VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 154


__ADS_3

Sore hari, Nara termenung di taman belakang. Menemani Bima dan Rini yang sedang bermain. Meski tatapan mata Nara mengarah kepada kedua adiknya, namun tatapan Nara tampak jauh ke depan.


Sepulang dari salon, Nara lebih banyak diam. Tentu saja, apa yang ada dalam pikirannya sangat mudah di tebak. Apalagi jika bukan perkataan dari Nyonya Rahma dan Nyonya Binta.


Nara menghela nafas panjang, meraup wajahnya dengan kasar. Terekam jelas dalam benaknya, kata-kata tentang perempuan lain dan jago ranjang.


Nara menaruh salah satu telapak tangannya di bawah dagu. Dengan siku sebagai penyangga yang dia letakkan di atas meja. "Apa iya, abang bisa senekat itu?" gumam Nara.


Nara percaya jika Viki tidak mungkin mengkhianatinya hanya karena masalah ranjang. Tapi, tidak dapat di pungkiri. Dalam lubuk hati Nara, terdapat ketakutan. Meski hanya sedikit. Dan itu sangat menganggu.


"Nekat kenapa?" tanya mbok Nah, yang secara tiba-tiba berada di dekat Nara. Membawa nampan berisi minuman. Dan pasti itu untuk Nara.


"Mbok,,, bikin jantungan saja." keluh Nara memegang dadanya, lantaran terkejut.


Mbok Nah menurunkan segelas minuman berwarna hijau di atas meja. "Minum dulu, mbok buatkan jus alpukat." ucap mbok Nah.


Nara tersenyum tipis, dan mengambil jus alpukat tersebut. Meminumnya beberapa teguk. "Terimakasih mbok." tutur Nara.


Mbok Nah tersenyum sembari mengangguk. "Bagaimana sekarang sudah lebih segar?" tanya mbok Nah.


Sebelum mbok Nah mendatangi Nara, membawakannya air minum. Mbok Nah sudah lebih dulu berbicara dengan Nyonya Rahma. Mbok Nah hanya tidak ingin majikannya menganggap jika dirinya terlalu lancang, mengurusi rumah tangga dari Nara dan Viki.


Hal yang tak terduga malah mbok Nah dapatkan. Nyonya Rahma menceritakan semua kejadian saat dirinya bersama Nyonya Binta dan Nara berada di salon.


Sangat jelas, ekspresi mbok Nah terkejut. Pastilah, mengingat bagaimana Nara juga ngebet ingin menikah dengan Viki. Lantas bagaimana sekarang Nara dengan mudah mengatakan jika dirinya belum siap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.


Nyonya Rahma juga mengizinkan mbok Nah untuk memberi wejangan dan nasehat pada Nara. Nyonya Rahma merasa, selama ini Nara dekat dengan para pekerja di rumah. Tak ada salahnya jika mereka begitu perhatian pada Nara.


Nyonya Rahma bahkan begitu bahagia. Sebab, semua penghuni rumah begitu menyayangi Nara. Yang memang berarti, Nara adalah perempuan baik. Makanya banyak yang menyukainya.


"Tenggorokan Nara terasa segar..." ucap Nara dengan memegang tenggorokannya. Membuat mbok Nah tersenyum.

__ADS_1


"Boleh mbok berbicara serius?" tanya mbok Nah.


"Ada apa mbok? Silahkan. Katakan saja, kenapa harus bertanya." ucap Nara.


Mbok Nah memegang pundak Nara. Menatap Nara dengan penuh perhatian. "Setiap hubungan selalu ada masalah. Kamu tidak perlu khawatir. Yang terpenting komunikasi. Jika kamu merasakan apapun itu, katakan saja pada den Viki. Tidak perlu takut. Mbok kenal siapa den Viki. Dia lelaki terbaik yang mbok kenal, setelah Tuan Hendra." ucap mbok Nah, disertai gurauan.


"Apa begitu ketara?" tanya Nara.


"Mana ada pengantin baru langsung kerja. Kulit kamu juga biasa." mbok Nah sedikit membungkukkan badan. Membisikkan sesuatu pada Nara. "Jalan kamu juga tidak seperti pinguin." bisik mbok Nah.


Nara melotot tidak percaya, mbok Nah bisa berkata semesum itu. "Mbokk..." cicit Nara merasa malu.


"Tapi ingat. Jangan terlalu lama belum siapnya. Dan juga kamu harus selalu mengingat. Dosa besar, menolak suami, saat dia meminta haknya. Kamu harus mengingat itu. Dosa besar." ucap mbok Nah, dengan tegas.


Selesai daei rumah sakit, Viki segera pulang ke rumah. Sampai di rumah, Viki segera masuk ke dalam kamar.


Viki tidak melihat Nara di dalam kamar merek. Viki teringat perkataan Nara, jika dirinya belum terbiasa tidur tanpa Rini dan Bima.


Viki tersenyum. "Bukankah itu lebih baik. Jika Nara tidur di sini. Sementara dia belum siap. Malah akan semakin menyiksaku. Lagi pula, luka ini...." Viki memandang tubuhnya bagian depan.


Segera Viki membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tidak membutuhkan waktu lama, Viki sudah masuk ke dalam duni mimpi. Mungkin karena Viki kelelahan. Atau bisa, karena efek obat yang baru saja dia minum.


Di dalam kamar bawah, tubuh Nara sedikit di goyang oleh mbak Mira. "Nara bangun. Kamu kok tidur di sini?" tanya mbak Mira membangunkan Nara.


"Astaga, aku ketiduran." ucap Nara, dengan perlahan turun dari ranjang besar tersebut. Tentu saja Nara takut membangunkan Rini dan Bima.


"Terimakasih mbak." ucap Nara.


"Sudah cepat, kamu segera ke kamar. Aku tadi melihat suami kamu sudah pulang." papar mbak Mira.


"Iya, terimakasih mbak." dengan segera Nara bergegas untuk menuju ke kamar tidurnya.

__ADS_1


Dengan perlahan, Nara membuka pintu. Nara melihat tubuh Viki terlentang di atas ranjang, dengan kedua mata tertutup. "Abang pasti capek. Kenapa abang tidak mencari Nara." tanya Nara lirih, meski tahu jika sang suami sudah tertidur.


Dengan perlahan, Nara naik ke atas ranjang. Nara melihat jika ada sebuah guling di tengah ranjang. Nara hanya menatap guling tersebut dengan tatapan rumit.


Tanpa menggeser atau mengambil gulingnya, Nara tidur di sisi Viki. Dengan sebuah guling di tengah sebagai pembatas.


Pagi hari, seperti biasa. Nara bangun terlebih dahulu. Membersihkan tubuh dan segera turun. Membantu yang lain, termasuk Nyonya Rahma untuk menyiapkan sarapan.


"Nara, mama ke atas dulu. Mau lihat papa kamu. Kamu nggak bangunin Viki?" tanya Nyonya Rahma mengingatkan.


"Iya ma, sebentar lagi." Nara segera mencuci tangannya.


"Rini sudah bangun mbak?" tanya Nara di sela-sela kegiatannya membersihkan tangannya yang kotor.


"Siti ada di sana. Mungkin sedang membangunkan Rini." papar mbak Mira.


"Ckk,,, anak itu, kenapa akhir-akhir ini sulit di bangunkan." gerutu Nara.


Nara melihat ke arah jam dinding yang menempel di dinding dapur. "Aku bangunkan Rini dulu. Baru naik ke atas." ucap Nara, segera melakukan apa yang dikatakan.


Beberapa saat kemudian, Nara berjalan keluar dari arah kamar Rini dan Bima. "Sudah bangun?" tanya mbak Mira.


"Sudah, tapi Bima pake ikutan bangun." cicit Nara, mengatakan hal yang membuatnya sedikit lama di kamara Rini dan Bima. Pasalnya Bima selalu rewel saat bangun tidur.


Nara hendak berjalan menaiki tangga. Ingin melihat apakah sang suami sudah bangun. Namun kaki Nara terhenti, saat melihat Viki sudah berjalan menuruni anak tangga.


Dengan dasi belum terpasang sempurna di leher. Melainkan hanya tersampir di leher. Sementara sebelah tangan kiri Viki sibuk memegang ponsel yang di tempelkan ke telinganya.


"Ya sudah, kamu tanyakan saja padanya. Dia pasti bisa." ucap Viki dengan seseorang di seberang ponselnya.


"Abang nggak sarapan dulu?" tanya Nara mengejar Viki, saat Viki malah melangkah melewatinya dan juga melewati ruang makan.

__ADS_1


"Maaf, abang sedang ada janji di luar. Nanti abang sarapan di luar. Abang berangkat dulu." Viki mencium kening Nara dan segera berlalu.


Nara hanya diam mematung. Entah, kenapa perasaan Nara menjadi tidak enak. Dirinya merasa Viki mengabaikannya.


__ADS_2