
"Bye ... bye Rash.Selamat tinggal dan sampai jumpa lagi" Laura sedikit berlari sambil melambaikan tangannya ke arah Aarash yang terpaku memandang kepergian Laura.
Aarash seakan berubah menjadi orang bodoh.Tatapannya kosong,tidak beralih dari tempat dimana Laura terakhir menghilang.Aarash terjengkit kaget begitu,mendapat tepukan keras di bahunya.
"Woi, ayo buruan pulang! ucap Aariz dengan sedikit meninggikan suaranya,merasa kesal dan sedih.Kesal karena tidak mendapatkan,seperti yang diberikan Laura kepada Aarash dan sedih karena mulai besok,dia tidak akan bisa melihat Laura lagi untuk waktu yang lama.Yang dia tidak tahu, apakah suatu saat bisa bertemu lagi.
Aarash mengayunkan langkahnya mengikuti Aariz menuju mobil,dimana terlihat mang Ujang sedang menunggu.
Aariz melihat Aarash, yang masih menimang-nimang gantungan kunci pemberian Laura,dengan raut muka yang sukar dibaca.
"Kalau kamu tidak mau menyimpan gantungan kunci itu, sini biar aku saja yang menyimpannya! "Aariz berniat meraih gantungan kunci itu dari tangan Aarash,tapi dia kalah cepat dari kakaknya itu,yang spontan menjauhkan gantungan kunci itu dari jangkauan Aariz.
"Hei, jangan sembarangan ngambil barang orang ya Riz, aku tidak suka! " sambil mendelik dengan sorot mata yang tajam.
"Bukannya sembarangan mau ambil Rash! Tapi kan kamu gak suka sama Laura.Takutnya nanti gantungan kunci itu kamu buang.Jadi dari pada nanti kamu buang, biar aku saja yang simpan"
"Siapa bilang aku tidak mau simpan?" ucap Aarash sambil memasukkan gantungan kunci itu ke dalam sakunya.
Aariz mendecih,mendapat respon yang diluar ekspektasinya dari Aarash.Tadinya dia berharap kalau Aarash akan dengan senang hati memberikan gantungan kunci itu padanya.Ternyata tidak sama sekali.
"Cih,katanya tidak suka, tapi pemberian orangnya kamu embat juga" protes Aariz dengan nada kesal.
"Aku cuma menghargai pemberian orang.Kata bunda,walaupun kita tidak menyukai orangnya,tapi tetaplah terima dan hargai apa yang diberikan padamu." tukas Aarash tegas.
"Alasan" Aariz memalingkan wajahnya menatap jalanan,malas berdebat dengan saudara kembarnya Aarash.Mang ujang yang mendengar perdebatan keduanya,tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****
Acara resepsi pernikahan Dimas dan Sinta malam ini berlangsung dengan lancar dan mewah.Para tamu undangan disuguhkan dengan dekorasi pesta yang sangat indah dan hidangan makanan yang sangat lezat dan mewah.
Diantara tamu undangan itu,tampak Seno datang sendiri tanpa Amira.Bukannya Seno tidak mau mengajak Amira untuk ikut serta, tapi Seno tidak mau Amira dan ketiga anaknya sampai kenapa-kenapa,karena seharian ini Amira sudah sangat lelah,dalam acara 4 bulanannya siang tadi.
__ADS_1
Ya ...., Siang tadi Amira dan Seno mengadakan acara 4 bulanan seperti Tiara,karena usia kandungan Amira dan Tiara hanya berbeda 1 minggu. Seno terlihat menyapa teman-teman SMA yang turut hadir dalam acara ini.Karena Sinta kebetulan juga mengundang mereka semua.
Tampak Luna and the geng,yang merupakan geng Gladys dulu menghampiri Tiara yang sedang duduk sendiri di sebuah meja, karena kebetulan dia sedikit kelelahan kalau mengikuti Bimo suaminya untuk menyapa kolega-koleganya yang turut hadir sebagai tamu undangan di acara resepsi Dimas dan Sinta. Apalagi coba tujuan Luna and the geng mengahampiri Tiara kalau bukan untuk cari muka.Berharap Tiara mau menjadikan mereka sebagai teman,sehingga mereka bisa pamer di media sosial mereka masing-masing kalau mereka berteman dekat dengan istri pengusaha no 1 di Asia.
"Hai Ra, pa kabar?" Sapa Luna memamerkan senyuman semanis madu.
"Oh, seperti yang kalian lihat,saya sehat " sahut Tiara berusaha untuk ramah,walaupun sebenarnya dia merasa kurang nyaman dengan kehadiran Luna and the geng itu.
"Kamu makin cantik lho Ra.Sumpah kami sampai pangling" ujar Luna memasukkan jurus pertama.
"Masa sih Lun? makasih deh buat pujiannya"
"Iya Ra beneran! suer deh.benar kan gaess?! meminta persetujuan dari teman-teman yang lain.Semuanya spontan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
" Kalian semua sedang apa di sini? " Sebuah suara berat dan tegas mengalihkan perhatian mereka semua.
"Kalian tidak sedang, menghina istriku kan?" ujar suara itu kembali dengan nada tidak suka sambil menghunuskan pandangan tajam yang menakutkan bagi orang yang memandangnya
"Iya sayang,mereka cuma menyapa aku kok!" Tiara menyahuti Bimo sambil menyunggingkan senyuman manis ke arah Bimo-suaminya.
"Oh, ya udah.Terima kasih sudah mau menyapa istriku.Walaupun aku tahu kalau kalian semua punya maksud dibalik itu" sindir Bimo sarkasme dan tepat sasaran.Membuat Luna and the geng menundukkan wajah mereka.
"Yang, mari kita sapa Dimas dan Sinta!. Habis itu kita langsung pulang,nanti kamu kecapean"! meraih tangan Tiara,membantunya berdiri dan mengajak Tiara untuk berlalu dari meja itu.
Tiara beranjak meninggalkan Luna and the geng,setelah berpamitan terlebih dahulu.
"Sayang,ngapain kamu ladenin mereka? kamu beneran kan gak di apa-apain sama mereka?" selidik Bimo dengan penuh ke-khawatiran.
"Beneran yang,aku tidak diapa-apain sama mereka" Tiara berusaha menenanhkan Bimo sambil menepuk-nepuk bahu Bimo.
"Kamu jangan mau berteman dengan orang bermuka dua seperti mereka sayang.Kita tidak perlu punya teman banyak,kalau bermuka dua.Mending punya teman sedikit tapi berkualitas" ujar Bimo bijak.
__ADS_1
"Iya sayang, ihh.Bawel banget sih!" Tiara mencubit gemas pipi Bimo.
*****
"Selamat ya Dim,semoga bahagia,cepat dapat momongan dan langgeng sampai maut memisahkan" Bimo memberikan ucapan selamat, di ikuti dengan Tiara yang langsung memeluk Sinta,sahabat terbaiknya dengan terharu dan bahagia. Tanpa sadar cairan bening sudah merembes membasahi pipinya karena terlalu bahagia.
"Thanks bro.terima kasih juga buat kehadirannya!" sahut Dimas,memeluk Bimo sekilas.Karena kalau lama-lama,pasti akan muncul spekulasi-spekulasi liar dari orang-orang.
Setelah Bimo,kini gantian Seno yang mengucapkan kata selamat.Ketika Seno hendak menjabat tangan Sinta, Dimas tiba-tiba menggeplak tangan Seno dan langsung meraih tangan Sinta yang kini sudah sah menjadi istrinya,lalu menggenggamnya erat.
Entah kenapa, Dimas masih cemburu bila mengingat kalau Sinta pernah menaruh hati sama Seno,walaupun Seno sama sekali tidak pernah menaruh hati sama Sinta.
Seno berdecak,menggeleng-gelengkan kepalanya,melihat kecemburuan Dimas padanya.Tapi Seno sama sekali tidak sakit hati atas perlakuan Dimas pada dirinya.Karena dia cukup mengerti, dengan perasaan Dimas,yang sangat mencintai Sinta.
"Mas, kok tangan aku ditarik sih?! Seno kan mau nyalam aku" protes Sinta tidak senang.
"Semua tamu di sini, boleh menjabat tangan kamu,kecuali Seno" tegas Dimas.
"Tapi kenapa?" Sinta mengrenyitkan alisnya,bingung kenapa Seno tidak boleh menyentuh tangannya.
"Karena aku tahu,kalau pria yang kamu suka dulu itu Seno kan?" bisik Dimas tapi masih bisa didengar oleh Tiara,yang kebetulan berdiri sangat dekat dengan Sinta.
Kedua netra Sinta seketika membesar,karena jujur, dia tidak pernah memberitahukan Dimas,siapa laki-laki yang pernah dia suka.Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali ....Ekor matanya seketika melirik Tiara yang sudah cengengesan dengan sinis.Karena dia yakin,pasti Tiara yang sudah membocorkannya.
Ting
Seno mengambil ponselnya dari sakunya, untuk melihat siapa yang sedang mengirim pesan ke ponselnya.Seno langsung berdecak kesal melihat isi pesan berupa permintaan sekaligus ancaman dari Amira istrinya
"Sayang, nanti tolong bungkus kan makanan ya dari sana! yang banyak! Awas kalau kamu nggak bawa.Kamu tidak boleh tidur di kamar.Kamu tidur di luar."
TBC
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya.please like,vote dan komen.Thank you🥰🥰🤗