
"Aku udah suruh buang Yah!' celetuk Aariz seraya nyengir ke arah Bimo.
"APA?!" teriak Bimo,sembari berdiri, menatap tajam ke arah Aariz.
"Aariz kan gak tahu Yah! siapa suruh bohongin Aariz,pake bilang Vina di jodohin sama orang lain? Kan Aariz gak mau kalau Vina pakai cincin dari orang lain." Aariz membela diri.
Bimo terdiam, tidak bergeming mendengar penuturan putranya itu. Karena seandainya, Tiarapun memakai barang pemberian dari orang lain, dia pun pasti bakal suruh buang.
"Aarizzz, seandainya bukan kamupun yang ditunangkan dengan Vina, kamu kan bisa suruh kambalikan ke orangnya, gak harus dibuang sayang," kali ini Tiara yang berbicara dengan sangat lembut
"Kamu jangan salahin Aariz Ra, salahin suami kamu!" celetuk Dimas tiba-tiba.
"Kok jadi nyalahin gue?" cetus Bimo kesal.
"Ya iyalah, sifat anak-anak lo kan turun dari lo? coba kamu ada di posisi Aariz, kamu juga pasti ngelakuin hal yang sama kan? sindir Dimas sembari mendengus.
Bimo terdiam tidak bisa menyahuti perkataan Dimas yang memang benar adanya.
"Udah, udah! yang jelas gak ada yang salah disini, jadi stop berdebat! Harta kamu juga gak akan berkurang kan Bim, gara-gara cincin itu?" Sinta kini bersuara menengahi.
"Sekarang yang perlu kita bicarakan itu, kapan pernikahan mereka kita akan adakan." sambung Sinta kembali, dan semua manggut-manggut membenarkan ucapan Sinta.
Setelah pembicaraan yang cukup lama, akhirnya keputusan sudah di ambil, dan pernikahan akan diadakan satu bulan terhitung dari hari itu.Walaupun mendapat penolakan yang tegas dari Aariz, yang mengganggap satu bulan itu cukup lama.
Akan tetapi dia kalah suara, jadi mau tidak mau Aariz pun harus menerimanya walaupun dengan wajah yang ditekuk.
Setelah keputusan sudah diambil, Bimo dan Tiara pun pamit pulang, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam. Akan tetapi Aariz memilih untuk tidak ikut pulang bersama Ayah dan bundanya.Untungnya tadi dia memilih untuk naik mobil sendiri, jadi dia bisa pulang lebih lama dari orangtuanya.
***********
Galang berjalan menyusuri trotoar sembari senyum-senyum. Dia baru keluar dari area kampusnya.Dia melirik jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 2.30 sore waktu London.
Dia memasukkan tangannya, kedalam sakunya dan mengambil sebuah benda berkilau dari dalam sakunya itu, tanpa pernah menanggalkan senyuman dari bibirnya.
"Yes, sepertinya cincin ini memang di takdirkan untuk jadi milikku. Memang ya , kalau udah rejeki, gak akan kemana. Muuuuachhh!" Galang,mencium cincin itu dengan cukup lama.
__ADS_1
Sebuah tangan,tiba-tiba merampas cincin itu dari tangan Galang, saat Galang hendak memasukkan cincin itu kembali ke dalam sakunya.
"Wow! cincinnya bagus banget, ini buat aku ya?" ucap seorang gadis, sambil berdecak kagum.
Galang buru-buru merampas kembali cincin itu dari tangan si gadis, saat gadis itu berniat memasukkan cincin itu ke jari manisnya.
"Hei, enak aja kamu main rampas cincin orang! jangan mimpi ya Din! "Galang kembali memasukkan cincin itu ke dalam sakunya.
Ya, gadis yang merampas cincin dari tangan Galang itu, Dina. Gadis yang sudah lama menaruh hati pada Galang. Dia selalu berusaha mendekati Galang selama ini, tapi sekalipun Galang tidak pernah memberikan respon.
Dina tampak tersenyum kecut, mendengar ucapan Galang yang cukup menyakitkan baginya. Tapi, dia sudah cukup kebal akan ucapan-ucapan Sarkas yang dilontarkan oleh Galang padanya sejak dulu.
"Jadi itu buat siapa, Lang?" tanya Dina lirih.
"Mau buat siapa kek, itu bukan urusanmu! " cetus Galang sembari mengayunkan langkahnya meninggalkan Dina.
"Galang, tunggu! kok aku ditinggal sih?" Dina sedikit berlari untuk mengikuti Galang.
Galang mengembuskan nafasnya, dan berbalik segera, sehingga Dina yang sudah berdiri tepat di belakangnya, membentur dada Galang.
"Kamu kenapa sih, ngikutian aku, Din? please stop ngikutin aku! " tegas Galang.
"Kenapa tidak boleh, Lang? Aku cuma mau tahu, ke wanita mana kamu akan kasih cincin itu." ucap Dina sambil *******-***** kedua tangannya.
"Mau, ke wanita manapun itu bukan urusan kamu! Kalau kamu sudah tahu, apa kamu akan membuli gadis itu, seperti pada gadis-gadis yang mendekatiku ...? menyebarkan rumor kalau kita ini sepasang kekasih?" Galang, menatap sinis ke arah Dina. Jujur, Galang sebenarnya sudah jengah akan tingkah laku Dina yang selalu mengklaim Galang sudah menjadi miliknya.
Dina terkesiap karena kaget.Dia tidak menyangka kalau Galang tahu semua yang telah dia perbuat. Dulu waktu Galang sempat menyukai Kirana pun, Dina hampir saja ingin memfitnahnya.Tapi, karena dia tahu kalau dulu Kirana menyukai Dewa, diapun mengurungkan niatnya. Dan sekarang dia semakin lega, setelah sekarang Kirana sudah menjalin hubungan dengan Dion.
"Kamu pasti kaget, Din, darimana aku bisa tahu semuanya kan? Aku sudah sering melihat kamu dengan mata kepala ku sendiri, kalau kamu selalu berniat menjatuhkan wanita-wanita yang sedang dekat denganku. Dan kamu juga selalu mengirimkan surat-surat ancaman buat gadis-gadis yang mendekatiku." Papar Galang, yang membuat Dina semakin gemetaran.
"Selama ini, aku diam saja, karena aku masih merasa diuntungkan dengan sikapmu.Gadis-gadis itu menjauhiku karena ancamanmu, merupakan suatu keuntungan buatku. Karena dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah menolak mereka dan membuat mereka sakit hati. Tapi, sekarang aku tidak mau lagi, kalau kamu melakukannya pada gadis yang aku sukai, Paham kamu?!" Galang mencengkram dagu Dina dan menatap mata Dina yang sudah berkaca-kaca dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Tapi Lang, aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah rela, kalau kamu jadi milik wanita lain." ujar Dina dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Cinta itu tidak bisa dipaksakan Din. Selama ini aku masih menghargai kamu, karena kita datang dari negara yang sama.Tapi, makin kesini, sikap kamu semakin tidak terkontrol. Sikap posesif kamu semakin menjadi-jadi. Bahkan, perempuan yang hanya tersenyum padaku pun, kamu ancam. Apa kamu bisa dikatakan waras ...? dengan sikap kamu seperti itu, bukannya membuatku jadi menyukaimu, justru membuat ku merasa takut." tutur Galang panjang lebar, tanpa memberikan kesempatan buat Dina, untuk membalas setiap ucapannya.
__ADS_1
Galang melirik jam tangannya, dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dia merasa kesal, karena waktunya sudah terbuang sia-sia meladeni Dina.
"Maaf Din aku harus pergi dulu, dan please jangan mengikutiku!" Galang berbalik dan mengayunkan langkahnya hendak meninggalkan Dina yang masih terisak-isak. Akan tetapi, Galang kembali berbalik dan menatap Dina . " Satu lagi Din, please jauhin aku, dan carilah laki-laki yang benar-benar mencintaimu.Karena jujur, hidupmu akan lebih bahagia, bila kamu hidup bersama dengan orang yang mencintai kamu,bukan dengan orang yang kamu cintai, tapi tidak pernah mencintai kamu." ucap Galang untuk yang terakhir kalinya, dan berjalan kembali meninggalkan Dina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Galang tiba di Mall yang lumayan dekat dari kampusnya.Kakinya terayun melangkah mendekati toko perhiasan. Niatnya benar-benar sudah bulat untuk menjual cincin Vina. Sudah dua hari ini Galang mendiamkannya di apartemennya, menunggu Dimas omnya memintanya kembali. Akan tetapi, sampai tadi siang ditunggu, Omnya itu tidak menghubunginya sama sekali, jadi dia merasa aman untuk menjualnya.
Di saat dia, sedang negosiasi masalah harga, tiba-tiba ponselnya berbunyi dari nomor yang tidak dikenal. Dia memutuskan untuk menjawab telepon itu dulu. " Hallo, ini siapa?" sapa Galang.
"Ini Om,Dimas Lang, aku pakai nomornya Aariz." sahut Dimas dari ujung telepon.
Perasaan Galang, sudah benar-benar sudah tidak enak, ketika mengetahui kalau si penelepon itu, Dimas om-nya.
"I-iya, Om! ada apa? "sahut Galang, dengan suara senetral mungkin.
"Om cuma mau bilang, kalau Vina akan menikah dengan Aariz bulan depan.Kamu bisa kan pulang ke Indonesia sebentar aja.Soalnya Vina mau kamu hadir di acara pestanya."
"Oh, tentu saja Bisa Om," sahut Galang cepat sambil menerbitkan senyuman di bibirnya. Galang merasa senang, karena Omnya tidak menyinggung masalah cincin sama sekali.
"Ya udah, kami tunggu kehadiranmu! Oh, ya sekalian cincin Vina kamu bawa juga ya nanti!" ujar Dimas dari seberang telepon yang membuat senyuman manis Galang berubah kecut.
"Cincinnya belum kamu jual kan, Lang?" tanya Dimas lagi.
"B-belum Om!" Jawab Galang cepat.
"Maaf Tuan, apa cincin ini jadi anda jual?" celetuk pelayan toko itu tiba-tiba.(anggap saja pakai bahasa Inggris ya!)
"Galaaaang, cincinnya mau kamu jual ya?" teriak Dimas, begitu mendengar ucapan pelayan itu.
"Nggak, Om!" sahut Galang , kaget dan langsung mematikan ponselnya.
"Sial! gak jadi kaya mendadak aku" umpat Galang dalam hati,seraya meminta kembali cincin itu dari tangan pelayan tadi.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa buat like, vote dan komen. Thank you. Kasih hadiah juga boleh loh😁😁😁😁