VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 158


__ADS_3

Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Viki di bantu seseorang untuk menggunakan pakaian. Rey sang asisten menahan senyumnya.


Semua orang di ruangan bekerja seolah menahan nafas. Tentu saja mereka ketar-ketir.


Akhirnya Viki sendirilah yang menjadi model pengganti untuk Erlangga. Beberapa pakaian yang dirancang untuk Erlangga sangat pas dan tampak melekat sempurna di tubuh Viki.


"Jangan menyentuh tubuhku, meski hanya kulit." ujar Viki dengan nada dingin.


"Ba-baik Tuan." ucap seorang lelaki kemayu yang membantu Viki berpakaian.


"Rey...!!!" panggil Viki menggelegar.


"Gantikan dia. Tapi jangan sampai kamu menyentuh tubuhku." perintah Viki.


"Baik Tuan." ucap Rey, segera mengambil alih pekerjaan lelaki kemayu tersebut.


Semua bekerja dengan perasaan takut bercampur cemas. Sang atasan ada di antara mereka. Terlebih dengan suasana hati yang tidak baik. Tentu saja ketakutan tersendiri bagi mereka.


"Khemmm.. Tuan, apa perlu saya panggilan Nyonya Nara?" tanya Rey dengan hati-hati.


"Kamu pikir istriku bekerja untukku. Lalu apa gunanya kamu." ujar Viki.


"Ma-maf." ucap Rey merasa serba salah.


Selesai. Dengan penuh kehati-hatian dan beberapa drama, akhirnya Viki memakai baju yang digunakan untuk pemotretan.


Viki memandang dirinya dari pantulan cermin. Keningnya mengerut, melihat penampilannya. "Pakaian macam apa ini?" tanya Viki dengan nada lirih.


Untuk pemotretan pertama, Viki memakai baju dengan banyak kombinasi. Bahkan, Viki memakai beberapa pakaian yang dipadu padankan.


"Pakaian yang anda pakai adalah fashion untuk model lelaki jaman sekarang Tuan." jelas lelaki kemayu sembari merapikan pakaian Viki bagian belakang.


"Aku tidak bertanya padamu." ketus Viki.


Rey memandang lelaki kemayu tersebut. Mengisyaratkan dengan tangan, menyuruhnya untuk diam. Diapun mengerti, jika memang Viki saat ini sedang sangat sensitif.


Pemotretan di mulai. Sangat sulit. Itulah yang kini dirasakan oleh para kru pemotretan. Pasalnya Viki bergaya terlalu kaku. Dengan wajah sangat tegang.


"Aisshhh,,, kenapa lama sekali. Kalian tinggal memjepretkan kamera. Beres." kesal Viki, karena pemotretan terus diulang-ulang.

__ADS_1


Semua memandang ke arah Rey. Termasuk Sera. Sepertinya mereka meminta tolong pada sang asisten untuk membuat atasan mereka paham.


"Tuan, gaya berdiri anda terlalu kaku. Dan juga, ekspresi wajah anda sangat tegang. Jadi, saat difoto, tidak menghasilkan gambar yang bagus." jelas Rey.


"Kamu pikir gampang. Mudah. Coba kamu berada di sini." tantang Viki, memandang sengit pada sang asisten.


"Jika saya bisa, pasti saya akan menggantikan posisi anda. Tapi, anda tahu sendiri, jika pakaiannya tidak pas di tubuh saya." papar Rey.


Kenyatannya, Rey sangat bersyukur karena ternyata pakaiannya terlalu kedodoran untuk dirinya.


"Kamu lebih baik diam. Atau gajimu aku potong tujuh puluh persen untuk bulan depan." ancam Viki tak main-main.


Semua yang ada di ruangan tampak diam. Tak ada yang berani bersuara. Jika dengan sang asisten kepercayaan saja, Viki bisa memotong gajinya dengan begitu besar. Pasti Viki akan memecat mereka yang berani melawan atau mengguruinya.


Pemotretan kembali di mulai. Viki berusaha untuk melakukan sesuai arahan dari sang fotografer. Beruntung, pemotretan kali ini hanya termasuk dalam katagori biasa.


Sara dan Viki bahkan tidak perlu bersentuhan dalam pemotretan. Meski keduanya di potret menjadi pasangan, namun keduanya sama sekali tidak melakukan kontak fisik.


Semuanya tersenyum lega, setelah menghabiskan waktu lebih dari empat jam untuk pemotretan ini. Padahal biasanya, pemotretan hanya membutuhkan waktu tak lebih dari dua jam untuk segalanya.


Setidaknya, mereka sudah bekerja dengan keras. Terlebih Viki. "Hahhh....." suara helaan nafas terdengar begitu jelas dari mulut Viki.


Viki segera mendaratkan pantatnya di tempat duduk. Menghabiskan seluruh air minum di dalam botol plastik yang baru saja diberikan oleh Rey.


"Aku lebih baik berdebat dalam perebutan sebuah proyek, dari pada seperti ini. Sungguh melelahkan." keluhnya.


Semuanya tampak tersenyum melihat Viki yang kelihatannya sangat capek. Tanpa disuruh, Rey segera berganti profesi. Memijat pundak serta bahu Viki.


"Tapi anda sungguh hebat pak." puji Sara. Mereka sama sekali tidak memandang dari lamanya pemotretan, namun keteguhan Viki dalam berusaha untuk menjadi model pengganti.


"Terimakasih. Ini yang pertama dan terakhir kali saya menjadi model." ucap Viki memejamkan kedua matanya. Merasa capek.


Sara mengambil kursi, dan menempatkannya di sebelah Viki. "Bagaimana luka di tubuh bapak. Apakah sudah lebih baik?" tanya Sara lirih.


"Lumayan." jawab Viki singkat.


Beruntung, semua pakaian yang dikenakan dalam pemotretan adalah pakaian tertutup. Sehingga Viki tidak perlu khawatir lukanya akan terlihat.


Sara menyodorkan sebuah benda kecil pada Viki. "Ini minyak, sangat cepat membantu penyembuhan luka bakar." Rey segera mengambil minyak tersebut dari tangan Sara. Lantaran Viki masih memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Terimakasih." cicit Rey.


"Oleskan tipis saja. Gunakan setidaknya tiga kali sehari." papar Sera menjelaskan.


"Kamu dokter?!" tanya Viki ketus, membuka kedua matanya. Tangannya bergerak mengambil botol kecil di tangan Rey dengan cepat.


"Heh,, disini sudah ada petunjuk pemakaiannya. Lihat." cibir Viki.


Sara hanya tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. Berniat membantu, malah kena omel.


Tanpa berkata apapun, Viki pergi dengan membawa minyak yang diberikan oleh Sara. Namun langkahnya terhenti di pintu keluar. Kembali membalikkan badannya.


"Berikan mereka semua bonus." perintah Viki pada Rey.


Semuanya terdiam. Mencerna apa yang diucapkan oleh pemilik perusahaan di amna mereka bekerja. "Terimakasih Tuan...!!!" seru mereka bersama.


Tanpa mengatakan apapun, Viki kembali melanjutkan langkahnya. "Tuan Viki memang dingin. Tapi sangat tampan dan baik." puji kru perempuan.


Sara tersenyum melihat tingkah Viki. "Sara, ponselmu berdering." panggil seseorang, memberitahu Sara.


"Oke, ke sana." ujar Sara menaikkan intonasinya. Tangannya mengambil ponsel yang berada di dalam tas.


RENGGO


Itulah nama yang tertera pada layar ponselnya. Sara menghembuskan nafasnya dengan pelan. Menggeser gambar berwarna merah dilayar ponsel.


Menandakan jika Sara tidak ingin menjawab panggilan telepon dari Renggo.


Renggo, apa Renggo yang sama. Renggo suami dari Giska. Kakak tiri Nara. Jika memang benar, apa hubungan Sara dengan Renggo. Sepertinya terlalu rumit.


"Maaf, kita tidak ditakdirkan bersama. Kamu sudah mempunyai istri. Dan aku tidak ingin menjadi perempuan yang tidak mempunyai hati." ucap Sara dalam hati.


Benar, lelaki yang menghubungi Sara adalah Renggo. Suami dari Giska. Entah bagaimana keduanya bisa terlibat permasalahan hati.


Hingga Sara memilih untuk menjauh dari Renggo. Karena Sara mengetahui jika Renggo telah beristri. Sara bukan perempuan jahat.


Yang akan membuat perempuan lain menangis. Sara tidak mungkin akan berbahagia, di atas penderitaan dan air mata perempuan lain.


Mungkin itulah yang dipikirkan oleh Sara. Tanpa Sara ketahui, memang keluarga kecil Renggo sudah bermasalah tanpa kehadirannya.

__ADS_1


Sara mengambil nafas panjang. "Semoga keputusanku tepat." ucap Sara, memblokir nomor ponsel Renggo dari daftar kontak miliknya.


__ADS_2