YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Mari ikut pulang!


__ADS_3

"Ada apa ini Bu? Kok ibu menangis?" tanya Beni pada istrinya, tapi dia tidak mendapat jawaban.


"Ada apa ini Dion? dan kenapa Paman Bono, tadi marah-marah?" kali ini Beni bertanya pada Dion. Tapi dia seketika langsung paham ketika matanya melihat benda yang dipegang oleh Dion.


"Jadi, kamu sudah tahu yang sebenarnya Nak?" tanya Beni sembari mendaratkan tubuhnya duduk di samping Dion.


Dion hanya menganggukan kepalanya, sebagai jawaban.


"Apa kamu marah sama bapak dan ibu, karena tidak memberitahukanmu selama ini?"tanya Beni lagi.


" Aku tidak marah Pak, aku cuma kecewa.Tapi, aku paham kenapa kalian berdua menutupinya selama ini.Itu karena kalian berdua benar-benar tulus menyayangiku__. Terima kasih ya Pak, Bu, udah mau merawat dan membesarkanku selama ini, dengan penuh kasih sayang. Seandainya aku ditemukan orang lain, belum tentu aku bisa seperti ini." Dion menghambur memeluk Beni, dan Beni membalas pelukan Dion dengan erat .


"Bagaimana rencanamu sekarang Nak? apa kamu akan ninggalin bapak sama Ibu?"


"Nggak, Pak! aku akan tetap bersama dengan kalian berdua. Kalian berdua tetaplah orangtuaku."Sahut Dion dengan tegas.


"Tapi, bagaimana dengan kakakmu Nak? apa kamu tidak kasihan padanya?" Darti yang sudah mulai bisa menguasai keadaan,menimpali pembicaraan Dion dengan suaminya.


Beni terkesiap mendengar ucapan Darti istrinyan.Dia kini menatap Dion dengan tatapan meminta penjelasan.


"Kakak bagaimana? apa kamu sudah bertemu dengan keluargamu?"


Dion menarik nafas dalam-dalam, lalu mengehembuskannya lagi dengan perlahan. Dia lalu menceritakan semua kejadian tadi malam sampai pembicaraan Bono dengan istri dan putrinya Ratih serta kedatangan Bono barusan.


"Oh,bukannya seharusnya kamu senang Nak? Kamu sudah bertemu dengan kakak kandungmu. Itu berarti kamu akan bisa bertemu dengan Orangtua kandungmu yang pastinya juga sudah sangat merindukanmu!" ucap Beni yang sama sekali tidak tahu kalau orangtua kandung Doni sudah tiada.

__ADS_1


"Bukan begitu Pak! aku memang ingin sekali bertemu dengan mereka. Tapi tadi malam aku sudah membantah dengan keras, kalau aku ini bukan adiknya.Kalau sekarang aku tiba-tiba datang dan mengatakan, kalau aku benar-benar adiknya, apa mereka akan bisa percaya? Mereka pasti beranggapan kalau aku, itu hanya mengaku-aku saja, karena aku tahu mereka orang kaya. Aku tidak mau Pak, mereka mengganggapku mengambil kesempatan." sahut Dion dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi, Nak, kamu kan punya bukti, liontin itu. Kamu bisa menunjukkannya.Bapak dan ibu juga pasti akan membantumu menjelaskan pada mereka."


"Tapi apa mereka akan tetap percaya hanya dengan liontin ini Pak?" tanya Dion ragu.


"Tanpa liontin itu, aku tetap percaya kalau kamu itu adikku, Leon yang hilang." Tiba-tiba Laura sudah muncul bersama suami dan kedua mertuanya.


Dion dan kedua orangtua angkatnya terkesiap karena kaget melihat kehadiran Laura dan suami serta kedua mertuanya yang tiba-tiba.


Di luar para tetangga juga sudah ramai untuk melihat apa yang sedang terjadi.Karena jarang-jarang ada mobil mewah yang singgah ke rumah reot Pak Beni dan Darti.


"Kamu adikku Leon. Aku tidak butuh bukti-bukti lagi. Kamu lihat ini, bahkan test DNA kita juga sudah membuktikannya." Laura menghambur memeluk Dion dan menciumi pipinya berkali-kali.Hingga membuat Aarash blingsatan, sedikit cemburu


Dion membalas pelukan Laura dengan erat. Hal yang sebenarnya ingin dia lakukan tadi malam. Pipinya juga kini sudah basah oleh air mata.


Suasana yang tadinya mengharu biru langsung ambyar dengan ucapan Aarash. Laura menghunuskan tatapannya dengan sangat tajam, hingga membuat Aarash beringsut mundur.Ternyata bukan hanya Laura yang menatapnya demikian, Tiara bundanya, juga kini tengah menghunuskan tatapannya ke arah Aarash. Sedangkan Bimo, pipinya sudah menggembung, akibat berusaha menahan tawa.


Pak Beni dan Buk Darti, kini terpaku dengan mulut yang terbuka. Mereka memang tahu, kalau orangtua kandung Dion orang kaya, tapi mereka tidak tahu, kalau ternyata Kakaknya Dion menantu dari Bimo Putra Aryaguna yang merupakan orang yang sangat kaya raya. Seketika mereka langsung menjatuhkan diri berlutut di kaki Bimo. "Ampun Tuan, bukan kami yang menculik Dion. Kami hanya menemukan dia menangis di jalanan." ucap Beni ketakutan.


Bimo meraih pundak Pak Beni dan Buk Darti den menuntun mereka untuk berdiri.


"Gak usah takut Pak, Bu, kami juga tahu, bukan kalian yang menculik Leon. Kami justru berterima kasih, kalian berdua sudah merawat dan membesarkan Leon dengan baik." Seulas senyuman yang terbit di bibir Bimo yang ditujukan pada Pak Beni dan Buk Darti.


"Pak Bimo, Bu silahkan duduk dulu! aku mau ambilkan minum. Maaf tempatnya begini."ucap Bu Darti dengan sopan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Dan tidak usah susah-susah buat minum juga." sahut Bimo sambil mengajak istrinya untuk duduk.Demikian halnya juga Aarash pada Laura.


"Jadi, selama ini kamu tinggal di sini Yon?" tanya Laura sembari mengedarkan tatapannya melihat ke sekeliling, merasa miris melihat keadaan rumah yang sudah tidak layak pakai itu.


"Iya, K-kak!" sahut Dion yang masih merasa canggung menyebut Kakak pada Laura.


"Kak, dimana mamah dan papah? apa mereka tidak ikut ke sini?" Dion atau Leon, akhirnya memberanikan diri menanyakan apa yang dari tadi mengganjal di pikirannya, karena dia tidam melihat orangtuanya sama sekali.


Laura seketika merasa sedih begitu mendengar pertanyaan adiknya itu.


"Mamah, papah sudah meninggal Yon, akibat kecelakaan." Mobil Papah dan Mamah disabotase oleh orang suruhan Om Deni adik angkat papah dan tante Sherly istrinya. Kakak juga pada saat itu ada di mobil itu. Tapi ,kakak masih bisa selamat, walaupun kakak sempat hilang ingatan." Tutur Laura, dengan mata yang berkaca-kaca.


Dion terhenyak, dan tanpa disadarinya, air matanya sudah menetes membasahi pipinya. Dia tidak menyangka, kalau dia tidak bisa melihat wajah kedua orangtuanya lagi.


"Dan yang menculik lalu meninggalkanmu di jalanan juga Tante Sherly, karena cuma kamu lah anak laki-laki dari keluarga Hartono.Jadi, tante Sherly tidak mau, perusahaan Hartono jatuh ke tanganmu. Tapi kamu tenang saja, tante Sherly sudah menerima hukumannya. Sekarang dia harus mendekam di dalam penjara seumur hidup." Sambung Laura, menjelaskan kembali.


"Selama kamu hilang, papah dan mamah sudah melakukan semua usaha untuk mencarimu. Mamah selalu menyalahkan dirinya sendiri, yang membuat kamu hilang sampai-sampai mamah akhirnya depresi dan dibawa ke Singapura untuk menyembuhkan depresinya." Tutur Laura, yang membuat Dion semakin terisak-isak.


"Tapi, aku yakin, kalau sekarang mereka pasti bahagia di atas sana, melihat kita sudah bisa berkumpul lagi." Jadi sekarang mari ikut kaka pulang! Laura menyunggingkan senyuman ke arah Dion. Lalu dia mengalihkan tatapannya ke arah Pak Beni dan Ibu Darti.


"Pak, Ibu, terima kasih ya, sudah mau merawat adikku selama ini. Kalau boleh, aku mohon sama Bapak dan Ibu, agar ikut dengan kami kembali bersama Leon ke rumah keluarga Hartono. Aku juga mau kalian berdua menganggap aku sebagai putri kalian juga."


"Tapi, Nak kami__"


"Aku mohon Buk,tolong ikut kami!" Laura memotong ucapan Ibu Darti sebelum ibu Darti menolak permintaannya.

__ADS_1


"Baiklah, Nak, terima kasih!"


Tbc


__ADS_2