VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 112


__ADS_3

Tuan Smith memandangi beberapa foto di tangannya dengan tatapan sedih. "Kayla." gumamnya sendu. Tanpa terasa, air mata Tuan Smith meluncur sempurna ke pipi.


Terlalu fokus menatap foto Kayla (Nara). Dan terlalu larut dalam perasaan bersalah, Tuan Smith tidak menyadari seseorang masuk ke dalam ruangannya.


Nyonya Binta menatap sang suami dengan intens. "Apa yang papa sedang lihat. Bahkan suara ketukan pintu dariku daja dia tidak mendengar." ucap Nyonya Binta lirih.


Sebelum masuk ke ruangan sang suami, Nyonya Binta mengetuk pintu terlebih dahulu. Beliau tidak lantas menyelonong masuk, meski dirinya istri dari Tuan Smith.


Nyonya Binta hanya mengantisipasi. Jika saja sang suami sedang menerima tamu. Dirinya tentu saja tidak ingin di nilai tidak mempunyai sopan santun oleh orang lain.


Terlebih, saat beliau datang. Nyonya Binta tidak melihat sang sekertaris di mejanya. Mungkin sang sekertaris sedang ada keperluan.


Bahkan, suara high hell Nyonya Binta yang beradu dengan keramik tak membuat Tuan Smith mengalihkan pandangannya.


Tuan Smith terkejut bukan main, saat tangan seseorang mengambil foto Nara dari tangannya. "Mama." ucap Tuan Smith, menghapus air mata yang tersisa di pipi.


Nyonya Binta menaruh rantang yang berada di tangannya ke atas meja kerja Tuang Smith. Lalu menatap sebuah foto yang baru saja dia ambil dari sang suami.


Nyonya Binta mengalihkan pandangan pada sang suami. Tentu saja meminta sebuah penjelasan. Karena tidak mungkin jika foto seorang gadis tersebut adalah selingkuhan sang suami.


Jika di lihat, hadis di foto tersebut memang lebih pantas menjadi anak mereka. Itulah yang dipikirkan oleh Nyonya Binta.


Apalagi Tuan Smith menatapnya dengan tatapan sendu, bahkan Nyonya Binta melihat ada sisa air mata di pipi sang suami. Meski Tuan Smith segera menghilangkannya.


Tuan Smith menghela nafas. "Papa akan jelaskan, kita duduk di sana." ajak Tuan Smith pada sang istri.


Di kursipun, Nyonya Binta masih diam dan menatap lamat-lamat ke arah sang suami. Tuan Smith menggenggam telapak tangan sang istri.


"Beberapa hari yang lalu, ada seorang lelaki yang mendatangiku. Dia memintaku untuk menjadi wali nikah dari seorang gadis muda." jelas Tuan Smith.


Nyonya Binta masih diam. Sekarang, dia tahu. Siapa sosok perempuan cantik yang ada di dalam foto. Dia anak dari sang suami bersama dengan istri pertamanya.

__ADS_1


"Ayah tirinya." tebak Nyonya Binta. Tuan Smith menggeleng pelan.


"Lelaki yang akan menikahi dia." ucap Tuan Smith lirih.


Nyonya Binta mengangguk pelan. "Mungkin pihak keluarga tidak mau menemui papa sendiri. Sehingga calon mempelai yang harus datang kemari. Sungguh tidak sopan." ucap Nyonya Binta dalam hati.


"Sendiri?" tanya Nyonya Binta lagi, siapa tahu lelaki tersebut datang bersama kerabat dari mantan istri sang suami.


Tuan Smith menggeleng pelan. "Sendiri" jawab Tuan Smith.


"Lalu Kayla." tanya Nyonya Binta, karena sebelum menikah dengan Nyonya Binta, Tuan Smith sudah menceritakan semuanya. Tanpa terkecuali.


Tampak Tuan Smith menundukkan kepala. "Pa." panggil Nyonya Binta, melihat pundak sang suami bergetar. Yang menandakan jika Tuan Smith sedang menangis.


Ini pertama kali dalam hidupnya, Nyonya Binta melihat sang suami mengeluarkan air mata. "Pa." panggil Nyonya Binta lagi.


"Dia membenci papa. Ma." ucap Tuan Smith lirih.


"Bukan. Bukan Vanya." sahut Tuan Smith masih menundukkan kepala.


"Kayla selama ini tidak tinggal bersama mereka." tutur Tuan Smith, memandang wajah sang istri.


Tampak Nyonya Binta merasa bingung dengan penuturan sang suami. Tuan Smith menghela nafas panjang. Menengadahkan kepalanya.


"Kaya dibuang oleh Vanya." ungkap Tuan Smith memejamkan mata.


Reflek, Nyonya Binta memundurkan posisi duduknya dan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. "Pa, jangan bercanda." sahut Nyonya Binta.


Perkataan yang tidak masuk akal. Itulah yang ada di benak Nyonya Binta. "Seorang ibu kandung mana mungkin mampu dan tega melakukannya. Vanya yang melahirkannya." ucap Nyonya Binta.


"Tapi itulah yang terjadi. Kayla di buang di pemukiman kumuh, sejak dia berusia sepuluh tahun." jelas Tuan Smith.

__ADS_1


Segera Nyonya Binta mengambil foto Nara kembali. Menatapnya dengan intens setiap foto Nara. "Bukankah ini di restoran mewah." ucap Nyonya Binta.


"Viki. Viki Radika Mahendra. Dialah lelaki yang mendatangi papa." ungkap Tuan Smith.


Tubuh Nyonya Binta terasa lemas mendengar kenyataan ini. Bukan karena nama Viki. Melainkan Nara yang terbuang.


"Maafkan mama." ucap Nyonya Binta menyesal. Tuan Smith menatap ke arah sang istri yang tiba-tiba meminta maaf padanya.


"Jika dulu mama tidak melarang papa. Pasti keadaannya tidak akan seperti ini. Kita bisa membesarkan Kayla bersama-sama." sesal Nyonya Binta.


Beliau teringat jika pernah melarang sang suami untuk berurusan dengan keluarga Vanya, mantan istrinya. Dalam bentuk apapun.


Bukan karena Nyonya Binta membenci mereka. Melainkan Nyonya Binta hanya mengantisipasi. Beliau takut jika, sang suami sering bertemu dengan mantan istrinya, benih cinta di antara mereka akan kembali muncul.


"Maafkan mama." ucap Nyonya Binta lirih.


Segera Tuan Smith memeluk sang istri. "Tidak, mama tidak salah." lipur sang suami, menenangkan Nyonya Binta.


"Pa, kita harus segera menemui Kayla." pinta Nyonya Binta.


"Papa juga menginginkannya. Tapi Viki mengatakan jika Kayla tidak ingin bertemu dengan papa." ucap Tuan Smith dengan suara sendu.


Nyonya Binta mengurai pelukannya. "Viki. Bukankah dia putra dari Tuan Hendra dan Nyonya Rahma. Kita bisa meminta tolong pada mereka. Atau, kita langsung mendatangi kediaman mereka. Mama yakin, Kayla tinggal bersama dengan mereka." jelas Nyonya Binta.


"Terimakasih, mama mau menerima Kayla." ucap Tuan Smith.


"Ini penebusan dari rasa bersalah mama. Padahal, duku kita mempunyai kesempatan. Membesarkan Kayla dan Renggo bersama-sama. Jika saja, saat itu mama tidak egois." jelas Nyonya Binta.


"Vanya. Sungguh, perempuan macam apa dia itu. Membuang putri kandungnya sendiri. Menikah dengan duda dengan anak satu." geram Nyonya Binta.


"Sudah ma." ucap Tuan Smith.

__ADS_1


"Asal papa tahu. Vanya itu sangat menyayangi anak tirinya. Melva. Artis terkenal itu. Mama pikir dia perempuan penyayang. Ternyata, semua hanya topeng." kesal Nyonya Binta.


__ADS_2