VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 37


__ADS_3

Pagi-pagi sebelum subuh, Nara sudah bangun. Mencuci mukanya dan bergegas ke dapur. Membantu yang lain menyiapkan sarapan.


"Nara, kamu sudah bangun." ucap mbak Mira terkejut. Bahkan Mboh Nah dan mbak Siti juga ikut terkejut.


Nara tersenyum simpul. "Nara terbiasa bangun jam segini mbak." ucap Nara. Mereka saling berpandangan mendengar jawaban dari Nara.


Nara mulai membantu ketiga pekerja di rumah Tuan Hendra untuk menyiapkan sarapan. Disertai obrolan ringan di antara mereka.


"Dulu kamu bekerja di mana Ra?" tanya Mbak Siti penasaran, dengan tangan tetap bekerja. Memotong sayuran.


"Menjadi pemulung mbak." jawab Nara jujur, tanpa rasa malu.


"Benarkah?" tanya Mbak Mira tidak percaya.


"Iya. Hanya itu yang Nara bisa lakukan untuk membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari." ucap Nara.


"Lalu adik kamu bagaimana?" tanya Mbak Mira. Mengingat jika Rini dan Bima masih kecil.


"Rini yang akan menjaga Bima selama Nara bekerja. Meski masih berumur tujuh tahun, Rini sudah bisa di andalkan." jawab Nara tersenyum.


"Kenapa nggak mencari pekerjaan yang lebih baik Ra?" tanya Mbak Mira.


"Mau kerja apa mbak, Narakan nggak pernah sekolah." ucap Nara, berkata apa adanya. Tanpa harus malu.


Sambil memasak, ketiganya bertanya mengenai kehidupan Nara. Mereka tidak menyangka, jika ternyata kehidupan yang Nara jalani lebih susah dari pada mereka.


Di usia yang masih muda. Nara harus menghidupi kedua adiknya seorang diri. "Kamu perempuan yang hebat." puji Mboh Nah.


"Tidak juga mbok. Diluar sana banyak yang lebih hebat dari Nara." ucap Nara dengan malu. Karena dipuji oleh Mboh Nah.


"Iya, di luar sana memang banyak yang lebih hebat dari kamu. Tapi kamu tetap yang paling hebat. Karena kami kenalnya kamu. Bukan mereka." celetuk Mbak Siti.


"Kamu tidak hebat Ra. Tapi kamu terbaik." imbuh Mbak Mira.


"Ada-ada saja Mbak Mira dan Mbak Siti ini." kekeh Nara.


"Nara, kamu bawa ini ke meja makan." pinta Mbok Nah. Karena masakan sudah selesai lebih cepat.


Karena bala bantuan mereka bertambah satu orang. Nara. Dan ternyata Nara melakukan semua yang disuruh mbok Nah, Mbak Siti, maupun Mbak Mira dengan cekatan dan dengan hasil yang memuaskan.


"Kenapa Sit?" tanya Mbak Mira saat Mbak Siti melihat ke arah Nara yang sedang menata makanan di meja makan bersama dengan Mbok Nah.


"Kalau saja saya punya adik lelaki. Pasti saya akan saya jodohkan dengan Nara." cicit mbak Siti.


"Ngawur." ucap Mbak Mira.

__ADS_1


"Aduh." kata Mbak Siti saat kepalanya di timpuk menggunakan centong plastik.


"Nara akan lebih memilih Den Viki." ucap Mbak Mira.


"Jodoh tidak ada yang tahu." kilah Mbak Siti.


Mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Membersihkan dapur yang kotor dan berantakan karena baru saja memasak.


Dan Nara kembali ke dapur. Mengambil makanan yang belum di bawa ke meja makan.


Dari tangga, nampak Nyonya Rahma turun masih menggunakan baju tidur. Seperti biasa, beliau ingin menuju ke dapur.


Akan membantu para pembantu, jika masakan mereka belum selesai. "Loh, mbok. Sudah selesai?" tanya Nyonya Rahma.


"Iya Nya. Tadi Nara ikut membantu." jelas Mbok Nah.


"Nara." gumam Nyonya Rahma.


"Tante. Selamat pagi." sapa Nara, sambil meletakkan piring berisi makanan di atas meja.


"Nara, kamu sudah bangun?" tanya Nyonya Rahma.


"Sejak tadi Nyonya." jawab Mbok Nah, bukan Nara.


"Saya sudah terbiasa Tante. Kan tante juga sudah tahu, pekerjaan saya sebelumnya seperi apa." ucap Nara tersenyum.


"Baik Tante."


"Setelah ini, kita sarapan bersama." ucap Nyonya Rahma.


"Iya tante."


Nyonya Rahma segera kembali ke dalam kamar. Membangunkan sang suami dan melayani beliau.


"Mbok, saya bangunkan Rini dan Bima dulu." pamit Nara.


"Silahkan." ucap Mbok Nah.


Segera Nara bergegas menuju kamar tidurnya. Membangunkan Rini dan Bima. "Rini, bangun sayang. Sudah pagi." Nara sedikit menggoyang badan Rini.


"Iya kak."


"Sana, ke kamar mandi. Kakak bangunkan Bima dulu. Setelah itu gantian." ucap Nara.


Segera Rini berdiri dan menuju kamar mandi. Setelah Rini selesai, Nara membawa Bima untuk di mandikan.

__ADS_1


"Rini, kamu jaga Bima. Kakak mandi dulu." ucap Nara.


"Baik kak."


Sekitar satu jam kemudian, semuanya berkumpul di meja makan. Menikmati sarapan dengan tenang.


"Om Hendra mau berangkat ke balai desa?" tanya Rini dengan polos. Melihat Tuan Hendra memegang tas kantor, hendak pergi bekerja.


Tuan Hendra dan Viki mengernyitkan dahi. Sementara Nyonya Rahma tersenyum. Beliau paham, mengapa Rini bertanya seperti itu. Karena setahu Rini, Tuan Hendra menjabat sebagai lurah.


"Iya sayang. Om Hendra mau berangkat bekerja." jawab Nyonya Rahma tersenyum. Nyonya Rahma mengedipkan matanya menatap sang suami.


Rini dan Bima mengikuti Nyonya Rahma, mengantar Tuan Hendra untuk berangkat bekerja sampai teras rumah.


Bahkan Rini dan Bima juga ikut bersalaman pada Tuan Hendra. "Jangan nakal. Temani tante Rahma." ucap Tuan Hendra mengusap rambut Rini dan Bima bergantian.


"Baik Om." jawab Rini.


Dan Nara, membantu Mbok Nah untuk membawa sisa makanan ke dapur lagi. Meletakkan kembali ke dalam panci. Supaya bisa dihangatkan kembali. Dan bisa di makan untuk makan siang nanti. Karena makanan masih banyak.


Tampak Viki berjalan menuruni anak tangga. Selesai sarapan, Viki kembali masuk ke dalam kamarnya. Mengambil sesuatu yang sempat tertinggal di kamarnya.


"Bang Viki mau berangkat kerja?" tanya Nara. Dan Viki hanya mengangguk pelan.


Nara hanya bisa memandang ke arah Viki yang berjalan menuju pintu utama. "Den Viki memang seperti itu orangnya. Cuek. Tapi sebenarnya dia penyayang." ucap Mbok Nah yang sudah berada di belakang Nara.


Di teras depan, Viki bertemu sang mama dan kedua adik Nara. Setelah berpamitan, Viki segera melesatkan mobilnya menuju kantor.


"Bagaimana Rey?" tanya Viki.


"Bisa Tuan. Kita bisa mengancam mereka. Dan pastinya para investor akan kembali pada kita." Rey menyerahkan beberapa lembar kertas pada Viki.


"Lantas, bagaimana dengan mereka?" tanya Viki, dnegan mata memandang ke arah lembaran kertas yang dia pegang.


"Saya juga sudah menyelidikinya. Kita bisa menuntut mereka. Dan saya yakin, mereka akan kembali bekerja sama dengan perusahan kita." jelas Rey.


"Ada apa?" tanya Viki, karena sepertinya masih ada yang ingin dikatakan oleh Rey pada Viki.


"Maaf sebelumnya Tuan. Kenapa kita tidak jadi bekerja sama dengan perusahaan Tuan Haris?" tanya Rey dengan hati-hati.


"Untuk sekarang tidak perlu. Kita hanya akan membawa mereka kembali. Perusahaan akan stabil lagi."


"Yang terpenting perusahaan tetap di jalur aman. Saya rasa sudah cukup." ucap Viki.


"Lalu, Tuan Marko?" tanya Rey, karena Viki masih belum memerintahkan dirinya untuk bertindak tentang Tuan Marko. Dalang dari semua masalah.

__ADS_1


Saat ingin menjawab, ponsel Viki berdering. "Baik Tuan." ucap Rey, saat tangan Viki mengisyaratkan untuk dirinya meninggalkan ruangannya.


"Bagaimana?" tanya Viki.


__ADS_2