
Viki menyandarkan badan. Saat ini, dirinya harus bekerja sendirian. Apalagi Denis juga sedang sibuk dengan Hana. "Bagaimana kondisi Hana?"
"Parah Tuan. Hana juga mengalami koma. Seperti Tuan Hendra." jelas Rey lirih.
"Astaga." Viki memejamkan kedua matanya. "Sepertinya kasus Hana seperti Tuan Hendra. Ada yang mencoba membuat dan menginginkannya meninggal." imbuh Rey.
"Pertama Vano. Lalu papa dan Hana." Viki memandang ke arah Rey. "Apa mungkin...." lanjut Viki, menggantung kalimatnya.
"Bisa jadi. Tapi bisa juga hanya kebetulan. Karena kita masih belum memiliki bukti." ucap Rey.
"Seandainya Ella ada di sini. Mungkin aku dan Denis, dan juga dia bisa bekerja sama seperti dahulu." ucap Viki lirih.
"Apa proyeknya berjalan dengan baik?" tanya Viki.
"Tenang saja Tuan. Semua berjalan sesuai keinginan kita." jelas Rey.
Viki terdiam. Kemungkinan besar, fokusnya akan teralih pada kecelakaan sang papa. Tapi dia juga tidak bisa abai dengan proyek tersebut.
Jika Viki menyuruh Rey untuk mengurusi dan fokus pada pembangunan proyek, itu hal yang mustahil. Karena Viki membutuhkan Rey di sisinya, untuk menyelidiki kecelakaan Tuan Hendra.
Viki juga tidak ingin jika Rey sampai tumbang. Sebab dirinya juga yang akan kelimpungan jika Rey sampai tumbang karena kelelahan.
"Temui dia. Katakan untuk terus memantau dan menjaga hingga pembangunan proyek selesai. Dia akan mendapatkan informasi dua kali sebulan. Jika pembangunan berhasil sesuai keinginanku. Aku akan memberikan informasi besar." perintah Viki.
"Apa anda yakin Tuan?" tanya Rey sanksi. Rey hanya takut jika mereka berkhianat. Siapa yang tahu. Apalagi Viki terbilang masih baru di dunia bawah tanah.
"Lakukan saja. Tapi ingat, tetap pantau. Jangan sampai kita kecolongan dan lengah. Meskipun begitu, mereka tetap saja orang bawah. Yang perlu kita waspadai."
"Baik."
Nara beserta pembantu yang lain sekarang tengah berada di dapur. Seperti biasanya, mereka menyiapkan sarapan. Dan kali ini, mereka menyiapkan sarapan yang akan di bawa Nara ke rumah sakit.
"Semoga Tuan cepat sadar kembali." ucap Mbok Nah. Karena semalam, setelah sampai rumah. Nara menceritakan keadaan Tuan Hendra pada Mbok Nah dan yang lain.
"Amin." sahut semuanya serentak.
__ADS_1
"Terimakasih, kemarin sudah menjaga Bima dan Rini." ucap Nara merasa tidak enak. Biar bagaimanapun, Nara merasa kedudukannya sama seperti yang lainnya.
"Kamu bicara apa sih Ra. Mereka berdua anak-anak penurut yang lucu dan baik." timpal Mbak Mira.
Nara pulang. Mendapati keduanya sudah berada di dalam kamar. Sudah tertidur lelap.
"Nanti Bima biar Nara ajak saja." ujar Nara, berencana mengajak Bima ke rumah sakit. Dirinya merasa sungkan jika terus menerus merepoti mereka yang ada di rumah. Apalagi mereka juga harus bekerja. Pasti akan bertambah lelahnya.
"Tidak perlu. Lagi pula, Bima masih kecil. Tidak bagus untuk di bawa ke rumah sakit. Di sana banyak penyakit." tukas Mbok Nah.
"Benar, biar Bima di rumah saja. Lagi pula, kita hanya mengasuh Bima sewaktu Rini sekolah. Setelah Rini pulang, Bima sama Rini. Lalu sore, sama kita lagi. Karena Rini meski belajar." jelas Mbak Siti.
"Benar Ra. Lagian mereka sama sekali tidak membuat kita repot. Lagian, jika kamu ajak pergi ke rumah sakit, pasti nanti malah ganggu di sana." sahut Mbak Mira.
"Baiklah. Terimakasih semuanya." ucap Nara.
Pagi hari, Nara segera pergi ke rumah sakit. Karena dirinya harus membawakan pakaian ganti fan juga sarapan untuk Viki dan juga Nyonya Rahma.
Tak hanya untuk keduanya, Nara juga membawakan sarapan untuk beberapa penjaga yang sudah menjaga ruang rawat Tuan Hendra dengan baik.
"Terimakasih Nona." ucap salah satu orang yang berjaga di depan ruang rawat kamar Tuan Hendra. Saat Nara memberikan rantang besar berisi makanan pada dirinya.
"Ma, Viki pergi dulu. Nara akan menemani mama di sini." ucap Viki, Nyonya Rahma mengangguk pelan.
"Jika ada apa-apa, segera hubungi aku." Viki mencium kening Nara.
Nara melihat ke arah pintu, di mana badan Viki menghilang. Nara tersenyum, teringat nama ID yang tertulis di ponselnya. SUAMIKU.
Dan itu Viki sendiri yang menulisnya. Ada-ada saja. Padahal mereka belum menikah. Tapi semoga saja, tulisan itu menjadi pertanda. Jika keduanya akan menjadi suami istri.
Viki dan Rey pergi ke gedung yang terlihat kosong dan kumuh. Bahkan sangat tidak terawat. Tapi siapa sangka, di dalamnya ada berbagai alat canggih untuk mengotak-atik mesin.
Keduanya sempat terkejut saat menginjakkan kakinya di dalam gedung tersebut. Apalagi di dalam gedung yang terlihat terbengkalai dari luar itu, ada sebuah lift.
Yang membawa mereka turun ke bawah. Kesebuah bangunan bawah tanah. Viki dan Rey saling pandang dan tersenyum saat berada di dalamnya. Beserta dua bawahan Ella lainnya.
__ADS_1
"Mungkin kita bisa membuatnya menjadi seperti ini. Lagi pula, pemiliknya juga tidak akan keberatan jika rancangan bangunannya kita tiru." seloroh Viki terkekeh.
Seorang perempuan dengan bentuk tubuh bak gitar spanyol berdiri di depan jendela, dengan hanya memakai bra dan ****** *****. Melihat indahnya kota dari dalam kamarnya yang terletak di ketinggian.
Lelaki manapun pasti akan bertekuk lutut di hadapannya. Dan pasti akan rela melakukan apapun. Untuk bisa berolah raga di atas ranjang bersamanya.
Asap mengepul dari celah bibirnya yang seksi dan merah. Sesekali tersenyum dan memejamkan mata, saat mencabut cerutu dari celah bibirnya. Seolah sedang menikmati rasa dari tembakau yang masuk hingga ke dalam tenggorokan.
Seorang lelaki berdiri di belakangnya. Merengkuh badannya dengan posesif. Mengambil cerutu yang sedang di hisap sang perempuan.
"Ini terlalu kecil." ucapnya setelah membalikkan badan sang perempuan.
"Lakukan. Maka akan aku lenyapkan Hendra." tangannya menekan kedua pundak sang perempuan ke bawah.
Lelaki tersebut sudah tidak memakai sehelai benangpun. "Ssssshhhhhhttty....." desisnya, saat pusakanya masuk ke dalam mulut sang perempuan. Dengan kedua tangan berada di kaca tepat di depannya.
"Jika bukan karena rasa dendam. Aku juga tak sudi menjadi jalangmu." ucapnya dalam hati.
"Tenang saja Jo, aku akan membalas kematian mu. Mereka akan ku lenyapkan satu persatu." imbuhnya dalam hati. Dengan mulut penuh, bergerak maju mundur. Memberikan kenikmatan pada lelaki yang berdiri tegap di hadapannya.
"Aaaaahhhhh....." erangan rasa nikmat keluar dari mulut lelaki tersebut. Saat dia menyemburkan cairan berwarna putih ke dalam mulut sang perempuan.
"Telannnnn....." ucapnya tegas. Mencengkeram erat rahang sang perempuan. Membuatnya mau tidak mau menelan cairan putih yang di semburkan dari pusaka sang lelaki.
Dia memandang ke arah sang lelaki dengan penuh cinta dan juga senyum penuh kebahagiaan.
Tangannya mengelus lembut pipi lawan mainnya. "Aku suka perempuan penurut." lelaki tersebut tertawa dan masuk ke dalam kamar mandi.
Seketika raut wajahnya berubah menjadi merah, mengeluarkan cairan yang masih di simpan di dalam mulutnya ke dalam tempat sampah. "Brengsek. Setelah dendamku terbalas lunas. Kamu adalah target selanjutnya." ucapnya pelan, memandang ke arah kamar mandi.
Menurutnya, membunuh lelaki yang sekarang menjadi dewa penolongnya adalah hal yang sangat mudah.
Dia berjalan di mana ponselnya berada. Membuka foto yang tersimpan di dalamnya. Menampakkan seorang lelaki dengan tubuh proporsional dan wajah tampan. "Kamu tahu, aku sudah melenyapkan Vano. Dan sekarang Hendra dan Hana. Bersama." gumamnya, memandang ke arah layar ponselnya.
"Viki, kamu tunggu saja kehancuranmu. Kartu as mu, ada dalam genggamanku." ucapnya menyeringai.
__ADS_1
Dendam. Bisa merubah seorang yang baik menjadi begitu menakutkan. Apalagi saat dirinya tidak bisa melepaskan rasa terkutuk tersebut.
Padahal, jika dia terus membalaskan rasa sakit hatinya. Pasti itu hanya akan menjadi kehancuran pada dirinya sendiri. Terlebih dirinya menantang orang yang berkuasa dan juga berpengaruh.