
"Tunggu aku di ruanganmu." perintah Viki pada dokter kepala, saat para ahli medis selesai mengecek keseluruhan anggota tubuh dan perkembangan kesehatan Tuan Hendra.
"Baik Tuan." ucap Dokter kepala. Pekerjaannya selesai, tak lantas membuatnya bisa bernafas lega.
Sekarang, sang dokter dalam keadaan cemas yang berlebihan. Dia langsung duduk di kursi kebesarannya. Memijat pangkal hidungnya.
"Bagaimana aku bisa seceroboh ini." gumamnya dengan memejamkan mata. Memasukkan salah satu dokter ke dalam tim untuk memeriksa perkembangan kesehatan Tuan Hendra.
Dan seseorang tersebut hendak membunuh Tuan Hendra. "Pasti akan ada hukuman untukku. Meski aku tidak terlibat." ucapnya menyesal.
Karena walau tidak di sengaja, dirinyalah yang membawa dan merekomendasikan. Bahkan memasukkan lelaki ular tersebut.
Tapi setidaknya kepala dokter bisa bernafas sedikit lega. Karena tidak terjadi sesuatu pada Tuan Hendra. "Terimakasih. Kamu menolong kami." gumamnya ditujukan pada Nara.
Viki mencium kening sang mama dan memeluknya. "Mama tidak perlu khawatir. Papa akan baik-baik saja. Viki akan menyelesaikannya." ucap Viki melepas pelukannya.
Nyonya Rahma pasti masih syok. Gegara sang suami yang di kenal sebagai pribadi dan pimpinan yang baik dan ramah. Ternyata masih ada yang tidak menyukainya. Bahkan berniat menghabisi nyawanya.
Tanpa Nyonya Rahma ketahui, jika mereka sebenarnya adalah musuh sang anak. Dan mereka menargetkan Tuan Hendra karena beliau adalah orang terpenting di hidup Viki. "Maafkan Viki." ucap Viki lirih.
"Titip mama." Viki menatap ke arah Nara.
"Bang." panggil Nara, membuat langkah Viki terhenti.
Nara berjalan dan memeluk tubuh Viki. "Jangan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikannya." ucap Nara, entah kenapa Nara merasa jika Viki mempunyai sisi kejam untuk melindungi orang yang di sayangnya.
Nara tidak bisa menyalahkan Viki. Setidaknya Nara tidak ingin Viki malah terkena masalah. "Iya. Titip mama." Viki mencium kening Nara.
"Iya, aku memang akan menggunakan sedikit kekejamanku. Hanya sedikit Nara. Tidak banyak." ucap Viki dalam hati.
"Apa yang kamu temukan?" tanya Viki tanpa basa-basi, setelah masuk ke dalan ruang kepala dokter.
"Silahkan duduk Tuan." Viki mendaratkan pantatnya di kursi depan meja.
__ADS_1
"Jelaskan dengan cepat dan rinci." tidak ada sikap hormat ataupun sopan yang di tunjukkan Viki pada sang dokter.
"Begini Tuan....." dokter menjelaskan semua perkembangan kesehatan Tuan Hendra yang tidak memperlihatkan kemajuan. Yang artinya kondisi Tuan Hendra masih sama seperti semula.
"Bukan itu yang aku ingin dengar." ucap Viki memotong penjelasan dari sang dokter.
Dokter tersebut memberikan beberapa kertas di depan meja Viki. "Jelaskan, aku tidak mempunyai banyak waktu senggang." ucap Viki dingin, tanpa menyentuh kertas tersebut.
"Perkiraan anda tepat. Maafkan saya karena tidak teliti saat memeriksa beliau. Hingga salah menyimpulkan." ucap sang dokter.
"Berapa tempat." tanya Viki dengan ekspresi datar.
"Dua tempat. Di pipi dan di dada." jelas sang dokter.
Viki memejamkan mata. Mencoba membayangkan bagaimana sang papa saat berada di dalam mobil. Hingga dengan tepat beliau tidak terkena peluru.
"Jelas, orang tersebut mengincar kepala dan jantung." ucap Viki dalam hati.
Saat Viki membuka mata dan hendak mengeluarkan suara. Tapi Andrew masuk ke dalam tanpa permisi. Membuat Viki dan sang dokter menoleh ke arah pintu.
"Pastinya kamu sudah bisa menebak apa yang ingin aku lakukan. Kenapa mesti bertanya." desah Viki kesal.
"Baiklah. Jika begitu, giliran ku untuk bicara." ucap Andrew. Dokter kepala merasa jika ada hal yang akan terjadi kepadanya.
Viki meninggalkan ruangan sang dokter. "Kutunggu kabar selanjutnya." Viki menepuk pundak Andrew dan bergegas meninggalkan mereka.
"Mulai hari ini, aku yang akan mengambil alih semua perawatan pada Tuan Hendra." ucap Andrew.
Dokter kepala berdiri dari duduknya. "Maafkan atas kelalaian saya."
"Kamu minta maaf kepada orang yang salah. Dan bukan padaku." tutur Andrew.
"Kosongkan ruangan ini. Tanya pada bagian pengaturan. Dimana kamu akan diletakkan. Tapi jika kamu menolak, kamu bisa angkat kaki dari rumah sakit ini." tegas Andrew.
__ADS_1
"Baik Tuan." ucap sang dokter. Tidak mengapa dirinya di turunkan jabatan atau di pindahkan posisinya. Dari pada dia di pecat. Karena pastinya, jika dirinya di pecat. Akan malah memperburuk citranya sebagai dokter.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf, aku bukan seorang dokter sepertimu. Jadi tidak tahu, bagaimana cara yang benar memasukkan cairan ini ke dalam tubuh." Rey memperlihatkan jika botol tersebut sudah terbuka.
Sang dokter meronta, saat Rey memasukkan cairan tersebut ke dalam mulutnya. Tapi sayangnya, tubuhnya yang lemas, terlebih ada dua orang yang memegang kepala dan tubuhnya membuatnya hanya bisa pasrah.
Rey memastikan cairan tersebut masuk ke dalam mulutnya. "Anak pintar." Rey menepuk kasar pipi sang dokter dengan senyum iblisnya.
Rey, asisten dari Viki. Dia juga tak kalah kejam dan sadis saat dihadapkan lada musuh. Atau saat dirinya mendapat tugas dari Viki. Dia pasti akan melakukannya dengan maksimal.
"Bawa dia. Setelah ini, akan ada seorang dokter biasanya yang datang. Serahkan dia padanya." perintah Rey.
Rey memang aneh. Dia bisa memberikan cairan itu pada sang dokter yang memang di percaya Viki untuk menjadi anggotanya. Untuk meneliti dan mencari tahu jenis cairan tersebut.
Tapi Rey malah memasukkan semua cairan tersebut ke dalam tubuh lelaki tersebut lewat mulutnya tanpa tersisa.
Anak buah Viki dapat menebak apa yang ingin di lakukan asisten Tuannya tersebut. Membuat lelaki tersebut akan merasakan kematian yang menyakitkan.
Karena sekarang, untuk meneliti dan mencari tahu jenis obat tersebut harus mengambil stempel darah dari dalam tubuhnya. Karena sudah dapat di pastikan, bahwa obatnya sudah bercampur dengan darah yang sekarang mengalir dala tubuhnya.
"Rey benar-benar membuatkan kesibukan baru untukku." geram dokter pribadi milik kelompok organisasi milik Viki.
Yang saat itu tengah mengambil stempel darah lelaki yang sekarang berbaring tidak berdaya di atas ranjang yang keras.
"Ckk, kasihan sekali kamu. Pasti sekarang keluarga kamu yang menjadi target dari Viki. Sebelum dia mendapatkan otak di balik rencana kamu ini, pasti dia tidak akan melepaskan keluarga kamu dengan mudah." geleng dokter pribadi milik Viki.
"Mama di mana?" tanya Viki, kembali masuk ke dalam lamar rawat sang papa.
"Di kamar mandi bang." ucap Nara pelan.
"Apa mereka sudah di temukan?" tanya Nara dengan pelan dan hati-hati.
__ADS_1
"Belum. Tapi secepatnya." Viki menatap ke depan. Ke arah di mana Tuan Hendra terbaring tak sadarkan diri. Terlihat dari sorot matanya, jika dia tidak akan melepaskan siapapun yang sudah membuat sang papa seperti ini.
"Apa Abang juga akan melakukan hal yang sama. Jika Nara yang berada di sana sekarang." ucap Nara dalam hati. Berandai-andai.