
Nara hanya bisa melongo dan mengedipkan matanya, melihat apa yang ada di depannya.
"Kamu suka sayang. Kita akan berbulan madu di sini." ucap Viki antusias.
Glek,,, Nara menelan ludah dengan sangat sulit. Tidak seperti apa yang ada dalam benak Nara. Jauh, sangat jauh.
Berbulan madu di pucuk gunung. Hanya berdua. Sepanjang mata memandang, hanya ada pohon-pohon.
Tepat di depan mereka, ada sebuah tenda dengan ukuran besar. Entah apa isinya, Nara sama sekali tidak bisa menebaknya.
Benaknya sedang tidak bisa di ajak berpikir. Lantaran apa yang sedang dia lihat. Syok dan terkejut.
Di dekatnya, ada sebuah tenda. Namun hanya atapnya saja. Dengan tempat duduk dan meja yang lengkap. Tak jauh dari sana, ada sebuah perapian. Dan juga beberapa bahan makanan yang tertata rapi di atas meja.
"Aku menyiapkan semua ini, untuk kita berdua sayang." bisik Viki, membuat Nara kembali ke alam sadarnya.
"Kamu tahu, aku menutup semua akses para pengunjung untuk naik." ucap Viki sombong. Seolah dia melakukan sebuah hal yang spektakuler. Dan wajib mendapat pujian.
"Menutup akses." Nara hanya bisa berkedip tak percaya.
"Ya, aku mengeluarkan banyak uang untuk ini semua. Tapi tidak masalah. Asal kamu bahagia dan senang." dengan percaya diri, Viki mengatakannya.
Nara tertawa kaku, lebih kepada terpaksa. "Sayang, kita hanya berdua. Sampai malam." Nara memastikan, jika apa yang didengarnya hanyalah sebuah kebohongan atau prank dari sang suami.
Nara bergidik ngeri membayangkan, apalagi jika malam tiba. Dan di mana jika dirinya ingin mandi atau kencing.
Terlebih di hutan. Pasti akan banyak hewan liar. Ular. Anjing. Apapun itu, otak Nara seakan buntu.
"Iya, dua hari kita akan berada di sini." Viki berjalan ke sisi lainnya. Merentangkan tangan dengan lebar, seakan ingin merasakan sejuknya udara di sekitarnya.
"Hanya berdua. Tidak ada yang mengganggu. Eeeemmm,,, benar-benar romantis." ucap Viki tersenyum lebar.
"Romantis kepalamu." umpat Nara dalam hati.
Ingin marah, namun Nara tak tega. Apalagi melihat bagaimana sang suami terlihat bahagia dan dengan sombong memamerkan betapa dirinya berusaha mempersiapkan semua ini.
Padahal Nara juga tahu, jika Viki tinggal membuka mulut. Dan bawahannyalah yang melakukan semuanya. Namun tetap saja, Nara merasa tak enak jika menolak keinginan Viki untuk berada di sini.
Selama dua hari. Bayangkan.
Mata Nara menatap sekeliling. Hanya ada pohon, dengan suara gemericik air. Namun Nara tidak tahu, dari mana asal suara air tersebut.
Nara mendesah pelan. "Semoga tidak ada hantu dan hewan berbahaya di sini." keluh Nara dalam hati.
"Dua hari. Berarti bisa jadi dua malam. Dan ini, masih siang hari. Astaga." desah Nara pelan, merasa jika waktu akan berjalan dengan lambat.
Viki kembali menghampiri sang istri. "Ayo, kita masuk ke dalam." ajak Viki, melihat isi dari tenda.
Nara kembali melongo melihat apa yang dia lihat. Apa yang ada di dalam tenda. "Kamu suka?" Viki masuk dan langsung membanting badannya sendiri ke atas kasur empuk dan lebar.
Hingga badan Viki seperti mental-mental ke atas meski hanya sedikit.
"Orang kaya memang beda." ucap Nara mengakuinya. Dengan mudah, Viki menyiapkan semuanya.
Padahal Nara tahu, jika sang suami selalu berada di sisinya selama beberapa hari ini. Namun Nara merasa tersentuh. Akan semua yang di sediakan oleh sang suami.
Nara yakin, jika Viki melakukannya pasti untuk membuatnya bahagia. Meski pada kenyataannya, Nara malah merasa bergidik ngeri dan takut.
Sebuah kasur empuk berukuran besar. Dengan sebuah televisi di dekatnya, tersedia dalam tenda. Sehingga bisa tiduran sembari melihat televisi.
Selain itu, di samping kasur, ada sebuah kaca berbentuk oval berukuran kecil, menjadi satu dengan sebuah lemari kecil.
Nara mendekati lemari tersebut. Dan membukanya. "Itu baju kita selama di sini sayang." suara Viki membuat Nara menolah ke arah sang suami.
Nara tersenyum tanpa berbicara. Menutup pintu lemari. Mengikuti sang suami berbaring di atas kasur. "Kamu suka?"
Nara tersenyum dan mengangguk. "Selama suamiku ini ada di sampingku. Kemanapun, Nara akan ikut." ucap Nara akhirnya.
"Makin cinta." ucap Viki.
"Kita akan mandi di mana?" tanya Nara pertama kali setelah sedari tadi hanya menebak-nebak.
"Ayok, ikut aku."
__ADS_1
Viki menggandeng tangan Nara. Mereka berjalan tak jauh dari tenda mereka. "Di sini?" tanya Nara tidak percaya.
Pasalnya, tempat tersebut terbuka. Hanya ada aliran air yang jernih dan tidak terlalu dalam. Dengan banyak batu besar. Dengan air terjun di sebelahnya.
Memang tampak indah. Namun apa iya, tempat tersebut aman untuk mandi. Yang artinya Nara harus bertelanjang dada. Melepas semua pakaian yang melekat di badannya.
Bagaimana jika ada yang mengintip. Bagaimana jika tiba-tiba ada ular atau hewan lainnya. Sebab, ini adalah alam terbuka.
"Tenang saja. Bukannya suamiku ini sudah mengatakan. Jika tidak akan ada pengunjung yang akan naik. Semua jalan naik sudah ditutup. Dan dijaga." jelas Viki.
Pasrah dan menuruti apa yang diinginkan dan apa yang dikatakan sang suami. Hanya itu yang Nara bisa lakukan.
"Sayang, suamimu lapar." rengek Viki manja, bergelayut manja di lengan Nara.
Nara tersenyum dan menggeleng. "Aku akan memasak untuk suamiku yang tampan ini." mencubit dengan gemas hidung Viki.
Viki duduk di kursi berbentuk bundar dan empuk. Melihat dan mengamati bagaimana lincah dan cekatannya sang istri dalam bermain alat masak.
"Bisa minta tolong...!!" seru Nara.
Viki mendekat. "Cuci sayuran ini. Dan juga ini." Nara memberikan beberapa wadah berisi bahan makanan pada Viki.
"Siap." segera Viki menyalakan sebuah kran tak jauh dari tempat Nara memasak. Nara mengira jika harus pergi ke sungai kecil yang baru saja mereka lihat untuk mencuci sayuran tersebut.
"Bagaimana bisa." Nara heran, bagaimana di dekatnya ada saluran air. Persis di rumah.
Nara meneliti dari mana asal air tersebut, dengan pandangan mengikuti arah selang. "Tuhan..." Nara menepuk jidatnya sendiri.
"Suamiku memang sudah mempersiapkan semuanya dengan baik." gumamnya.
"Kenapa tidak mandi di dekat sini saja. Kenapa harus pergi ke sungai." heran Nara, meneruskan acara masaknya.
Kepala Nara malah semakin pusing saat memikirkannya. Membiarkan semuanya berjalan, itulah yang sekarang Nara lakukan.
"Lagi pula, ada abang di sini. Jika Nara butuh apapun, atau terjadi sesuatu. Nara tinggal meminta tolong pada abang." ujar Nara.
Selepas kepergian Giska, Nyonya Binta menanyakan keberadaan Nara dan Viki. Apakah keduanya sudah sampai tempat yang dia pilihkan.
Jawaban dari orang di ujung telepon membuat Nyonya Binta syok. Segera beliau pergi ke rumah besan. Dan mengatakan apa yang dilaporkan oleh orangnya.
Nyonya Binta mendapat laporan dari bawahannya. Jika Viki memundurkan jadwal kunjungan ke negara tersebut, dimana beliau memberikannya sebagai hadiah untuk bulan madu mereka.
"Lalu kemana Viki membawa Nara?" tanya Nyonya Rahma cemas.
Nyonya Binta menggeleng. "Saya juga tidak tahu, besan." ungkapnya dengan wajah muram.
"Dia hanya mengatakan, jika Viki mengubah jadwal kunjungnya." lanjut Nyonya Binta.
"Anak itu. Kenapa merubah rute tidak memberitahu dulu. Kamu tahu jeng,, dari dulu Viki itu memang seenaknya sendiri. Astaga..." keluh Nyonya Rahma.
"Apalagi semenjak berteman dengan Denis dan Ella. Ampun besan,,, mereka bertiga sama-sama berkelakuan aneh-aneh. Sampai-sampai, kita para orang tua dibuat stres." Nyonya Rahma menceritakan mas lalu sang putra.
"Kenapa setelah menikah, Viki masih saja bertindak seenaknya. Membuat saya jadi pusing." imbuhnya.
"Tunggu. Rey. Iya, Rey. Dia pasti tahu kemana Viki membawa Nara." ujar Nyonya Rahma.
"Asistennya Viki." Nyonya Rahma mengangguk.
"Bagaimana jika dia bungkam. Tidak mau memberitahu pada kita."
Nyonya Rahma mengambil ponsel. "Tenang saja. Dengan sedikit ancaman, pasti dia akan berbicara." ujar Nyonya Rahma.
"Rey, kemana Viki membawa Nara?!" Nyonya Rahma langsung bertanya begitu Rey mengangkat panggilan telepon darinya.
Nyonya Binta hanya bisa tersenyum, melihat bagaimana Nyonya Rahma bersikap bar-bar. "Hey, Rey...!!" Nyonya Rahma berdiri dengan tangan yang bebas berkacak pinggang.
"Jika kamu tidak memberitahu, aku akan datang ke sana. Sekarang..!! Aku acak-acak perusahaan Viki. Kamu mauu..!!!" ancam Nyonya Rahma berteriak seperti preman.
Nyonya Binta hanya meringis mendengar ancaman dari besannya. Nyonya Binta juga menggosok telinganya, saat Nyonya Rahma berteriak.
Ternyata ancamannya seperti itu. Sangat tidak menarik. Namun tidak apa-apa, selagi memang bermanfaat dan mendapatkan hasil.
"Apa...!!!" Nyonya Rahma duduk lemas, dengan ponsel jatuh ke lantai. Entah apa yang Rey katakan. Hingga Nyonya Rahma tampak syok mendengarnya.
__ADS_1
"Ada apa jeng,,, ini minum dulu." Nyonya Binta segera memberi segelas air minum untuk Nyonya Rahma yang memang sudah tersedia di depan meja mereka.
"Ada apa jeng..??!" tanya Nyonya Binta penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.
Nyonya Binta meletakkan kembali gelas air minum di atas meja. "Tuhan,,,, astaga,,,, apa yang ada di benak Viki. Kenapa dia membawa Nara ke tempat seperti itu. Bagaimana jika Nara celaka. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Nara. Gustii..." Nyonya Rahma memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kenapa? Ada apa? Celaka, siapa yang celaka? Mereka kemana?" cecar Nyonya Binta.
Mbak Siti dan Mbak Mira hanya menggeleng melihat kehebohan dua perempuan seumuran tersebut.
"Ini besan, Viki. Viki mengajak Nara naik gunung."
"Naik gunung. Mendaki. Lalu apa masalahnya. Mungkin mereka ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Sebelum malamnya mereka berbulan madu." Nyonya Binta tersenyum senang.
"Bukan itu besan,,, masalahnya." keluh Nyonya Rahma, merasa jika sang besan salah mengira.
"Lalu." tanya Nyonya Binta.
"Viki akan mengajak Nara menginap di sana. Dua hari. Berdua. Tidak ada orang lain. Di pucuk gunung. Pikirkan." jelas Nyonya Rahma menggebu-gebu.
Nyonya Binta terdiam. Mencerna apa yang di ucapkan oleh Nyonya Rahma. Belum sempat Nyonya Binta membuka mulutnya, mbak Mira terlebih dahulu mengeluarkan suaranya.
"Nyonya, saya yakin. Jika Tuan Viki sudah mempersiapkan semuanya. Mana mungkin, Tuan Viki membuat Nyonya kecil sengsara." papar mbak Mira.
"Iya Nyonya. Jangan terlalu khawatir. Saya sependapat dengan Mira. Nyonya sendiri tahu, bagiamana Tuan Viki sangat mencintai Nyonya kecil. Mungkin, Tuan Viki ingin menghabiskan waktu berdua dengan istrinya. Tanpa ada gangguan dari orang lain." sahut mbak Siti.
Nyonya Rahma dan Nyonya Binta mengangguk. "Benar juga. Kita harus percaya dengan Viki jeng." tutur Nyonya Binta merasa tenang, mendengar perkataan dua pembantu di rumah Tuan Hendra.
Nyonya Rahma mengangguk. Tersenyum menatap mbak Mira dan mbak Siti. "Terimakasih."
"Sama-sama Nyonya."
Malam hari di pucuk gunung, Nara dibuat terkesima dengan pemandangan yang ada. Begitu banyak lampu warna-warni yang ditata sedemikian rupa. Sehingga terlihat begitu indah.
"Suka?" Viki memeluk Nara dari belakang. Nara langsung mengangguk cepat.
Dirinya mengira jika malam akan menyeramkan, membuatnya takut. Namun ternyata, lampu menyala. Bertebaran di mana-mana. Membuat hutan terebut tampak terang dan malah terlihat lebih indah dari pada siang.
"Terimakasih suamiku." ucap Nara tulus. Nara merasa sangat beruntung, menjadi istri dari seorang Viki.
Bukan karena kekayaan yang Viki miliki. Namun perhatian yang diberikan padanya. Nara merasa dirinya sekarang benar-benar ketiban rezeki yang besar. Rezeki kasih sayang dari banyak orang.
Dan Nara menikmati itu.
"Bagaimana jika kita memanggang ikan." ajak Viki.
Keduanya tengah berada di dekat perapian. Dengan memanggang ikan yang sebelumnya sudah disiapkan oleh orangnya Viki.
"Ccckkk,,,, uhuk,,, uhuk,,," Viki terbatuk lantaran asap yang mengenai wajahnya.
Nara tertawa melihat Viki menutupi wajahnya disertai batuk. "Sudah, biar Nara saja. Suamiku menunggu saja di sana."
Nara mengambil alih apa yang dipegang oleh Viki. Dengan tergesa, Viki berjalan membasuh wajah, dan mengambil air minum. "Aduh,, lebih baik dihadapkan dengan tumpukan berkas. Dari pada alat masak." keluh Viki.
"Semangat istriku...!!" teriak Viki. Nara langsung menoleh dengan mata melotot.
"Sayang, jangan berteriak. Ini di hutan." tegur Nara. Viki hanya cengengesan.
"Jangan mendekat. Nanti kena asap lohh sayang...." ingat Nara pada Viki.
"Sekarang sudah tidak berasap. Jadi, sini. Biar aku yang membantu." Viki mengambil kembali panggangan yang di pegang Nara.
"Nanti, jika ada asap lagi. Abang serahkan lagi pada kamu." ucap Viki membuat Nara terkekeh.
Nara merasa jika ternyata ide bulan madu sang suami di atas puncak juga tidaklah buruk. Suasana yang tenang. Dan yang paling penting, Nara bisa benar-benar menghabiskan waktu berdua dengan sang suami.
"Sayang,,, suamiku,,, sedan apa?" tanya Nara saat dia sudah berada di dalam tenda. Sebab, acara makan malam dengan bakar ikan sudah selesai.
"Jangan keluar, di dalam saja." jelas Viki.
Tak lama, Viki menyusul Nara masuk ke dalam tenda. "Jika ingin keluar tenda. Katakan pada suamimu terlebih dahulu." Viki sibuk berganti pakaian.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku memasang beberapa alat yang berbahaya. Antisipasi, siapa tahu ada hewan yang hendak masuk ke dalam tenda." jelas Viki.
Nara mengangguk. Merasa jika ternyata sang suami memperhatikan hal sedetail mungkin guna keselamatan mereka. Kini, Nara tidak perlu takut atau merasa cemas saat tertidur di dalam tenda.