
Seperti biasa, Viki disibukkan dengan setumpuk kertas pekerjaan di perusahaan. Keberadaan Rey, tak lantas membuat seorang Viki dengan tenang duduk santai, dan menyerahkan semua pekerjaannya pada Rey.
Sebab, Rey sendiri juga tengah sibuk dengan pekerjaannya. Yang terpenting, dengan bekerja seperti ini, membuat Viki seolah bisa sejenak melupakan persoalannya.
Apalagi jika bukan perkara rumah tangganya dengan Nara yang baru berusia hitungan hari. Permasalahan mengenai urusan ranjang.
Keseriusan dan konsentrasi Viki terhenti saat terdengar ketukan pintu dari luar. "Masuk..!!" ucap Viki menaikkan nada suaranya.
Seorang perempuan dengan menggunakan dress lengan pendek dan panjang hingga bawah lutut muncul dari balik pintu. "Maaf, menganggu." ucap Sara, dengan memperlihatkan deretan giginya.
Viki melepas kacamata baca dan meletakkannya di atas meja. "Ada apa?" tanya Viki tanpa berbasa-basi dengan ekspresi datar.
"Boleh saya duduk?" izin Sara, Viki hanya mengangguk pelan.
"Terimakasih." ucap Sara mendaratkan pantatnya di kursi depan meja kerja Viki.
"Maaf menggangu. Sebenarnya, saya ingin menanyakan pekerjaan saya dan Erlangga. Emmm,,, mengenai pemotretan yang akan dilakukan nanti sore." jelas Sara.
"Saya sudah tahu, dan Rey sedang mencari penggantinya." ujar Viki.
Sara menghembuskan nafas lega. Melihat Viki tidak menampakkan wajah marahnya. Untuk pemotretan yang akan dilakukan besok, karena Erlangga, sahabatnya berhalangan hadir.
Atau lebih tepatnya tidak bisa melakukan pemotretan. Pergelangan kakinya terkilir saat melakukan adegan di salah satu sinetron terbarunya bersama Sara.
Meskipun dari pihaknya sudah melapor pada perusahaan mengenai perihal tersebut. Namun Sara merasa tak enak hati, jika dirinya hanya diam.
"Terimakasih pak." cicit Sara.
Apa yang ada di dalam benak Sara tidak terbukti. Sara sempat berpikir jika sosok Viki yang dingin, pasti akan marah mengetahui hal tersebut. Nyatanya sama sekali tidak.
Sebagai seorang pemimpin, Viki dapat memilah-milah. Saat dia marah pada bawahannya, atau kapan saat dia mengerti bawahannya.
"Ada lagi?" tanya Viki, saat Sara masih duduk tenang di kursi.
"Ehh,, tidak. Tidak ada pak. Jika begitu terimakasih. Saya permisi." pamit Sara.
Sara paham jika kedatangannya sangat tidak dinantikan oleh Viki. Apalagi keberadaannya yang lama, pasti akan membuat mata Viki sakit.
__ADS_1
Saat hendak berdiri, ponsel milik berdering. Sara mengambilnya dari dalam tas, melihat siapa kiranya yang menelpon dirinya.
Wajah ceria dari Sara lenyap seketika, saat melihat layar ponselnya yang menyala. Bukannya mengangkat panggilan telepon dari orang tersebut, Sara malah mematikannya.
Viki menaikkan sebelah alisnya, saat kedua matanya tak sengaja melihat nama yang tertera di layar ponsel Sara.
"Saya permisi pak." pamit Sara dengan sopan, meninggalkan ruangan Viki.
Sara, dikenal sebagai artis yang ceria dengan sifatnya yang ramah dengan sedikit banyolannya. Dia di gosipkan dekat dan menjalin hubungan dengan Erlangga, lawan mainnya di setiap sinetron atau film yang mereka perankan.
Padahal, keduanya hanya murni hubungan persahabatan. Karena memang keduanya sudah kenal sejak kecil.
Dan yang terpenting, baik Erlangga maupun Sara, keduanya sudah mempunyai seseorang yang mengisi ruang hati mereka.
Viki memandang ke arah pintu, dimana Sara keluar dari pintu tersebut. "Ckk,,, kenapa elo malah kepo. Nama seperti itu pasti banyak yang memiliki. Apalagi di dunia ini dihuni bermilyar-milyar orang." decak Viki, merasa jika nama yang tertera dalam layar ponsel Sara adalah orang yang dia kenal.
Viki kembali fokus dengan tumpukan kertas di depannya. Melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan Sara. Meski hanya sebentar.
"Tuan, saya belum menemukan calon yang cocok untuk berpose dengan Nona Sara." lapor Rey dengan perasaan bersalah.
"Masalah bukan terletak pada model pengganti. Tapi pakaiannya Tuan. Pakaian untuk pemotretan sudah sesuai dengan postur tubuh dari Erlangga." ujar Rey.
"Waktu yang minim dan mendesak, tidak memungkinkan kita untuk merombak semua pakaian yang akan digunakan dalam pemotretan." lanjut Rey.
Tanpa bicara, Viki berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Dengan Rey berjalan mengekor di belakang atasannya.
Rey dapat menebak ke mana sang atasan akan menghentikan langkahnya. Ruang pemotretan.
Suasana terdengar riuh dari luar. Namun, saat Viki membuka pintu, seketika keriuhan tersebut langsung sirna.
Semua mulut yang tadi sangat berisik langsung kicep. "Bagaimana?" tanya Viki pada kru pemotretan.
"Maaf Tuan, tapi model lelakinya belum ada." jelasnya.
Viki melihat ke sekitarnya. "Apa tidak ada dalam benak kalian, terbesit siapa model yang akan menjadi pengganti?" tanya Viki pada semuanya.
"Maaf Tuan, banyak model yang siap menggantikan Erlangga. Namun postur tubuh menjadi penghalangnya." jelas sang desainer.
__ADS_1
Viki memandang lekat ke arah Rey. "Bukankah bentuk tubuhmu dan Erlangga hampir sama." celetuk Viki, membuat semua mata memandang ke arah Rey. Menelisik, seolah sedang menilai tubuh sang asisten.
Rey meneguk ludah dengan kasar. "Mak-maksud Tuan?" tanya Rey memastikan. Meskipun dia tahu, arti perkataan dari atasannya tersebut.
"Ambil pakaiannya. Dia yang akan mencoba." perintah Viki.
Rey berdiri mematung. Dirinya akan digantikan model. Pengganti Erlangga. Mana mungkin.
"Ini pasti mimpi." gumam Rey, menepuk pelan kedua pipinya, seolah membangunkan dirinya sendiri dari mimpi.
"Ini Tuan Rey." asisten desainer menyodorkan beberapa pakaian yang masih tergantung rapi di hanger pada Rey.
"Tuan." panggil Rey, dengan nada memelas. Seperti seekor kucing yang sedang mengeong pada majikannya.
"Coba dan pakailah. Jangan membuang waktu." perintah Viki mutlak, tak dapat di bantah.
Dari tempat duduknya, Sara tersenyum melihat ekspresi Rey yang menurutnya sangat menggelikan.
Rey hanya mendengus pasrah. Mengambil pakaiannya dan segera mencobanya. "Disini saja. Kamu bukan perempuan." celetuk Viki, saat Rey ingin ke kamar ganti.
Sebab, Rey hanya perlu mencoba pakaiannya. Jika memang pas di badannya, baru mencoba celananya.
Dengan gerakan malas dan wajah ditekuk, Rey membuka kancing bajunya satu persatu. "Bantu dia." perintah Viki, lantaran Rey yang lelet.
"Tuan." cicit Rey, merasa tidak nyaman dengan bantuan tersebut.
"Jangan membantah." tegur Viki.
Pasrah, hanya itu yang bisa Rey lakukan. Senyum Rey secara perlahan mengembang, saat merasa jika pakaian tersebut tidak cocok di tubuhnya.
Masih banyak tempat longgar di bagain pakaian tersebut. Membuat Rey seperti memakai pakaian kebesaran. "Ternyata tubuhmu sangat kecil." ejek Viki mencibir.
Langsung saja, perkataan Viki membuat semuanya ingin tertawa. Namun mereka tidak melakukannya. Terlebih ada sang atasan di sekitar mereka.
Rey membuka pakaian yang sudah melekat di tubuhnya. "Tuan. Sepertinya saya tahu, tubuh siapa yang pas dan cocok untuk pakaian ini." ujar Rey, tersenyum sempurna memandang sang atasan.
"Jangan macam-macam." geram Viki, mengetahui apa yang diinginkan asistennya tersebut.
__ADS_1