
"Kamu yakin?" tanya Viki.
Nara mengangguk dengan yakin, memandang sang kekasih dengan senyum di bibir, yang saat ini tengah duduk di belakang kemudi.
Tangan Viki perlahan terulur menggenggam telapak tangan Nara, membawanya untuk di ciumnya punggung telapak tangan sang belahan hati.
"Bukankah abang pernah bilang, jika Nara tidak boleh menghindar." ucap Nara.
"Dan lagi, Nara ingin membuktikan. Jika Nara baik-baik saja selama ini." lanjut Nara, menatap jauh ke depan. Menjeda kalimatnya. "Tanpa mereka." lanjut Nara dengan suara lirih.
Viki melepaskan genggaman tangannya, beralih mengelus lembut rambut panjang dengan warna hitam lekat milik Nara.
Viki yakin, meskipun Nara berkata seakan dirinya baik-baik saja, namun Viki dapat melihat ada setitik rasa sedih di mata Nara.
Siapa yang tidak akan terluka, bahkan luka tersebut pastinya akan membekas di hati. Jika kehadirannya sama sekali tidak diinginkan. Bahkan oleh ibu kandungnya sendiri.
"Jangan khawatir, sebentar lagi kamu akan menyandang gelar Nyonya Viki. Tidak akan lagi air mata di pipi." ujar Viki menenangkan perasaan Nara.
Viki menghentikan mobilnya di pelataran rumah mewah dan megah, tak kalah dari kediaman Tuan Hendra.
"Silahkan masuk Tuan muda, Nona. Tuan Smith dan Nyonya Binta sudah menunggu di dalam." ucap lelaki paruh baya, begitu Nara dan Viki keluar dari dalam mobil.
Nampaknya memang lelaki tersebut memang sudah menunggu kedatangan keduanya. Sehingga dengan cepat menghampiri dan menyapa Viki dan Nara.
Viki hanya mengangguk tanpa ekspresi. Nara yang melihat perubahan ekspresi wajah Viki, tersenyum samar. "Entah kenapa, aku menyukai sikap abang seperti ini. Tapi untuk orang lain. Jangan untuk Nara." ucap Nara dalam hati.
Lelaki tersebut berjalan di depan, menuntun Nara dan Viki untuk menuju ke sebuah ruangan. Telapak tangan Viki dan Nara saling bertautan, saat masuk ke dalam rumah tersebut.
"Kay,,,," ucap Tuan Smith, namun terhenti. Beliau ingat jika gadis di depannya bukan putrinya yang dulu. Kayla.
Meski dia tetap putri kandungnya, namun kini semuanya telah berubah. Gadis di depannya, kini merubah nama menjadi Nara. Kinara.
"Nara, Viki, selamat datang." ucap Tuan Smith, dengan Nyonya Binta juga berdiri di samping sang suami. Untuk menyambut kedatangan keduanya.
"Silahkan duduk." ujar Nyonya Binta.
"Terimakasih." sahut Nara, sementara Viki hanya diam dan langsung duduk.
"Maaf mengganggu waktu kalian. Dan saya yakin, pastinya Tuan dan Nyonya sudah tahu, tujuan kedatangan saya ke sini." ujar Viki langsung ke pokok intinya.
"Bagaimana jika kita ke ruang makan terlebih dahulu. Kebetulan, tadi tante memasak banyak makanan." ajak Nyonya Binta, berusaha mendekatkan diri dengan Nara.
__ADS_1
Tidak mau egois, Viki menoleh. Melihat ke arah Nara. Seperti ingin meminta Nara untuk menjawab ajakan dari sang tuan rumah.
Nara menggeleng samar. "Maaf, kami sudah sarapan." tolak Viki.
"Bagaimana Tuan Smith, saya tidak mempunyai banyak waktu. Apakah anda bersedia menjadi wali nikah untuk Nara?" tanya Viki.
Tepatnya bukan seperti sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Viki. Melainkan perintah. Dan tentunya Tuan Smith sangat mengetahui kehendak dari pemuda di depannya ini.
"Baiklah, aku bersedia." ucap Tuan Smith.
Batu besar yang sedari tadi tertahan di dada Nara, seolah menyumpal jalannya nafas Nara, kini bagaikan hilang seketika.
Nara tersenyum samar. Merasa sangat bahagia mendengar penuturan dari lelaki yang sudah menyumbangkan benih hingga terlahir dirinya.
"Tapi ada syarat yang kalian harus penuhi." lanjut Tuan Smith. Membuat perasaan Nara yang baru saja dia buat berbunga, langsung merasa takut dan cemas.
Berbeda dengan Nara, Viki tampak terlihat santai saat ini. Dan sepertinya, Viki sudah bisa menebak apa yang bakalan terjadi.
"Katakan." ucap Viki, terdengar begitu arogan. Namun Viki sama sekali tidak merasa bersalah, meskipun beliau adalah papa kandung dari gadis yang di cintanya.
Tuan Smith menatap Nara dengan lekat. Sementara Nara, berusaha dengan sepenuh hati untuk tidak merasa terusik ataupun merasa dirinya takut pada lelaki di depannya. Yang memang dia adalah papa kandungnya.
"Nara akan tinggal di sini." ucap Tuan Smith, seolah tidak bisa ada penawaran lagi.
Bukan ini yang diinginkan oleh Nara. Dama sekali Nara tidak menginginkannya. Segera Nara memegang erat tangan Viki.
Nara takut, Viki akan menyetujuinya. Memang Nara ingin sekali menikah dengan Viki. Namun tidak dengan syarat tersebut. Yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Baik kalau begitu." Viki berdiri, Tuan Smith dan Nyonya Binta tersenyum. Mereka berpikir jika Viki menyetujui syarat tersebut.
"Abang..." ucap Nara, tetap memegang lengan Viki. Bahkan sekarang semakin erat dari sebelumnya. Nara sekarang benar-benar takut. Nara tidak ingin tinggal di rumah ini.
Segera Nara berdiri. Menatap ke arah sang kekasih. Namun Viki masih menatap ke arah dua orang yang saat ini masih duduk sambil tersenyum senang.
Nara berharap jika Viki tidak akan membiarkannya untuk tinggal di rumah ini. Meskipun Nara tahu, pasti Viki akan membuat keputusan yang tepat. Namun Nara sangat tidak berharap untuk tinggal di tempat yang sekarang dia pijakkan kakinya.
"Kita pulang." ajak Viki, masih memandang ke arah Tuan Smith dan Nyonya Binta.
Keduanya langsung berdiri mendengar Viki menyebutkan kata kita. Yang artinya dirinya dan Nara.
Begitu pula dengan Nara, rasa cemasnya menguap. Mendengar perkataan Viki. Segera Nara mengangguk. "Iya, Nara mau pulang. Nara hanya ingin tinggal dengan papa Hendra dan mama Rahma." ucap Nara dengan tegas.
__ADS_1
"Apa maksud kamu?!" tanya Tuan Smith, mengernyitkan dahinya.
Sebab, jika Viki tidak memenuhi syarat dari dirinya. Itu berarti Viki dan Nara tidak bisa menikah. Karena pernikahan Nara harus menggunakan wali. Dan hanya Tuan Smith yang dapat melakukannya.
Viki tersenyum licik. "Saya bisa menikahi Nara TANPA persetujuan dari anda, Tuan." ucap Viki penuh penekanan.
"Mana bisa?!" seru Tuan Smith.
"Tunggu dan lihat saja." ucap Viki tersenyum licik, meletakkan tangannya di pundak Nara.
"Apapun keputusan abang, Nara akan mengikutinya." ucap Nara.
"Nara..!!! Kamu anak kandung saya!!!" teriak Tuan Smith menaikkan nadanya dengan sangat tinggi.
Viki menatap dengan nyalang pada Tuan Smith. "Jaga nada suara anda di hadapan calon istri saya, jika masih ingin mempunyai lidah." ancam Viki tak main-main.
"Bang..." Nara mengelus lengan Viki, mencoba menenangkannya. Nara tahu jika Viki tidak pernah berbohong saat berucap.
"Maaf, darah anda mungkin mengalir dalam tubuh saya. Namun saya bisa memastikan. Jika bukan nama anda yang tertera di akta kelahiran milik saya." ucap Nara.
"A-apa maksud kamu?" tanya Tuan Smith dengan gugup.
"Apakah seorang anak yang di sembunyikan dari dunia. Akan memiliki akta kelahiran. Untuk apa? Bahkan, dia sama sekali tidak membutuhkannya." sindir Nara.
Nara masih mengingat dengan jelas, perkataan orang tua sang mama kandung. Jika dirinya tidak akan mendapat pengakuan dari keluarganya.
Maka dari itu, Nara tidak pernah mempunyai identitas saat berada di dalam sangkar megah tersebut.
Raut wajah Tuan Smith berubah pias seketika saat mendengar perkataan dari Nara.
"Seharusnya anda berterimakasih pada calon suami saya. Jika bukan karena permintaan dia. Saya bahkan tidak akan pernah mau menginjakkan kaki saya di rumah anda." jelas Nara dengan kesal.
"Satu lagi, sebaiknya kalian tidak perlu terlalu ikut campur dalam kehidupan Nara. Dia akan hidup dengan baik, bersama saya. Seharusnya, kalian segera mempersiapkan ruangan. Ruangan baru, untuk anggota keluarga baru. Yang akan hadir di keluarga kalian." ucap Viki penuh dengan teka teki.
Viki tersenyum misterius. Mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. "Sebentar lagi akan ada suara tangis bayi. Di rumah ini." lanjut Viki tersenyum miring.
"Permisi." Viki membawa Nara meninggalkan rumah Tuan Smith.
Entah kenapa, perkataan Viki mengena dan membuat perasaan Nyonya Binta seketika menjadi gusar. "Tunggu..!!!" teriak Nyonya Binta mengejar Viki dan Nara.
"Apa maksud kamu?" tanya Nyonya Binta, saat Viki dan Nara menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Tanyakan saja pada putra tercinta anda." ucap Viki.
"Renggo." gumam Nyonya Binta, menggelengkan kepala.