
Aarash tidak pernah melepaskan tangan Laura dari genggamannya.Sesekali dia membawa tangan laura ke dadanya dan mengecupnya.
Seulas senyuman terbit di bibir Aariz saat melihat perlakuan Aarash pada Laura. Aariz dapat melihat cinta yang begitu besar yang terpancar dari manik mata milik Aarash.Entah kenapa tidak ada rasa sesak yang dia rasakan di dadanya,seperti yang dirasakanya dulu.
Suara lenguhan lirih terdengar dari bibir Laura.Dengan perlahan kedua matanya terbuka.Dia mengerjap-erjapkan matanya sejenak untuk menyesuaikan cahaya yang baru masuk ke matanya.
"Kamu udah bangun sayang? Oh syukurlah..." Aarash tersenyum senang sambil mengecup tangan Laura yang ada digenggamannya berkali-kali.
Tiara dan yang lainnya menghela nafas dengan lega.Senyuman bahagia kini tersemat di bibir masing-masing.
Laura mengitari sekeliling ruangan. Dari manik matanya siapapun tahu, bahwa ada penuh tanya yang tersirat pada pandangannya. Dia bingung kenapa semua orang ada di kamarnya. Seketika dia tiba-tiba teringat alasan kenapa dia tadi pingsan.
"Apa aku benar-benar Laura Tuan Aarash?" tanya Laura yang masih belum mengganti panggilannya seraya bangkit untuk duduk.
"Iya sayang, kamu Laura... kamu Laura ku " Aarash meraih Laura kembali kedalam pelukannya.Tidak terasa, air mata Laura kini sudah merembes keluar. Dia sangat bahagia kini, karna dia sedikitnya sudah tahu siapa dirinya walaupun ingatannya belum pulih.
"Kami keluar dulu. Kamu istirahat ya sayang! Kamu jangan terlalu banyak berpikir dulu. Kami akan menjelaskan nanti setelah kamu baikan." ujar Tiara sambil mengelus kepala Laura menantunya itu.Setelah itu dia menggerakkan ekor matanya,sebagai isyarat pada semua untuk meninggalkan dua sejoli itu.
Aarash tidak berhenti tersenyum saat menatap wajah cantik wanita yang kini menjadi istrinya itu, hingga membuat wajah Laura seketika merona.
"Kenapa Tuan menatap ku seperti itu?" ujar Laura seraya menundukkan wajahnya.
"Sampai kapan kamu akan memanggilku Tuan? Aku ini suami kamu Aura.Jadi jangan kamu panggil aku tuan lagi ya! "Suara Aarash terdengar sangat lembut tertangkap oleh telinga Laura. Aarash mengangkat dagu Laura,agar dia bisa kembali menatap wajah cantik istrinya itu. Dia yakin,dia tidak akan pernah puas untuk selalu menatap wajah Laura istrinya.
"Jadi aku harus manggil apa?" tanya Laura dengan mimik yang menggemaskan.
"Hmmm, Terserah!"
" Ya udah, waktu kecil aku manggil kamu apa?"
__ADS_1
" Kamu panggil nama aku Aarash"
"Kalau begitu, aku panggil Aarash juga lah"
"Kok cuma Aarash aja? Gak ada yang lain gitu?" terselip nada tidak suka dalam pertanyaan Aarash.
"Aku bingung, mau panggil kamu apa! " raut wajah Laura tiba-tiba berubah sedih. Dia kembali berbaring membelakangi Aarash.
Aarash meraih bahu Laura dengan lembut dan membalikkan tubuh Laura untuk kembali menghadapnya.
"Kamu kenapa sayang? apakah ada yang salah pada ucapanku yang membuat mu sedih?
Laura memberanikan diri untuk menatap wajah Aarash. "R-Rash, apakah kamu mencintai Ayu atau Laura? bagaimana seandainya kalau aku bukan Laura? apa kamu masih mau menerima ku sebagai istrimu? " Laura akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan apa yang dari tadi ada dipikirannya.
Aarash mengrenyitkan keningnya mendengar pertanyaan Laura "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Aarash menarik nafasnya dalam-dalam,lalu mengembuskannya dengan sekali hentakan.
"Kamu salah! Sebenarnya, sebelum aku tahu, kalau kamu itu Laura, kamu sudah selalu ada dalam pikiranku.Setiap aku mencoba membayangkan wajah Laura kecil, wajahmu yang selalu muncul. Aku tidak suka kalau kamu dekat dengan laki-laki lain, sekalipun itu Aariz.Aku bersikap dingin padamu bukan karena aku tidak suka sama mu.Cuma aku masih ambigu dengan perasaanku. " Aarash diam sejenak, untuk mengatur nafas sebelum dia melanjutkan kembali ucapannya.
" Malam di saat aku dijebak sama Cindy, aku sebenarnya pergi hanya untuk memastikan perasaan ku pada Laura.Apakah bisa bergetar,seperti saat aku melihatmu? Jujur sayang, pertama kali aku melihatmu,hatiku sudah merasakan getaran itu. Tapi, aku selalu berusaha untuk menyangkalnya" tutur Aarash seraya menatap dalam dengan penuh cinta pada manik mata milik Laura.
"Dengan kata lain, kalau kamu sudah suka sama Ayu,dan sudah mulai melupakan Laura, begitu kan?" ucap Laura cemberut.
"Kalian kan orang yang sama! kok cemberut?"
"Iya, kebetulan aja sama. coba beda? kamu akan lebih milih Ayu kan daripada Laura?" ujar Laura yang merasa tidak senang. Ketika Aarash mengatakan kalau dia sudah mulai menyukai sosok Ayu daripada Laura.
Aarash menggaruk-garuk kepalanya, bingung mengahadapi kekesalan istrinya yang cemburu pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Yang jelas, Ayu itu Laura,dan Laura itu Ayu. Titik, no debat! "
"Nggak! tetap beda! Coba seandainya kalau Ayu itu bukan Laura berarti kamu sudah melupakan Laura dan....."
"Stop berandai-andai.Yang penting sekarang aku mencintaimu. Mau Ayu ke, mau Laura ke pokoknya aku mencintai wanita yang sekarang sudah menjadi istriku ini" ucap Aarash sambil menoel hidung mancung istrinya yang kini sudah tersipu-sipu malu.
Senyuman Laura tidak berlangsung lama. Raut wajah sedih kembali muncul menghiasi wajah cantiknya. "Rash, Kalau aku memang keluarga Hartono,berarti orangtuaku sudah meninggal ya? Dan kenapa orangtua Cindy dan Cindy pura-pura tidak mengenal ku waktu itu?" tanya Laura dengan mata yang berkaca-kaca.
"Untuk hal itu, aku belum bisa jawab.Karena Ayah dan Om Seno masih menyelidikinya.Mudah-mudahan kita cepat menemukan titik terangnya." Aarash menarik Laura untuk semakin dekat kedalam pelukannya serta memberikan kecupan di kening Laura.
"Oh ya, Bagaimana aku waktu kecil? Aku pasti mengemaskan kan? Kamu pasti udah suka aku dari kecil iya kan?" tanya Laura antusias, ingin mengetahui bagaimana dia dulu.
"Menggemaskan bagaimana? Kamu itu sangat menyebalkan dulu.Suka ngintilin aku kemana-mana, udah di usir pun, kamu tetap aja nempel kaya prangko" Aarash menyahuti pertanyaan Laura dalam hati saja.
"Kok diam? aku bagaimana sih waktu kecil? Kamu kok bisa sayang banget sama ku waktu itu? "
"Ehem, ehem. Sebenarnya ....umm... yang ngejar-ngejar aku itu kamu dulu.Kamu suka ngintilin aku, suka marah-marahin anak perempuan yang dekat sama ku. Suka bawain sarapan buat aku.Pokoknya yang sayang banget sama aku itu justru kamu dulu" sahut Aarash dengan sangat hati-hati.
"Masa sih aku secentil itu dulu? kayanya gak mungkin deh. Kamu bohong ya? nanti aku tanya Aariz aja deh! " ucap Laura yang tidak percaya kalau dia secentil itu ke Aarash waktu kecil.
Mendengar,kalau Laura akan bertanya pada Aariz,seketika membuat Aarash panik.Dia khawatir, nanti Aariz akan cerita kalau dulu dia sering membuat Laura menangis karena kata-kata kasarnya. "Gak usah nanyain Aariz! dia gak tahu apa-apa" ucap Aarash dengan ekspresi gusar.
"Kenapa gak tahu? dia kan saudara kembar mu dan satu sekolah dengan kita? pasti dia tahu lah tentang masa kecilku di sekolah. Atau jangan-jangan kamu takut ketahuan ya kalau sedang bohong? Hayo ngaku! " Laura memicingkan matanya sambil menunjuk wajah Aarash dengan jari telunjuknya.
"Oh, God, Laura yang menyebalkan is back. "
Tbc
Jangan lupa dukungannya.please like,rate,vote dan komen.
__ADS_1