VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
Part 09. ReSa


__ADS_3

Suasana hati Renggo berangsur kembali membaik. Melihat jika Erlangga dan Sara sama sekali tidak melakukan sentuhan fisik.


Bahkan Sara hanya melambaikan tangan saat Erlangga meninggalkan rumahnya.


Membuat Renggo semakin mencintai calon istrinya tersebut. Terlebih Sara sama sekali tidak menyinggung permasalahan keluarganya di depan Erlangga.


Cukup membuktikan, jika Sara adalah perempuan yang tepat untuk menjadi menantu keluarga Tuan Smith. Istri dari Renggo.


"Meski kamu tahu, jika baby Al bukan putraku. Kamu tetap menyayanginya. Bahkan kamu juga menerima keburukan diriku di masa lalu. Aku benar-benar lelaki beruntung." gumam Renggo tersenyum.


Membayangkan wajah ayu calon istrinya yang meneduhkan hatinya. Renggo mengeluarkan ponsel. Memandang foto Sara dan baby Al di layar ponselnya. "Aku akan menjaga kalian berdua." mengusap layar ponselnya.


Sekarang yang ada dalam benak Renggo hanya satu. Untuk apa Erlangga mengambil rambut baby Al. Renggo menyenderkan tubuhnya di kursi.


Kedua telapak tangannya menyatu, dengan berada di depan mulutnya. Kening Renggo mengerut. "Hanya satu kemungkinan. Tes DNA." tebak Renggo.


Renggo berdiri. Menggeleng tidak percaya. "Mustahil. Tapi bagaimana jika benar adanya." gumam Renggo, sedikit membuatnya gusar.


Baby Al bukan putra kandungnya. Dan itu sudah terbukti dengan tes DNA antara dirinya dan baby Al sendiri, saat masih di dalam kandungan.


Dan untuk menyakinkannya dirinya lagi, Renggo kembali melakukan tes DNA saat baby Al berusia beberapa bulan.


Dengan hasil yang tetap sama. Jika mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah. "Selama menikah aku tidak pernah berhubungan badan dengan Giska." gumam Renggo. Mulai berpikir.


Renggo mengingat-ngingat, kapan terakhir kali dirinya dan Giska berhubungan badan. "Sudah dua tahun, aku sama sekali tidak menyentuh Giska. Bahkan mungkin lebih."


Renggo berusaha menghitung saat baby Al berada di dalam perut Giska, hingga sekarang. Renggo memanggil sang sekertaris untuk masuk. "Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sopan.


"Ambilkan kalender tahun lalu dan tahun sebelumnya." perintah Renggo.


"Baik." segera keluar dan melakukan perintah Renggo.


Di ruangan Renggo sudah tidak ada kalender tahun sebelumnya. Setiap berganti tahun, dengan segera sang sekertaris mengganti dengan kalender baru.


Menyimpan kalender lama di gudang arsip atau malah membuangnya.


Sang sekertaris masih di dalam gudang, mencari kalender yang diinginkan atasannya. Padahal dia bisa tetap duduk di mejanya. Mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk.


Dan menyuruh OB atau OG untuk mencari kalender yang diinginkan Renggo. "Hari ini Tuan Renggo sungguh aneh. Tadi marah-marah tidak jelas." gerutunya, memilih kalender yang diinginkan atasannya.


Sang sekertaris memegang dua buah kalender. "Sekarang meminta kalender kadaluarsa." ucapnya, menghilangkan debu dari kalender tersebut. Sebelum diberikan pada atasannya.


Sang sekertaris berjalan santai menuju ke ruangan Renggo. "Untuk apa kalender-kalender ini. Membingungkan." gumamnya.


Tanpa dia tahu. Jika sebentar lagi dirinya akan kena amukan dari Renggo kembali. Karena kelakuan orang lain.


Di ruangannya, Renggo berdiri di dekat jendela. Menatap kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Dengan pikiran menebak apa yang dilakukan Erlangga.


Suara high hell yang beradu dengan keramik, membuat lamunan Renggo buyar. "Letakkan saja di atas meja." perintahnya tanpa menoleh ke belakang. Mengira jika itu adalah sang sekertaris.


Grepp.... "Apa yang diletakkan di atas meja, hemm..." sebuah tangan melingkar di perutnya.


Renggo segera melepas tangan tersebut dan membalikan badan. "Surprise!" seru Giska tersenyum lebar, merentangkan kedua tangannya.


Renggo memandang tajam. Kedua rahang merapat erat, membuat gigi-giginya gemeletuk saling beradu. "Kamu..!!" geram Renggo, menatap sengit perempuan tak tahu malu di depannya.


Suasana hati yang baru saja membaik, kini kembali memburuk. Dan malah bertambah buruk. Melihat siapa yang ada di depan matanya.


Renggo berteriak memanggil sang sekertaris. Dirinya yang baru saja sampai di depan ruangan Renggo, segera bergegas masuk ke ruangan atasannya tersebut.


Saat mendengar atasannya memanggil namanya dengan cara tak biasa. Berteriak penuh amarah. Kedua mata sang sekertaris melotot sempurna, melihat siapa yang berada di dalam ruangan Renggo.


"Maaf Tuan, saya sedang mencari kalender yang anda inginkan." ungkapnya, mendapat pandangan tajam dari atasannya tersebut.


Giska memandang sinis sang sekertaris. "Sudahlah Renggo, jangan jual mahal. Aku tahu kok, kemarin kamu hanya mau ngetes aku kan?"


Giska dengan tak tahu malu malah mendekat ke tubuh Renggo. "Aaa..." teriak Giska.


Tangan Renggo mencengkeram kedua pipi mulus Giska. "Jika tidak ingat kamu adalah perempuan yang melahirkan putraku, tanpa ragu aku akan melenyapkanmu." desis Renggo.


"Sak--sakkit,,, Renggo. Lep-lepp-passs." ucap Giska dengan terbata.


"Jangan pernah uji kesabaran diriku, Giska." geram Renggo. Semakin lama kelakuan Giska semakin menjadi-jadi.


Renggo melepaskan tangannya, mendorong tubuh Giska ke belakang. Renggo menatap tajam sang sekertaris.


"Silahkan keluar Nyonya." usir sang sekertaris.


"Diam...!!" bentak Giska, menunjuk tepat ke wajah sang sekertaris.


Giska mengalihkan pandangannya, kembali menatap Renggo. "Aku tahu, kamu kecewa. Maaf, aku mengaku salah. Kita bisa mulai dari awal, sayang. Membesarkan putra kita bersama. Baby Al." rayu Giska, menyebutkan nama anak yang dilahirkannya.

__ADS_1


Bahkan sekarang mungkin Giska juga tidak tahu, bagaimana wajah sang anak yang pernah berada di dalam perutnya.


Sejak lahir di dunia, hingga sekarang. Giska sama sekali belum pernah menyentuh tubuh mungil sang bayi.


Bagaimana mau menyentuh, memandang saja tidak pernah. Sungguh seperti pohon pisang. Punya jantung, tapi tidak punya hati.


"Renggo, aku tahu. Kamu masih sangat mencintai aku. Aku juga. Maaf, kemarin aku hanya emosi. Seharusnya kamu mengerti, itu efek setelah aku melahirkan. Dan sekarang, sekarang aku sadar. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Kamu maukan?" pinta Giska.


"Kita bertiga. Kamu, aku, dan putra kita. Keluarga kecil yang lengkap." Berharap Renggo akan luluh padanya. Percaya dengan apa yang dia ucapkan dari mulutnya yang terdengar manis.


Sang sekertaris menatap Giska dengan tatapan aneh. "Perempuan bermuka badak." ucapnya dalam hati.


Renggo hanya diam. Bukan memandang Giska, namun memandang sang sekertaris dengan tajam.


Giska tahu ke mana arah pandangan Renggo. Membuatnya berang. Menatap sinis ke arah perempuan di sampingnya.


Mengira jika Renggo mempunyai perasaan pada sang sekertaris. Hingga Renggo lebih memilih memandangnya ketimbang dirinya. "Baik Tuan." ucapnya segera. Tahu apa arti pandangan atasannya tersebut.


"Hey,,, apa yang kamu lakukan?!" teriak Giska.


Tak ingin kalah, dia menatap Giska dengan tatapan menyalang. Merasa jengah dengan sikap mantan Nyonya nya tersebut.


Yang selalu membuat dirinya berada dalam masalah. "Keluar...!!" diseretnya tangan Giska untuk keluar dari ruangan Renggo.


"Keamanan...!!" teriaknya, saat sudah berada di luar ruangan atasannya.


Di dorongnya tubuh Giska ke belakang, beruntung tangan Giska dengan cepat menjadikan tembok sebagai penguatnya. Sehingga dia tidak terjerembab ke bawah. "Kamu...!!" seru Giska.


Giska melayangkan tangannya ke udara. Ingin menamparnya. Tapi dia tidak tinggal diam. Di cekalnya lengan Giska yang masih berada di udara.


"Seret dia pergi dari sini." kembali didorongnya tubuh Giska ke belakang, setelah pihak keamanan datang.


"Ingat wajahnya. Jangan sampai dia kembali menginjakkan kaki di sini. Jika sampai kalian lalai. Tanggung akibatnya." ancamnya.


"Sekertaris brengsek...!!!" Giska diseret keluar dari perusahaan Renggo. Segala umpatan keluar dari mulut Giska.


"Hah... dari dulu. Hidup gue susah hanya karen elo. Dasar perempuan sinting." dengusnya.


Kembali dia menormalkan emosinya. Rasanya sungguh menyenangkan. Bisa mengusir perempuan ulat itu dari perusahaan.


Sebelum menjadi istri Renggo, Giska juga sering ke sini. Bertindak dan menyuruhnya seenak jidat. Menjadikan pekerjaannya terbengkalai.Hanya karena menuruti semua keinginan kekasih dari atasannya.


Dirapikannya kembali penampilannya yang sedikit acak adul. "Rasanya sungguh puas. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui." ucapnya sambil menepuk-nepukkan telapak tangannya.


Puas karena berhasil meluapkan emosinya yang terpendam selama ini. Dan juga, bisa menjauhkan Giska dari atasannya.


"Tenang Nona Sara, selama berada di perusahaan, saya akan menjaga Tuan untuk anda." ucapnya tersenyum senang.


"Tuan." gumamnya, segera kembali masuk ke dalam ruangan atasannya.


Terlihat Renggo duduk di kursi kebesarannya. Menyenderkan badannya dengan mata terpejam, dan tangan memijat pelipisnya. "Kenapa semakin hari pekerjaan semakin memburuk!!"


"Maaf Tuan, saya tidak akan mengulangi lagi kesalahan saya. Izinkan saya untuk tetap bekerja di sini. Jangan memecat saya Tuan. Saya membutuhkan pekerjaan ini. Angsuran saya masih panjang dan banyak, Tuan. Saya..."


"Huussstttt...." Renggo menyuruhnya diam. "Mendengar ocehanmu, membuat kepalaku bertambah pusing." kesal Renggo.


"Saya bisa memijat Tuan." tawarnya.


Renggo membuka mata, menatapnya tajam. "Maaf." dia menundukkan wajahnya, menyesal. Kenapa mulutnya akhir-akhir ini tidak bisa di kontrol.


"Keluar." usir Renggo.


"Tuan." ucapnya mengiba.


Renggo memejamkan mata sesaat. "Keluar. Dan kerjakan tugas kamu dengan baik." tegas Renggo.


Dia tersenyum. "Berarti saya tidak dipecat Tuan. Terimakasih." ucapnya, dan segera keluar dari ruangan Renggo.


"Astaga..." desah Renggo.


Renggo memejamkan mata sebentar. Mengatur kembali emosinya yang baru saja meletus seperti gunung berapi.


Tangan Renggo terulur mengambil dua kalender berbeda tahun tersebut. Melihatnya dengan memikirkan sesuatu.


"Ini, aki harus tahu. Kemana saja Giska di bulan ini." gumam Renggo.


Di bulan dan tahun tersebut Renggo yakini sebagai awal kehamilan Giska. Dan sudah tiga bulan sebelum itu, dirinya dan Giska sama sekali tidak berhubungan.


Renggo mengeluarkan ponselnya. Menyuruh seseorang untuk menyelidiki apa saja yang dilakukan Giska pada tanggal dan tahun yang dia curiga, di mana Giska sedang bersama laki-laki lain. Menghasilkan baby Al.


"Jika benar Erlangga adalah ayah biologis baby Al. Aku harus merencanakan sesuatu. Tidak akan aku biarkan mereka mengambil putraku dengan mudah." gumam Renggo, tidak akan pernah melepaskan baby Al ke tangan orang lain.

__ADS_1


Sampai di apartemen, Giska mengamuk sejadi-jadinya. Membanting apapun yang dapat diraih oleh tangannya. Ruangannya terlihat kacau dan sangat berantakan.


"Renggo. Hanya dia sekarang yang ada dalam otak gue."


Jumlah uang yang sangat banyak, yang dia dapat dengan meminta pada sang papa sudah menipis dengan begitu cepat.


Gaya hidupnya yang serba mewah dan glamor, membuatnya dengan mudah mengeluarkan uangnya tanpa berpikir panjang. Tanpa ada pemasukan sama sekali.


Setiap malam selalu keluar, menghamburkan uang untuk mentraktir teman-teman sosialitanya. Berbelanja dan mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu.


Dan sekarang, saat uangnya sudah menipis Giska merasa kebingungan sendiri. Meminta tolong pada teman sosialitanya.


Tidak mungkin. Seorang Giska tentu saja tidak ingin terlihat miskin di depan semua orang. Dia akan tetap menjadi Giska yang cantik, seksi, dan kaya raya.


Duduk di kursi empuk dan panjang. "Nggak... Harus. Gue harus mendapatkan Renggo kembali. Jika tidak, gue mau kerja apa." ujarnya frustasi.


Giska sama sekali tidak memiliki ketrampilan dan kemampuan apapun. Selama hidup, dirinya hanya bisa mengandalkan uang orang tuanya.


Hanya satu yang Giska bisa. Dia sangat lihai bermain di atas ranjang. Memuaskan lawan mainnya. Mana mungkin dirinya akan menjadi ****** untuk menghasilkan uang.


Tapi mungkin itu akan terjadi, jika memang Giska sudah tidak mempunyai jalan keluar lain. Menjual tubuhnya untuk bisa bergaya hidup mewah.


Giska tersenyum jahat. Mendapatkan rencana lain untuk membuat Renggo kembali ke dalam kendalinya. "Putra mama. Mama akan datang sayang. Kamu harus membantu mama. Kita bertiga akan kembali bersatu. Berkumpul menjadi keluarga yang utuh."


Baby Al. Jika mendekati Renggo dengan jalan biasa tidak bisa digapai. Giska akan menggunakan sang anak untuk memuluskan jalan tersebut.


Senyum Giska kembali luntur, melihat betapa kacaunya apartemen karena ulahnya sendiri. "Ckk,,, menyebalkan." decaknya.


Bukannya membersihkan kekacauan yang dia ciptakan sendiri. Giska lebih memilih menelpon jasa bersih-bersih.


Di sebuah ruangan, di rumah sakit besar. Erlangga menemui sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter. "Apa maksud kamu?"


Erlangga membuka masker, kacamata, serta topi di kepalanya. Memberikan sehelai rambut pada sang dokter.


"Lakukan tes DNA." ujar Erlangga.


Tes DNA. Sahabatnya yang berperan sebagai dokter masih belum paham. "Tes DNA. sehelai rambut. Lalu aku harus mengetes dengan siapa?"


Erlangga menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Dengan aku." ucapnya lirih, tak terdengar di telinga sang dokter.


Tentu saja Erlangga merasa malu. Dirinya selama ini dikenal sebagai sosok yang dingin terhadap perempuan. Tiba-tiba datang. Menginginkan tes DNA. Menggelikan dan memalukan.


"Hah,,, apa?!"


"Ckk,,, Cocokkan dengan diriku. Aku ingin tahu hasilnya." decak Erlangga kesal.


Sang dokter mengambil sehelai rambut di depannya. Mengamatinya. "Ini rambut anak-anak."


Dia memandang Erlangga dengan tatoan menyelidik. "Lakukan saja apa yang aku inginkan."geram Erlangga.


Tatapan sang dokter yang juga sahabatnya, seolah?olah sedang bertanya dan ingin mengintrogasi dirinya. "Dasar. Anti perempuan. Tiba-tiba mempunyai anak. Sungguh ajaib." sindirnya.


Erlangga tidak peduli dnegan apa yang dikatakan dan dipikirkan sahabatnya tersebut. Dirinya hanya ingin segera mengetahui hasil dari tes tersebut.


"Kapan hasilnya akan keluar?" tanya Erlangga, setelah sang dokter sedikit mengambil darah dari tubuhnya.


"Nanti akan aku hubungi jika hasilnya sudah keluar." ucapnya, menaruh darah yang berada di tabung kecil tersebut ke sebuah kotakan.


"Jangan lama-lama. Aku ingin secepatnya." desak Erlangga.


"Mana bisa. Semua butuh proses." kesal sang dokter.


"Apa?!" tanya Erlangga jutek, saat dirinya ditatap intens oleh sang dokter.


"Siapa perempuan itu?" tanyanya penasaran.


"Tidak penting." jawab Erlangga sekenanya.


Dan dokter tertawa sumbang. "Tidak penting. Apa Sara?" tanyanya lagi.


Dirinya hanya mengetahui jika Erlangga hanya dekat dengan satu perempuan saja. Sara.


Apalagi sang dokter tahu, jika tiba-tiba Sara menghilang dari dunai hiburan. "Makanya Sara mengundurkan diri dari dunia hiburan. Benar?" tebaknya.


"Elo dokter gila. Sara baru mengundurkan diri beberapa minggu yang lalu. Dan gue ke sini sudah membawa rambut." sungut Erlangga.


"Gue kadang bingung. Kenapa elo bisa jadi dokter." ejek Erlangga.


"Sialan." ucapnya, melempar buku pada Erlangga.


Erlangga hanya tersenyum menanggapi rasa kesal dari sahabatnya tersebut. Kembali memakai penutup wajah. Erlangga keluar dari ruangan sang dokter.

__ADS_1


__ADS_2