
"Suka?" tanya Viki, membawa Nara ke rumah mereka yang baru. Hadiah yang diberikan Nyonya Rahma dan Tuan Hendra padanya.
Nara mengangguk tanpa bersuara. Matanya terhipnotis dengan banyaknya macam bunga di halaman rumah. Jauh lebih indah dari apa yang dibayangkan.
Tertata dengan rapi. Nampak indah dan membuat mata betah untuk memandangi bunga-bunga tersebut. Sangat mengagumkan.
Apalagi dengan banyaknya jenis, dan juga beberapa bunga yang sedang mekar, seolah sedang memamerkan pada Nara, betapa indahnya mereka. Bukankah sangat menakjubkan.
"Ayo.." Viki merangkul pundak sang istri, membawa Nara melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Nara melongo takjub, meneliti setiap sudut ruangan yang akan dia tempati. Langkah kakinya terus menyusuri setiap ruangan.
Dengan Viki berjalan mengekor di belakangnya. Tak ingin mengusik atau menganggu sang istri yang sedang merasakan kenahagiaan.
Mata Nara membulat, saat dirinya melihat kamar utama. Di mana di kamar tersebut, dirinya dan Viki akan menghabiskan malam panas.
Pigura berukuran besar, dengan gambar pernikahan Nara dan Viki terpasang dengan sempurna di dinding kama.
Senyum di bibir Viki bahkan tidak menghilang sejak tadi. Melihat sang istri takjub akan hadiah pemberian orang tuanya, membuat Viki merasa senang.
Nara hanya diam, dengan mata melihat setiap sudut ruangan. Hingga kakinya kembali melangkah menuruni tangga.
Viki tahu, jika saat ini sang istri merasa bahagia. Dan Viki tidak ingin membuat momen tersebut menghilang dengan alasan apapun.
Nara menutup mulutnya tidak percaya, dengan apa yang sekarang dia lihat. Pekarangan yang saat luas di belakang rumah.
Bahkan, ada sebuah bangunan kecil, menyerupai gubuk yang sering Nara lihat di tengah persawahan. Hanya saja, gubuk di depan Nara dibuat lebih modern dan sedikit besar.
Ralat. Bukan sedikit besar. Namun memang cukup besar.
Viki memeluk tubuh sang istri dari belakang. Mengecup kening Nara singkat. "Katakan, jika ada yang kurang." pinta Viki.
Nara menggeleng. "Ini sangat sempurna. Mama dan papa memang hebat." puji Nara pada kedua mertuanya.
"Maaf sayang, tapi aku harus segera ke perusahan. Ada hal yang harus aku lakukan. Rey tidak nisa mewakili diriku." papar Viki dengan wajah menyesal.
Karena seharusnya, dirinya menemani Nara untuk berkeliling melihat rumah mereka hingga sang istri puas.
__ADS_1
Nara meletakkan telapak tangannya di dada Viki. "Memang sebaiknya kita pergi. Aku juga sedikit lelah suamiku." kedua pipi Nara bersemu merah.
Viki tersenyum. "Apa kita perlu melakukannya lagi, agar kami tidak lelah." tanya Viki ambigu.
Nara mencubit pelan lengan Viki. Memasang wajah cemberut dan kesal. Bagaimana tidak, setelah semalam penuh Viki menggempurnya di atas ranjang.
Pagi hari, saat Nara mandi. Viki menyusulnya. Dia berdalih hanya akan mandi bersama saja. Tidak lebih. Lalu siapa yang akan percaya.
Terbuktilah, di dalam kamar mandi, Viki kembali menyalurkan hasratnya yang dengan mudah akan timbul hanya karena melihat kulit mukus sang istri.
Tidak ingin menjadi istri durhaka, Nara hanya bisa pasrah dan menerima setiap sentuhan dan apa yang dilakukan oleh sang suami padanya.
"Baiklah. Kita lakukan saja nanti malam lagi." bisik Viki, mampu membuat Nara melongo bodoh.
Viki tersenyum geli memandang sang istri. "Beristirahatlah, sebentar lagi mbok Nah akan datang." jelas Viki.
"Suamiku, maksudnya, di sini. Aku akan tidur di rumah ini?" tanya Nara kebingungan.
"Betul. Kamu tahukan, dimana kamar kita. Mulai sekarang, kita akan tidur di rumah kita. Di sini." Viki membelai lembut pipi Nara.
Nara terdiam. Mendengarkan dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut sang suami. "Mbok Mah tidak akan datang sendiri. Ada beberapa orang yang akan bekerja di sini, untuk melayani kita nanti. Mungkin, mbok Nah hanya beberapa hari tinggal di sini. Lalu kembali ke rumah papa."
"Astaga, abang tadi bilang tinggal di sini. Bagaimana dengan baju aku." Nara segera menuju ke arah kamar. Memeriksa setiap ruangan yang ada di dalam kamar.
Mulai dari kamar mandi yang besar dan mewah. Dan juga sebuah ruangan, lebih mirip tempat koleksi barang mewah. Seperti tas, baju, perhiasan, sepatu, dan lain-lainnya.
"Tuhan, apa ini semua milikku. Apa aku bermimpi." Nara duduk lemas di kursi di dalam ruangan tersebut.
Ting,,,, ponsel Nara berbunyi. Segera Nara mengeluarkan dari saku bajunya. Kedua ujung bibir Nara tertarik ke atas membentuk bulan sabit.
"Terimakasih Tuhan, telah mengirimkan mereka untuk kami." syukur Nara.
Nyonya Rahma mengirim Nara pesan, jika semua baju dan semuanya yang ada di dalam walk in closet adalah miliknya. Sementara baju Nara yang berada di rumah Nyonya Rahma, akan tetap berada di rumah Nyonya Rahma.
Nyonya Rahma juga mengatakan untuk tidak perlu khawatir dan cemas dengan Rini dan Bima. Sebab, sudah ada dirinya dan sang suami yang akan menjaganya. Dibantu para pekerja tentunya.
Tanpa terasa, air mata Nara menetes. Kebahagiaan yang tak bisa dia ungkapkan. Tak lama ponselnya kembali berbunyi.
__ADS_1
Kembali Nara memastikan siapa yang mengirim pesan padanya. Sebelah mata Nara memicing. "Giska." gumam Nara.
Nyonya Binta mengirim pesan tertulis pada Nara, supaya Nara lebih berhati-hati dengan Giska. Meskipun sekarang Giska adalah istri dari kakak tirinya.
Nyonya Binta juga mengatakan untuk Nara jangan merasa segan bertindak, jika Giska melakukan sesuatu yang membuatnya kesal.
Nara tersenyum melihat kalimat terakhir dari Nyonya Binta. Yakni, Nyonya Binta menuliskan kalimat yang menurut Nara lucu dan nyleneh.
KITA LAWAN PEREMPUAN JAHAT ITU BERSAMA.
"Mama, padahal Giska juga keluarga kita. Menantu mama." Nara tersenyum.
Nara menepuk keningnya pelan. "Astaga. Kenapa aku sampai lupa." gumam Nara.
Nara mengingat jika semalam dirinya ingin membuat Viki mengatakan sesuatu pada dirinya. Dan itu tentang pernikahan Giska dan Renggo.
"Pandai sekali suamiku." kekeh Nara, teringat dengan mudah Viki mengalihkan perhatiannya. Dan lupa tujuan utamanya.
Tidak berselang lama, seperti yang dikatakan oleh Viki, mbok Nah datang bersama beberapa orang. "Bukankah ini terlalu banyak?" ucap Nara melihat beberapa orang yang datang bersama mbok Nah.
"Tidak Nyonya kecil. Tuan..."
"Tunggu..!" ujar Nara menyela perkataan mbok Nah. "Nyonya kecil, mbok,,, apa-apaan ini." tegas Nara, jelaslah dia menolak panggilan tersebut.
Terlalu berlebihan, menurutnya. Mbok Nah tersenyum. Cukup paham dengan sifat majikan kecilnya tersebut. "Nyonya Rahma yang menyuruh kami untuk memanggil seperti itu, Nyonya kecil." papar mbok Nah.
Nara menggelengkan kepala tidak percaya. "Astaga, mama." desah Nara.
"Baiklah, kita lanjut lagi. Mereka, katakan sesuatu mbok." pinta Nara.
Mbok Nah memperkenalkan beberapa orang yang akan bekerja di rumah ini. Mulai dari sopir, satpam, tukang kebun, dan pembantu yang bekerja di dalam rumah.
"Apakah suami saya mengetahuinya?" tanya Nara, dirinya mengira jika mereka adalah Nyonya Rahma yang mengirimkannya.
"Iya Nyonya. Tuan Viki yang memilihkannya sendiri." jelas mbok Nah. Yang itu artinya tidak ada campur tangan dari sang mertua.
"Oke." Nara mengibaskan tangannya, membuat semuanya segera pergi dari hadapan Nara.
__ADS_1
Nara memijat keningnya yang terasa pusing. "Astaga, apa ini tidak berlebihan." keluh Nara.
Tapi mau apa Nara, menolak. Nara cukup tahu bagaimana sifat sang suami. Tak terbantahkan dan tak bisa di tolak.