pulang kerja.
"Ada apa?" tanya Tuan Hendra memberikan tasnya pada sang istri yang sudah menengadahkan tangan.
"Tadi mama ketemu sama gadis yang baik pa."
"Hemmm..." ucap sang suami sambil berjalan menuju kamar.
"Meskipun dia penuh keringat, mama yakin jika dia sebenarnya cantik." cerita Nyonya Rahma berjalan di samping suaminya.
"Hemmm"
"Meski dia seorang pemulung, tapi dia cantik pa."
"Hemm..." Tuan Hendra melepas pakaian dinasnya dan meletakkan di keranjang pakaian kotor.
"Papa...!!! Dari tadi hemmm,,, hemm,,,," kesal Nyonya Rahma.
"Papa tahu apa kalimat terakhir yang akan mama ucapkan." tebak sang suami.
"Apa. Sok tahu." ucap Nyonya Rahma sebal.
"Karena dia gadis baik, mama mau menjodohkan dengan Viki." ucap Tuan Hendra menirukan gaya dan nada bicara sang istri.
"Papa..!!!!" teriak Nyonya Rahma. Sementara Tuan Hendra pergi ngacir ke dalam kamar mandi. Sebelum terjadi gempa karena istrinya. Dengan kesal, Nyonya Rahma keluar dari kamar.
Viki sedang sibuk di perusahaannya. Seperti biasa, dia selalu sibuk dengan tumpukan kertas di depan meja kerjanya.
"Tuan, anda mendapat undangan dari Tuan Marko." ucap Rey.
"Beliau mengundang anda untuk makan malam di kediaman beliau." imbuh Rey.
"Marko. Makan malam." ucap Viki menatap ke arah Rey, merasa bingung. Lantaran dirinya belum pernah terlibat dengan seseorang bernama Marko.
"Tuan Marko. Beliau adalah papa dari Nona Giska. Salah satu pengusaha yang berpengaruh di negara kita." jelas Rey.
Baru saja Tuan Marko pulang dari luar negeri. Dirinya sudah di sambut pelukan dan tangisan dari putri semata wayangnya yang sangat di sayangnya.
"Papa." ucap Giska memeluk Tuan Marko sambil menangis.
"Giska, biarkan papamu istirahat dulu." tegur Nyonya Gina dengan nada lembut pada sang putri.
Giska melepaskan pelukannya pada sang papa. Menatap tajam ke arah mamanya dengan sorot mata dingin, menunjukkan ketidak sukaannya atas perkataan sang mama.
"Ada apa, kita berbicara di ruang tengah." ajak Tuan Marko merangkul pundak Giska.
__ADS_1
Nyonya Gina menghela nafas panjang, dengan pandangan sedih menatap kedua punggung orang-orang yang di sayangnya.
"Siapa dia? Cerita sama papa." pinta Tuan Marko.
"Namanya Viki. Giska melihat dia pertama di acara pertemuan pebisnis muda satu tahun yang lalu. Tapi karena waktu itu Giska tidak percaya diro, Giska menjauh dari Viki."
"Tapi beberapa bulan yang lalu, Giska kembali melihatnya. Giska meminta bawahan papa untuk mencari tahu tentang keluarganya."
"Setelah semua informasi mengenai Viki sudah Giska kantongi, Giska mendekati mamanya. Dan kebetulan, mamanya Viki teman arisan mama."
"Tapi ternyata mendekati Viki itu tidak mudah pa." ucap Giska mengadu.
"Bantu Giska." rengek Giska.
Tuan Marko mengusap pelan rambut Giska. "Papa tidak akan membiarkan anak papa kecewa."
"Makasih pa. Giska sayang papa." Giska memeluk sang papa.
Nyonya Gina hanya diam, dan duduk di depan mereka. Seolah dirinya tidak terlihat di mata keduanya. "Mau kamu jadikan apa anak kamu Marko." batin Nyonya Gina.
"Giska ke kamar dulu ya pa. Makasih banyak. Papa datang, masalah kelar." ucap Giska tertawa lepas. Seolah dewa penolongnya datang. Seolah sebentar lagi dia akan mendapatkan Viki. Menjadikan Viki kekasihnya.
"Pa, sebaiknya papa istirahat dulu. Papa pasti capek." ucap Nyonya Gina.
Tuan Marko menghampiri sang istri. "Capek papa hilang seketika, melihat istrinya yang cantik dan anaknya." Tuan Marko mencium dahi Nyonya Gina.
Ingin sekali Nyonya Gina mengingatkan suaminya untuk tidak menuruti permintaan anaknya kali ini. Karena apa yang di inginkan putrinya sudah berurusan dengan hati, perasaan seseorang.
Nyonya Gina hanya tidak ingin jika suaminya memaksakan seseorang untuk menyukai putri mereka. Karena jika semua terjadi, yang akan paling terluka adalah Giska.
Mungkin awalnya Giska akan bahagia, tapi semua tidak menjamin akhirnya. Karena hubungan yang di paksakan.
"Lebih baik aku berbicara besok saja." batin Nyonya Gina. Melihat suaminya pasti lelah, setelah melakukan perjalanan lama, duduk di atas pesawat. Dirinya tidak ingin mengajak debat sang suami.
"Ada apa ma?" tanya Tuan Marko melihat istrinya seperti sedang melamun.
"Tidak ada, sebaiknya papa istirahat." Nyonya Gina dan Tuan Marko berjalan menuju kamar.
"Kenapa dia mengundangku makan malam?" Viki menanyakan alasan undangan dari Tuan Marko.
"Saya juga tidak tahu Tuan, bawahan Tuan Marko yang menghubungi saya." jelas Rey.
Viki menghela nafas panjang, dan mengeluarkannya secara perlahan. "Giska." gumam Viki dengan sorot mata kesal.
"Apa kita ada kerja sama dengan perusahaan Tuan Marko dalam waktu dekat ini?" tanya. Viki.
__ADS_1
"Tidak Tuan." jawab Rey.
"Kamu cari tahu semua tentang Tuan Marko. Bahkan informasi sekecil apapun. Bahkan jika menurut kamu informasi tidak penting." perintah Viki pada Rey.
"Baik Tuan." ucap Rey.
Viki merasa Tuan Marko akan ikut campur tentang Giska. Dan juga, bisa saja Tuan Marko akan melakukan hal yang akan membuat Viki tersudut. Membuat Viki tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginannya.
Sebelum semua apa yang Viki pikirkan menjadi kenyataan, lebih baik Viki mengantisipasinya.
"Tuan, ada yang ingin saya katakan." ucap Rey.
"Tuan Marko sangat menyayangi putrinya. Apapun yang diinginkan putrinya akan diwujudkan. Bagaimanapun cara dan jalan yang akan di lewatinya." jelas Rey.
Viki tersenyum sinis dan mengangguk. "Dengan begitu, jika dia mencari masalah dengan kita di kemudian hari. Setidaknya kita tahu apa yang harus kita lakukan." ucap Viki tersenyum miring.
Rey sepertinya dapat menangkap apa yang terbesit di otak Tuannya. Dan Rey juga tersenyum. Percaya pada Viki.
"Apa saya harus membalas pesan bawahan Tuan Marko?" tanya Rey.
"Seharusnya kamu tahu. Tanpa perlu bertanya." ucap Viki.
"Baik Tuan. Saya permisi." pamit Rey mengundurkan diri, dam keluar dari ruangan Viki.
Rey tidak membalas pesan dari bawahan Tuan Marko. Menurutnya, Tuannya tidak akan datang. Tidak ada alasan untuk menjelaskan kenapa Tuannya tidak datang.
Untuk itu, Rey tidak membalas pesan dari bawahan Tuan Marko.
Di kamarnya, Giska berdandan cantik. Dirinya di beritahu jika Viki akan datang saat makan malam. "Aku harus berdandan secantik mungkin." ucap Giska duduk di depan cermin.
Dengan senyum merekah, Giska turun dari tangga. Pasti sekarang perasaannya sangat bahagia, mengetahui Viki akan makan malam bersama dengannya. Di rumahnya. Bersama keluarganya.
"Apakah sudah datang?" tanya Giska pada pembantu dengan senyum di bibir.
"Belum Nona." ucap pembantu dengan hati-hati. Karena dia tahu jika suasana hati Giska dengan mudah bisa berubah.
Dan dia tidak ingin menjadi bahan pelampiasan kemarahan anak dari majikannya tersebut. "Permisi Nona." pamitnya segera.
Giska duduk di ruang tamu. Menunggu kedatangan Viki. Sesekali dirinya memeriksa ponselnya. Jika saja Viki menghubunginya.
"Apa, berani sekali dia mengacuhkan." gerak Tuan Marko yang masih berada di dalam kamar beserta sang istri.
Tuan Marko menerima laporan dari bawahannya jika asisten Viki tidak membalas pesan yang telah dia kirim.
"Viki....!!!" gerak Tuan Marko.
__ADS_1
"Pa, jangan emosi. Mungkin saja dia ada acara yang lebih penting." ucap Nyonya Gina meredakan amarah suaminya.
"Tidak ada yang lebih penting dari Giska." seru Tuan Marko menatap istrinya dengan tatapan murka.