
"Capeknya...." keluh Nara, merenggangkan otot-ototnya dengan merentangkan kedua tangannya ke samping.
"Lebih baik aku membersihkan badan dulu." ucap Nara yang saat ini tengah sendirian berada di dalam kamar.
Sedangkan Viki masih berada di luar. Viki masih menyambut dan berbincang dengan para tamu undangan yang seakan tak mau habis. Malahan, semakin malam semakin bertambah saja.
Melihat semakin banyak tamu yang datang, juga malam yang semakin larut. Viki menyuruh Nara untuk beristirahat terlebih dahulu.
Mana mungkin Viki tega membiarkan Nara, gadis manis yang baru tadi pagi sah menjadi istrinya kelelahan.
Tak lupa, Viki menyuruh Rey untuk menempatkan anak buahnya di sekitar kamar Nara, sebelum Viki datang.
Bukan hanya pengamanan di sekitar kamar Nara. Viki juga meminta Rey untuk seseorang menjaga CCTV di sekitar kamar Nara.
Sungguh, Viki tidak ingin terjadi hal sekecil apapun pada Nara. Viki sangat memperlakukan Nara seperti seorang ratu. Tentu saja, ratu di hati Viki.
Nara hendak melepas gaun pengantinnya. Tapi dia teringat jika pintunya belum dia kunci. Segera Nara berlari ke arah pintu, hendak menguncinya.
Tangan Nara hendak memutar kunci yang terpasang di pintu. Tapi entah kenapa Nara mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba Nara membalikkan badan, dengan tangan memegang dan sedikit mengangkat gaun pengantinnya ke atas.
Pandangan mata Nara menatap tajam ke arah pintu yang menghubungkan dengan balkon. Dia masih ingat betul, apa yang di ajarkan oleh sahabat suaminya. Ella.
"Ada bau berbeda di dalam kamar ini." ucap Nara dalam hati.
Nara merasa yakin akan penciumannya. Nara merasa, wangi kamar saat dia tinggalkan tidak seperti ini. Namun sekarang, saat Nara dengan seksama menajamkan penciumannya, ada wangi asing di dalam kamar hotel ini.
Nara tak mau ambil resiko. "Gue bukan kak Ella, yang pandai bela diri." ucap Nara realistis.
Segera Nara membuka pintu. Dan Nara bernafas lega, saat mendapati beberapa bawahan Viki berjaga di depan kamarnya. Apalagi ada penjaga perempuan di antara mereka.
"Ada apa Nyonya?" tanya salah satu dari mereka, merasa janggal dengan Nara yang tiba-tiba keluar. Apalagi mereka melihat ekspresi Nara yang seperti sedang ketakutan.
Nara segera menampilkan senyumnya. Tentu saja dia tidak ingin membuat semua orang merasa cemas. Akan sesuatu yang Nara sendiri belum pasti kebenarannya.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya saja...." ucap Nara menggantung.
"Katakan Nyonya, mungkin ada yang bisa kami bantu." ujar bawahan Viki.
"Nyonya. Heh,,, jangan panggil Nyonya, saya masih terlalu muda. Bagaimana kalau Nona." ujar Nara malah mengatakan hal yang sama sekali bukan tujuannya.
Mendengar permintaan Nara, semuanya tersenyum. Mereka paham mengapa Nara tidak ingin dipanggil menggunakan kata Nyonya.
Namun, mereka sadar. Jika mereka harus menggunakan kata tersebut untuk memanggil Nara. Mana mungkin mereka memanggil Nara dengan sebutan Nona. Sedangkan mereka memanggil Viki dengan sebutan Tuan.
Bukannya sangat tidak serasi.
"Maaf, kami tidak bisa Nyonya. Anda adalah istri dari Tuan kami. Makanya kami memanggil Anda dengan sebutan kata Nyonya." jelas salah satu dari mereka.
"Tetap saja, aku tidak setua itu. Menyebalkan." gerutu Nara.
"Maaf Nyonya, bantuan apa yang anda inginkan dari kami?" tanyanya, membuat Nara seketika ingat dengan tujuannya keluar dari dalam kamar.
"Astaga, kenapa aku malah membahas hal lain." ucap Nara lirih.
"Begini, sebenarnya aku tidak terlalu nyaman berada di tempat baru. Apalagi saat mandi hingga aku akan tidur. Apa aku bisa meminta tolong?" tanya Nara, berbohong supaya tidak menimbulkan curiga.
"Katakan Nyonya." ujarnya.
"Kalian periksa setiap sudut ruangan dalam kamar. Jangan ada yang terlewatkan. Termasuk kamar mandi, dan juga almari. Laci juga. Pokoknya, semuanya. Bahkan, jangan sampai ada kodok kecil sekalipun." ucap Nara dengan senyum di bibir.
Semua bawahan Viki saling berpandangan. "Baik." ucap mereka serempak.
Sebagian masuk ke dalam kamar Nara, sementara sisanya tetap berjaga di depan pintu. Dan Nara, dia juga segera mengikuti mereka masuk ke dalam kamar.
Pertama kali, Nara langsung memandang pintu tersebut. Dimana, ada balkon setelah pintu tersebut. Nara melangkahkan kaki ke balkon. "Apa pintu ini tadi terbuka?" tanya Nara.
"Tidak Nyonya, pintunya tertutup. Namun tidak terkunci." jelasnya tidak berbohong.
"Suruh teman kalian memeriksa di bagian bawah balkon." perintah Nara.
__ADS_1
"Baik." ucapnya.
Semuanya merasa ada yang aneh dengan sikap Nara. "Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan Nyonya. Apa jangan-jangan ada seseorang yang masuk ke dalam, dan Nyonya menyadarinya." ucapnya dalam hati.
Nara duduk di kursi panjang dan empuk. Matanya lurus memandang ke depan. "Dia sudah pergi. Siapa yang berani bertindak sejauh ini. Aku harus memberitahu abang. Jangan sampai aku terlambat memberitahu. Siapa tahu, dia musuh abang. Jadi abang bisa mencari tahu dan bersiap untuk kemungkinan terjadi sesuatu." ucap Nara dalam hati.
"Maaf, apa kamu bisa tetap di dalam kamar. Menemani saya." pinta Nara pada bawahan Viki yang berjenis kelamin perempuan.
"Bisa Nyonya." ucapnya.
Semua bawahan Viki keluar dari kamar setelah memastikan jika tidak ada sesuatu yang bisa membahayakan Nara di dalam kamar tersebut.
"Kamu duduklah, aku akan mandi terlebih dahulu." ucap Nara dengan ramah.
"Baik Nyonya, Terimakasih. Silahkan anda membersihkan badan. Saya akan berjaga di sini." ucapnya.
Nara masuk ke dalam kamar mandi. Sang bawahan Viki tiba-tiba memandang ke arah balkon. Mengeluarkan senjata apinya, seolah sedang bersiap.
Tangannya menekan sesuatu di telinganya. Berbicara dengan rekannya lewat benda tersebut.
Nara masih berada di dalam kamar mandi, beberapa bawahan Viki kembali masuk. Seseorang langsung berjaga di depan kamar mandi dengan sikap waspada.
Sementara yang lainnya berjalan mengarah ke balkon. Mereka bergerak seperti udara. Hening dan tenang tanpa menimbulkan suara.
Mereka saling memandang dan mengangguk. Salah satu dari mereka segera membuka tirai yang menutupi pintu tersebut dengan cepat.
Sementara yang lain dalam posisi bersiap. "Kita harus segera melaporkan pada Boss atau Tuan." ucapnya, saat melihat ada seseorang dengan pakaian mencurigakan berlari menjauh dari hotel tersebut.
Mereka yakin, jika dia yang tadi masuk dan menyelinap ke dalam kamar. "Beruntung Nyonya merasakan sesuatu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi." ucapnya.
"Kelihatannya Nyonya memiliki kepekaan akan sesuatu." ucapnya.
"Katakan pada yang lain untuk berjaga di bawah kamar Nyonya."
"Apa kita perlu memberitahu Tuan Viki sekarang?"
__ADS_1
"Jangan. Aku rasa tidak perlu. Lagi pula, dia sudah tidak ada. Apalagi sekarang Tuan sedang sibuk bersama tamu undangan."
"Benar. Ini adalah tugas kita. Jadi sebaiknya, kita lakukan dengan baik."