
Nara merasa jika pagi mulai menyapa. Suara jangkrik dan beberapa hewan malam, berganti dengan cicitan burung yang bersahutan. Terdengar merdu di telinganya.
Membayangkan jika di rumah barunya dia juga akan memelihara beberapa jenis burung. "Pasti akan sangat ramai dan terdengar merdu." kekehnya pelan.
Nara melenguh pelan. Merentangkan tangannya untuk membuat otot-ototnya lebih lemas. Pandangan Nara terarah ke samping. Dimana sang suami masih tertidur lelap. Tidak terusik gerakan darinya sama sekali.
Nara melihat ke badannya sendiri. Tersenyum, melihat banyaknya tanda merah di seluruh badannya. "Persis seperti penyakit kulit." gumamnya, dengan posisi duduk.
Merah bukan karena gigitan nyamuk, namun merah karena ulah sang suami. Mengajak Nara untuk segera tidur. Namun apa yang terjadi.
Tidak perlu dipertanyakan. Viki membuat Nara tetap terjaga hingga pukul tiga dini hari. Astaga,,, bayangkan. Bagaimana rasa tubuh Nara. Pegal dan remuk, seperti baru saja dihajar masa dalam jumlah banyak.
"Jika setiap hari seperti ini. Hah,,,," Nara menghembuskan nafas panjang. "Pasti tulangku akan patah."
Berpikir lebih baik di rumah saja. Dari pada berbulan madu. Nara berpikir, jika saat berbulan madu. Viki tidak sampai seperti ini. Ternyata bayangan Nara salah.
Dimana saja. Di rumah maupun di sini. Viki, tetaplah Viki. Jatah tetaplah jatah. Pandangan Nara memandang intens wajah sang suami.
Teringat percakapan singkat malam mereka setelah melakukan kegiatan yang mengeluarkan keringat. Dimana, Viki bertanya mengenai anak.
Nara terus mengembangkan senyumnya. Perkataan Viki semalam membuatnya merasa dialah satu-satunya perempuan yang paling dicintai.
Viki tidak akan memaksa Nara hamil. Dia akan menyerahkan semuanya pada Nara, perihal anak. Sebab, Viki sadar. Jika Nara baru saja berumur tujuh belas tahun beberapa hari yang lalu.
Ditambah lagi pernikahan mereka yang juga baru berjalan beberapa bulan.
Bukan itu yang membuat Nara merasa menjadi perempuan paking beruntung, mempunyai suami seorang Viki.
Yakni, saat Viki berkata. Jika dirinya tidak akan pernah merasakan hamil dan melahirkan. Bagaimana sulit dan menderitanya seorang perempuan yang sedang hamil dan melahirkan.
Oleh karenanya, Viki menyerahkan semua pada Nara. Jikapun Nara tidak ingin hamil, atau kasarnya, tidak ingin memiliki anak. Viki tidak akan memaksa.
Bahkan Viki mengatakan jika mereka bisa mengambil anak angkat atau mengadopsi anak.
Nara memang gadis berusia tujuh belas tahun. Tapi pikiran Nara lebih dewasa dari apa yang diperkirakan oleh Viki. Sebab, keadaanlah yang membuat Nara menjadi sosok lebih dewasa dari pada umurnya.
Nara menginginkan hamil, melahirkan, dan membesarkan anaknya sendiri. Hasil buah cinta dirinya dengan sang suami.
Nara tidak mau egois. Cukup dirinya dahulu diperlakukan tidak adil oleh keluarganya. Tapi semua itu tidak lantas membuat Nara trauma dan berpikiran sempit.
Apalagi, sekarang Nara harus memikirkan keluarga besarnya. Keluarga Viki dan juga sang papa kandung yang saat ini melimpahkan begitu banyak kasih sayang pada Nara. Pastinya mereka juga berkeinginan melihat anak Nara dan Viki.
Nara mengatakan pada sang suami, jika Nara akan mengikuti alur dari Tuhan. Kapanpun dia akan diberikan momongan, ataupun rezeki berupa anak. Nara akan siap. Baik sekarang. Atau besok.
"Sayang,,, bangun. Aku kebelet nih..." Nara menggoyangkan pelan badan sang suami.
Nara sebenarnya ingin keluar tenda sendiri, membiarkan Viki tetap terlelap dalam tidurnya, tanpa mengganggunya.
Namun Nara ingat, jika semalam sang suami melarangnya keluar dari tenda, sebab Viki meletakkan jebakan di luar tenda.
Tak ada reaksi dari sang suami. Bergerak sedikitpun tidak. Nara kembali menggoyang-goyang badan Viki. "Bang,,,, bangun. Aku udah nggak tahan nihhh...!!" seru Nara, sebab dia sadar.
Meskipun berteriak kencang sekalipun, toh tidak akan ada yang mendengar. Sebab mereka hanya berdua, di tengah hutan.
"Astaga..... Kebo sekali sih." gerutu Nara kesal.
"Abang...!!!"
"Hemmm....." suara Viki terdengar. Namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak.
"Bang,,,, Nara kebelet nih..." kembali Nara menggoyang tubuh Viki dengan kencang.
Viki membuka matanya, namun tidak sempurna. "Ya sudah, keluar sana."
__ADS_1
Nara mendelik sebal. "Oke. Nara keluar. Jika Nara kena perangkap hewan yang abang pasang tadi malam. Abang jangan menyesal." ancam Nara.
Mata Viki langsung terbuka lebar, mendengar kata perangkap. "Apa??!!" tangan Nara dicekal Viki saat hendak turun dari ranjang.
"Tunggu, biar suamimu ini yang keluar." Viki bergegas memakai celana kolornya. Tanpa memakai baju.
"Ingat, jangan keluar, jika suamimu ini memberi perintah." Nara mengangguk.
"Loh,,, kok nggak pakai baju??!" seru Nara.
"Nggak usah, paking cuma burung yang lihat." jawab Viki dari luar tenda dengan nyleneh.
Viki diluar tenda. Dan Nara, segera memakai bajunya. "Bukan masalah siapa yang lihat, kan di tempat seperti ini banyak nyamuk."
Seketika Nara teringat jika dirinya sama sekali tidak mendengar bunyi nyamuk berterbangan selama berada di dalam tenda. "Kok bisa ya.." Nara menatap seluruh isi tenda.
Merasa heran saja, kenapa sama sekali tidak ada nyamuk di dalam tenda. "Abang,,, sudah apa belummm...!!" Nara benar-benar kebelet kencing.
"Lama sekali sih, perasaan semalam waktu pasang jebakan sebentar." keluh Nara, tidak mendapat jawaban dari luar.
Menunggu, itulah yang Nara lakukan sekarang. Sembari menahan air kencing yang ingin keluar, sebab sudah penuh di dalam kandung kemih.
Di luar tenda, Viki memasukkan dua ekor ular dengan panjang serta berat yang berbeda ke dalam karung. Membuangnya ke dalam jurang, yang letaknya tak jauh dari tempatnya memasang tenda.
Viki memastikan, jika tidak ada lagi hewan yang masih di sekitar tenda. Dengan perlahan dan hati-hati, Viki menghilangkan jebakan yang melingkar di sebelah tenda.
"Sayang, ayo. Sudah selesai."
Nara berdiri, segera keluar dari tenda. "Sebentar!!" teriak Viki saat Nara hendak melangkah pergi lebih jauh.
Viki masuk ke dalam tenda, dan keluar dengan tangan memegang baju dan handuk. Sementara tangannya yang bebas, dia gunakan untuk meraih sabun dan teman-temannya, yang memang sudah disediakan sejak awal.
"Sekalian, kita mandi."
Keduanya, kini tengah berada di sungai jernih dan tidak terlalu dalam. "Aneh, biasanya Nara selalu buang air besar setiap pagi. Tapi kenapa sekarang tidak terasa." cicit Nara, sembari kencing.
"Iihh,, abang mau ngapain..!!" teriak Nara, menutup matanya dengan telapak tangan, namun masih menyisakan celah yang membuatnya masih bisa menatap apa yang dilakukan sang suami.
"Mandilah. Memang apa lagi, kita kan baru tidur." dengan santai, Viki melepas satu-satunya yang saat ini masih menempel di badannha. Yakni celana kolor.
Nara hanya terdiam, dengan posisi yang sama namun telapak tangannya tidak lagi menutupi kedua matanya. "Ingat, kemarin sore kita tidak mandi loh." papar Viki.
Nara memandang sekeliling sungai, termasuk bagian atas. Yaitu air terjun. "Iya juga sih. Tapi aman nggak sih di sini?!" tanya Nara ragu.
Viki yang sudah tidak memakai apapun di tubuhnya, menceburkan badannya ke air ."Aman. Huh,,,, dingin. Tapi segar."
Viki menyiram air ke tubuhnya. "Iya, tapi dingin." sahut Nara membenarkan perkataan sang suami.
Viki menggerakkan tangannya. "Sini." panggil Viki.
"Ogah,, abang biasanya jahil." tolak Nara.
"Suamimu ini baik kok, ayok... Sini." ajak Viki lagi.
Dengan bibir cemberut, Nara mendekat ke tempat Viki. "Nara di sini saja ya...." pinta Nara dengan merengek.
Viki mengangguk. Dan... bohong. Viki langsung berdiri, menggendong Nara dan memasukkan tubuh Nara ke dalam air.
"Aaa,,,,!!! dingin bang..." Nara memukul dengan keras tubuh Viki.
"Tuhan,,,, ya ampun,,,, astaga,,,, dingin...." ucap Nara.
Karena memang, suhu air di pegunungan berbeda dengan suhu air di kota, atau bahkan di pedesaan. Suhu air di kawasan pegunungan biasanya lebih dingin lagi.
__ADS_1
Nara memeluk tubuhnya sendiri. "Biar suamimu ini hangatkan." Viki memeluk tubuh Nara dari belakang.
"Lepas,,, gara-gara abang... Jadi basahkan. Mana dingin sampai ke tulang." omel Nara.
"Mau tahu nggak biar nggak lagi dingin."
"Apa??" tanya Nara polos.
Nara membulatkan matanya melihat cara Viki memandang dirinya dengan mesum."Jangan, aneh-aneh." tekan Nara, kemana otak Viki berselancar.
"Semalam sudah. Lihat." Nara membuka sedikit bajunya bagian depan, menunjukkan banyaknya bercak warna merah di kulitnya. "Ini belum hilang." keluh Nara.
"Ayolah sayang,,, kita coba di sini ya. Di alam terbuka. Ya,, mau ya..." pinta Viki merengek.
Nara hanya diam, tidak menjawab. Menjawab tidakpun, pasti sang suami akan tetap menyerangnya.
Viki benar-benar melakukan apa yang dikatakan. Bercinta di alam terbuka. Di dalam air. Dengan suara air sebagai musik pengiring kegiatan ekstra mereka.
Jangan lupa, suara sahutan burung-burung juga menjadi pelengkap kegiatan panas sepasang suami istri tersebut.
Di belahan dunia lain. Seorang perempuan dan lelaki sedang berbincang di dalam apartemen. Renggo mencari tahu alamat Sara. Dan mendatanginya.
"Ini salah, Renggo." cicit Sara.
"Tidak ada yang salah dalam cinta." kekeh Renggo.
"Jangan seperti ini Renggo, kamu masih berstatus suami orang. Mempunyai istri. Dan sebentar lagi akan memiliki anak." jelas Sara.
"Bukankah sudah aku ceritakan semuanya."
"Tapi tetap saja. Semua orang mengetahui, jika Renggo adalah suami dari Giska. Yang sekarang tengah hamil besar." tegas Sara, menyadarkan Renggo.
"Tidak mungkinkan, kamu katakan jika pernikahan kalian tidak baik-baik saja. Atau, mengatakan jika yang ada dalam perut istri kamu bukan darah daging kamu." cecar Sara.
"Lantas kamu membuat alasan tersebut untuk mendekatiku. Atau perempuan lain. Yang ada malah semua kebenaran yang ada, akan menjadi sebuah alasan untuk orang luar mengritik dan mengatakan jika itu hanyalah sebuah alasan."
Renggo terdiam. Memang apa yang dikatakan Sara benar adanya. "Lalu aku. Kamu akan membuat predikat buruk dalam namaku. Mereka pasti mengira jika aku yang membuat rumah tangga kalian hancur. Apa kamu dama sekali tidak berpikir sampai ke sana." kesal Sara, sebab Renggo sangat keras kepala.
"Jika kalian sudah bercerai, kamu boleh mendekati aku. Bahkan perempuan lainnya. Kerena status kamu yang sudah duda. Tapi tidak sekarang." Sara hanya tidak ingin menambah masalah dalam hidupnya.
"Duda. Bercerai." ucap Renggo lirih.
Sara tersenyum mengejek. "Mengapa, kamu masih mencintai dia bukan?" ada rasa cemburu di hati Sara.
Meskipun Sara tahu, jika dia tidak boleh merasakan rasa itu. Namun seperti kata mereka yang sedang jatuh cinta.
Siapa yang bisa menghentikan rasa yang sudah terlanjur mengalir dalam darah.
Renggo memandang lurus ke depan. Di mana hanya ada pintu di sana. "Bukan. Rasa cintaku sudah lenyap. Bahkan tidak tersisa. Dan kamu pasti tahu penyebabnya." Renggo menjeda kalimatnya.
"Jika aku melepaskan Giska. Dia akan masuk, dan mungkin malah akan merusak hubungan Nara dan Viki. Aku tidak mau, Giska membuat adikku menderita." papar Renggo.
"Apa maksud kamu Renggo. Tuan Viki dan istrinya. Apa hubungannya dengan istri kamu?" Sara semakin bingung dengan kehidupan yang dijalani oleh Renggo.
"Giska. Sejak dulu, dia menyukai, bahkan terobsesi untuk memiliki Viki. Bahkan, meski dia tidur denganku. Dia tetap mengejar Viki."
Renggo tersenyum getir. "Hah... bodoh. Aku memang bodoh. Baru menyadari sekarang." lanjutnya tertawa mengejek dirinya sendiri.
Sara hanya terdiam. Tak bisa mengatakan apapun, saat Renggo mengungkap semuanya. "Bahkan, saat hamil. Dia ingin menjebak Viki. Merencanakan supaya Viki menikah dengannya. Menjadi papa dari anak yang saat ini ada di dalam kandungannya."
Sara semakin terkejut dibuatnya. Segila itukah seorang yang bernama Giska. Membuat Sara semakin penasaran, dan ingin bertemu dengannya.
"Ha,,,ha,,, Dan kamu tahu Sara. Aku dengan mudahnya percaya, jika itu adalah anakku. Sial,, haaa,,, haaa,,,, pasti kamu akan mengejekku kan. Silahkan. Aku memang bodoh."
__ADS_1
"Dari dulu, aku bodoh. Mau saja dijadikan budak dan pelampiasan nafsu Giska."
Sara memandang iba pada Renggo. Namun juga ada perasaan yang tidak bisa dia jabarkan, yang saat ini ada dalam hatinya.Entahlah, apa itu.