VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 161


__ADS_3

Viki bekerja dengan bibir tersenyum dan wajah terlihat ceria. Bahkan selalu berkata ramah dan baik pada Rey. Tentu saja hal tersebut malah membuat Rey semakin curiga dan mengundang rasa penasarannya.


"Ada apa Rey, apa ada sesuatu?" tanya Viki dengan senyum di bibir, dan juga ekspresi ramahnya. Lantaran sang asisten menatapnya dengan tatapan intens.


"Ti-tidak Tuan. Ehh,,,, maksud saya iya. Sebentar lagi klien kita dari kota sebelah akan segera datang." jelas Rey gugup.


Berhadapan dengan Viki saat ini malah membuat Rey gugup dan sedikit cemas. Entah kenapa, Rey merasa jika atasannya berubah.


Namun Rey tidak nyaman dengan perubahan sang atasan. Mungkin karena Rey sudah terbiasa berhadapan dengan Viki yang tegas, dingin, dengan ekspresi datar. Sehingga sikap Viki sekarang membuat Rey merasa aneh.


"Pukul berapa mereka akan datang?" tanya Viki menyandarkan badannya di sandaran kursi kebesarannya. Menyatukan telapak tangannya, dan memandang cincin pernikahannya.


"Sekitar lima belas menit lagi Tuan." papar Rey.


Viki berdiri dari duduknya. Membenahi jas yang masih terpasang rapi di badannya. "Oke, pekerjaan saya sudah selesai." manik mata Viki menatap ke atas meja kerjanya yang nampak tumpukan kertas, tertata dengan rapi.


"Kita tunggu mereka di ruang pertemuan. Bukankah lebih baik. Lagi pula, tidak baik juga. Membiarkan tamu menunggu tuan rumahnya." tutur Viki, membuat Rey benar-benar syok dengan sikap Viki.


Biasanya Viki akan datang tepat waktu. Atau akan datang, saat para tamu sudah tiba. Tetapi, hari ini Viki sangat berbeda.


"Aku ingin sebelum makan siang, semua sudah selesai." perintah Viki tersenyum.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Rey dengan hati-hati.


Langkah Viki terhenti, mendengar Rey melontarkan pertanyaan seperti itu. "Baik." jawab Viki singkat.


Sedangkan di kediaman Nyonya Rahma, Nara tengah sibuk di dapur. Menyiapkan makanan yang akan dia bawa ke perusahaan sang suami sebentar lagi, saat makan siang.


Nara tidak mengizinkan siapapun membantunya. Sementara Nyonya Rahma sedang pergi belanja bulanan bersama Mbak Siti, dan mengajak Bima bersamanya.


Setelah Nara menikah, Bima lebih sering menghabiskan waktu dengan Nyonya Rahma. Beliau hanya ingin jika perhatian Nara semua tercurah untuk sang suami.


Dan juga, Nyonya Rahma membiasakan untuk Rini dan juga Bima, supaya tidak tergantung pada Nara. Jika Rini, dia sudah mengerti. Tak perlu bersusah payah menjelaskan padanya.


Beruntungnya, Rini sosok anak yang pengertian. Dan sayang pada Nara. Rini mengerti dan paham saat Nyonya Rahma berkata padanya, jika perhatian sang kakak akan berkurang padanya.

__ADS_1


Alih-alih marah, Rini malah berbahagia. Sebab, sekarang sang kakak sudah ada yang menjaga. Sementara Rini, dia tidak merasakan kekurangan kasih sayang.


Semenjak berada di tengah-tengah keluarga Viki. Rini berlimpahkan kasih sayang dari semua penghuni rumah. Begitu juga dengan Bima.


Lain halnya dengan Bima. Tidak mungkin Nyonya Rahma juga menjelaskan sama seperti beliau menjelaskan pada Rini. Pasti Bima juga tidak akan paham.


Oleh sebab itu, Nyonya Rahma dengan perlahan mengurangi kebersamaan Nara dan Bima. Mengalihkan Bima untuk lebih sering bersama dengannya.


"Mama sam Bima belum pulang mbok?" tanya Nara, saat mbok Nah berjalan di belakangnya.


"Belum Non, mungkin nanti sore. Tadi Nyonya bilang mau sekalian pergi arisan." jelas mbok Nah.


Semenjak Nara menikah dengan Viki, semua pekerja di rumah Tuan Hendra memanggilnya dengan sebutan Nona. Meski di sekitar mereka sedang tidak ada Tuan Hendra maupun Nyonya Rahma, dan Viki.


Sebenarnya mereka ingin memanggil Nara, dengan sebutan Nyonya muda. Namun Nara terang-terangan menolak.


Nara menghentikan gerakan tangannya. Berbalik badan, memandang ke arah Mbok Nah. "Arisan. Bima diajak mbok?" tanya Nara.


Mbok Nah mengangguk. "Iya Non, kan ada Siti. Jadi Nyonya Rahma tidak terlalu ribet." ujar mbok Nah.


"Baiklah. Terimakasih mbok." Nara kembali melanjutkan kegiatannya di dapur.


"Tidak mbok. Nara bisa. Mbok lanjut kerja saja." jawab Nara, tanpa melihat ke arah mbok Nah.


"Sudah mbok, biar Non Nara kerjakan sendiri. Maklum pengantin baru." goda mbak Mira yang juga berjalan di sekitar dapur.


"Apa sih." timpal Nara, menutupi rasa malunya. Dengan tidak menoleh ke belakang. Seolah fokus dengan masakannya.


Setelah berkutat dengan alat dan bahan masakan di dapur, Nara akhirnya menyelesaikan semuanya. Hidangan lezat dan istimewa untuk sang suami tercinta.


Dengan perasaan bahagia, Nara memasukkan semua makanan yang baru saja di masak ke dalam wadah. "Begini saja dulu." ucap Nara, tidak menutup rapat masakan yang dia masukkan ke dalam wadah, karena masih panas.


"Lebih baik aku segera bersiap." Nara melepas celemek yang berada di tubuhnya, dengan pandangan melihat ke arah jam dinding.


Nara berjalan cepat naik ke atas tangga. Segera mandi dan bersiap. Berdandan cantik untuk pergi ke perusahaan sang suami.

__ADS_1


"Non, pak sopir sudah di beritahu?" tanya mbok Nah, saat Nara sudah terlihat rapi.


"Sudah mbok." jawab Nara, menata wadah dengan baik di tempatnya.


"Nara pergi dulu mbok." pamit Nara.


Nara duduk di kursi belakang. Hari ini, Nara memang libur belajar. Lantaran sang guru sedang sakit. Membuat Nara memiliki waktu senggang untuk makan siang bersama sang suami. Meski di perusahaan.


"Maaf Non, apa Den Viki sudah tahu, jika Non akan datang?" tanya pak sopir, beliau hanya takut jika sang atasan sedang tidak berada di tempat.


"Sudah pak." jawab Nara. Membuat pak sopir mengulas senyum lega.


"Bapak langsung jalan saja. Tidak perlu turun." pinta Nara, saat pak sopir ingin turun dari mobil.


"Baik Non. Kalau begitu bapak langsung pulang." jelas pak sopir.


Hari ini, Nara memang akan menemani Viki bekerja. Hingga dirinya tidak perlu meminta pak sopir untuk menunggu. Tentu dirinya akan pulang bersama dengan sang suami.


Sampai di depan lobi, Nara tersenyum pada sang resepsionis. Semua karyawan perusahaan sudah mengetahui, jika Nara adalah istri dari atasan mereka.


"Nyonya Nara. Selamat datang." sambut sang resepsionis dengan sopan dan ramah. Tentu saja, Nara adalah istri dari pemilik perusahaan. Mana berani mereka bersikap cuek.


Nara tersenyum simpul. Sebenarnya Nara sedikit risih di panggil dengan sebutan Nyonya. Bagaimana tidak risih. Umurnya baru akan menginjak tujuh belas tahun beberapa hari lagi.


Namun Nara sadar diri. Tidak mungkin dirinya akan protes hanya karena panggilan. Apalagi mereka pasti akan memanggil Viki dengan kata depan Tuan.


"Suami saya ada?" tanya Nara dengan ramah.


"Tuan Viki sedang bertemu dengan klien di ruang pertemuan. Tapi Tuan Rey tadi berpesan, jika anda datang. Anda langsung saja ke ruangan Tuan Viki. Dan menunggu di sana." jelas sang resepsionis.


"Tunggu Nyonya, biar saya panggilan keamanan untuk mengantarkan anda." ujar resepsionis.


Nara melongo. "Hah,,, eh,,, tidak perlu. Saya akan pergi ke sana sendiri." tolak Nara, membuat resepsionis mengurungkan niatnya.


Nara berjalan menuju lift. Namun siapa sangka, baru melangkah beberapa jangkah, seseorang menyenggol lengan Nara. Hampir membuat rantang berisi makanan untuk sang suami terjatuh.

__ADS_1


"Astaga..." ucap Nara, langsung memegang erat rantangnya.


"Maaf." ucapnya, lantaran memang dia tidak sengaja menabrak tubuh Nara.


__ADS_2