VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 27


__ADS_3

"Tuan, di depan ada Tuan Marko. Beliau ingin bertemu dengan anda." ucap Rey, memberitahu Viki.


Tangan Viki yang sedang menandatangani berkas penting, mengambang di udara. Di letakkannya pena, dan tangan terulur melepas kacamata baca di wajahnya.


"Beliau datang seorang diri." jelas Rey, sebab Viki hanya diam dan menatap ke arahnya. Mungkin Viki mengira jika Tuan Marko datang bersama putrinya. Giska.


"Mungkin ini soal ketidak hadiran Tuan memenuhi undangan saat makan malam di kediaman beliau." imbuh Rey.


"Suruh masuk. Buatkan minuman hangat." ucap Viki, lantaran di dalam ruangannya hanya ada minuman dingin yang berada di dalam kulkas.


"Baik." ucap Rey sedikit menundukkan badan dan berjalan keluar.


Viki dengan tatapan rumit memandang ke arah pintu. Begitu pintu bergerak, Viki berdiri. Menyambut kedatangan Tuan Marko.


Bagaimanapun juga keduanya tidak mempunyai masalah. Dan sebagai pemilik perusahaan, Viki akan memperlakukan tamu dengan baik. Asal dia datang dengan niat baik dan tidak membuat kekacauan.


"Selamat datang Tuan." Viki mengulurkan tangan. Dengan wajah datar, Tuan Marko menyambut uluran tangan dari Viki.


"Silahkan." ucap Viki mempersilahkan Tuan Marko duduk di kursi empuk yang tersedia di dalam ruangan Viki. Yang memang diperuntukkan menerima tamu.


"Terimakasih." ucap Tuan Marko, duduk dengan membenahi jas yang terpasang di badannya.


Tanpa basa-basi, Tuan Marko langsung membuka percakapan. "Sepertinya anda bisa menebak tujuan saya datang kemari. Kenapa anda menolak undangan makan malam dari saya?" tanya Tuan Marko menatap tajam ke arah Viki, seperti laser yang hendak menembus.


Tapi sayang, Viki sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan yang di berikan oleh Tuan Marko. Dirinya malah tersenyum dengan hangat. "Maaf Tuan, saya tidak menghadiri suatu acara ataupun undangan tanpa alasan." jawab Viki menohok.


"Maksud kamu, undangan makan malam dari saya tidak penting." ucap Tuan Marko dengan tenang. Tapi terlihat dari raut wajahnya, jika beliau menahan rasa kesal atas jawaban yang dilontarkan dari mulut Viki.


"Begitulah menurut saya. Karena ada sesuatu yang lebih penting yang harus saya lakukan." ucap Viki tersenyum ramah. Tapi sayangnya, senyum Viki dianggap Tuan Marko seperti meremehkan dirinya.


"Makan malam bersama keluarga saya lebih penting." ucap Viki dengan tegas.


Rey masuk ke dalam ruangan Viki membawa dua cangkir minuman. Meletakkannya di atas meja di depan keduanya.


"Maaf Tuan, setengah jam lagi anda akan menemui klien dari Singapure." ucap Rey memberitahu Viki. Entah hanya mengingatkan, atau memang Rey punya maksud tersendiri memberitahu Viki. Padahal di dalam masih ada Tuan Marko.


Viki hanya mengangguk. Dengan sopan, Rey keluar dari ruangan. Tidak ingin mengganggu percakapan Tuannya dengan tamunya. Tuan Marko.

__ADS_1


"Silahkan diminum." ucap Viki, mengambil gelas miliknya dan menyeruput kopi yang masih panas. Tetapi terasa lebih nyaman di tenggorokan.


Berbeda dengan Viki, Tuan Marko malah terdiam. Dengan mata fokus memandang ke arah Viki yang terlihat sangat santai.


"Pastinya kamu tahu, jika putriku menyukaimu." ucap Tuan Marko penuh penekanan.


"Dan pastinya, putri Tuan Marko juga tahu, jika saya tidak menyukainya." balas Viki.


"Saya akan memberikan apapun untuk kamu. Jika menerima putri saya." tawar Tuan Marko.


Viki terkekeh pelan. "Apa saya terlihat seperti seseorang yang kekurangan." ujar Viki.


"Kamu tahu saya. Saya bisa melakukan apapun, jika ada orang yang menentang keinginan saya." ancam Tuan Marko.


"Maaf Tuan saya tidak menjual rasa suka dan cinta saya dengan materi." ucap Viki masih tetap tenang dan tersenyum.


"Orang tua kamu akan terkena imbasnya." ancam Tuan Marko menakut-nakuti Viki.


"Orang tua saya lebih menyayangi saya. Dan saya jamin, mereka akan selalu mendukung keputusan saya." ucap Viki.


"Sebenarnya kita tidak pernah mempunyai masalah bukan? Di sini hanya ada satu titik, yang menjadikan masalah ini rumit." ucap Viki mulai serius. Dan Tuan Marko melihatnya.


"Perasaan putri anda terhadap saya bukan cinta. Tapi obsesi. Mungkin sedari kecil dia sudah terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Tapi ingat Tuan, tidak semua bisa berada di dalam genggaman tangan kita." ucap Viki.


"Saya tahu apa yang harus saya lakukan." seru Tuan Marko. Beliau merasa tersinggung dengan perkataan Viki. Yang seolah didikan dari dirinya pada Giska adalah kesalahan.


"Dan saya juga tidak mau mencampuri apa yang ingin anda lakukan." ucap Viki dengan nada sedikit naik.


Tanpa menyentuh gelas di depannya, Tuan Marko meninggalkan ruangan Viki. Tentunya dengan perasan kesal. Karena dirinya berniat membuat Viki mengikuti kemauannya. Yang ada Vikilah yang membuat dia menjadi emosi.


Beberapa menit setelah kepergian Tuan Marko, Nyonya Rahma datang. Beliau membawa makanan untuk putranya.


"Sayang, sepertinya tadi mama lihat papanya Giska." ucap Nyonya Rahma membuka rantang di atas meja.


Karena Nyonya Rahma memang sempat melihat beliau beberapa kali saat Tuan Marko mengantar istrinya menghadiri acara arisan. Dan Nyonya Rahma salah satu anggotanya.


"Iya." jawab Viki dengan pandangan melihat ke arah sang mama yang sibuk menaruh satu-persatu rantang di atas meja.

__ADS_1


"Apa kalian bekerja sama?"


"Tidak."


"Panggilkan Rey, kita makan bersama." suruh Nyonya Rahma. Karena selama Rey bekerja sebagai asisten Viki, sang mama juga selalu memperhatikan Rey.


Alasannya, kasihan jika Rey sampai sakit. Pasti putranya juga yang akan repot. Memang benar sih. Setelah memanggil Rey lewat ponselnya, dengan segera Rey masuk ke dalam ruangan atasannya tersebut.


"Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Nyonya Rahma masih menanyakan Tuan Marko.


"Soal Giska."


"Giska. Memang ada apa dengan Giska?" tanya Nyonya Rahma.


"Tuan Marko menginginkan Viki menerima Giska sebagai kekasihnya." ucap Viki.


"Emm,,, sayang, kenapa kamu tidak menyukai Giska." tanya Nyonya Rahma menanyakan alasan putranya.


Kenapa kamu tidak mencobanya." imbuh Nyonya Rahma memberi saran.


"Sejak pertama bertemu, Viki memang tidak menyukainya." ucap Viki lempeng.


Nyonya Rahma teringat perkataan Tuan Hendra, suaminya dan juga Ella. Supaya tidak terlalu memaksa Viki. Karena semua menyangkut tentang perasaan.


"Baiklah, nanti biar mama yang berbicara dengan Giska. Semua berawal dari mama." ucap Nyonya Rahma merasa bersalah pada Viki.


"Tidak apa-apa ma. Viki juga tidak terlalu memperdulikannya. Tapi, jika mama ingin berbicara dnegan Giska. Mama lebih baik berhati-hati." ucap Viki.


"Iya, kamu tenang saja."


"Ma, setelah ini Viki akan bertemu klien penting. Mama tidak apa-apakan pulang sendiri?" tanya Viki.


"Tidak masalah, setelah dari sini, mama akan ke kantor papa kamu dulu." jelas sang mama.


Dan Rey, dia hanya menjadi pendengar setia dari percakapan atasannya dengan Nyonya Rahma. Dengan tangan memasukkan makanan ke dalam mulutnya menggunakan sendok.


"Enak Rey?" tanya Tuan Rahma melihat Rey makan dengan tenang dan seperti sangat menikmati.

__ADS_1


Belum sempat Rey menjawab, Viki membuka mulutnya terlebih dahulu. "Enak lah. Gratis." celetuk Viki.


Rey hanya melirik ke arah Viki tanpa peduli. "Mantap Nyonya." puji Rey pada masakan Nyonya Rahma.


__ADS_2