
Di dalam kamar, Rini belajar di samping ranjang Tuan Hendra. Sebelumnya, Nara sudah memberitahukan kepada Rini. Mengenai kondisi Tuan Hendra.
"Om, sekarang Rini sudah bisa menulis dengan rapi. Lihat." Rini memperlihatkan dan membawa bukunya di hadapan Tuan Hendra, meski kedua mata Tuan Hendra masih tertutup.
Rini kembali menyelesaikan tugasnya dari sekolah. Tapi mulutnya tetap mengeluarkan perkataan. Seolah dirinya dan Tuan Hendra sedang berbincang. "Om, nanti, setelah selesai mengerjakan tugas. Rini mau cerita. Tapi Om jangan marah ya." ucap Rini.
Dan benar, setelah selesai mengerjakan tugasnya, Rini bercerita panjang lebar mengenai kegiatannya di sekolah. Apapun itu. Rini tidak melewatkannya.
"Hufftt,,, padahal Rini pengen banget, jika om datang ke sekolah Rini. Semoga om segera sehat. Dan dapat menghadiri acara di sekolah Rini. Okey om." Rini tersenyum, mencium pipi Tuan Hendra dengan penuh sayang.
Di ambang pintu, Nyonya Rahma melihatnya. Tanpa terasa air matanya menetes di pipi. Segera Nyonya Rahma pergi dan kembali ke lantai bawah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa Viki sudah mencium pergerakanku. Apa dia mengetahui jika aku yang melakukannya."
Seorang perempuan mondar-mandir di dalam kamar mewahnya sambil berkacak pinggang. Dengan raut wajah tegang dan juga cemas menghiasi wajah cantiknya.
Burung dalam sangkar. Itulah peribahasa yang tepat untuk di gunakan menggambarkan kehidupannya yang sekarang.
Demi membalas dendam, dirinya rela tetap berada di dalam rumah bak istana. Menjadi simpanan seorang pengusaha kaya raya yang berkuasa. Meninggalkan kebebasan yang dulu pernah dia rasakan.
Dirinya hanya bisa menyuruh anak buahnya untuk menjalankan rencana yang ada di dalama otaknya. Mengendalikan setiap pergerakan anak buahnya melalui balik rumah mewah dan megah. Yang merupakan penjara berlapis emas.
"Aku harus cepat bergerak. Tapi akan sulit." gumamnya, duduk di kursi empuk yang berada di dalam kamarnya.
Terlebih sekarang Viki memindahkan perawatan Tuan Hendra ke dalam rumahnya. Yang berarti penjagaan untuk keamanannya berlipat ganda.
"Jangan sampai Viki atau yang lain mengetahui tempat persembunyianku." ucapnya berharap. Dirinya merasa jika belum saatnya untuk keluar dari sarang.
Dia tersenyum. "Apa sudah waktunya aku mengeluarkan kartu as yang aku miliki." ucapnya, memegang sebuah foto.
Melihat ke arah foto tersebut dengan tatapan licik. "Tidak sekarang. Biarkan dia merasa jika aku mundur. Jika dia merasa tenang. Aku akan melakukannya, sebagai syok terapi." ucapnya tertawa jahat.
"Viki...!! Sebentar lagi duniamu akan hancur!!" teriaknya menggema di dalam kamar. Tertawa bagai iblis wanita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Vik, kenalkan dia Puspa. Perawat yang akan menjaga Tuan Hendra. Dan Puspa, dia adalah Viki. Putra dari Tuan Hendra dan Nyonya Rahma." ucap Andrew.
"Bekerjalah dengan baik. Jangan pernah membuat kesalahan." ucap Viki langsung, tanpa ada pembukaan manis di depannya.
Viki menatap ke arah Puspa dengan tatapan mengintimidasi. "Aku tidak akan mentolerir setiap kesalahan. Meskipun tidak seberapa. Ingat itu." tegas Viki.
Senyum Puspa yang sejak tadi terpasang di bibir, seketika luntur perlahan. Melihat sikap Viki yang dingin terhadapnya.
Nara dan yang lainnya hanya diam. Tidak berani berucap maupun menegur Viki akan sikapnya pada Puspa.
Karena biar bagaimanapun, baru saja terjadi sesuatu pada Tuan Hendra. Dan pastinya itu akan jauh membuat Viki lebih waspada dari pada sebelumnya.
"Jangan pernah meninggalkan rumah tanpa izin. Selangkah saja kamu meninggalkan rumah tanpa izin. Aku anggap kamu mengundurkan diri dari pekerjaan ini." tekan Viki.
Puspa yang masih berdiri, hanya bisa merasa degup jantungnya berdetak semakin kencang karena rasa takut. Bahkan Puspa memelintir ujung kemejanya. Dengan menundukkan wajah.
"Khem,, Puspa. Silahkan duduk lagi. Habiskan minuman kamu." ucap Nyonya Rahma dengan ramah.
"Terimakasih Nyonya." Puspa kembali duduk, ekor matanya melirik sekilas ke arah Viki.
"Tampan, menakutkan, tapi tetap menawan." gumam Puspa.
"Apa sus?" tanya Mbok Nah dengan ramah.
"Itu. Tuan Viki. Apa dia memang seperti itu?" tanya Puspa dengan pelan dan hati-hati.
Mbok Nah tersenyum samar. "Iya. Dia tidak suka ada perempuan yang mendekatinya. Sikapnya dingin pada lawan jenis. Tapi, tidak dengan Nara." jelas Mbok Nah.
"Nara." gumam Puspa, masih terdengar Mbok Nah.
"Iya, Nara. Gadis cantik yang tadi. Dia adalah calon istri dari Den Viki." tegas Mbok Nah. Seolah menegaskan jika Viki sudah berstempel milik orang lain. Yang tidak bisa di ganggu gugat.
Mbok Nah bukan wanita bodoh. Beliau dapat melihat dari tatapan matanya, jika Puspa tertarik pada Viki. Lagi pula, perempuan mana yang tidak tergoda dengan Viki. Tampan, mapan, kaya, dan menggoda.
Meski masih banyak pertanyaan di benak Puspa, tapi dia menahannya. Terlebih dia baru saja datang. Tak sepantasnya, dia bertanya semua yang sedang berputar di otaknya.
Viki duduk di teras belakang rumah. Di depannya ada secangkir kopi. Tatapan matanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa? Kok belum tidur?" tanya Nara, mengalungkan tangannya di leher Viki dari belakang.
Viki menarik tangan Nara, membawanya duduk di pangkuannya. "Bang, nanti ada yang lihat." ucap Nara mengingatkan. Karena memang, tadi sore ada banyak lelaki yang datang.
Dan mereka langsung berbicara dengan Viki. Nara menebak jika mereka adalah anak buah Viki. "Mereka punya mata. Birkan saja." cuek Viki.
"Bang." keluh Nara, melihat beberapa lelaki berjalan mondar-mandir. Dan pastinya mereka melihat Nara yang duduk di atas pangkuan Viki.
Viki malah semakin mengeratkan pelukannya. "Kamu sendiri, kenapa belum istirahat?" tanya Viki.
"Belum mengantuk." jawab Nara. "Bang, lepas. Nara akan duduk sendiri." pinta Nara sedikit berontak.
"Diam. Biarkan aku istirahat sebentar saja." ucap Viki, menaruh kepalanya di pundak Nara. Sembari memejamkan kedua matanya.
Nara berhenti bergerak. Bibirnya tersenyum. Tangannya terulur membelai rambut Viki di pundaknya. "Kenapa tidak tidur di kamar?" tanya Nara pelan.
Beberapa anak buah Viki yang hendak mengecek teras belakang rumah mengurungkan niatnya. Mereka melihat Tuan mereka duduk bersama dengan perempuan yang diyakini calon Nyonya mereka.
"Aku belum mengantuk." jawab Viki lirih.
"Nara..." panggi Viki, membenarkan posisi kepalanya di pundak Nara.
"Apa kamu benar-benar sama sekali tidak mengingat masa kecil kamu. Sedikit saja." tanya Viki, mencium singkat pipi Nara.
Nara terdiam sejenak. Dan Viki sangat yakin, jika sebenarnya Nara mengingatnya. Meski hanya sedikit. Namun entah karena apa, Nara memilih untuk melupakannya.
Viki menelusupkan kepalanya di leher Nara. "Jangan dipikirkan. Jika memang tidak ingat." Viki kembali mencium pipi Nara.
"Terimakasih." ucap Nara lirih, memegang lengan Viki.
"Katakan jika sudah siap. Bagaimana?" tanya Viki pelan.
"Pasti." ucap Nara dengan sungguh-sungguh. Mengubah posisi duduknya. Menghadap ke arah Viki, memeluknya dengan erat.
Kedua mata Nara melihat bayangan seseorang. "Dia." ucap Nara dalam hati.
"Untuk apa Puspa malam-malam begini berada di sana." imbuh Nara dalam hati.
__ADS_1
Nara tersenyum samar. "Mau bersaing mendekati Abang. Tidak akan bisa. Abang hanya milik Nara. Dan sampai kapanpun, Nara tidak akan melepaskan abang." ucap Nara.
"Enak saja. Baru datang mau ambil punya Nara." ucap Nara dalam hati. Karena Nara yakin, jika suster Puspa tertarik pada Viki.