
"Pa, jangan emosi. Mungkin saja dia ada acara yang lebih penting yang tidak bisa di tinggalkan." ucap Nyonya Gina meredakan amarah suaminya.
"Tidak ada yang lebih penting dari Giska." seru Tuan Marko menatap istrinya dengan tatapan murka.
"Viki juga punya sesuatu yang penting. Apa cuma papa sendiri yang mempunyai sesuatu hal yang penting."
"Menurut papa, apa Giska menjadi yang penting untuk Viki,,!!!" seru Nyonya Gina dengan nada tinggi, tak kalah tajam menatap sang suami.
Kesabaran Nyonya Gina benar-benar sudah habis. Nyonya Gina keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras.
Membuat Tuan Marko terkejut sekaligus kaget dengan sikap istrinya. Nyonya Gina tidak pernah berbicara sekeras dan sekasar ini sebelumnya. Dia adalah sosok yang lembut dan baik.
Nyonya Gina turun dari tangga. "Dimana Giska?" tanya Nyonya Gina pada pembantunya dengan raut wajah menahan amarah.
Karena pasti Giska sudah menunggu Viki di bawah. Menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.
"Di depan Nyonya. Di ruang tamu."
Nyonya Gina melihat ke arah sang putri. Ada rasa kasihan dalam benak Nyonya Gina. Apalagi Giska sudah berdandan cantik.
"Sayang, kenapa kamu jadi seperti ini. Padahal kamu tidak pernah kehilangan kasih sayang kami. Kami selalu menyayangi kamu, Giska." Nyonya Gina menyeka air yang hendak mengalir di pipi.
Sementara di lantai atas, Tuan Marko melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Tuan Marko dapat menangkap raut wajah sedih pada sang istri saat menatap putri mereka.
"Giska." panggil Nyonya Gina, membuat Giska menoleh ke arah sang mama.
"Ada apa. Viki belum datang." ucap Gina ketus. Padahal sang mama hanya memanggilnya. Perasaan Giska kini sudah mulai tidak karuan. Selama lima belas menit dia menunggu Viki.
"Viki tidak akan datang." ucap Nyonya Gina tenang.
Giska berdiri dan menatap tajam ke arah mamanya. Seolah mencari kebenaran dari perkataan sang mama. "Dia tidak membalas pesan yang dikirim oleh papa kamu." jelas Nyonya Gina datar, tanpa ekspresi.
"Nggak mungkin." Giska mendekat ke arah mamanya. Memandang sang mama dengan mata membesar. Mendorong dengan kasar tubuh sang mama hingga terhuyung ke belakang.
Beruntung di belakang Nyonya Gina ada pembantu yang tidak sengaja lewat. Sehingga badan Nyonya Gina tidak sampai terjatuh.
Dengan perasaan kesal dan berlinang air mata, Giska naik ke tangga. Di tangga paling atas, dia bertemu dengan Tuan Marko.
__ADS_1
"Papa jahat." geram Giska masuk ke dalam kamar. Menutup pintunya dengan kasar. Brakk...
"Nyonya baik-baik sajakan?" tanyanya dengan khawatir.
Dirinya memapah tubuh Nyonya Gina untuk duduk di kursi. "Kelihatannya kaki Nyonya terkilir." ucap pembantu tersebut.
"Sebentar Nyonya." dengan langkah tergesa dia menuju ke belakang. Entah apa yang ingin dia lakukan. Terlihat diia sangat khawatir melihat Nyonyanya terluka.
"Mereka yang bukan keluarga saja bisa memperlakukan mama dengan baik. Kenapa kamu tidak bisa. Padahal kamu anak kandung mama." ucap Nyonya Gina lirih.
"Mama yang melahirkan kamu, dengan bertaruh nyawa. Mama yang setiap malam tidak tidur, untuk menjaga kamu. Mama yang selalu menenangkanmu saat kamu menangis." imbuh Nyonya Gina tersenyum miris.
"Sini Nyonya." pembantu tersebut membawa minyak urut, dengan hati-hati dia mengoleskannya dan sedikit memijat pelan di kaki Nyonya Gina.
"Sayang, buka pintunya." teriak Tuan Marko dari luar kamar Giska.
Tuan Marko takut jika putrinya melakukan hal yang dapat menyakiti dirinya. "Giska, buka!!" teriak Tuan Marko meggedor-gedor pintu kamar Giska.
"Ambilkan kunci cadangan." perintahnya pada pembantu. Nyonya Gina hanya diam mendengar suaminya berteriak memanggil Giska dari luar.
Ceklekkk.... Seketika perasaan Tuan Marko lega, melihat putrinya duduk di atas ranjang tempat tidur dengan memeluk kakinya sendiri.
"Papa juga tidak tahu, kenapa Viki tidak membalas pesan dari papa." Giska hanya diam, menatap tajam ke arah papanya.
"Maafkan papa." ucap Tuan Marko duduk di depan Giska.
"Bawa Viki ke rumah. Giska akan memaafkan papa." sinis Giska, menghapus dengan kasar air mata di pipinya.
"Baiklah, beri papa waktu." lagi-lagi Giska menepis dengan kasar tangan Tuan Marko yang hendak mengusap ujung kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Nara dengan perasaan senang mampir ke warung. Membeli kebutuhan sehari-hari yang sudah habis. "Terimakasih Tuhan, atas rezekinya." ucap Nara, karena sempat di beri uang oleh Nyonya Rahma.
Sayangnya, Nara tidak mengetahui jika beliau adalah mama dari Viki. Tak lupa, Nara membeli jajan untuk Rini dan Bima. Pasti keduanya akan senang.
"Nggak apa-apa sekali-kali beli makanan mahal." ucap Nara menuju warung. Karena biasanya Nara akan membeli lauk yang berharga murah.
__ADS_1
Tapi malam ini, dia membeli ayam goreng untuk lauk makan malam dan sarapan besok. "Rini." Nara memanggil adiknya sambil mengetuk pintu.
"Kakak." ucap Rini. Segera tangan kecil Rini membantu Nara membawa barang yang di tenteng Nara.
"Banyak sekali kak." ucap Rini.
"Hari ini kakak dapat rezeki lebih. Lagi pula semua kebutuhan kita tinggal sedikit. Mumpung ada uang." jelas Nara sambil menurunkan kantong kresek di sudut ruangannya.
"Ajak Bima kesini, kita makan bersama." suruh Nara.
"I--iya kak." ucap Rini. Nara merasa ada yang aneh dengan Rini. Bahkan Rini berjalan sedikit pincang.
"Bima." ucap Nara sedikit meninggikan nada bicaranya. Melihat wajah Bima.
"Rini, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Nara dengan lembut, terlihat wajah Bima ada memar dan sedikit luka lecet.
"Maaf kak, tadi Rini gendong Bima. Tapi Rini sedikit meleng saat melihat jalan. Membuat kami jatuh." jelas Rini.
"Benar. Nggak bohong?" tanya Nara memastikan.
"Iya kak." jawab Rini segera, dengan mengangguk.
"Ya sudah, kita makan dulu. Setelah itu kakak obati kalian." ucap Nara.
Nara makan sembari menyuapi Bima. "Banyak sekali kak lauknya." ucap Rini. Padahal Nara hanya membeli empat potong ayam goreng. Tapi bagi mereka jumlah itu sudah banyak.
"Separuh buat besok kalian sarapan." ucap Nara. Lantaran mereka hanya makan dua potong di bagi tiga untuk makan malam.
"Enak." ucap Rini
Selesai makan, Nara mengobati kaki Rini. "Sakit?" tanya Nara mengoleskan minyak urut di bagian kaki Rini yang terlihat memar. Rini menggeleng.
Untuk luka lecetnya, Nara mengoleskan salep. Begitupun dengan Bima. Nara bahkan memotong bungkus salep menjadi dua.
Lantaran isinya yang tinggal sedikit. Sayangkan, kalau dibuang. Meski di dalamnya tersisa sedikit. Setidaknya masih bisa di pakai.
Selesai diobati Rini berbaring di atas tikar sembari menepuk-nepuk pantat Bima supaya tidur. Dan Nara, segera pergi ke kemar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Maafkan Rini kak, Rini bohong." batin Rini menatap pintu kamar mandi yang sudah rusak.
Karena sebenarnya, Rini dan Bima tidak jatuh saat Rini menggendong Bima.