VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 178


__ADS_3

Kedua mata Nara berbinar sempurna. Apa yang diinginkan terpenuhi sudah. Berada di tempat wisata yang dia inginkan dan dia bayangkan sedari rumah.


Berbeda dengan Viki, yang terlihat murung. "Ini bukan bulan madu. Tapi tamasya." keluh Viki.


Namun Viki bersikap dewasa. Dirinya tahu, jika hidup Nara sebelumnya tidak seberuntung dirinya. Oleh karena itu, Viki merasa jika saat inilah dirinya akan membuktikan rasa cintanya pada sang istri.


Dirinya tidak akan egois. Melulu memikirkan bulan madu yang tak jauh-jauh dari ranjang. Viki tersenyum, melihat Nara berjalan dengan mata bahagia, memandang ke kanan kiri.


Di mana disepanjang jalan terdapat makanan khas negara tersebut. "Sederhana sekali permintaanmu sayang." ucap Viki, tetap menautkan jarinya dengan jari sang istri.


Viki menghentikan langkahnya, begitu langkah kaki Nara juga berhenti. Viki memandang ke mana arah pandangan sang istri berhenti.


"Boleh?" tanya Nara dengan mata seperti seekor kelinci yang berharap diberi makan oleh Tuannya.


Viki menatap betapa banyaknya antrian di sana. Panas dan penuh orang. Astaga.....


Demi menyenangkan hati sang istri, Viki mengangguk sembari tersenyum. Nara cengengesan. "Tapi Nara mau suamiku yang membelikan." cicitnya.


"Iya, nanti kita suruh pelayan untuk membuatkannya." papar Viki.


Nara cemberut. "Nara ingin itu, sekarang. Bukan buatan chef di rumah. Pasti akan berbeda rasanya." tolak Nara.


Raut wajah Viki langsung berubah seketika. Lemas. Tapi apa daya, menolakpun dia tak akan sanggup. Viki mengangguk. "Tunggu di sana." Viki menunjuk ke sebuah kursi panjang di bawah pohon.


Nara segera mengangguk, dan berlari ke arah dimana Viki menyuruhnya menunggu. "Demi istri. Itung-itung belajar. Siapa tahu saat Nara hamil, dia akan mengidam sesuatu yang sulit di dapat."


Beruntung, sebelum berangkat, Viki mengambil uang cash terlebih dahulu. Jadi dia tidak perlu risau kesulitan saat membayar.


Panas matahari yang menyengat kulit, menemani Viki mengantri makanan. "Panasnya, gila. Cuma demi makanan, mereka rela mengantri seperti ini." geleng Viki heran.


Berjejer dalam antrian. Seorang Viki dengan mudah menarik minat para pengunjung yang ada. Terlebih kaum hawa.


Mereka bahkan memandang Viki dengan tatapan lapar dan mendamba. "Tuhan,, sudah tampan dan penyayang." celetuk pengunjung, tapi memakai bahasa inggris.


Beberapa perempuan yang duduk di sebelah Nara, juga sama. Mereka memandang ke arah Viki. Dengan mulut mengeluarkan suara. Apalagi jika bukan memuji kesempurnaan fisik suami Nara tersebut.


Nara memang tidak begitu fasih menggunakan bahasa Inggris. Namun dirinya sudah banyak kemajuan ketika belajar privat.


Sehingga meski tidak lancar, Nara tahu apa yang sedang mereka perbincangkan. "Siapa sih, heboh banget." gumam Nara.


Nara mengikuti arah pandangan sekelompok perempuan dengan pakaian kekurangan bahan tersebut. "Bukan suami akukan?" tanya Nara pada dirinya sendiri.


Nara menatap ke sekeliling. Termasuk sekitar Viki, dimana sang suami berdiri dengan gagahnya di antara para pengunjung yang sedang antri membeli makanan.


"Mungkin mereka tidak membicarakan abang. Disanakan lelaki yang antri bukan cuma suami Nara saja." ucap Nara.


Sebab, memang ada beberapa lelaki juga yang sedang antri. Dengan di samping mereka ada perempuan. Kemungkinan besar, mereka menemani pasangan mereka untuk antri.


"Sumpah,,,, pengen banget aku bawa ke ranjang. Sempurna. Lihat. Tampan, bentuk badan proporsional, warna kulit sawo matang. Astaga,,,, aku tidak kuat, jika tidak menjerit." papar perempuan yang berjalan di depan Nara, dengan beberapa kali dia menoleh ke belakang.


Nara geli bercampur jijik mendengar perkataan yang keluar dari mulut perempuan tersebut. "Kenapa mereka tidak tahu malu, berbicara seperti itu di tempat umum seperti ini." gumam Nara bergidik.


"Astaga, jika aku mempunyai lelaki seperti itu, aku tidak akan mengizinkannya keluar rumah. "ucapnya lebay.


"Benar, lelaki sempurna. Pasti banyak perempuan yang mengincar." sahut yang lain.


Nara melirik ke arah mereka. Dirinya sama sekali belum sadar, jika yang dibicarakan para perempuan tersebut adalah Viki, suaminya.


"Apa mereka tidak punya pasangan. Segitunya memuji lelaki lain. Tapi tenang saja abang, istrimu ini hanya akan memuji dirimu. Suamiku yang paling tampan." gumamnya, tersenyum melihat ke arah sang suami.


"Lihat-lihat, dia mengusap keringat. Oohh,,,,, tampan sekali...." pujinya dengan menyatukan telapak tangannya menjadi satu di depan dada dan menggoyang-goyangkan.


Mata Nara melotot tak percaya. Dari sekian banyak yang antri, hanya suaminya yang sedang mengelap keringat di kening.


Mulut Nara menganga, saat ada seorang perempuan dengan pakaian super seksi, menampilkan lekuk tubuhnya dengan pantat besar, dan juga dua buah benda di dadanya yang sebagian menyembul keluar karena pakaiannya tak mampu menampung semuanya.


Mendekati Viki, dan memberikan tisu untuk Viki. Nara memejamkan mata. Mengatur emosinya. "Jadi, sedari tadi, mereka membicarakan suamiku. Tidak bisa dibiarkan."

__ADS_1


Nara berdiri, menyusul Viki dan ikut mengantri. "Sayang, astaga,,,, kamu keringetan ya."


Nara mengambil tisu yang disodorkan perempuan seksi tersebut. "Terimakasih."


"Sayang, membungkuk sedikit." Nara mengelap wajah sang suami yang berkeringat.


Mata Nara melirik ke sana ke sini, di mana para perempuan tadi membicarakan sang suami. "Lelaki tampan yang kalian incar. Dia hanya milik seorang Nara." kesalnya dalam hati.


Viki hanya bisa menerima apa yang dilakukan sang istri, tanpa tahu jika saat ini Nara sedang memamerkan dirinya pada semua orang.


Bahwa, lelaki dengan paras sempurna bak pahatan patung dewa Yunani dengan badan idaman tersebut adalah miliknya.


Nara bergelayut manja di lengan Viki. "Panas sayang, kamu tunggu saja di sana lagi." pinta Viki, tidak tega sang istri terbakar teriknya sinar matahari.


Nara menggeleng kencang. Dengan wajah masam. "Aku maunya di sini, sama abang." kekehnya.


Viki mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Tak lama setelah Viki memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya, datang seorang lelaki membawa payung. Dan memberikannya pada Viki.


Sebenarnya Viki bisa menyuruh bawahannya untuk mengantri makanan. Namun dirinya tidak ingin dipandang remeh oleh Nara.


Viki membuka payung, membuat dirinya dan Nara tidak lagi kepanasan. Selain Viki, juga ada beberapa orang yang antri, yang juga menggunakan payung untuk menghalau sinar matahari.


"Kenapa tidak dari tadi?" tanya Nara.


"Karena suamimu ini tahan, meski cuaca sangat terik. Dan sekarang, mana tega aku membiarkan kulit istri kecil cantikku tersengat panasnya matahari."


Nara tersenyum dengan menggelembungkan pipinya, tanda dirinya tersipu malu.


"Enak...??" tanya Viki, melihat Nara makan dengan lahap.


Tidak sia-sia Viki mengantri panjang, berdempetan, dan kepanasan meski sebentar. Melihat sang istri makan dengan lahap, membuat Viki senang.


Viki menggeleng saat Nara hendak menyuapinya. "Kamu saja. Aku tidak menyukai makanan seperti itu." jelas Viki.


"Padahal ini enak." Nara berbicara dengan mulut penuh makanan, membuatnya terlihat lucu.


"Kenapa, perut kamu sakit?" tanya Viki cemas, saat Nara menarik nafas panjang dengan membusungkan dada.


Viki menutup makanan yang ada di hadapan sang istri. "Jangan dilanjutkan. Nanti kamu malah muntah."


"Tapi ini benar-benar enak suamiku." Nara mengapresiasi makanan yang ada didepannya.


"Kita istirahat sebentar. Lalu jalan lagi." Nara mengangguk, dan menyenderkan kepalanya di dada sang suami. "Nanti kita bawa pulang ya sisanya. Aku mau makan lagi."


Viki hanya mengangguk, padahal Nara tidak melihatnya.


Cukup ramai, dengan suara para pengunjung yang ada berpaduan dengan suara musik. Viki merasa aneh. Sebab makin lama tubuh Nara semakin condong.


Dan ternyata benar dugaan Viki. "Kenyang, mengantuk, tertidur." Viki menggeleng, melihat sang istri tidur dengan sangat mudah.


Bahkan sama sekali tidak terganggu suara berisik di sekitarnya. Atau mungkin karena Nara sudah terbiasa saat tinggal di pemukiman padat, tempatnya memulung dulu.


Viki membenarkan posisi badan sang istri. Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Tak berselang lama, sebuah mobil mewah masuk ke area bebas kendaraan.


Sontak, kejadian tersebut membuat semua mata menoleh dan melihat ke arah mobil. Penasaran, orang berkuasa, seperti apa yang mempu membawa masuk sebuah mobil mewah ke dalam.


Tanpa rasa risih sedikitpun akan pandangan banyak orang, Viki menggendong Nara dan masuk ke dalam mobil.


Bagi Viki, sudah makanan sehari-hari jika banyak mata yang memandangnya. Entah pandangan hormat, memuji, ketakutan ataupun menghina.


Bukan cacian atau hinaan yang terlontar dari mulut para pengunjung yang rata-rata perempuan tersebut. Tapi pujian akan kasih sayang seorang Viki.


Hingga dia rela merogoh uang yang pastinya berjumlah besar, hanya untuk bisa membawa masuk mobil ke dalam. Untuk perempuannya yang sedang tertidur.


Tak ingin kehilangan momen, mereka bahkan merekam aksi Viki tersebut. Bahkan ada yang menyiarkannya secara langsung.


"Bawa makanan itu juga." perintah Viki.

__ADS_1


Viki hanya tidak ingin, saat Nara bangun makanan tersebut tidak ada. Nanti dirinya yang akan repot. Kembali membelinya dengan cara mengantri panjang. Sungguh melelahkan.


"Sebaiknya nanti aku berikan pada chef di rumah. Supaya mereka membuat makanan seperti itu." dengus Viki, teringat perjuangannya memperoleh makanan tersebut.


"Jalan." perintah Viki, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Viki menidurkan Nara, dengan memakai pahanya sebagai bantal sang istri. "Apa perlu saya lenyapkan berita mengenai anda tentang ini, Tuan."


Bibir Viki tersenyum. "Biarkan saja." Viki memandang wajah sang istri yang nampak cantik, tertidur bagai putri tidur.


Dann... tar...... Giska mengamuk lagi, untuk kesekian kali selama dia tinggal di rumah Tuan Smith.


Giska meradang, dengan emosi mencapai puncak. Melihat bagaimana perlakuan Viki terhadap sang istri. Nara.


"Seharusnya gue yang ada di sana. Gue yang Viki gendong. Bukan pemulung sampah seperti kamu..!!!" teriak Giska.


Plakkk..... sebuah tamparan mendarat ke pipi Giska.


Tanpa Giska tahu, Nyonya Binta masuk ke dalam kamarnya. Awalnya, Nyonya Binta ingin mengajak Giska makan.


Nyonya Binta bukan perhatian pada Giska, namun khawatir akan bayi yang dikandung oleh Giska. Yang dia pikir itu adalah calon cucunya.


Namun siapa sangka, Nyonya Binta malah melihat Giska menonton video dimana Viki menggendong Nara dan di masukkan ke dalam mobil.


"Kamu...!!!" geram Giska, memegang pipinya yang di tampar Nyonya Binta.


"Jika masih ingin hidup dengan damai. Jaga mulut busuk kamu itu. Perempuan yang kamu bilang pemulung sampah itu, adalah putriku. Putri kebanggaan kami. Jangan membuatku melakukan hal yang lebih dari ini. Paham...!!" seru Nyonya Binta.


Tentu saja Nyonya Binta tidak senang mendengar apa yang dilontarkan oleh mulut Giska.


Giska tertawa terbahak-bahak. Membuat Nyonya Binta memandangnya aneh. "Putri. Putri kebanggaan. Putri tiri. Ingat..!! Tidak mengalir darah anda di dalam tubuhnya..!!" bentak Giska.


"Dan baru saja, tangan itu menampar perempuan yang sedang mengandung cucumu. Cucu kandungmu. Darah daging dari putramu." lanjut Giska menggebu-gebu.


Nyonya Binta tersenyum sumir. "Jika boleh memilih, aku tidak rela, perempuan seperti kamu mengandung cucuku. Pewaris keluargaku." tekannya.


Giska tersenyum sinis. "Tapi sayangnya, anda tidak bisa memilih."


"Saya yakin, Nyonya Gina juga pasti pernah merasa menyesal. Melahirkan perempuan iblis seperti kamu...!!" geram Nyonya Binta.


Giska merasa jika ucapan Nyonya Binta keterlaluan, tangannya terangkat untuk menampar Nyonya Binta. Namun sayangnya, seorang pelayan menangkap tangan Giska, hingga tidak sampai mengenai Nyonya Binta.


"Lebih baik anda keluar Nyonya. Percuma, berbicara dengan perempuan seperti dia." ucapnya, memandang Giska dengan tajam, serta memegang erat tangan Giska, yang sedang berusaha untuk lepas.


"Memang, bisa-bisa aku malah stres berurusan dengan perempuan macam dia." sindir Nyonya Binta, segera meninggalkan kamar Giska.


Nyonya Binta mengomel sembari berjalan ke ruang makan. "Tuhan, lama-lama aku bisa darah tinggi. Jika perempuan iblis itu ada di sini." keluh Nyonya Binta, dengan wajah kesal bercampur sebal.


Plak,,,, Tangan Giska langsung menampar pelayan tersebut, setelah tangannya bebas. "Lancang...!!! Seorang budak seperti kamu, berani sekali memegang tanganku..!!" bentak Giska.


Pelayan tersebut hanya tersenyum sinis. "Nona muda, mau bertaruh." tantangnya dengan berani.


"Jika pemilik rumah di suruh memilih. Mereka akan memilih saya, atau anda. Nona muda, untuk tetap bertahan di rumah ini." sambungnya.


Giska mengepalkan tangannya, merasa dihina oleh pelayan tersebut. "Meski saya hanya pelayan, setidaknya saya masih berguna. Tidak seperti anda." ejeknya, semakin membuat Giska emosi.


"Dan lagi, saya tidak gratis untuk tinggal di sini. Saya bekerja, dan dibayar. Bukan hanya sekedar menumpang. Gra-tis." pelayan tersebut melenggang pergi meninggalkan Giska yang emosinya sedang berada di puncak.


Saat di ambang pintu, pelayan tersebut tak lantas pergi. Dia membalikkan badan dan kembali membuat Giska menyembulkan kedua tanduknya.


"Silahkan banting semua barang di dalam kamar ini. Keluarga Tuan Smith, tidak pernah mencatat, berapa mereka bersedekah."


"Kamu....!!!" Giska melepas sendal di kakinya, melemparkan ke arah sang pelayan. Namun sayang, sendal tersebut mengenai pintu.


Sang pelayan lebih dulu menutup pintu. "Hah,,,, semoga, Tuan muda Renggo segera menceraikan perempuan seperti dia. Astaga,,, aku tidak bisa membayangkan. Bagaimana perempuan gila seperti dia akan mendidik anaknya. Mengerikan." ucapnya bergidik ngeri.


"Lagi pula, tidak baik juga. Jika Tuan Renggo terus bersama dia. Apalagi Giska sangat membenci Nyonya kecil Nara."

__ADS_1


Mengatakan kata Nara, membuatnya sangat ingin bertemu dengan istri Viki tersebut. Lantaran, setiap hari Nyonya Binta selalu bercerita tentang sosok Nara.


__ADS_2