YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Hargai diri kamu! (YAMD 2)


__ADS_3

Dimas berjalan agak terburu- buru masuk ke dalam gedung, untuk menemui dan mengajak istrinya untuk segera pulang. Walaupun, dia tahu kalau Davina putrinya seorang yang kuat, sebagai seorang papah, tetap terselip rasa khawatir di dalam hatinya untuk putrinya itu.


"Ada apa lagi sih Pah? Aariz buat apa lagi,sehingga Vina nangis? Anak itu gak bosan ya buat putri kita nangis terus? " nada suara Sinta terdengar kesal,mengetahui putrinya pulang sendiri karena Aariz. Saat ini mereka sudah ada di dalam mobil, untuk kembali pulang ke rumah


"Mah ini bukan salah Aariz! Aku bisa maklum bagaimana perasaan mu. Tapi seperti yang kamu bilang dulu, kalau kita tidak boleh memaksa seseorang itu, untuk mencintai kita juga. Davina sudah keterlaluan untuk memaksakan kehendaknya, Mah. Selama ini Papah tahu, kalau Aariz udah berusaha bersabar menghadapi putri kita, karena dia masih memandang kita, sahabat Bimo dan Tiara. " ucap Dimas seraya menyematkan seulas senyuman buat Sinta istrinya.


Sinta menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan. Dia mengulangnya untuk beberapa kali, untuk mengurangi amarah di dalam hatinya.


" Maafin Mamah, Pah! Mamah jadi egois begini. Kamu benar Pah, tidak seharusnya mamah marah sama Aariz. Walaupun, dia kesal akan sikap Vina, setidaknya dia tidak pernah mempermalukan anak kita di depan umum ".


"Iya Mah! Tadi Papah juga sempat lihat, ketika ada seorang wanita yang mau menampar Vina, Aariz tetap melindungi anak kita. Papah yakin, kalau Aariz sempat juga mengancam wanita itu. "


********


Sesampainya di rumah, Dimas dan Sinta mengetuk pintu kamar Davina. Karena tidak mendapat jawaban, Dimas membuka perlahan-lahan pintu kamar itu, yang kebetulan memang tidak terkunci dari dalam.


Hati Dimas terenyuh melihat wajah polos putrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya itu,sembab karena kebanyakan menangis. Dimas mengelus kepala Vina dengan lembut, lalu memberikan kecupan yang agak lama di puncak kepala putrinya itu.


Karena merasakan ada sesuatu yang meyentuhnya, Vina membuka perlahan-lahan kedua matanya, yang kini nampak mengecil karena bengkak.


" Papah, Mamah, kalian kok sudah pulang?" suara Vina terdengar sangat berat. Lalu dia pun bangkit dan duduk menatap manik kedua orang tuanya yang terlihat sedih.


"Kami khawatir sayang sama kamu! "Kamu tidak apa-apa kan? " nada suara Sinta terdengar lembut, seraya membelai rambut hitam milik Vina putrinya.

__ADS_1


"Vina tidak pa-pa Mah! Kepala Vina tadi mendadak sakit, makanya Vina pulang. " Vina berusaha untuk menyembunyikan apa yang sudah terjadi padanya.


Dimas, menyunggingkan seulas senyuman ke arah putrinya, lalu mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping putrinyan itu.


" Vina ...., kamu tidak bisa membohong Papah dan Mamah!.Papah tahu, kalau kamu pulang gara-gara ada masalah kan sama Aariz? "


Vina sontak memeluk Dimas erat-erat dan kembali menangis sesunggukan.


"Ka, Aariz jahat, Pah! dia gak pernah mau ngertiin perasaan Vina! isak Vina dipelukan Dimas.


Dimas, melepaskan pelukan putrinya, lalu perlahan dia menghapus air mata Vina menggunakan jarinya dengan lembut.


" Vina..., Papah tahu bagaimana perasaanmu. Tapi ingat nak, kamu jangan egois! Apakah kamu pernah tahu bagaimana perasaan Aariz juga? apakah selama ini kamu merasa kalau Aariz itu, nyaman ada di dekatmu, dengan segala tingkah lakumu yang berlebihan? seakan - akan kalau Aariz itu milik mu?. Kamu jangan hanya melihat dari satu sisi saja.Tapi, kamu juga harus melihat dari sisi Aariz sayang! " ucap Dimas seraya menangkup pipi putrinya yang sudah banjir air mata itu.


"Memperjuangkan cinta itu tidak salah sayang! cuma cara kamu yang salah. Kamu terlalu memaksakan kehendakmu. Kamu tahu nggak?, cara kamu selama ini, membuat Aariz tidak merasa nyaman ada di dekatmu. Kamu seakan-akan membatasi pergerakannya, dengan selalu menguntit dan mengintimidasi perempuan-perempuan yang ada didekatnya. Cinta itu harus ada kata saling, sayang. Kamu mencintai Aariz, tapi Aariz tidak, itu tidak akan mendapatkan titik temu, sayang. Kamu tidak akan pernah bahagia dengan cinta sepihak. Sekarang kamu harus bisa kuat sayang, kamu masih muda. Mungkin suatu saat kamu akan menemukan cinta sejatimu. " tutur Dimas panjang lebar.


"Tapi Pah, Vina tidak yakin, kalau Vina bisa melupakan cinta Vina. "


" Itu karena kamu belum mencoba sayang" Sinta menimpali menyematkan seulas senyuman di bibirnya.


"Dulu ada seorang laki-laki.Dia sangat mencintai seorang perempuan. Akan tetapi, permpuan itu tidak mencintainya sama sekali, karena dia sudah mencintai pria lain. Padahal si pria itu, sudah berjuang untuk mendapatkan cinta wanita itu.Tapi sebesar apa pun perjuangan si pria itu, tidak mampu meluluhkan hati perempuan itu ".


"Egois sekali perempuan itu,Pah! "

__ADS_1


Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya. " Bukan! yang egois bukan perempuan itu, tapi pria itu. Karena dia sudah memaksakan kehendaknya.Pria itu sudah tahu, kalau hati perempuan itu tidak pernah ada untuknya, tapi tetap saja dia memaksakan kehendaknya. Tapi lama kelamaan, si pria itu sadar karena disadarkan seseorang.Orang itu mengatakan, mencintai itu tidak harus memiliki. Kalau kita memaksa orang yang kita cinta itu untuk tetap bersama kita, itu bukan cinta, tapi obsesi. Kalau kita mencintai seseorang dengan tulus, kita akan merasa bahagia melihat orang yang kita cintai itu bahagia, meskipun tidak dengan kita."


"Sekarang bagaimana nasib pria itu,Pah? apakah sekarang dia sudah bahagia? " Vina memiringkan sedikit kepalanya, dengan kerutan di keningnya.


"Iya ! Pria itu bahkan lebih bahagia sekarang.Akhirnya pria itu menemukan cinta sejatinya, mereka menikah dan bahkan sudah memiliki dua anak.Satu putri yang cantik dan yang satu seorang putra yang tampan. Dan kamu tahu siapa cinta sejati pria itu? "


Vina menggeleng-gelengkan kepalanya " Tidak! Emang siapa Pah? "


" Seseorang yang telah mengingatkan dia tadi,kalau cinta itu tidak harus memiliki".


"Tapi, kenapa Papah tahu banyak cerita tentang pria itu? Apakah dia itu teman Papah? "


Dimas dan Sinta saling menatap dan tersenyum penuh makna, mendengar pertanyaan Vina.


"Karena pria itu adalah Papah sendiri sayang! dan wanita yang bijak itu Mamah mu."


Kedua netra Davina membulat dengan sempurna, mendengar kisah Lapah dan Mamahnya sendiri.Sontak dia menghambur memeluk Dimas dan Sinta dengan senyuman di bibirnya. "Vina juga akan kuat Pah, Mah! Vina mau seperti Papah dan Mamah!."


"Good! ini baru namanya anak Papah! " Seraya meng-eratkan pelukannya dan memberikan ciuman di puncak kepala putrinya.


"Ya udah, kalau gitu Mamah mau lihat adik kamu Vano dulu ya! Mamah mau nyuruh dia tidur dulu. Mungkin dia masih asyik dengan permainan Gamenya." Sinta berdiri dan beranjak, meninggalkan suami dan putrinya.


"Kamu juga sekarang harus istirahat!. Ingat pesan Papah, Ada saatnya kita berjuang,tapi ada saatnya kita menyerah. Hargai diri kamu, Karena kalau kamu sampai kenapa-napa, yang rugi bukan dia, tapi Papah, Mamah dan adik kamu Vano. Kalau Aariz memang ditakdirkan jodohmu, mau kamu dan dia ada dibelahan dunia manapun, akan tetap bersatu pada akhirnya" Dimas mengayunkan langkahnya, keluar dari kamar Davina putrinya setelah memberikan ucapan selamat malam dan meninggalkan kecupan di kening putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2