YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Si kembar lahir


__ADS_3

"Dasar gendeng, istrimu mau melahirkan itu!"


"Apaaaa?!"pekik Aarash dan langsung kalang kabut tidak tahu berbuat apa-apa. Sedangkan Laura terlihat semakin Meringis kesakitan.


Dari kaki Laura tiba-tiba merembes air, bercampur sedikit darah.


"Aarash, buruan bawa istrimu ke rumah sakit, air ketubannya sudah pecah!" teriak Tiara untuk menghentikan kepanikan Aarash.


Melihat Aarash yang sepertinya masih panik, Dion sontak bergerak dan berinisiatif menggendong kakaknya itu. Akan tetapi, di saat Dion hendak menggendongnya, Aarash langsung tersadar, dan sontak mengambil alih Laura dari tangan Dion, lalu dengan berlari dia menggendong Laura keluar, disusul oleh Tiara dan Bimo dari belakang.


"Rash, biar ayah yang menyetir mobilnya. Kamu di belakang aja buat nenangin Laura." ucap Bimo setelah mereka ada di dalam mobil.


Sementara itu, Tiara langsung menghubungi Bi Asih yang sekarang sudah tinggal bersama Laura, untuk membawakan perlengkapan Laura ke rumah sakit.


Dion dan Kirana beserta yang lainnya, kecuali Vina dan Aariz, juga langsung bergegas menuju rumah sakit.


"Kenapa aku gak boleh ikut sih, Bee? aku kan juga khawatir sama Ka Laura." protes Vina dengan kesal.


"Bukannya, gak boleh Bee, tapi sekarang kamu itu sedang hamil dan masih capek karena acara tadi.Nanti kalau sudah cukup istirahat, kita akan menyusul ke sana." sahut Aariz menenangkan istrinya itu.


30 menit kemudian, akhirnya mereka tiba di rumah sakit, dan Aarash langsung menggendong istrinya keluar dari dalam mobil, dan membaringkannya di atas bed sorong. Lalu dengan berlari mereka membawa Laura ke ruang bersalin.


"Tolong istriku Dok! buruannn!" Aarash berucap dengan intonasi tinggi,tegas dan terkesan mengintimidasi.


"Sabar, Tuan! berhubung Ibu Laura sudah pecah ketuban, aku akan periksa dulu persediaan air ketubannya, apakah masih memungkinkan untuk, melahirkan normal atau kita harus melakukan operasi cesar." ucap Dokter itu tenang, dan mulai melakukan USG terlebih dahulu untuk melihat persediaan air ketuban Laura.


"Ok, stok air ketuban masih cukup dan kondisinya tidak keruh. Jadi, masih bisa untuk melahirkan normal. Kita tinggal memantau pembukaannya saja sampai, nanti pembukaannya sempurna." tutur dokter itu seraya meletakkan kembali probe ke tempat semula.


"Sakit,Mas ... sakit!" Laura meraung-raung sembari mencengram lengang Aarash dengan kuat.


"Sabar, sayang ... sabar! ayo kamu ikuti perintah ku, tarik nafassss ... hembuskan! tarik nafass lagiiii ... hembuskan lagi!" ucap Aarash memberi aba-aba.setidaknya tugas dokter sedikit berkurang, tidak capek-capek mengucapkan aba-aba yang seperti yang diucapkan oleh Aarash.


"Aarashhhh, tanggung jawab kamu! sakittt! ini semua karena ulah ularmu." Laura kembali meraung kesakitan sambil mengumpati suaminya itu.

__ADS_1


"Siapa suruh punya goa? Ya gak salah ularku dong mau masuk! Kan ular juga butuh rumah untuk bisa tidur. Ya ular ku lebih memilih guamu. Jadi kamu gak bisa nyalahin ularku dong." sahut Aarash absurd, yang membuat dokter dan para perawat saling silang pandang menahan tawa.


"Diam kamu! kondisi begini saja, kamu masih bepikir ke arah sana. Dasar suami gak ada akhlak kamu!" sembur Laura sambil tetap meringis kesakitan.


" Kan kamu duluan yang ngomong u___"


"Aku bilang, diam, diamlah!" laura memotong ucapan Aarash.


"Dok, apa gak punya cara lain lagi,untuk membuat anakku cepat lahir selain menunggu pembukaan?" tanya Aarash yang merasa sangat kasihan melihat istrinya kesakitan.


"Ada, Tuan Aarash! kita bisa melakukan cesar." sahut dokter itu, tenang tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.


"A-aku gak mau cesar, Mas! aku mau melahirkan normal." Laura berucap lirih, sambil tetap meringis kesakitan.


"I-iya sayang! yang kuat ya! ingat sebentar lagi kita akan melihat wajah anak-anak kita!" Aarash masih tetap memberikan semangat.


Sambil menahan sakit, mulut Laura telihat komat-kamit melantunkan doa, yang selalu dia daraskan hampir tiap malam. Dan Laura melakukannya berulang-ulang. Setiap Laura selesai melantunkan doanya, Aarash selalu mengamininya.


Anak-anak Aarash di dalam perut Laura, sangat aktif bergerak sehingga yang tadinya, ketika baru sampai ke rumah sakit,masih pembukaan dua, 1 jam berselang, pembukaan sudah mencapai pembukaan tujuh.Tinggal menunggu sebentar lagi, maka pembukaan akan sempurna.


"Aku mau ke kamar mandi, Dok. Aku mau pup!" ucap Laura, ingin bangkit dari tempat tidurnya.


" Bu Laura, itu bukan mau pup, tapi itu, anak ibu yang sudah siap untuk keluar.Jadi, ibu dengarkan aba-aba saya ya! Dan tolong saat mengedan, bokongnya jangan diangkat, soalnya bisa menyebabkan robek yang sangat besar" dokter memberikan arahan teelebih dahulu.


"Bu, Laura sekarang, ayo ngeden Bu! semangat ...terus Bu, itu kepala bayinya udah kelihatan!"seru dokter memberikan semangat.


"Ayo sayang,ayo semangat!" Aarash juga ikut memberikan semangat, dengan nafas yang tersengal-sengal. Laura yang mengedan, Aarash yang merasakan capeknya.


Laura berteriak, sekeras-kerasnya dan dengan sekuat tenaga mengeden, dan di saat itu juga, suara tangisan bayi yang masih merah, berjenis kelamin laki-laki menangis, membuat Aarash juga ikut menangis melihat kebesaran Tuhan yang baru saja ada di hadapannya.


Dokter itupun, memberikan bayi laki-laki itu pada Perawat untuk segera dibersihkan.


Laura mengambil nafas sejenak, dan menghembuskannya dengan cepat. Tidak berselang lama, Laura kembali menjerit kesakitan, saat anaknya yang satu lagi, sudah tidak sabar untuk segera keluar dari rahim bundanya

__ADS_1


"Ayo,Bu seperti tadi, eden yang kuat! ayo Bu, terus ... terus!" dokter tidak bosan untuk memberikan aba-aba.


Laura melakukan hal yang sama seperti saat mengeluarkan bayi pertama dan detik berikutnya, suara tangisan bayi kedua yang berjenis kelamin perempuan terdengar lebih melengking dari bayi laki-laki tadi.


" Terima kasih Tuhan. Sepertinya anak perempuanku, akan secerewet bundanya." ucap Aarash, yang setelah selesai mengucapkan kata-katanya terjerembab pingsan. Untungnya dia pingsan saat sedang berlutut.


Laura kaget, dan hampir saja bangkit dari ranjangnya. Untungnya sang dokter segera sigap menahan Laura agar tidak banyak bergerak dulu, dan menenangkannya,kalau suaminya tidak apa-apa.


Dokter itu segera melakukan panggilan ke pos perawat dan memanggil beberapa perawat laki-laki untuk masuk membantu mengangkat tubuh Aarash ke atas kasur.


Sementara itu, para keluarga yang sedang menunggu di luar, heran sekaligus khawatir melihat 2 orang perawat laki-laki yang masuk ke ruangan persalinan Laura.


"Apa yang terjadi di dalam? tidak terjadi apa-apa kan pada Laura?" tanya Tiara dengan wajah yang terlihat panik pada dokter yang sudah keluar menemui keluarga pasien.


"Tidak terjadi apa-apa Bu! Ibu Laura sudah melahirkan sepasang anak kembar, dengan selamat. Tuan Aarash aja yang pingsan di dalam." Dokter memberikan penjelasan dengan sedikit menahan tawanya.


Mendengar ucapan dokter, suara tawa menggelegar, menertawakan keadaan Aarash.


Laura sudah dibersihkan dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Sedangkan Aarash didorong juga masuk ke kamar perawatan Laura. Semua orang berebutan melihat si kembar dan berganti-ganti ingin menggendongnya.


"Siapa nama anak-anak kalian ini sayang?" tanya Tiara pada Laura sembari menggendong salah satu cucunya itu.


"Tunggu Mas Aarash sadar aja Bun! mungkin dia sudah menyiapkan nama buat si kembar." sahut Laura sembari mengecup bayi yang ada di pangkuannya.


"Loh, aku kok ada di sini?" celetuk Aarash, yang sepertinya sudah tersadar dari pingsannya.


"Kamu tadi pingsan, makanya dipindahkan kesini." kali ini Bimo yang menjawab.


"Hah? aku pingsan? mana ada ... aku cuma tidur aja tadi."


Tbc


Yeee akhirnya si kembar lahir juga, dan sebentar lagi, rasa penasaran mereka akan terjawab tentang wujud Ayah mereka sebenarnya.

__ADS_1


Please Kaka-kaka, kasih si kembar hadiah dong, berupa like,vote, komen dan hadiah-hadiah lainnya.😁😁😁😁


Sebenarnya, drama lahiran Laura, merupakan kisah nyata Author, kecuali adegan pingsan. Suami aku gak pake acara pingsan.😁


__ADS_2