
"Pagi semua." sapa Viki pada beberapa orang yang berada di meja makan.
Viki duduk di tempat biasanya dia mendaratkan pantatnya. "Bagaimana keadaan papa?" tanya Viki, setelah tadi malam melihat sebentar kondisi sang papa. Pagi ini Viki belum menjenguk papanya kembali.
Puspa yang berdiri tidak jauh dari mereka hendak mendekat dan mengatakan keadaan Tuan Hendra. Namun mulutnya kalah cepat dengan Nara yang lebih dulu memberitahu Viki.
"Masih sama seperti kemarin. Tapi Nara yakin, sebentar lagi Om Hendra akan duduk di sana lagi." ucap Nara, menatap kursi yang sekarang kosong.
Suster Puspa segera menjauh dengan perasaan dongkol, sebelum semuanya sadar akan kehadirannya. Padahal, Mbak Mira dan Mbak Siti sudah melihatnya sedari tadi.
Keduanya berpandangan dan tersenyum mengejek setelah suster Puspa menaiki anak tangga menuju ke kamar Tuan Hendra kembali. "Kelihatannya mata dan telinga kita harus lebih di asah lagi." ucap Mbak Mira pelan, hanya bisa di dengar Mbak Siti.
"Tenang saja. Mata dan telinga ini masih bisa bekerja dengan sangat amat baik. Seratus persen." timpal Mbak Mira.
Keduanya lantas pergi ke belakang, menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum kelar.
"Betul." celetuk Rini mengangkat kedua jempol tangannya. "Setiap hari Rini akan menemani Om Hendra. Abang tenang saja." lanjut Rini.
Nyonya Rahma tersenyum dam mengelus lembut rambut sepundak Rini yang di kuncir dua tersebut. Karena kemarin, Nyonya Rahma juga sempat melihat Rini mengajak berbicara sang suami dengan baik.
"Sebaiknya kita segera sarapan. Nanti Rini terlambat." ajak Nyonya Rahma.
"Cepat makannya, nanti abang antar kamu. Sekalian berangkat kerja." ucap Viki membuat Rini tersenyum lebar.
"Benar bang?" tanya Rini dengan semangat. Viki tersenyum simpul dan mengangguk. Nara dan Nyonya menggelengkan kepala melihat Rini yang tampak senang.
Viki lebih dulu menyelesaikan sarapannya. "Tunggu Abang di sini, habiskan sarapanmu. Abang mau ke atas sebentar." Viki segera kembali ke atas. Tepatnya ke kamar sang papa.
"Tuan." Puspa sedikit menundukkan kepala saat Viki masuk ke dalam. "Bagaimana keadaan papa?" tanya Viki dengan ekspresi datar, tanpa melihat ke arah Puspa.
"Masih sama seperti sebelumnya." Puspa mendekatkan badannya ke tempat Viki berada, yakni di tepi ranjang Tuan Hendra. "Pa, buka mata papa." Viki mencium pelan pipi sang papa.
__ADS_1
Viki lantas berdiri. "Jaga papa dengan baik." ucap Viki tanpa melihat ke arah Puspa dan berjalan keluar kamar Tuan Hendra.
Puspa langsung memegang dadanya. "Huffttt,,, baru berdekatan saja sudah segugup ini. Sumpah, ganteng plus wangi banget." ucap Puspa lirih. Memang apa yang di harapkan Puspa.
"Hati-hati bang." ucap Nara. Viki mencium singkat kening Nara. Dan juga kedua pipi Bima. Lantaran sekarang Nara mengantar Viki dan Rini sampai teras rumah dengan menggendong Bima.
Rini mengeluarkan kepalanya di balik jendela mobil. "Abang,,!! Ayoo!!" teriak Rini.
"Abang berangkat." ucap Viki masuk ke dalam mobil. Beberapa bawahan Viki memalingkan wajahnya saat Viki mencium kening Nara.
Mereka tidak ingin di anggap lancang. Karena melihat dengan sengaja adegan sedikit romantis dari atasannya yang jarang di lihatnya itu. "Ternyata Tuan bisa bersikap lembut juga pada perempuan." ucap mereka berbisik.
"Belajar yang rajin." ucap Viki, saat Rini turun dari mobil Viki karena sudah sampai di depan sekolah Rini.
Rini bersalaman dengan Viki di dalam mobil. "Baik Tuan." Rini berbicara dengan nada lucu, keluar dari dalam mobil.
"Nanti di jemput sama sopir." teriak Viki.
Rini menoleh kembali ke arah Viki. "Oke Tuan." seru Rini tersenyum renyah, membuat Viki menggelengkan kepalanya.
Mereka berjalan beriringan dan berbincang sambil berjalan masuk ke dalam kawasan sekolah. "Anak pintar." gumam Viki tersenyum.
"Bagaimana proyeknya?" tanya Viki duduk di kursi kebesarannya yang berada di ruangannya.
Hari ini, Viki meninggalkan rumah dengan tenang untuk bekerja di perusahaan. Karena dia menerapkan keamanan berlipat di kediamannya.
Selain menyuruh anak buahnya untuk berjaga bergantian di sekitar rumah bahkan sampai dalam rumah. Viki juga diam-diam menyuruh bawahannya untuk memasang CCTV semalam di setiap sudut rumah.
"Hampir berjalan sembilan puluh persen Tuan." jelas Rey.
"Tapi kita harus berhati-hati dengan beberapa orang yang sepertinya terlihat berada di pihak kita. Saya mencium bau pengkhianatan di sini." imbuh Rey.
__ADS_1
"Biarkan dulu, jika mereka berani bergerak lakukan sesuatu." Viki melempar flash disk di atas meja.
Segera Rey mengambilnya dan menyimpan di dalam saku jas yang dia pakai. Setelahnya Rey kembali ke dalam ruangannya. Membuka isi dari benda kecil yang baru saja di berikan oleh atasannya.
Kedua bola mata Rey membulat sempurna. Setelah mengetahui isi dari flash disk tersebut. "Dari mana Tuan Viki mendapatkan informasi sedetail ini." gumam Rey.
Rey sama sekali tidak menduga jika Viki sudah melangkah sangat jauh di depannya.
Di rumah, tampak Nara mulai kembali belajar bersama sang guru muda. Alif. "Bagaimana keadaan Tuan Hendra?" tanya Alif di saat Nara konsentrasi mengerjakan tugas yang dia berikan.
"Lebih baik." jawab Nara seadanya, karena memang dia fokus mengerjakan tugas. Dan juga, Nara tidak ingin terlibat perbincangan dengan Alif terkait masalah lain. Selain pelajaran yang akan dia dapat.
Puspa, yang membawa sebuah nampan berisi air turun dari tangga. Dia melihat saat Nara belajar bersama seorang lelaki muda yang lumayan tampan.
"Mbak Mira. Siapa dia?" tanya Puspa, menatap ke arah Nara dan Alif.
Mbak Mira menghentikan kegiatannya. "Guru privat Nara." jawab Mbak Mira dengan singkat, pandangannya menatap ke arah Nara yang sedang konsentrasi belajar.
"Guru privat. Kenapa tidak sekolah di sekolah biasa saja?" tanya Puspa semakin kepo.
Mbak Mira hanya mengangkat kedua bahunya. Dia malas untuk menjelaskan secara detail. "Nara masih sekolah. Bukannya dia calon istri dari mas Tuan Viki." tanya Puspa lagi, semakin penasaran dan terlihat bingung.
Tidak ingin menanggapi perkataan Puspa, Mbak Mira memilih untuk pergi. "Maaf Suster, pekerjaan saya masih banyak." ucap Mbak Mira.
"Tanya-tanya. Nggak penting." omel Mbak Mira.
Mbak Siti yang melihatnya, menegur Mbak Siti. "Hey, kenapa. Ngomong sendiri. Kesambet." celetuk Mbak Siti.
"Tuh,,, Puspa. Kepo banget. Semua di tanyakan. Lagian diakan di sini hanya selama Tuan Hendra membutuhkannya. Setelah itu bye,, bye..." kesal Mbak Mira.
"Biarkan saja. Nggak usah di tanggapi. Mbok Nah juga bilang, katanya dia tanya-tanya tentang Nara." ujar Mbak Siti.
__ADS_1
Puspa berada di dapur, tapi matanya seperti memantau Nara dan Alif. "Kelihatannya gurunya Nara suka sama Nara." Puspa tersenyum aneh.
Dengan tangan membersihkan sesuatu di wastafel, Puspa seperti sedang melamun. Tersenyum sendiri. Dan pastinya itu karena dia membayangkan wajah tampan dari seorang Viki.