VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 186


__ADS_3

Plak.... Plak....


Bukan hanya sekali, Nara menampar pipi Giska beberapa kali, hingga sudut bibir Giska mengeluarkan sedikit darah. Bahkan, mungkin sekarang Giska merasa kepalanya pusing.


Nara mengibaskan tangannya yang terasa panas karena dia gunakan menampar kedua pipi Giska sekuat tenaga. "Gila, sakit juga. Gimana dengan kabar pipi Giska." ucap Nara dalam hati.


Tubuh Viki seakan membeku. Untuk bersuarapun, lidahnya seakan kelu. Sungguh, dirinya sama sekali tidak membayangkan. Jika sang istri akan melakukan hal tersebut. Sangat brutal.


Dan ini pertama kalinya Viki melihat Nara seperti orang kesurupan. "Kuat juga istri gue." batin Viki, melihat pipi Giska yang memerah, dengan sedikit darah di ujung bibir.


Viki menilai jika sang istri kecilnya yang penuh dengan kelembutan, ternyata bisa berubah menjadi sangat menakutkan. "Apa benar, dia istri gue. Nara. Atau, dia kemasukan hantu." ucap Viki dalam hati, merasa merinding.


Giska menatap nyalang pada Nara, dengan memegang sebelah pipinya yang terasa panas dan sakit. "Apa...!!!" bentak Nara melotot. "Mau membalas..!!" sentak Nara tidak terima Giska menatapnya.


"Sayang." Viki memegang kedua pundak sang istri. Berusaha menenangkan amarah dalam diri Nara. "Sudah, jangan marah-marah ya." Jujur Viki sangat takut, melihat Nara yang seperti ini. Lebih menakutkan dari pada membantai lawan.


Nara menatap sang suami dengan tajam. "Mau belain dia..!" ucapnya sengak.


Viki langsung mengangkat kedua tangannya seperti seorang yang menyerah dalam pertempuran. Dan menggeleng. "Sama sekali tidak." tegas Viki, menelan ludahnya dengan susah payah.


"Makanya, diam..!!" bentak Nara. Viki langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. Dan mundur beberapa langkah.


Seorang Viki menjadi kicep seketika, berhadapan dengan sang istri kecilnya yang sedang dalam mode bringas dan bar-bar. "Tuhan, apa yang Kau masukkan dalam diri istri hamba Mu ini." ucap Viki dalam hati.


"Dan kamu..!!" Nara menunjuk tepat di wajah Giska. "Perempuan tidak tahu malu." hina Nara.


"Sayang sekali kecantikan anda terbuang sia-sia. Cari satu lelaki saja tidak bisa. Malah mau merebut suami orang. Situ senang jadi perempuan yang enggak mahal." ejek Nara, tersenyum miring.


"Perempuan murahan, sayang." Viki mengoreksi kalimat Nara. Viki menutup kembali mulutnya, saat sang istri kembali menatapnya tajam.


Giska tersenyum mengejek. "Kenapa, takut kehilangan Viki. Ya iyalah, gue lebih waow di banding elo. Apa mata elo buta, gue dan suami elo tadi ngapain." Giska mencoba mengompori Nara.


"Giska...!!" geram Viki.


Giska malah mendekat ke tempat Viki. "Sayang..." Giska ingin membelai tubuh berotot milik Viki.


"Berani menyentuh, gue nggak akan segan-segan buat patahin tangan elo." ancam Viki. Giska hanya cemberut dan menatap kesal ke arah Viki.


"Emang elo ngapain sama suami gue. Gue nanya,,,, elo mau ngapain?"


Nara tertawa sumbang. "Elo pikir gue bodoh. Lihat pakaian suami gue. Masih rapi." Nara mendekat ke arah Viki.


"Parfum mahalnya saja masih tetap sama. Nggak kecampuran sama parfum murahan milik elo." cibir Nara.


"Sumpah, jijik banget gue nglihat elo." hina Nara.


Cup,, Nara mencium singkat bibir Viki. "Tadi dia sentuh kamu dimana saja?!" tanya Nara dengan judes.


Giska melongo dibuatnya. Berharap Nara dan Viki akan bertengkar. Setelah Nara melihat kejadian barusan. Tapi apa yang terjadi, mereka malah romantis-romantisan di depannya.


"Kenapa Nara nggak salah paham, atau marah sama Viki. Kenapa cuma marah sama gue." ucap Giska dalam hati.


"Dia sama sekali nggak cium aku kok sayang, cuma melingkarkan tangannya di tengkuk. Sumpah." seperti anak kecil, Viki bahkan mengangkat tangannya ke atas, dengan jari membentuk huruf V.


"Serius?" Nara memastikan, Viki langsung mengangguk cepat.


"Mana mungkin aku ngebiarian dia cium aku. Pasti nanti aku akan gatal-gatal." ujar Viki nyleneh.


Giska hanya bisa melongo. "Viki,,, kamu pikir aku ulat." ucap Giska.


"Iya, ulat bulu. Yang kegatelan. Jadi meski dilenyapkan dan dihempaskan." ucap Nara.


Nara tersenyum jahil. Pasti di benaknya ada sesuatu rencana yang akan bisa membuat seorang Giska malu. Bahkan sampai kapanpun, Giska akan tetap ingat hal tersebut.


"Ehh,,,, mau apa elo...! teriak Giska, saat Nara menyeretnya keluar dari ruang pribadi sang suami. Dan segera menutup pintu tersebut dari luar. Mengantisipasi, jika Giska ingin masuk lagi.


Vikipun mengikuti ke mana langkah kaki sang istri. "Pak satpam...!!!" teriak Nara memanggil satpam, yang ternyata sudah bersiap di depan ruangan Viki.


Bukan hanya dua orang satpam saja yang masuk, ada sekertaris Viki dan juga Rey. Yang ternyata sudah menunggu di depan ruangan Viki.

__ADS_1


Dan memang, Nara yang menyuruh mereka untuk tidak ikut masuk ke dalam. Nara akan memanggil mereka jika dibutuhkan.


Viki hanya bisa diam, tersenyum, dan menikmati pertunjukan yang sedang di mainkan sang istri. "Apa yang akan kamu perbuat pada Giska sayang." gumam Viki bersedekap dada.


"Keluarkan dia dari perusahaan ini." perintah Nara.


"Elo gila,,,,!!" teriak Giska, ingin kembali masuk ke dalam ruang pribadi Viki.


Giska menyadari jika tubuhnya hanya dibalut handuk. Dan itu sangat minim sekali. Benar saja, Nara menyuruhnya keluar hanya dengan dirinya memakai handuk. Pasti Giska akan malu setengah mati.


"Mau kemana elo. Hah...!!!" Nara menjambak rambut Giska dan mendorongnya ke lantai.


Membuat semua orang yang berada di ruangan Viki hanya bisa meringis. Ternyata kemarahan Nara begitu menakutkan. "Kenapa diam saja, bawa dia keluar." perintah Nara lagi.


"Ba-ba-baik Nyonya." dua orang satpam menyeret Giska keluar dari ruangan Viki.


"Nara,,, elo gila, mata elo buta. Gue belum pakai baju...!!" teriak Giska dari luar.


Nara mencebik. "Memang perempuan seperti dia punya malu. Sok sokan malu. Telanjang di depan suami orang saja tidak malu. Dasar, perempuan aneh." celetuk Nara.


Sekertaris dan Rey hanya saling pandang. Sepertinya mereka bisa membaca pikiran satu sama lain. "Permisi, Tuan, Nyonya." pamit mereka, segera keluar dari ruangan.


"Tuan Rey, bagaimana nasib Nona Giska?" tanya sang sekertaris.


Bukan tanpa alasan dia bertanya seperti itu pada Rey. Giska diseret paksa, keluar dari ruangan Viki hanya menggunakan handuk di badannya. Tanpa membawa apapun. Bahkan dompet.


Rey menggeleng. "Sudahlah, lebih baik kita bekerja lagi. Jangan sampai kita malah kena sial hanya karena mengurusi Giska." ujar Rey. Sang sekertaris mengangguk, menyetujui perkataan Rey.


Viki tiba-tiba memeluk tubuh Nara dengan erat dari samping. "Kenapa?" tanya Viki protes, saat Nara melepaskan pelukannya.


"Eehhh,, ehh,, mau kemana ayang..." Viki kembali menarik Nara yang entah ingin pergi kemana. Dan memeluknya kembali.


"Senangnya hati suamimu hari ini. Emmmm..." Viki mencium pucuk kepala Nara berulang-ulang.


Viki merasa jika Nara benar-benar mencintainya. Sampai Nara memperlakukan Giska seperti tadi. Menurut Viki, hal tersebut membuktikan jika Nara tidak ingin kehilangan dirinya.


"Yuk, kita ke kamar." ajak Viki.


Alih-alih marah, Viki malah berlaku lembut pada sang istri. "Kenapa?" tanya Viki dengan tutur lembut.


"Ya nggak mau lah. Udah bekas si uler keket." Nara penampilan ekspresi wajah jijik dan juteknya.


"Ya sudah, nanti biar aku suruh membersihkan sekertarisku. Bagaimana kalau kita makan dulu. Aku lapar banget." pinta Viki dengan manja.


Takut. Tentu saja Viki takut. Takut jika Nara tiba-tiba menaruh curiga dan salah paham. Padahal dirinya dan Giska sama sekali tidak melakukan apapun.


Viki merangkul mesra Nara, dan mengajaknya untuk duduk di sofa panjang dan empuk. Menikmati makan siang bersama seperti biasanya.


Tapi, jika biasanya suasana terlihat hangat dan romantis, kali ini terlihat dingin dan sama sekali jauh dari kata romantis.


Jika biasanya Viki selalu disuapi oleh Nara, namun kali ini berbeda. "Aaa... Buka mulut kamu." pinta Viki, menyuapi Nara.


Viki selalu menampilkan senyum, dan selalu mencium pipi sang istri. Berbeda dengan Nara yang masih dalam mode galak.


"Giska brengsek, gue harus temui Tuan Marko. Jika mereka tidak bisa mengirim Giska ke luar negeri, terpaksa gue akan bertindak kasar." ucap Viki dalam hati.


Meski sebenarnya Viki sudah berjanji pada Nara, jika dirinya tidak akan bertindak kasar pada Giska. Atau membuat Giska celaka.


Alasan Nara hanya karena satu hal. Yakni, Giska adalah ibu kandung dari baby Al, yang kini sudah berumur satu tahun.


"Maaf sayang, jika mereka tidak segera mengambil keputusan. Aku terpaksa berbuat sesuatu pada Giska. Tenang saja, aku tidak akan membunuhnya. Paling membuat dia cacat." ucap Viki menyeringai.


Tanpa Viki tahu, Nara melihat senyum mengerikan dari bibirnya. "Sayang, ingat. Kamu jangan bertindak gegabah atau berlebihan pada Giska." ucap Nara.


Viki tersenyum lembut. "Tidak sayang. Kamu tenang saja." Viki kembali menyuapi sang istri, beserta dirinya juga.


"Aku yakin, selama kamu tidak memiliki hati atau membalas perasaan Giska, lambat laun dia akan menyerah dan menjauh dari hidup kita." jelas Nara.


"Iya. Aku paham kok." Viki kembali mencium singkat pipi Nara.

__ADS_1


"Istriku ini terlalu baik dan polos. Di dunia ini, banyak macam sifat manusia. Dan Giska, salah satu manusia yang mempunyai sifat bebal." batin Viki.


Giska berjalan menunduk di setiap lorong perusahaan Viki, dengan didampingi dua satpam di belakangnya.


"Nara memang gila..!!" umpat Giska, melihat penampilannya yang hanya memakai handuk di badannya.


"Apa lihat-lihat...!!" bentak Giska pada seorang karyawan yang menatapnya.


Karyawan tersebut tersenyum miring. "Yang gila elo, bukan Nyonya kecil. Masa, jalan di tempat umum cuma pake handuk. Malu dong...." ejeknya.


Sontak beberapa karyawan tertawa keras menatap ke arah Giska. "Makanya, jadi perempuan harus tahu diri. Sok mau bersaing sama yang lebih muda. Situ waras..!!!" timpal karyawan lain.


"Hoeeyy,,,, nggak ngaca. Situ yang gila. Pake ngatain Nyonya kecil gila. Helloo,,, apa kabar...!!" seru yang lain.


"Masih baik sih Nyonya, kalau gue jadi Nyonya kecil, sumpah. Tuh rambut udah nggak ada di kepala..!!" sengit karyawan lain.


Mereka semua diam, saat Rey datang. "Kembali bekerja." ucap Rey. Mereka menatap sengit ke arah Giska dan kembali melakukan pekerjaan mereka.


Rey memberikan beberapa lembar uang kertas pada Giska. "Buat naik taksi."


Giska tersenyum. Dan mengambil uang tersebut. "Pasti ini Viki yang menyuruh kamu kan?" tanya Giska, menebak.


Rey terkekeh pelan. "Anda pikir, Tuan akan peduli. Jika nyawa anda hilangpun. Tuan tidak akan peduli. Bahkan, jika diperbolehkan oleh istrinya. Tuan sendiri yang akan mengambil nyawa kamu." jelas Rey.


"Nyonya kecil masih mempunyai hati. Dia seorang perempuan yang sangat baik." Rey tersenyum miring.


"Carikan dia taksi." lanjut Rey, menatap satpam di samping Giska.


"Baik Tuan."


Rey tersenyum mengejek ke arah Giska, membalikkan badan dan meninggalkan Giska. "Nara..!!" geram Giska, meremas uang kertas di tangannya.


Seperti yang direncanakan, Viki tak langsung pulang ke rumah. Begitu pekerjaan sudah selesai. Namun dia mampir terlebih dahulu ke rumah Tuan Marko.


"Saya tidak ingin terlalu banyak basa-basi." ucap Viki langsung pada inti permasalahan, kenapa dirinya mendatangi kediaman Tuan Marko.


"Kirim Giska ke luar negeri. Jika anda masih menginginkan putri anda dalam kondisi normal." ancam Viki, duduk dengan angkuh. Padahal di sini, dialah tamunya.


Tuan Marko dan Nyonya Gina saling melempar pandang. "Dia membuat kepala saya terasa mau pecah. Jadi, sekali lagi dia bertindak di luar batas kesabaran saya. Akan saya pastikan, dia tidak akan bisa hidup seperti biasa."


Viki tidak pernah main-main dengan apa yang dikatakannya. "Berikan kami waktu." pinta Tuan Marko.


Tuan Marko merasa jika putrinya membuat masalah besar pada Viki. Sehingga Viki langsung mendatanginya. Padahal selama setahun terakhir ini, Giska terlihat sedikit menjauh dari Viki.


Tapi siapa sangka, semua tidak seperti yang dia pikirkan. "Maafkan Giska nak Viki." pinta Nyonya Gina, dengan wajah pucatnya dan badan semakin kurus.


"Saya bukan Tuhan." sahut Viki.


Viki mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Meletakkan sebuah kartu nama di atas meja. "Ini kartu nama dokter kenalan saya. Anda bisa membawa istri anda untuk berobat ke sana."


Tuan Marko dan Nyonya Gina terkejut. Bagaimana Viki bisa tahu, jika Nyonya Gina sedang sakit. "Anak kecil saja akan tahu." celetuk Viki, melihat ekspresi wajah sepasang suami istri itu.


"Tapi, dokter bilang jika penyakit saya sudah menyebar ke seluruh jaringan tubuh. Dan sulit disembuhkan." Nyonya Gina terlihat pasrah.


"Sulit disembuhkan. Bukan berarti tidak sembuh." ungkap Viki.


Tuan Marko mengambil kartu nama itu, dan membacanya. Beliau tersenyum, tapi senyumnya langsung pudar seketika, saat mengingat sesuatu. "Tapi dia adalah dokter lepas. Sangat sulit untuk ditemui."


Dokter yang direkomendasikan Viki adalah dokter terbaik di bidangnya. Namun sayangnya, dia lebih senang bekerja sebagai sukarelawan di berbagai pelosok dunia. Bekerja tanpa di bayar.


"Jangan di telepon. Tapi kirimlah pesan tertulis. Katakan, jika aku yang memberitahukannya." pinta Viki dengan yakin, jika sang dokter pasti mau merawat dan mengobati Nyonya Gina.


"Satu lagi. Jangan bahas soal uang ataupun biaya. Dia bukan orang miskin." lanjut Viki.


"Terimakasih."


"Kalian bisa berangkat besok. Dan bawa sekalian Giska dari negara ini. Pastikan jika dia tidak akan lagi menginjakkan kaki di negara ini lagi." ucap Viki.


"Besok."

__ADS_1


"Iya, besok. Dan saya tidak mau ada tawar menawar." ucap Viki tak ingin ada penolakan.


__ADS_2