VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
Part 13. ReSa


__ADS_3

Mulai malam ini, Sara sudah tidak tinggal lagi di kediaman Renggo. Sebab Tuan Smith dan Nyonya Binta sudah kembali dari luar negeri.


Siang hari, Tuan Smith dan Nyonya Binta kembali ke kediaman mereka. Sara maupun Renggo tidak menjemput keduanya di bandara.


Sebab Renggo sedang berada di luar kota karena pekerjaan. Dan Sara, tentu saja dirinya tidak mendapat izin dari calon suaminya.


Namun kedua orang tua Renggo juga berkata sama seperti Renggo. Supaya Sara tidak menjemput keduanya di bandara bersama baby. Sudah ada sopir yang menjemput mereka.


"Terimakasih ya Sar, keluarga kamu menerima kami dengan baik. Bahkan kami tidak diizinkan pulang." kekeh Nyonya Binta.


Sara tersenyum senang, mendengar penuturan dari calon mertuanya. Meski Sara dan saudaranya tersebut jarang bertemu, dan juga tidak terlalu sering berkomunikasi.


Sara yakin mereka orang yang baik dan juga bisa mengerti keadaan. Terbukti, dengan cara mereka menyambut kedatangan Renggo dan Sara saat itu.


Dan sekarang, sang calon mertua juga memuji mereka. Sara cukup lega mendengar semuanya.


Sore hari, Sara pamit untuk kembali ke apartemen. Namun dirinya tak langsung pulang. Sara mampir dulu ke sebuah supermarket. Membeli beberapa bahan makanan.


Sara yakin jika bahan makanan di apartemennya menipis. Sebab, saat dirinya pergi. Sara juga melihat kondisi kulkas yang kosong.


Suara ketukan pintu apartemen membuat aktifitas Sara terhenti. "Apa mungkin Renggo." pikir Sara.


Sara hanya menata dan memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas. Tanpa perlu membersihkan apartemennya. Meski apartemennya ditinggal beberapa hari, namun apartemen tersebut sama sekali tidak kotor.


Setiap pagi, salah satu pembantu di rumah Tuan Smith akan datang dan membersihkan apartemen Sara. Awalnya Sara menolak.


Dirinya merasa tidak enak hati. Tapi Nyonya Binta kekeh ingin melakukannya. Membuat Sara hanya bisa pasrah dan menerima keinginan calon mertuanya.


"Tapi hari ini Renggo sedang berada di luar kota." gumam Sara.


Semalam Renggo mengatakan pada dirinya. Jika dia ada pekerjaan di luar kota. Meski sampai malam, namun Renggo tidak akan menginap.


Sara berjalan menuju ruang tamu. Mengintip dari kubang kecil di tengah pintu. Melihat siapa tamu yang datang dan mengetuk pintunya dari luar.


Tahu siapa yang datang, tak mau menunggu lebih lama, Sara langsung membuka pintunya. "Erlangga, masuk."


Erlangga menghempaskan pantatnya di kursi empuk yang berada di ruang tamu. "Akhirnya, tahu jalan pulang juga kamu." sindir Erlangga.


"Ckk,, kamu pikir aku pikun." kesal Sara, padahal kemarin lusa mereka baru bertemu. Sara langsung membuka kulkas. Mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.


"Ni.." Sara menyodorkan sebotol minuman kaleng pada Erlangga.


"Kok nggak dingin."


"Baru masuk." Sara sendiri juga duduk di samping Erlangga, namun tidak begitu dekat. Meneguk minuman tersebut beberapa teguk.


"Betah banget elo di sini. Ngganggur?" celetuk Sara.


Erlangga menggeleng. "Sedang malas bekerja. Ingin menikmati hidup. Meski sebentar." jelas Erlangga.


"Ckk,,, sialan. Mentang-mentang kaya." cibir Sara.


"Memang kenyataannya seperti itu." ucap Erlangga angkuh, disertai kekehan kecil melihat wajah kesal sahabatnya.


Mereka terdiam sejenak. "Elo beneran, mau menikah dengan Renggo?"


Sara memutar kedua matanya dengan malas. Lagi-lagi Erlangga menanyakan pertanyaan yang sudah tahu apa jawabannya.


"Meski elo bertanya seribu kali. Jawabannya akan tetap sama." dengus Sara.


"Bagaimana dengan baby Al." Erlangga mulai memancing Sara.


Sebab Erlangga sudah kenal lama dengan Sara. Dia tahu, jika Sara orangnya gampang keceplosan saat berbicara dengan dirinya. Terlebih saat emosinya memuncak.


Itupun jika Erlangga bisa menggiring perkataan dan pertanyaannya ke tujuan. Sehingga membuat Sara pasti keceplosan mengungkap sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa dengan baby Al. Apa hubungannya pernikahan gue dan Renggo dengan baby Al." sarkas Sara.


"Ya, elo tahulah. Baby Al anak dari mantan Renggo. Apa elo nggak akan sakit hati. Saat terus menerus melihat dia ada di dekat elo dan Renggo. Bahkan elo mengurus dan merawat dia."


Erlangga mulai mematik api. Dirinya ingin, dari api kecil, akan menjadi sebuah api yang besar. Yang mampu membuat Sara meluapkan emosinya.


"Namanya mantan. Akan tetap jadi mantanlah. Dan anak, nggak ada hubungannya dengan mantan." dengus Sara.


"Kalau tiba-tiba Giska berubah. Dan ingin kembali dengan Renggo. Bagaimana?"


"Nggak akan pernah. Di saat itu terjadi, gue dan Renggo sudah menikah." tegas Sara.


"Meski elo sudah menikah, tidak menutup kemungkinan Renggo akan kembali pada Giska. Ada baby Al di antara mereka. Ada anak yang menjadi prioritas Renggo." kekeh Erlangga, membuat Sara semakin kesal padanya.


Sara menatap tajam ke arah Erlangga. "Sebaiknya elo pulang saja. Bikin mood gue hancur." usir Sara.


"Sorry, nggak maksud gitu. Tapi gue berkata apa adanya. Real. Nyata. Di sini, gue hanya memikirkan elo. Bukan Renggo, Giska, ataupun baby Al."


"Dan gue nggak butuh elo pikirin." dengus Sara.


"Elo sahabat gue. Saudara gue. Adik gue. Gimana gue nggak mikirin elo."


"Erlangga, gue dan Renggo saling mencintai. Dan perempuan yang namanya Giska, nggak akan pernah bisa masuk ke dalam kehidupan kita. Dengan alasan apapun."


"Elo harus buka mata elo Sar, ada baby Al di antara mereka. Dan Giska, ibu kandungnya. Renggo papanya. Elo, orang lain."


Sara sedikit tersinggung dengan perkataan Erlangga. "Oke, gue orang lain. Tapi gue bisa memberikan kasih sayang pada baby Al selayaknya ibu kandung. Meski gue nggak melahirkan dia. Gue yakin, gue bisa menggantikan ibu kandungnya. Memberikan perhatian dan kasih sayang tulus pada baby Al." tegas Sara mulai tersulut emosinya.


Erlangga tersenyum samar. "Gue percaya apa yang elo katakan. Hati elo lembut dan baik tanpa ada kata pura-pura di dalamnya. Dan gue yakin seribu persen." ucap Erlangga dalam hati.


Erlangga tersentuh mendengar pernyataan yang Sara berikan. Dirinya semakin yakin melepaskan baby Al pada Sara.


Tapi tetap saja. Erlangga harus memastikan sesuatu. "Bukan itu yang gue maksud. Mungkin sekarang baby Al belum tahu apapun. Tapi, saat dia bertambah umurnya, otomatis dia juga akan tahu siapa ibu kandungnya. Apa elo sudah siap."


"Mau gue. Elo sadar. Suatu saat, Renggo akan ninggalin elo. Jika baby Al sudah dewasa. Menyuruh Renggo meninggalkan elo, dan kembali pada Giska."


"Erlangga, kenapa Renggo ninggalin gue. Hanya karena permintaan baby Al. Kenapa?" seru Sara semakin kesal.


"Karena baby Al putra Renggo. Dia anak kandung Renggo. Orang tua mana yang tidak menyayangi anaknya. Pasti Renggo akan mengabulkan permintaan putranya, meski itu hal yang sulit dia lakukan."


"Baby Al bukan putra Renggo. Paham." seru Sara tanpa sadar.


Erlangga terdiam. Menatap Sara dengan intens. "Ehh,,," segera Sara menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Benar perkiraan Erlangga. Jika Sara akan keceplosan saat dirinya di sudutkan terus menerus. Dan itulah kelemahan Sara.


Erlangga segera memegang pergelangan tangan Sara, saat Sara hendak kabur darinya. "Mau kemana elo? Apa maksud elo, jika baby Al bukan putra Renggo."


Perasaan Erlangga merasa plong sekaligus penasaran. "Apa sih lepas. Gue salah ngomong." Sara mencoba melepaskan cekalan tangan Erlangga di tangannya.


"Lepas..!!" seru Sara, yang gagal melepaskan cekalan tangan Erlangga.


"Nggak akan. Sebelum elo jelaskan." pinta Erlangga.


"Gue salah ngomong." kekeh Sara.


"Nggak. Gue kenal siapa elo. Jangan mencoba membohongi gue Sar."


Sara kembali duduk, karena tarikan tangan Erlangga. "Duduk, dan jelaskan."


"Apa sih. Maksa." cicit Sara cemberut.


"Harus. Elo tuh orangnya susah di atur."


"Gue sudah dewasa. Nggak perlu elo atur. Lepas."

__ADS_1


"Nggak akan. Elo dan gue akan tetap dalam posisi seperti ini. Sampai elo jelaskan semuanya."


Sara memandang Erlangga dengan tatapan sinis. "Gue akan tutup mulut. Asal elo jujur sama gue. Asal elo tahu, gue hanya khawatir sama elo. Nggak ada maksud apapun." Erlangga mencoba menyakinkan Sara.


Sara menghembuskan nafas panjang. "Baiklah. Tapi elo janji. Jaga lidah elo. Kalau tidak, elo akan tahu akibatnya." ancam Sara.


Erlangga segera mengangguk. "Elo tenang saja. Lagian elo tahukan, siapa gue. Masa elo nggak percaya." ucap Erlangga.


"Baby Al bukan putra kandung Renggo." ujar Sara.


Erlangga perlahan mengendorkan cekalan tangannya. "Bagaimana bisa. Elo tahu dari mana?"


"Renggo sendiri. Sebenarnya, Renggo sudah tahu sejak baby Al masih berada di dalam kandungan. Viki yang memberitahu Renggo."


"Viki."


Sara mengangguk. "Pasti karena Nara. Viki melakukan karena Renggo kakak dari istrinya."


"Saat Giska hamil. Bukankah itu sangat berbahaya?"


"Buktinya Giska tidak apa-apa. Elo tahukan siapa Viki?"


Erlangga mengangguk. "Lalu?"


"Setelah baby Al lahir, Renggo kembali melakukan tes DNA. Pastinya dia masih sedikit ragu. Tapi hasilnya ternyata sama. Baby Al bukan putra kandungnya."


"Jika Renggo sudah tahu, kenapa baby Al tetap bersama dengan Renggo?"


Sara tersenyum. "Kamu tahu. Aku merasa bersyukur dipertemukan dengan keluarga Renggo. Bahkan, mama dan papa Renggo juga tahu jika baby Al bukan cucu mereka."


Erlangga terdiam. Dia tak menyangkan akan hal tersebut. "Mereka semua tahu. Dan baby Al tetap berada di sana?"


Sara mengangguk. "Iya. Mereka semua manusia berhati emas. Meski tahu di dalam tubuh baby Al sama sekali tidak mengalir darah Renggo. Dan baby Al dilahirkan oleh perempuan yang tidak mereka sukai. Mereka tetap menerima baby Al."


"Tapi kenapa?"


"Karena Giska tidak mau merawat baby Al. Semenjak lahir, bahkan dia sama sekali belum pernah lihat, bagaimana wajah dari baby Al." geram Sara.


Kedua tangan Erlangga mengepal sempurna. Tapi dia cukup pintar untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya di hadapan Sara.


"Itulah kenapa sampai sekarang wajah baby Al sama sekali belum pernah tersorot media. Bahkan mereka melarang keras pengasuh baby Al atau siapapun mengupload foto baby Al. Mereka tidak ingin Giska mengetahui wajah baby Al dan akan membuat masalah."


Sara terdiam sejenak. "Asal kamu tahu. Berada di tengah-tengah mereka, gue seperti menemukan kehidupan lama gue."


"Kasih sayang. Perhatian. Pokoknya semua. Di rumah itu terasa sangat nyaman dan hangat. Emm,,, gue sudah tidak sabar, pengen menikah dengan Renggo." Sara berkata dengan menunjukkan wajah imutnya.


Erlangga mendorong pelan tubun Sara. "Elo gatel benget sih. Pasti otak elo pikirannya selalu mesum. Ngaku." tuding Erlangga.


"Biarin. Apalagi tubuh Renggo, aisshhh... pokoknya elo mah jauh banget." seloroh Sara mulai nglantur.


"Aduh.." pekik Sara. Saat bantal kursi mendarat di kepalanya.


"Apa sih elo." Sara cemberut seraya mengelus kepalanya.


"Elo sama Renggo belum pernah itukan."


"Itukan. Itukan apa?" tanya Sara polos.


Keduanya kini malah membicarakan hal lain. Jauh dari topik sebelumnya. "Ckk,,,, itu." Erlangga memainkan kedua alisnya naik turun.


Sara terdiam. Mencoba menebak ke mana arah perkataan Erlangga. "Ya nggak lah. Gue sama Renggo pacaran sehat." kesal Sara, Erlangga seperti sedang menuduh jika dirinya dan Renggo pernah berhubungan layaknya pasangan suami istri.


"Ya, siapa tahu. Gue cuma tanya." sahut Erlangga santai.


Kini Erlangga terlihat lega. Beban dipundaknya hilang seketika. Hanya satu masalah. Giska. Dan Erlangga akan membereskannya. "Itung-itung ucapan terimakasih gue sama keluarga Renggo. Telah menerima putra gue dengan baik." batin Erlangga.

__ADS_1


__ADS_2