
"Rash, apa kamu tidak berniat buat ngadain resepsi pernikahan sayang?" tanya Tiara di saat mereka baru saja selesai makan malam.
Laura cuma diam, tapi jujur dia sangat menunggu momen ini.Dimana dia dan Aarash mengadakan resepsi serta mengumumkan pernikahan mereka.
"Hmm, ada sih, Bun! cuma tunggu surat pernikahan ku dan Laura selesai dulu.Pas aku menikah, nama istriku kan Ayu, jadi aku masih mengurus perubahan data itu dulu, Bun," sahut Aarash.
Aarash menoleh ke arah Laura istrinya. " Gak, pa-pa kan sayang resepsinya kita tunda dulu? " tanya Aarash.
"Gak, pa-pa kok! selesaikan dulu urusannya baru pikirkan yang lain." Laura membalas tatapan Aarash dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.
"Terima kasih ya sayang! " ujar Aarash seraya mengacak rambut Laura pelan
"Hmm, Laura,Ayah dan Aarash sudah mengembalikan kejayaan perusahaan Papah mu seperti semula.Sebagai pewaris tunggal,mau tidak mau kamu harus turun tangan untuk memajukan perusahaan itu kembali.Bagaimana menurutmu?" tanya Bimo.
Laura menghela nafasnya dan menatap ke arah Ayah mertuanya itu.
"Kalau untuk itu, aku akan serahkan kendali perusahaan ke tangan Mas Aarash aja Yah. Biarlah Laura sekali-sekali memantau ke perusahaan.Sampai adik laki-laki ku bisa ditemukan." tukas Laura yang membuat semua orang yang ada diruangan itu terkesiap karena kaget.
"Adik? bukannya kamu anak tunggal sayang?" Aarash memicingkan kedua matanya, menatap bingung ke arah istrinya.
"Bukan! Aku memiliki adik laki-laki yang hilang di usia 2 tahun, dan waktu itu usiaku 5 tahun.Papah dan Mamah sudah mencari kemana-mana, tapi tidak ditemukan.Itu lah sebabnya kami pindah ke Singapura. Tujuan kami kesana untuk memulihkan kejiwaan Mamah yang sempat terganggu. Kalau tetap berada di Indonesia, Mamah akan selalu histeris bila teringat dengan hilangnya adikku." Papar Laura dengan cairan bening yang mulai keluar dari sudut matanya.
Aarash meraih bahu Laura dan mendekapnya untuk memberikan ketenangan. " Apa kamu kamu yakin, kalau adik kamu itu masih hidup?"
"Entah kenapa, hatiku sangat yakin kalau dia masih hidup dan sekarang berada disuatu tempat,"ujar Laura seraya menghembuskan nafasnya pelan.
"Dimana tempat terakhir adikmu itu hilang?" Kali ini Bimo yang bertanya dengan wajah yang serius.
"Di Kota tua Yah! Waktu itu kami lagi Jalan-jalan sama papah dan mamah. Kata Papah, aku pada saat itu lagi sama papah dan Leon sama mamah mau beli es krim. Mamah nyuruh Leon nunggu sebentar, untuk bayar es krimnya.Pas mamah berbalik, Leon sudah hilang "Laura memaparkan kembali, hilangnya adiknya.
"Ya udah, kalau begitu, kamu tenang saja, ayah dan Aarash akan membantumu mencarinya." ucap Bimo tegas
" Terima kasih Yah! terima kasih buat semuanya.Laura tidak tahu, apa yang akan terjadi kalau seandainya Laura tidak bertemu dengan keluarga ini." Air mata Laura kini semakin deras keluar membasahi pipinya.
__ADS_1
*******
Galang, Vina dan Aariz kini tengah berada di Heathrow International Airport London untuk menjemput, kedatangan Dimas Papahnya Vina.
Dari dalam tampak Dimas melambaikan tangannya kearah ketiga orang yang tengah menunggunya. Jantung Vina kini semakin berdebar takut kena amukan Papahnya, karena dia memiliki hubungan dengan Aariz, padahal dia berstatus tunangan orang, yang walaupun sampai sekarang belum dia ketahui siapa orangnya.Sedangkan Aariz tampak sangat santai menyambut Dimas.
"Papaaaah ...! Vina berlari memeluk Papahnya.
Dimas membalas pelukan putri kesayangannya,yang walaupun baru satu bulan di London,tapi sudah sangat dirindukannya itu.
"Hai, Om! sapa Galang, sembari memeluk Dimas juga.
"Hai, Papah! Welcome to London!" ucap Aariz seraya, menyunggingkan senyuman sumringahnya.
"Kenapa cunguk ini ada di sini? ucap Dimas seraya menghunuskan tatapannya ke arah Aariz. "Lagian siapa yang kamu panggil Papah?" sambungnya lagi.
"Idih, si Papah! Sok gak tau aja. Aku kesini mau jemput Vina calon istrikulah. Dan papahnya Vina ya papahku juga lah," tukas Aariz penuh percaya diri.
" Ucapan tidak setuju itu, tidak harus terucap Pah.Karena tanpa papah ucapkan , Aariz udah tahu kalau Papah udah setuju." ujar Aariz dengan yakin.
"Percaya diri sekali kamu! " ucap Dimas seraya mendengus. "Ayo, Vin, kita pergi dari sini! lama-lama papah pusing ngeladenin dia." Dimas meraih dan menggenggam tangan Vina.
Dimas merasa ada kejanggalan, saat dia mengegnggam tangan putrinya itu.Dia sontak melihat jari Vina, yang kini sudah polos.
"Vin, mana cincinmu?" tanya Dimas seraya menghunuskan tatapannya ke arah Vina.
Vina meneguk ludahnya dan susah untuk membuka mulutnya. " Em, em ... anu Pah! Ada di kamar Vina.Tadi waktu mandi Vina lepaskan sebentar, tapi Vina lupa untuk memakainya kembali" sahut Vina sedikit gemetar.
"Cincinnya udah aku suruh buang,Pah!" celetuk Aariz tiba-tiba. Sedangkan tangan Vina langsung menutup mulut Aariz. "Aku bisa membelikan yang lebih bagus dan lebih mahal dari situ" sambungnya kembali, setelah berhasil menepis tangan Vina dari mulutnya.
"Dasar edan, gendeng! Cincin semahal itu,kamu suruh buang ...? Gila kamu memang! " Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dan kamu Vina, kenapa kamu mau aja di suruh membuangnya begitu saja?!"
__ADS_1
"Jangan salahin Vina Pah! Aariz yang salah." ucap Aariz, seraya menarik tangan Vina dan mendekap bahunya dengan erat. Dimas mendecih melihat pemandangan di depannya.
"Sebenarnya cincinnya belum Vina buang,Pah!"celetuk Vina, sambil menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Galang terlihat blingsatan di tempatnya.
Aariz sontak melepas pelukannya dan menatap Vina dengan pandangan penuh tanya.
"Belum kamu buang gimana maksudmu?! "Aariz terlihat kesal, merasa dibohongi oleh Vina. " Jadi, kamu masih mau melanjutkan pertunangan dengan orang itu? aku kecewa padamu Vin!" Aariz memutar badannya hendak pergi meninggalkan Vina.
"Bukan begitu Bee! jangan pergi dulu!" Vina menahan tangan Aariz sebelum Aariz benar-benar pergi.
"Bee?" Panggilan apa itu? Kok papah merasa geli Ya? "gumam Dimas, tapi masih bisa di dengar oleh Aariz dan Vina.
"Cincinnya sama Ka Galang! Aku memang udah niat mau buang,tapi Ka Galang bilang, 'sayang kalau dibuang. sini Ka Galang jual aja, kan lumayan buat tambahan uang jajan di sini, nanti uangnya kita bagi dua deh' gitu bilangnya Bee," ujar Vina dengan nada manja seraya mengerucutkan bibirnya.
Semua mata sontak menoleh ke arah Galang yang terlihat cenggesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Jadi, cincinnya udah jadi kamu jual Lang?" tanya Dimas dengan tatapan mengintimidasi.
"Hehehe, belum Om! masih Galang simpan. rencananya besok mau dijual! " sahut Galang dengan muka lesu.
"Ya udah, nanti cincinnya kasih ke Om aja! biar Om yang simpan ." ucap Dimas. " Sekarang antarkan Om ke penjara! Om mau lihat orang yang mencoba untuk melecehkan putriku." sambungnya lagi.
Tbc
Maaf kalau aku telat upnya. Asam lambung ku lagi kumat soalny😁😁😁
Please tetap dukung ya gais.please like, rate, Vote dan komen.Thank you
Sembari nunggu ini Up, mampir juga ya gais ke karyaku yang lain.Tidak kalah seru juga degan yang ini.
__ADS_1